Obsesi Sang Gadis Kecil

Obsesi Sang Gadis Kecil
GOLDEN BLOOD


__ADS_3

Gadis kecilku.


krieeeekk..(suara pintu OK terbuka)


Dokter bertanya kepada pihak keluarga aluna, dokter putra menanyakan tentang stok darah golden blood untuk aluna karna stock darah harus lebih sekitar 4katong darah atau 6 kantong darah sebab aluna kehilangan banyak sekali darah saat diperjalanan.


"A..ada dok, saya suruh anak buah saya untuk mengambilkanya" ujar papa danu.


"Baik pak"


"tata segerah kemari bawa kantong darah non aluna yang ada" perintah dokter itu dan menyuruh perawatnya mengambilkan darah yang ada.


"Permisi sinta, aku kembali kedalam ok dulu" ucap dokter putra pamit kepada sahabatnya itu.


"Gimana ini pa" seru panik mama sinta.


"Coba telfon dante ,siapa tau dante berhasil membujuk bapak karim untuk menyumbangkan darahnya karna hanya bapak karim yang saat ini kita harapkan.


Tut..tut..tut..


"Asalamualaikum ma, ada apa ma?" tanya dante.


"Halo nak, nak tolong aluna? aluna kritis nak? cariin darah golongan golden blood yang banyak karna aluna sudah kehilangan banyak sekali darah" ujar mama sinta tersenduh-senduh.


"Aa..apa ma? Aa..aluna keritis, baik ma aku segera kembali kerumah sakit" seru dante yang kaget.


"Iya nak, cepet cari darah lagi buat aluna. Mama tunggu!" jawab mama sinta terseduh-seduh dan sambungan telfon pun terputus.


"Pa gimana aluna pa. Hiks ...hiks" seru mama sinta kahwatir.


"Sabar ma, aluna pasti cepat sadar yakinlah ma" ujar papa danu mengusap pelan lengan istrinya.


Dewa termenung didepan ruang ok, dimana sang gadis kecilnya berjuang antara hidup dan mati. saat pengangkatan 2 peluru yang bersarang ditubuh sang gadis kecilnya, dan pengangkatan peluru yang bersarang di dalam tubuh aluna itu berlangsung lama didalam ruangan yang mengerikan, bagi dewa ruang yang ada dihadapannya itu adalah ruangan yang cukup mengerikan karna ia terauma akan keadaan dimana ia kehilangan seseorang yang ia sayangi selain mama kandung nya sendiri.

__ADS_1


'Tidak aluna kau harus kembali kepadaku karna aku adalah tempat untuk kau kembali ,dimana tempat yang harusnya kau berada. Berjuanglah, Aku menunggumu aluna' gumam dewa dalam hatinya.


Dewa merasa kahwatir saat ini, tanda-tanda dokter menyelesaikan pun belum terlihat olehnya, kekahwatiran bertambah saat suara teriakan terdengar didalam ruang ok tersebut.


"Satu..dua..tiga"jerit para dokter bersamaan saat alat pacu jantung atau disebut defribrilator digosokan dan diletakan pada dada pasien.


Defribrilator adalah alat digunakan untuk mengatasi aritmia karna pada keadaan pasien dalam kondisi ini, irama jantung bisa berdetak terlalu cepat, terlalu lambat atau dengan ritme yang tidak biasa.


"Sekali lagi? Satu..dua..tiga" teriak para dokter yang ada didalam ruang ok.


"Aluna, nak bangun jangan begini honey. mami gak bis liat kamu begini" ujar dokter sinta melihat anak asuhnya.


1 Dokter sepesialis organ dalam dan 2 dokter bedah yang paling handal dirumah sakit ini adalah 3 sahabat dekat mama nara yaitu ibu kandung aluna. mereka bertiga sahabat nara dan sinta mamanya dante dan dewa selama kurung waktu 15tahun bersama-sama, bukan waktu yang cukup sebentar untuk mengenal pribadi masing-masing.


Merekalah yang mengasuh aluna selama mendiang nara dan daren tiada, mereka juga mengajarkan dan mendidik aluna dalam tata krama dan memberi pelajaran didunia kedokteran walaupun skil aluna bukan dikedokteran tapi ilmu yang mereka terapkan untuk aluna itu bisa diterapkan kepada orang yang perlu ditolong.


3dokter itu tidak asal-asal untuk memberi waktu aluna belajar ilmu kedokteran supaya dikemudian hari ada yang memerlukan pertolongan pertama dalam kasus kecelakaan aluna bisa menolongnya.


Papa danu, mama sinta dan dewa berdiri sambil mondar-mandir sebab perasaan dihati mereka sama-sama tak mengenakan, pikiran pun tertuju pada aluna yang terbaring lemah didalam sana.


"Mama sayang kamu aluna sang gadis kecil mama, jangan pergi meninggalkan mama nak hiks..hiks.." seru mama sinta didalam pelukan sang suaminya.


'Sayang.., kau harus hidup untuk kembali kepadaku, maafkan aku yang teledor saat ini karna aku tak peka dengan perasaan didada tadi dan tak peka dengan pergerakan disekitarmu saat dicafe milik kak dante itu.


Ya allah sadarkanlah alunaku? Jangan kau ambil alunaku karna aku belom sepenuhnya rela saat ia meninggalkanku, aku akan mulai jujur tentang perasaanku kepada gadis kecilku hiks..hiks.. Kembalikan alunaku ya allah" gumam dewa dalam hatinya.


Tiiing..


(Suara bel diruang ok berdenting)


Mama,papa dan danu berdiri didepan dokter candra sang sahabat dan paman bagi dewa. Mereka menunggu kabar baik yang akan disampaikan oleh dokter candra.


"Danu" seru dokter candra.

__ADS_1


"Saya bang, ada apa bang? Ada apa dengan aluna bang dan gimana..gimana kee..keadaan aluna saat ini bang? Tanya bertubi-tubi papa danu pada dokter candra.


"Satu-satu nanyanya napa dan?" seru dokter candra jengkel.


"Iya.. Iya maaf, gimana aluna bang?" tanya papa danu sekali lagi.


"Begini danu, keadaan aluna masi kritis huhh" ujar dokter candra menghembuskan nafas kasarnya.


"Gini tembakan dari senjata api itu sudah masuk kedalam bagian terdalam, hampir mengenai area tulang rusuk tetapi itu tak berbahaya hanya saja tembakan yang ada pada bagian tulang punggung belakang yang juga didapat oleh gadis kecil kita itu sudah termasuk fatal karena timah panas itu sudah meretakan tulang punggung belakang aluna walau tak terlalu dalam tapi itu sudah membahayakan aluna. senjata api tipe yang menampung peluru 9mm ini sangatlah berbahaya danu!, bagaimana bisa aluna tertembak lawannya?" seru dokter candra yang menahan emosinya karena aluna sudah seperti anaknya sendiri.


"Aa..aku kecolongan bang, saat sinta telfon sekitar jam 01.02 aku masih diruang meeting dengan klien bang. Maafkan aku bang yang gak bisa jaga aluna dengan baik" jawab papa danu meminta maaf sambil menundukan kepalanya.


"Dewa apa yang kamu pikirkan nak, kamu kan bisa merasakan ada bahaya disekitar kamu nak? Kenapa nalurimu berkurang sampai kejadian ini terjadi pada aluna?" tanya dokter candra kepada


"Maaf paman" ujar dewa meminta maaf sambil menundukan kepalanya.


Dokter candra pun menggelangkan kepalanya, saat ini ia sedang mengkahwatirkan alunanya karna keadaan aluna yang terbaring lemah diruang ok membuatnya sakit hati yang begitu dalam.


"Siapkan kantong darah sebanyaknya, aku yang akan mempertanggung jawabkan semuanya" seru dokter candra masuk kedalam ruangan itu lagi tanpa ada berpamitan dengan sahabatnya itu.


"Ya tuhan, tolong selamatkan gadis kecilku ini yah tuhan" doa papa danu yang menangis dalam doa yang ia panjatkan.


Membuat dewa yang mendengar ucapan papanya itu seketikan lemas tersandar dibangku koridor rumah sakit miliknya itu, ia tau kesalahan ini sangat fatal bagi aluna tapi apa boleh ia egois saat ini untuk membela dirinya karena saat itu aluna lah yang tak menginginkan ia mengantarkannya kedalam bilik kamar mandi prempuan.


"Astaga aluna, kau harus berjuang kembali karena aku ingin bertanya banyak hal tetang kejadian itu aluna" gumam dewa dalam hati.


"Ma..pa, dante membawa pak karim kesini" deep voice lantang menggelegar diruang koridor rumah sakit, kedatangan dante yang datang dengan pak karim pun disambut dengan pelukan hangat dari papa danunya.


"Pak terimakasih sudah mau kesini untuk menolong putri angkat saya" ujar papa danu masih berlinang air mata.


" Sabar nak danu, kamu harus berdoa manghadap sang gusti allah biar diberi mujizatnya dalam kondisi aluna saat ini, insyaallah gusti allah mendengarkan doa kamu nak" seru pak karim.


Mereka saling berbincang mengenai permasalahan yang aluna hadapi, berbagai solusi dari pak karim pun diterima oleh papa danu. dante dan dewa hanya mendengarkan perbincangan 3 paruh baya yang ada dihadapan mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2