
Menghabiskan waktu bersama aluna.
Aluna dan dante tertidur bersama diatas kasur berukuran king size milik aluna itu, sampailah dimalam hari tepat pukul.8 malam bibi membangunkan den dantenya.
"Aden, den bangun" seru bibi.
"Hmmm bi,ada apa?" tanya dante yang masi berat matanya.
"Den, den bangunin non aluna dong! Bibi udah masakin pesanan non aluna dan ini uda jam makan malam den" ujar bibi.
"Atafirullah bi, aku ketiduran" ujar dante kaget dengan jam yang disebutkan bibi.
"Ya udah den, bibi keluar dulu den" pamit bibi.
"Baik bi. oh yah bi, bibi siapin makanan nya di teras belakang aja yah bi. Apa bisa bi?"
"Bisa bisa den, bibi pamit kalau begitu den"
Bibi setia pun pergi meninggalkan kedua adik dan kakak itu, iya hanya senyum bukannya marah karena den dante tidur sekamar lah bibi tersenyum-senyum mengingat tingkah mereka tidur.
"Dasar den dante gak jujur dengan prasaannya itu hihihi" ujar bibi sambil memberesi barang-barang yang akan digunakan untuk makan malam nanti.
Balik dari dapur menuju kamar aluna. Disini dabte bukanya membangunkan alunanya malah ia memandang wajah aluna dengan mata yang menyiratkan sesuatu dan akhir dari memandang hanya ada rasa sakit didadanya sampai-sampai tangan kanannye mengelus dadanya yang terasa nyeri mengingat sang gadis kecilnya akan menikah dengan orang lain.
"Andai waktu berputar, aku ingin menyatakan yang ada dihatiku dan memilikimu seutuhnya karena semuanya hanya untukku tetapi kenyataan itu membuatku sakit tak merasakan adanya darah mengalir hanya perih menyelimuti sesak yang tiada ujung una! Apa bisa aku mengobati rasa sakit ini sendirian, aku hanya ingin bersamamu dan menghabiskan waktu seharian bersama aluna setiap harinya" gumam dante dalam hatinya.
Butiran air yang jatuh dari mata kini menetes mengenai pipi mulus nan putih berseri itu, perlahan mata aluna terbuka dan melihat sang kakak tertuanya meneteskan air mata karena jejak air mata itu sangatlah jelas.
__ADS_1
"Kakak kenapa? Ada yang sakit? bilang sama aluna, aluna sakit bila kakak meneteskan air mata begini. Padahal kakak janji ke aluna bahwa kakak tidak akan pernah menangis lagi"
"Hiks hiks, huaaaa" tangisan dante pun pecah ia memeluk tubuh gadis kecilnya dengan erat sekali.
"Kakak kenapa kak?" tanya risau aluna.
aluna saat ini menahan rasa sakitnya demi menenangkan sang kakak yang sedang sedih walau ia tidak tahu apa alasan kakaknya sampai menangis begini.
"Jangan pergi dari kakak una, jangan tinggalin kakak"
"Emang aluna mau pergi kemana kak, orang gak kemana-mana juga" jawab aluna dengan memutar bola matanya dengan tipe malas.
"Hiks hiks ..kakak serius, una mau nikah kan jadi otomatis waktu bersama kakak berkurang hik hiks"
Deg deg
"Kenapa rasa hatiku ini begini lagi, jangan-jangan rasa yang ku artikan untuk kak dewa salah karena perasaan ini semakin kuat sekarang. apa yang aku cintai itu bukanlah kak raja atau kak dewa yah tapi kak dantelah yang bikin hatiku berdebar tak menentu ini" gumam aluna dalam benaknya itu.
"Sudah yah jangan menangis lagi aluna mau mandi dan kakak juga harus mandi sudah itu kita kebawah untuk makan malam bersama"
Ucapan aluna hanya didengar saja oleh dante tanpa melepas pelukan hangat saat ini, terlalu nyaman untuk dilepaskan dasar dante cari kesempatan dalam kesempitannya.
Mereka berdua pun beranjak kekamar masing-masing karna dilantai atas itu sudah tersedia kamar dewa dan dante hanya kelang beberapa meter saja. Mereka bedua larut dalam kegiatan malam itu didalam kamar mandi masing-masing 30menit berlalu semuanya sudah berkumpul dihalaman luas terletak di rumah milik mama nara sang ibu kandung aluna, mereka berkumpul dengan sebagian penjaga yang diutus oleh papa danu dan sebagian lagi menjag dihalaman depan.
Kata ramai menjadi nyata dihalaman belakang rumah besar itu hanya dewa yang tak terlihat batang hidungnya, aluna pun bertanya-tanya kesemua orang-orang yang ada dirumah besar itu tetapi nihil tidak ada yang melihat dewa di sudut mana pun.
"Aluna nanya apa sama mereka semua dan apa yabg kalian bicarakan una?" tanya dante.
__ADS_1
"Ii-itu kak, kak dewanya kemana kok gak kelihatan" jawab aluna.
"Ohh cari dewa,dewa kluar dek dan itu kakak tidak tau dia kemana"
"Ayok kita mulai makan-makannya kasihan mereka menunggu lama" seru dante menarik lengan alunanya.
***
disebuah club dewa sedang bersenang-senang dengan sahabat-sahabatnya sedari kecil, ia kesana untuk menghilangkan rasa emosinya dan meredam amarah yang masih membara.
"Wa gak dicariin sama una?" tanya diko.
Sahabat yang paling dekat dengan dewa yah diko yonka pemuda kaya raya tetapi ia sudah menjadi yatim piatu sedari remaja karena kedua orang tuanya meninggal sebab saat ia berada dibangkok untuk meneruskan prusahaan ayahnya yang mulai tak stabil.
"Gak ko,una dijagain sama kak dante jadi santai aja yah gak bakal dicariin" ujar dewar yang sudah mabuk karna vodca.
"Lu gila cemburu ama anak kecil wa, una terlalu polos dia gak akan ngerti maksud lu dah, jadi saran gua itu lu harus bicara sama aluna kalau ada masalah seperti ini wa bukannya lari main cabut aja" tampal bacot dari ganda.
Ganda pramanan sahabat sekaligus sodarah dewa dari mama sinta. Ganda pramanan tubuh besar dengan wajah tamapan tak jauh dari wajah yang dipunya dewa yah sampai-sampai banyak orang bilang mereka itu saudara kembar yah 11 dan 12 gitu, ganda juga memiliki toko grosir bermacam-macam dari kebutuhan rumah tangga sampai guci-guci antik dari turun temurun keluarganya.
"Betul apa yang dikatakan ganda, wa. Mana bisa kamu bilang gitu yang ada aluna cari kamu gimana ? Kan kasihan sibocil itu, kehilangan yayang nya" ujar avid.
Avid brakena sahabat yang betul-betul royal kepada sahabat-sahabatnya yang lain karena ia yang kaya raya sejajar dengan kekayaan dewa emerald sebab avid mempunyai tambang minyak terbesar dikota xxx dan dibenua xxx sangking kaya rayanya didalam mansion megah itu terdapat puluhan mobil mewah yang tertata rapi didalamnya.
"Gak bakalan lah dia cari gua, toh saat ini dia masi ngehubungin masa lalunya itu" jawab dante yang sudah mabuk berat.
"Itu buktinya telfon mu berdering ada nama aluna tertera, lihatlah" seru diko menepuk pundak sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aa-apa una telfon" kaget dewa sambil melihat kontak samar dimatanya, ia tersipuh malu sendirian.
Para sahabatnya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah konyol dewa, rata-rata mereka sudah mabuk disana. Mereka tak kuat untuk berdiri lagi. tidaklamah dari itu ada 3bodyguard menarik tubuh sang majikan mereka ditengah-tengah para pemuda lain yang sudah tertodur di sofa club milik dewa itu.