
Memancing
Kicauan burung terbang terdengar merdu seolah memberi tau kepada penghuni bumi tentang sang fajar yang ingin datang.
Dinginnya angin fajar berhembus kencang menerpa kulit wajah sang gadis kecil yang berada diteras balkon, gadis kecil bangun sewaktu sang fajar tiba dengan wajah yang sumringah ia menerima kedatangan lebaran hari yang penuh kasih.
Dilembaran hari penuh kasih sang gadis kecil ini memulainya dengan meminum secangkir teh hangat beraromah melati, ia mengawali catatan hari yang penuh kedamaian dengan bersantai diteras balkon yang berhadapan dengan air terjun dan pemandangan indah disekitar air terjun itu.
Selang beberapa menit, mentari perlahan-lahan menampakan diri dari arah timur, sinar mentari yang berkilauan menembus jendela kaca kamar.
Sinar yang menyilaukan tampak menyapa wajah pemuda yang masi terlelap, cahaya mentari menyilaukan mata yang telah risih kedatangan kilau tajamnya.
Mata elang milik dewa itu terbuka dan menatap cahaya yang menyilaukan dibalik kain gorden, mata itu seakan memindai suasana kamar dari kesegalah arah. Ia mencari pemilik sang raganya berlalu turun dari singgah sanah menuju tempat sang pemilik.
Dewa menemukan pemiliknya diteras balkon, ia menatap wajah sang pencuri hatinya dengan mata yang berbinar betapa ia mengagumi dengan paras rupawan sang pemilik raga dan hatinya itu. Ia berjalan mengendap-endap dari pintu teras untuk menyapa sang gadis kecilnya itu.
Lengan putih pucat nan kekar melingkar dipinggangnya, aroma tubuh yang maskulin menusuk indra penciuman aluna.
"Pagi kak, sudah bangun kak? gih kakak mandi dulu biar seger dan aluna akan menyiapkan sarapannya" ujar aluna ingin melepas pelukan sang kakak.
"Jangan kemana-mana dulu biarkanlah kakak memeluk aluna untuk beberapa menit saja,hmmm?" ucap dewa meminta aluna tak menjawabnya.
Aluna hanya menikmati pemandangan alam yang indah dipagi ini. senyum yang sinis dikeluarkan oleh aluna karna terserah saja kak dewanya mau apa saat ini, sekejap bayangan mama nara yang berbicara tentang masa lalunya itu tiba-tiba saja muncul bak kaset rusak yang berulang-ulang kali datang dipola pikiran aluna saat ini.
"Kak masa depan bagaikan misteri dikehidupan, seandainya aluna tak bertahan disamping kakak bagaimana?" ucap aluna yang tiba-tiba.
"Bertahanlah disisiku apapun masalah yang timbul diantara kita, hanya kakak minta aluna percaya kepada kakak apapun betuk kepercayaan itu. apa bisa ?" tanya dewa.
"Bisa kak tapi saat ini aluna masih ada yang menganjal dihati ini entah apa itu kak, aluna pun tidak tau" ucap aluna yang masi menatap air terjun.
"Kamu harus yakin bahwa kakak bisa menjagamu dan menjaga seluruh keluarga kita, hmmm apa bisa yakin sama kak dewamu ini?" Tanya dewa sekali lagi.
"Baiklah aluna serahkan kepada kakak, aluna yakinkan itu apapun bentuk keyakinannya" ujar aluna berbalik badan.
"Terimah kasih sayangku, aku bakal jaga kamu sampai tetes darah terakhirku karna kamu adalah nyawaku dan juga aku adalah nyawamu sayang" ucap dewa langsung mecium kening sang kekasihnya.
"Gih mandi kak, bau asem kakaknya" ujar aluna sambil munutup hidung dengan satu tangannya.
"Baiklah aku mandi dulu" jawab dewa sambil berjalan dengan wajah yang dimanyunkan.
"Dasar kakak nakal, mandi yang bersih biar wangi lagi" seru aluna tersenyun dengan nada yang meninggi.
Aluna berjalan santai menuju dapurnya saat sampai didalam dapur ia menekan tombol disamping kulkasnya.
treeet sret..
dinding yang semula datar kini berubah menjadi tempat masak dan rak piring serta menjadi wastafel, dan ia membuka kulkas 2pintu itu mengambil sayur mayur, daging serta telur untuk dijadikan bahan masakan.
6menit berlalu alun sudah selesai memasak dan menyusun rapi masakannya dimeja teras balkon. Ia menunggu kakaknya selesai mandi, biasanya dewa dikamar mandi itu lamanya sekitar 10menit jadi tunggu dengan rasa sabar.
"dengarkan janjiku..
selama jantung ini berdetak
ku akan selalu menjagamu
hingga akhir waktu
selama nafas ini berhembus
tak akan ada cinta yang lain
hingga tua bersama" dewa yang bersenandung keras didalam kamar mandi.
Suara dewa yang keras terdengar oleh aluna yang berada diteras balkon, aluna memutar mata nya malas.
"Cepaaat gak mandinya, aluna udah lapeeer nih" seru aluna denga nada suara yang sangat tinggi.
"Yakelah gitu aja, benar lagi ini selesai" seru dewa dengan nada tinggi juga.
"Yah udah jangan marah aluna duluan aja makan, biar tau rasa" gumam aluna sambil mengunyah makanannya yang iya buat.
5menit berlalu.
Dewa keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya ia berjalan menuju teras balkon, pertama yang ia lihat adalah wajah aluna yang sangat lucu. wajah aluna yang masih mengunyah banyak makanan dimulutnya itu membuat pipi tembem mengembung.
__ADS_1
"Ehh pelan-pelan makannya nanti keselek, kebiasaan kali makan cepet" ujar dewa yang sudah dihadapan.
"Udah keburu laper nih gara-gara nungguin kakak lama mandinya" ujar aluna sambil minum.
"Iya-iya maaf deh karna aku kelamaan mandi, maafin yah" ucap dewa
"Iya udah ayo makan kak, keburu dingin makanannya" ujar aluna
"Waahh ada kimci, dadar gulung daging asap, sous asam manis sama gurame goreng. mantap sayang, mari kita coba" seru dewa dengan wajah girangnya.
"Habisin, awas kalo gak" seru alona dengan ketus.
Mereka berdua menikmati makanan dengan lahap sambil melihat pemandangan yang tersaji di depan mata mereka. air deras terjun mengalir sampai ketujuannya kicauan burung-burung kecil terdengar merdu dipendengaran nestapa.
Aluna dan dewa menikmati makanan dengan suka cita sambil bercerita tentang masa lalu, kini sampailah dewa menggenggam tangan alunanya lalu ia menekukan kakinya dihadapan aluna.
"I love you sayang, WILL YOU MARRY ME" ucap dewa sambil berlutut dengan menggenggam tangan kanan alunya dan tangan kirinya menggenggam sekuntum bunga mawar merah yang ingin diberikan kepada alauna.
"Yes , i do and i love you more" jawab aluna sambil memeluk dewa.
"Terimakasih sayang untuk semuanya semoga kita bisa melewati rintangan yang menghadang dan menyingkirkan masalah yang bisa menghancurkan kita" ujar dewa dengan memeluk alunanya.
"Sama-sama kak, mari kita buat kesepakatan" ucap aluna.
"Jangan pernah ada yang meninggalkan pasangan dalam keadaan apapun, percayalah sama pasangannya,jangan pernah ada orang ketiga didalam hubungan dan jangan pernah menyakiti hati dan jiwa pasangannya" ucup dewa panjang lebar.
"Aluna yakin" ucap aluna mengayunkan kelingkingnya.
"Kak dewa percaya, dengan ini kesepakatan dinbuat tak ada yang bisa mengingkarinya" ucap dewa mengayunkan jari kelingkingnya ke klingking aluna sebagai janji yang akan ditepati.
Hahahah canda tawa mereka menyatu dengan suara derasnya air terjun sehingga memenuhi teras balkon, mereka berdua menikmati pemandangan di depan mata mereka.
Kicauan burung masih terdengar merdu,
cahaya mentari menyinari permukaan air yang terjun kedalam kolam air yang disekitarnya membuat piasan pelangi muncul dengan berbagai warna yang ia timbulkan. begitu indah dan sangat manis suasana pagi ini seperti perasaan 2insan yang bermaduh kasih diteras balkon sekarang.
"Kak kita memancing ikan didanau mau? aluna pengen ikan panggang untuk makan siang nanti" ajak aluna kepada dewa.
"Mau aluna, apa aluna mempunyai alat pancing ikan dirumah ini" tanya dewa.
"Ada kak, fasilitas memancing sampai berburu semua ada dengan barang yang lengkap di rumah ini kak" seru aluna dengan menarik tangan kak dewa nya untuk keluar dari pintu balkon melewati pintu yang terbuat dari kaca.
"Baiklah kakak ganti baju dan aluna ambil alat pacingnya, jangan lama-lama was kalo lama!" ujar aluna sambil mengayunkan bogem mentah nya ke arah udara yang menuju ke arah wajah sang kakaknya.
hehe dewa terkikik geli melihat alunanya, ia hanya menggelengkan kepalanya dua kali lalu ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian dan aluna beranjak dari kamar kelantai dua untuk mengambil alat pancing serta menunggu kak dewa nya disana.
"Ayo jalan" ajak dewa yang sudah berganti dengan baju kaos berwarna hitam dan celana joger yang berwana senada dengan bajunya.
aluna mengunci pintu dengan kata sandi dengan sidik jarinya, ia berjalan menggenggam tangan dewa sambil menaiki anak tangga satu persatu.
sampainya didalam lift mereka berdua berbincang dengan serius entah apa yang mereka bicarakan telihat lift sudah bergerak naik.
"Sayang sini, kakak ikat rambut alunanya biar gak ganggu penglihatan saat memancing dan menangkap ikan nantinya" ujar dewa.
"Yang rapi ,awas kalo gak rapi" seru aluna sambil cubit pinggang dewa.
"Awww sakit sayang, iya diikat rapi" ujar dewa.
Dentingan pintu lift terdengar, pintu lift terbuka dan aluna membuka pintu kayu yang berukuran kecil sekecil tubuh nya sedangkan dewa yang terakhir keluar.
"Kalian berdua jahat tak ajak kakak ikutan, kakak mau ikut tau" deep voice yang berdiri dipohon sebelah rumah kecil itu.
"Ataga kak dante bikin aluna kaget. Untung jantung aluna kuat" ucap aluna kesel.
"Iya nih datang-datang ngagetin aja, lagi pula kakak tau dari mana persembunyian aluna?" tanya dewa sambil memicing matanya.
"Begok jangan disimpen, dimotor gue ada micro gps tracking chip lalu mini wifi camera dispeedometer. kamu lupa kalo kamu pinjem motor kakak tadi malam, hmm" ucap dante dengan ketus.
Aluna meringis liat tingkah mereka kalo lagi begini, ia mengambil remot dan menekan tombol kuning dan otomatis saja pintu rumah terkunci dengan keotomatisan kulit pohon dengan lapisan besi turun berangsur-angsur menutupi rumah kecil miliknya.
Dengan wajah cengo dewa melihat pergerakan kunci otomatis tersebut dan kagum akan alat canggih yang ada dirumah itu. lain dengan sikap dante yang biasa aja melihat itu karna sudah terbiasa.
"Ayo kak dante dan kak dewa kita pergi mancing, aluna ingin makan ikan pangang" ujar aluna sambil berjalan mendahului kakak beradik itu.
"Tunggu aluna" seru dante.
__ADS_1
"Sayang tungguin calon suamimu ini" seru dewa sambil meletin dante.
"Adik laki-laki kurang ajar" seru dante geram.
Mereka berdua lari-larian sambil mengejar satu sama lain, meninggalkan aluna dibelakang mereka. air terjun dihutan asri itu masih dikelilingi pepohonan hijau, trekking yang melalui jalan licin membuat dewa tidak peka dengan keadaan disekitarnya.
Tiba-tiba saja dewa terjatuh jungkir balik kepermukaan tanah liat yang masih basa karna kaget sontak saja ia menarik jas kakaknya sehingga dante ikut terjatuh.
Buk Buk Brak Trak
Aaaaaaarrrggggggggg
"Dewa bangsat , anjing kau! Aduh sakit pantat ku jadi kotor pakaianku ini" jerit dante sambil memukul-mukul tubuh dewa dengan ranting.
"Awwww sakit juga bangsat, sakit juga aku kak" ketus dewa sambil meringis kesakitan.
"Hahahahahahhahah, makanya kak dewa dan kak dante jangan seperti anak kecil masih aja main kejar-kejaran. udah tau embun fajar dan gemercik air terjun itu membasahi rerumputan juga tanah di sekitarnya membuat rumput dan tanah itu jadi licin" seru aluna dengan tawa yang terbahak-bahak.
"Begok kok dipelihara" gumam aluna lagi sambil berjalan melewati kedua kakak nya.
"Yak aluna ouzora, jangan pergi batu kami berdiri" ujar dewa dengan nada tingginya.
"Kaki kak dante sama kak dewa gak patah kan, jadi berdiri sendiri jangan mewek. Gitu aja kok repot? ayooo mancing keburu siang nanti? Jangan pakek drama-dramaan kak " seru dewa.
"Dasar gadis kecilku nakal, awas kamu kalo kena batunya. bukannya dibantuin malah ditekenin yang ada, dasar bocil" seru dante kesal.
Mereka bertiga mulai memancing didanau itu, lima umpan sudah dipasang ditempat yang berbeda.
"Kak lepas baju kalian, sekalian aluna cuci tuh pakaian yang penuh tanah liat" seru aluna.
dante dan dewa menoleh kearah gadisnya, selintas dante mempunyai ide, mata dewa memicing melihat senyum devil kakaknya. dante mengerakan alis kanannya naik turun sebagai tanda ia memberi kode untuk dewa.
"Baiklah, aku mengerti" gumam dewa kepada dante.
"Iya kami lepaskan pakaian kami, untung saja aku pakai baju kasos oblong dan celana boxer" ucap dewa.
Mereka berdua mendatangi aluna dan memberi aluna pakaian yang mereka pakai. saat aluna mau mendudukan pantat di bebatuan untuk mencuci pakaian kedua kakaknya, tiba-tiba pergelangan kaki aluna ditarik dan kedua lengannya digendong.
"Aarrrrrggggh, kakak bedebah kalian mau apa" teriak aluna ketakutan.
"Ini hukuman buat adik yang nakal" ucap mereka berdua.
"Lepaskan kakak bangsat"
"Lepaskan gak"
"Ih lepasin aluna kak" teriak aluna.
"satu, dua ,ti...tiga" seru mereka berdua
byurrr .. Hahahahhahahah.
"Kan aluna jadi basah" kesel aluna.
"Hihihiihii sama-sama bereng dek" seru kakak laki-laki dan adik laki-laki itu.
Aluna takkan marah karna memang begitu sifat mereka kalau lagi usil dan harus merasakan sakit sama-sama serta senang sama-sama janji mereka bertiga saat mereka beranjak remaja.
Aluna,Dante dan Dewa berenang didekat kolam alam tak jauh dari air terjun itu dengan pemandangan yang indah nan asri.
"Kak pancingnya bergoyang" seru aluna.
Dengan cepat dante dan dewa berlari menggapai tempat umpan picing yang bergerak itu, mereka berdua sibuk menarik pancingan.
"Tarik kak, hihihi. Ayo kak" seru aluna dengan bahagia.
"Yeee dapat ikan besar" seru dewa
"Ini juga ikan yang besar kak" seru aluna.
Dante yang sibuk manarik ulur tali pancing akhirnya perjuangan memancing selesai, mereka cuma membawa empat ikan besar saja karna satu pancing terlepas dan hanyut masuk kedalam danau gara-gara keteledoran dewa.
"Ayo pulang, kita membuat acara memanggang" seru dante dengan suara yang berwibawa.
"Ayo jalan" ucap dewa dan aluna serempak.
__ADS_1
Mereka bertiga kembali kerumah melaui trekking jalan yang masi licin dan mereka juga menempuh jarak yang cukup jauh, mereka bertiga juga melewati hutan liar diarea air terjun itu sambil bercengkrama dan tertawa bersama entah apa yang mereka ceritakan.
Pepohonan hijau yang asri menjulang tinggi menambah keindahan dihutan milik sang pencipta. Langit yang cerah serta tedupnya matahari yang menyinari hutan membawa kesegaran dan kenyamanan didada seolah-olah tuhan sudah memberi satu contoh kehidupan disurga kelak.