Obsesi Sang Gadis Kecil

Obsesi Sang Gadis Kecil
Penjelasan


__ADS_3

Penjelasan.


Dewapun masuk kedalam kamar alunanya, ia mengamati seluruh aset pribadi aluna yang terpajang dilemari kaca yang tersusun rapi barang berharga aluna seperti bingkai foto keluarga serta bingkai foto mereka saat masa kecil, piala perstasi sekol0ah,piala prestasi ajang lomba busana dan piala prestasi beladiri.


Dewa mengerutkan alisnya saat melihat deretan piala prestasi beladiri aluna, ia tak pernah tau kalau aluna bisa beladiri tak terpantau dari cctv atau dari pantau anak buahnya.


tak tak..


(pintu kamar mandi terbuka)


"Loh kok kakak gak mandi, gih mandi dulu sana nanti kalo mau pakai baju, baju kakak aja masih ada dideretan laci bawah yah" ujar aluna melenggang pergi melewati dewa yang berwajah cengo.


Saat aluna keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri dengan keadaan aluna yang memakai bathrobe berwarna hitam membuat dewa kaget ia yang memasang raut wajah cengonya karna alunanya tampak cantik dan berseri ketimbang alunanya berdandan.


Saat ini dewa lebih memilih mematung dari pada melihat lebih dalam dari lekukan sexsi tubuh gadis kecilnya, ia langsung berlari kearah kamar mandi karna sijon terbangun dari tidurnya.


Aluna yang masih pilah-pilih baju lantas bergegas setelah ia dapat baju santai kesukaannya karna dari dahulu aluna tak senang memakai baju tidur piama atau baju tidur yang lainnya menurutnya itu seperti memalukan kalu dipakai, ia bergegas mengeringkan rambut dan memakai bajunya.


Suara gemercik air masih terdengar, aluna memanggil kak dewanya supaya ikut turun kelantai satu untuk berbicara denganya.


"Kakak lekaslah bersiap-siap, aluna mau bicara diruang kluarga" seru aluna.


"iya bawel ini sudah selesai, kamu turun duluan karna kakak mau pakai baju dulu" ucap dewa dengan nada tingginya.


Aluna pun segera keluar dari kamarnya, ia turun melewati anak tangga satu demi satu anak tangga sampai aluna dilantai satu, ia segera memanggil bibi setianya untuk berpamitan keluar bersama kak dewanya.


"Bibi ,bibi dimana" seru aluna.


"Ada apa sih non teriak-teriak ini sudah malem bikin kaget bibi aja atu" ujar bik setia


"heeehee maaf bi sudah bikin bibi kaget. Bibi, aluna pamit keluar yah sama kak dewa" ucap aluna meminta izin.


"Jangan lupa pakai jaket yah, bibi izinkan kalau sama den dewa keluarnya" jawab bibi sambil nyengir kuda karna ia mengerti masa pdkt'an gimana.


"Siap komandan dilaksanakan, aluna telfon kak dewa dulu biar dia bawa jaket aluna yah bi" seru aluna dibalas anggugakan oleh bibi.


Dring dring


(telfon genggam dewa berbunyi)

__ADS_1


"Halo yang, ada apa? Ya udah tunggu aku bawain jaketnya" ucap dewa


Dewapun bersiap-siap dan mencari jaket alunanya didalam lemari tanpa sengaja ia menyenggol sebuah amplop berwarna coklat, ia membuka amplop coklat itu dengan wajah datarnya sekian detik ia membaca isi dari amplop itu wajah yang tadinya dingin menjadi senduh.


"Mama nara sudah menitipkan surat perjodohanku dengan aluna dan pesan terakhirnya untuk aluna. mama nara, dewa pulang dan menepati janji dewa ke mama" gumam dewa dengan senduh, ia tersadar dan membereskan semuanya.


Dewa menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu, ia berjalan santai menuju tempat aluna berdiri dan memakaikan jaketnya ketubuh langsing gadis kecilnya.


"Sayang mau kemana kita malam-malam begini nanti sakit gimana?" tanya dewa


"Aluna mau ajak kakak ketempat rahasia yang aluna buat, aluna mau kasih tau kakak tempatnya karna malam ini malam pergantian hari lahir aluna, pasti kakak udah lupakan" ucap aluna pajang lebarnya


"Astaga dek maafin kakak, kakak siang tadi udah inget tapi malam ini lupa" ujar dewa dengan kekehannya


"Yah udah gak apa-apa ayok buruan berangkat kita akan pergi jauh menyusuri pemandangan bulan dan kerlipan bintang di langit gelap seperti kakak yang datang memberikan cahaya kepada aluna" cerita seru aluna yang ngalur ngidul


tuk..awww


"Sakit kakak, benjol dah kening berbie" ucap aluna sok pd nya.


"Biar potel sekalian palak berbie nya" ujar dewa sambil menjentikan jarinya lagi kepala alunanya.


"Siapa mulut comberan, mulut buatan tuhan gak ada dari coberan" seru dewa


Alunapun terdiam saat memikirkan kata-kata dewa,bener jugalah mana ada mulut terbuat dari comberan bener-bener dah kosah kata aluna ini.


"hihihi maaf" ucap aluna meminta maaf.


"Naiklah terlalu larut nanti" seru dewa.


Aluna pun naik keatas motor karna ia yang mengiginkan naik motor, motor pun melaju cepat meninggalkan rumah kediaman kluarga atalyan. Mereka menuju ketempat persembunyian aluna buat.


"bawa hadiahnya ketempat aku berada, nanti ku serloc" ujar dewa pada seseorang melalui headset bluetoothnya.


Aluna menuntun dewa memasuki hutan dan melalui semak ilalang yang berhamparan luas disana. dewa terpukau dengan keindahan didepan matanya, ia tetap masuk menuruti tuntunan alunanya sekitar 7menit mereka sampai dirumah kayu berbentuk rumah teletubies kalau dari kejauhan tak akan menduga kalau ini rumah kayu karna betuknya yang kecil dan dipenuhi lumut serta ilalang tinggi disekitarnya.


"Woww, woww.. Ini sangat cantik sayang, kau pandai memilih tempat dan pinter memilih strategi penyusunan ruma mini ini, mengagumkan" seru dewa dengan bangganya.


"Siapa dulu Aluna Ouzora Atalyan anak papa daren dan mama nara gitu loh" jawab aluna membanggakan diri sendiri.

__ADS_1


"Ayo masuk kak jangan bengong biasa aja raut wajah yang cengo ini" ujar aluna menyindirnya.


Mereka berdua masuk kedalam rumah kecil itu, dewa tampak kaget lagi karna didalam lebih luas dan besar serta tata letak hiasan asri begitu rapi,wangi,adem seperti di alam bebas lain dari tampak depannya.


Dewa mengitari bangunan artistik ini dengan penuh kagum. lilin aroma terapi mengelilingi kolam kecil berisi ikan koi ditengah-tengah ruangan tersebut, wajah dewa tampak berkaca-kaca karna keindahan ini tak pernah ia lihat diberbagai negara mana pun dan hutan dibelahan dunia yang seperti buatan aluna nya.


"Sayang ini indah sekali serasa disurganya dunia, bagaimana bisa kamu bikin ini hmmm" ucap dewa sambil memeluk pinggang aluna nya.


"Aluna bikin ini sendirian tanpa bantuan orang lain karna ini tempat persembunyian aluna saat ingin sekali menyendiri dan aluna bikin rumah kecil ini karna inilah kesukaan mama nara sebab ini yang pernah menjadi impian mama nara dimana Tempat diam yang indah dan menenangkan. aluna jadinya berinisiatif bikin ini. udah itu aja kak" ujar aluna dengan senyuman saat membayangkan wajah mama nara nya.


Dewa tertegun mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut sang gadis kecilnya, ia tak menyangka kalau alunanya bisa sebijak ini dengan dunianya sendiri, dewa membayangkan aluna yang selama ini ia pantau bukanlah alunanya yang sekarang ini.


"Kakak gak habis pikir denganmu yang banyak hal yang disembunyikan olehmu dan tidak jujur kepada kakakmu ini. selama kakak menjagamu dengan ketat dan memantaumu dari jauh yang kakak dapatkan hanya aluna yang polos dan anak rumahan yang tak suka keluyuran. Apa ada yang terlewatkan oleh pantauan kk" tanya dewa dengan suara yang dingin tetapi tetap memeluk alunya.


"Aluna tidaklah salah...kakak yang salah saat aluna berulang tahun yang ke.16 kak dewa dan kak dante malah pergi meninggalkan aluna, kakak lebih memilih ikut sama papa danu bukan tetap tinggal bersama aluna. disaat itulah aluna dikejar pereman saat pulang sekolah. aluna berlari dari sekolahan menuju hutan dan akhirnya menemukan tampat ini untuk bersembunyi dari pereman mabuk itu, beruntunglah aluna saat itu karna para pereman tak masuk kedalaman hutan ini. aluna mengaktifkan telpon genggam aluna terus aluna telfonin mang ujang suruh jemput aluna disini tapi saat aluna cek dimaap google letak hutan ini tepat diblakang sekolahan aluna. tanpa sadar saat berlari menghidari pereman mabak itu tak sengaja naluri aluna masuk dan menelusuri hutan ini. dari sini aluna dapat inspirasi dan mewujutkan keinginan mama nara dari tangan anaknya sendiri" ucap aluna dengan membaca alur ceritanya kepada dewa.


sontak saja dewa mempererat pelukannya karna rasa bersalah tak melindungi gadisnya disaat waktu yang genting sang gadis kecilnya itu.


"Maafkan kakak sayang, maaf" ucap parau dewa tulus yang meminta maaf sambil mempererat pelukannya.


Aluna hanya menangis dalam diam dan tak bergerak sebab tangan aluna ikut dipeluk oleh tangan kekar yang memeluk tangan dan pinggang alunanya.



"Tidak apa-apa kak, itu hanya masa lalu yang tak boleh dikenang karna aluna tak menganggap kenangan itu ada, hanya bersyukur karna tuhan memberi tempat ini untuk aluna hanya untuk aluna dan sekarang hutan ini milik aluna" ujar aluna tersenyum getir.


Dewa hanya mendengar tanpa bersuara, ia menikmati rasa yang ada didalam dirinya rasa bersalah yang mendominasi rasa cinta yang ingin sekali ia mengklaim gadis kecilnya malam ini juga karna ia ingin menebus dosa dan ingin menjaga aluna dari marabahaya tetapi itu hanya rasa saja.


Dring dring


(telpon genggam dewa berbunyi)


"hmmm apa" ketus dewa karna momentnya diganggu.


"Bosss,, kado yang anda minta sudah ada didepan pintu rumah kecil itu, ambillah bos" ujar suara sesorang dibalik headset bluetothnya.


"baiklah" ucah dewa langsung menatap mata alunanya.


"Tunggu sebentar dan tetaplah disini, kakak akan keluar dahulu mau ambil sesuatu didalam mobil dan kamu harus memejamkan mata saat kakak akan masuk" ucapan dewa memerintah alunanya.

__ADS_1


Dewa pun beranjak dan melepasakan pelukannya.


__ADS_2