
“E..Enver!, Tenanglah, kenapa kamu seperti ini?”, Jean yang berusaha menyadarkan Enver, terus meracau.
“Enver, ini tak nyaman, mari lakukan sambil berdiri seperti biasa”, pinta Jean yang tubuhnya dililit oleh Enver di atas kasur.
Wajah jean memerah matang, dia merasakan lidah Enver yang terus berpindah pindah ke beberapa bekas gigitan di area leher dan dada atasnya.
Jean melotot saat Enver menggigit area pinggangnya, dia baru menyadari kalau baju yang ia kenakan hilang entah kemana.
“Enver !”, teriak Jean saat menyadari ada sesuatu yang keras menyembul dari area pinggang Enver menekan pahanya.
“Enver!!, Enver!”, Jean yang panik dengan sedikit rasa takut terus meneriakkan nama Enver, berharap Enver kembali sadar dengan kepala dinginnya.
“Tenanglah, aku tak akan melakukan 'itu' sebelum kita menikah, jadi biarkan aku menikmati darahmu dengan tenang”, keluh Enver yang mencoba menatap mata Jean sambil menjilati perut Jean yang memiliki beberapa bercak darah.
Jean terdiam menganga saat mendengar ucapan Enver, Jean hanya melamun dengan mata yang hilang fokus selama Enver meminum darah Jean.
Setelah semua kegilaan sebelumnya, Jean terduduk di ruang makan berhadapan dengan Enver. Tubuhnya kaku karena plester yang menempel di sana-sini di tubuhnya. Sedangkan wajahnya masih memerah sambil memaksakan mengunyah makanannya.
“Hmm, Enver..!”, Jean yang merasa ragu untuk menanyakan sesuatu.
“Ya?,”, jawab Enver dengan wajah yang terlihat segar.
Jean yang merasa aneh, di umurnya yang masih 17 tahun kurang beberapa bulan, baginya hal yang terjadi sebelumnya membuatnya gelisah, walau bahkan Enver tak membuka bajunya sedikitpun, dan celana yang Jean kenakan pun masih utuh tak melorot sedikitpun. Tapi membicarakan apa yang terjadi sebelumnya membuatnya malu. Selain itu perkataan Enver tentang tidak akan melakukan itu sebelum mereka menikah membuatnya kepikiran.
Atau mungkinkah itu hanya racauan laki-laki yang sedang ditengah rangsangan?, pikir Jean beberapa kali. Jean teringat cerita salah satu temannya tentang tetangganya yang masih kuliah ditinggal kabur pacarnya dalam keadaan hamil, padahal pacarnya berjanji akan menikahinya.
“Kupikir, aku harus sekolah?, aku sudah tak sekolah hampir sepuluh hari”, Pinta Jean memutuskan tak memikirkan ucapan Enver soal menikah.
Enver terdiam beberapa saat, seperti sedang berpikir beberapa hal sambil mengunyah makanannya.
“Baiklah, kamu mau belajar apa, biar aku carikan guru”. Ucap Enver menyimpulkan.
“Apa?, maksudku sekolah ke sekolah, dengan Lisa dan Rani juga”, Jelas Jean.
“Tidak bisa”, jawab Enver cepat.
__ADS_1
“Kenapa?, Tapi aku merasa akan mati jika aku harus terus berada disini!”, Jean menggerutu.
“Jangan melaw..”, “Kamu berniat mengurungku seperti ini seumur hidupku? , kupikir akan lebih baik untuk hidup di panti sampai umur 21 dari pada harus seperti ini disini”, Jean memotong ucapan Enver dengan ucapan yang sebenarnya menakutkan baginya.
Beberapa saat setelah mengucapkan kalimat itu, Jean merasa takut kalau Enver mengembalikannya ke panti, karena dalam pikirannya akan mudah mencari sumber darah lain selain Jean. Apalagi melihat kekayaan Enver, Jean pikir bukan hal sulit untuk mencari darah yang sesuai selera Enver di seluruh penjuru dunia.
“Baiklah”, Jawab Enver setelah beberapa saat memikirkan sesuatu.
“Be.. benarkah?”, tanya Jean yang tidak menyangka.
“Asal kamu harus pergi dengan Siska kemanapun kamu pergi”, Jelas Enver kepada Jean.
“Apa?, kenapa harus Kak Siska?, aku berjanji tidak akan kabur, kau tahu aku mempertaruhkan nyawaku jika aku kabur darimu”, ucap Jean meyakinkan Enver.
“Apa Siska melakukan kesalahan?”, Tanya Enver yang seperti sengaja menghiraukan arah pembicaraan yang di maksud Jean.
“Bukan kesitu arahnya!, akan aneh jika Siska mengikuti ku kemana-mana di sekolah, kau tahu sendiri Kak siska memperlakukanku seperti memperlakukan tuan putri di negeri dongeng, itu sangat aneh memangnya ini jaman kerajaan? ”, ucap Jean mencari alasan.
“Itu karena dia memang hidup dari Jaman kerajaan”, ucap Enver.
“Siska memang sudah menjadi pelayan disini sejak dia melayani nenekku, dia berumur sekitar 800 tahun?, aku tak begitu mengingatnya”, penjelasan Enver itu membuat Jean menelan makanan yang belum selesai ia kunyah bulat-bulat.
“Kamu sedang bercanda?”, tanya Jean.
“Tidak, kamu tahu, bukankah Vampir yang kamu ketahui itu hidup hampir abadi?, tapi sebenarnya rata-rata umur kami itu sekitar 3000 tahun”. Jelas Enver.
“Waah, berarti umur anda berapa?”. Jean yang mendadak sopan karena menyangka bisa saja umur Enver bisa sampai ratusan.
“Aku?, aku umur 18 tahun”, ucap Enver sambil sedikit tersenyum.
“Oh.., berarti kamu bayi, bayi new born?, atau new bro?,, hahaha”, Jean yang tertawa kecil. Enver tersenyum melihat hal itu.
“Baiklah, dua hari dari sekarang kamu bisa sekolah, asal kamu terus bersama sepupuku, dia seumuran denganmu, aku akan menyuruhnya pindah ke sekolahmu”, Jelas Enver setelah mengelap mulutnya.
“Apa?, kupikir tak perlu sampai seperti itu, hei Enver, tak bisakah aku pergi sendiri saja?”, pinta Jean sambil berputar mengikuti arah Enver yang pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Pagi itu Jean duduk di samping Enver didalam mobil, Jean dan Enver terlihat sibuk dengan smartphonenya masing-masing, Jean mendapatkan smartphone baru dari Enver yang di berikan Siska tadi malam, semalaman Jean yang senang karena pertama kalinya mempunyai Smartphone sampai tidur tengah malam. Karena terus memainkan Smartphonenya.
“Jangan lupakan apa fungsi utama smartphone itu!”, enver mengingatkan Jean untuk kesekian kalinya.
“Siap boss!”, dan respon Jean yang tetap konsisten dibalut semangat malah membuat Enver ragu.
“Biarkan aku menghisap darahmu sebentar”, Pinta Enver. Sebelumnya mereka berdua memang sudah memutuskan untuk membuat jadwal minum darah Enver, yaitu sehari dua kali, dengan peraturan bahwa Enver hanya bisa menggigit pergelangan tangan Jean saja, tidak di tempat lain.
Hal itu karena jika Enver melewatkan minum darah selama seminggu lebih seperti sebelumnya, Enver akan bertingkah tanpa kendali seperti sebelumnya. Sebenarnya semua itu adalah terkaan Jean semata, dan saat Jean mengajukan hal itu Enver hanya mengiyakannya.
Jean menyerahkan tangannya kepada Enver, Enver mulai menggigit pelan tangan Jean.
“Tidak bisakah kamu menggigitnya dengan cepat?, itu akan lebih terasa sakit kalau kamu menggigitnya perlahan seperti itu!”, protes Jean.
“Heupp!”, Jean mendadak menahan nafas karena Enver mendadak menggigitnya dengan cepat.
“Kamu bilang lakukan dengan cepat kan?”, ucap Enver dengan mulut yang masih menyentuh pergelangan tangan Jean sambil tersenyum.
“Ha.. harusnya kamu memberitahuku dulu sebelumnya”, Jelas Jean dengan gugup.
Ditengah interaksi dua orang itu, supir yang mengendarai mobil hanya melirik sesekali dari spion, Jean bahkan lupa kalau ada supir di sana.
Sekolah sudah makin dekat, Enver yang menyadari hal itu segera menjilat bersih pergelangan tangan Jean. sebelum kemudian memakaikan plester yang ia bawa di saku jas nya.
“Kamu selalu membawa plester setiap saat?”, tanya Jean yang ingat saat pertamakali Enver meminum darahnya di belakang gudang dan di UKS.
“Tidak juga, hanya saat aku merasa akan bertemu denganmu”, ucap Enver.
Jean terdiam sesaat.
Di depan sekolah gerbang sekolah, terlihat seorang wanita dengan rambut panjang, dengan ujung rambutnya yang sedikit ikal, berdiri terlihat menunggu sesuatu. Wajahnya yang mewakili namanya membuat semua siswa yang lewat tanpa sadar memperhatikannya.
"Itu dia, sepupuku angel. Tetap bersamanya selama aku tak ada di sisimu di luar mansion, oke?. Dan ingat.. ". " Hubungi bos Enver jika ada hal aneh atau buruk terjadi, begitu.. ?, Ucap Jean memotong nasehat Enver yang sudah membuatnya bosan.
Jean merasa berdebar semangat, karena dia akan bertemu dengan teman-temannya termasuk Beny dan Clara yang di pindahkan Enver ke sekolah milik Enver.
__ADS_1