
Enver berdiri mematung di ambang pintu, matanya bergetar menatap Jean setelah mendengar teriakan Jean.
“Pe***tan dengan rasa malu\, aku mencintaimu!\, kau pikir dengan menyuruhku memulai kehidupan yang baru dengan orang yang ku cintai itu mungkin?.”\, Jean mengeluarkan isi hatinya sembari menyembunyikan wajahnya di balik dua tangannya\, suara yang bergetar menunjukan kalau air mata jean membuncah di balik dua telapak tangan Jean.
“Gara-gara kamu aku terkurung dan tak bisa menemui laki-laki kecuali kamu, dan kamu bilang pergilah dan hiduplah dengan orang yang kamu cintai?. Apa kamu bercanda?, kupikir aku lebih baik mati jika harus berpisah denganmu”, ditengah dengungan tangis, kalimat yang Jean ucapkan cukup jelas untuk di mengerti.
Namun uneg-uneg yang belum habis di keluarkan itu, harus tersendat karena Jean merasakan Enver yang mendekapnya erat. Tubuh Enver terasa bergetar seperti menahan tangis. Tangan Enver mengelus kepala Jean perlahan, suara sesenggukan Enver yang berair memberitahukan kalau Enver memang sedang menangis.
Jean yang malah kebingungan melepaskan tangan yang menghalangi pandangannya. Saat itu Jean melihat penjaga yang seperti sedang mengusap sudut matanya. Sebuah adegan haru itu memberitahukan Jean, kalau selama ini Enver memang mencintainya. Entah dimana letak kesalahpahaman antara mereka berdua. Jean mendekap Enver dengan erat tanpa berpikir panjang.
“Maaf tapi waktu kalian habis”, Penjaga yang menyadari kalau hampir saja dia kecolongan waktu karena ikut terharu, segera memberitahu Enver dan Jean.
Sebuah perasaan hangat di dalam hati Jean mengembun di matanya, mata Jean yang sembab melihat Enver yang pergi dari ruangan dengan pundak yang basah karena air matanya.
Di sebuah penginapan, Jean memandang ke pantulan kaca yang cukup gelap. Dia melihat baju di sekitar pundaknya yang kusut, hal itu membuat Jean tersenyum tipis mengingat apa yang sebelumnya terjadi di ruang besuk.
“Walau agak malu, tapi untung saja aku berteriak”, Jean memberikan pujian pada dirinya sendiri sambil bergulingan di kasur, mengingat bagaimana dia berteriak menyatakan cinta kepada Enver seperti remaja yang sedang puber.
“Andai saja aku bisa ikut ke pengadilan”, Jean berandai, karena dia tak bisa ikut ke pengadilan Enver.
Namun Jean mendapatkan informasi hasil persidangan. Hari itu adalah persidangan terakhir untuk Enver, setelah rangkaian pengadilan panjang sejak dua tahun lalu.
Walau tak sesuai harapan, pengadilan memutuskan menjatuhi hukuman 10 tahun penjara, dengan dua tahun masa percobaan, serta denda dengan nominal yang sangat besar, bahkan untuk selevel Valera company sekalipun.
Jean memutuskan untuk hidup di mansion, terkadang membantu Bram untuk mewakili urusan perusahaan yang sederhana. Dan tentu saja Jean masih bekerja di rumah produksinya, walau seringkali terganggu karena panggilan dari Bram.
Beberapa perusahaan di bawah Valera mengalami kebangkrutan, walau begitu krisis yang di alami Valera tak seberapa di banding perusahaan milik keluarga Allagi yang harus memulai kembali dari awal karena sang kepala keluarga baru sadarkan diri tepat saat pengadilan terakhir Enver di adakan. Sedangkan perusahaan milik keluarga Reynard benar-benar gulung tikar.
Panti yang cukup vital bagi para Vampir masih terus beroperasi di bawah pengelolaan Valera, karena walaupun di dasari kepentingan vampire, panti benar-benar memberikan bantuan kepada anak-anak yang kurang beruntung, bila pengelolaanya benar.
Malam itu Jean menatap cermin di hadapannya, kerutan di sekeliling matanya sudah mulai terlihat. Entah memang ada atau hanya perasaan Jean saja, karena hari itu adalah hari penjemputan Enver setelah delapan tahun mendekam di penjara. Jean merasa malu untuk bertemu dengan Enver, karena melihat Bram yang tidak bertambah tua membuat perbandingan yang jelas untuk Enver juga.
“Padahal aku sudah mengikuti semua treatment yang Clarisa sarankan”, Jean bergumam. Karena diantara teman-temannya, Clarisa terlihat sangat awet muda.
“Heyy.. memangnya kamu setua apa sih?, kepala 3 itu masih sangat muda. Kalau kepalamu sudah bercabang lima, baru kamu tua. Kau terlalu berlebihan”. Lisa memberikan pendapatnya, itu karena Jean benar-benar terlihat terobsesi pada penampilan.padahal di mata Lisa, Jean tak berubah banyak di bandingkan dengan Jean yang berumur 20-an dulu.
__ADS_1
Tapi tentu saja pandangan Jean berbeda dengan Lisa, itu karena Jean tahu kalau suaminya yang seorang vampire akan awet muda secara ekstrem. Apalagi saat tahu kalau umur ayah Bram mencapai 1300 tahun, tapi wajahnya terlihat seperti om-om umur 38 atau 39.
“Yasudah, aku pulang sekarang ya, apalagi suamimu pulang sekarangkan?”, Lisa berpamitan setelah bermain seharian di mansion Valera. Lisa tahunya kalau Enver sedang pergi perjalanan bisnis, dan jarang pulang.
Jean menunggu Enver datang di ruang tamu, Jean tak ikut penjemputan karena Enver melarangnya, walau merasa kesal tapi mau bagaimana lagi. Sore itu Jean sudah mandi sampai tiga kali, berpakaian se elok mungkin, walau sebenarnya dia tak terlalu mengerti mengenai fashion karena sebelumnya Jean tak begitu tertarik.
Gerungan mobil terdengar berhenti di depan mansion. Jean dengan cepat berlari ke pintu depan untuk menyambut suaminya.
“Loh, kok Cuma satu mobil..”, Jean yang berpikir akan ada setidaknya lima mobil beriringan merasa heran. Itu karena Jean tahu, kalau para eksekutif pergi beriringan menggunakan lebih dari lima mobil untuk menyambut pimpinan mereka yang baru bebas.
“Kamu cari siapa?”, Enver yang sudah ada di depan Jean tersenyum menatap istrinya.
“Sejak kapan kamu ada disini?”, Jean kaget.
“Padahal aku berjalan dari mobil ke depan mu, tapi kamu malah celingak-celinguk ke segala arah, cari siapa ?”. Enver mengeluh.
“Kupikir akan ada banyak rombongan mobil, padahal yang pergi menjemputmu cukup banyak tadi”, Jean yang menyaksikan langsung rombongan penjemputan dari gerung Valera company, merasa keheranan.
“Oh, itu kami tadi makan di restoran, dan memutuskan untuk membubarkan diri di sana”, Enver menjelaskan.
“Apa?, tapi Siska dan yang lainya sudah menyiapkan banyak sekali hidangan di dalam. Dan lagi aku yang minta tolong”. Jean merasa tak enak hati.
Saat masuk, beberapa pegawai menyambut Enver, dan perbincangan ringan terjadi beberapa saat antara para pegawai dan Enver.
“Kamu sudah makan?”, Enver bertanya kepada Jean yang duduk di sampingnya.
“Sudah, untung saja sudah. Kalau aku menunggumu itu akan sia-sia”, ucap Jean mengungkit Enver yang membawa para eksekutif makan di restoran, alih-alih ke mansion.
“hehe, baiklah. Aku cape ingin mandi dan beristirahat”. Enver pergi meninggalkan Jean dengan sebuah kecupan di pipi Jean.
“Apa itu?”, Jean yang kaget terpaku. Sebelum kemudian pergi meninggalkan para pegawai yang masih berkumpul, karena merasa malu.
“Kamu keterlaluan!, Aku malu tahu !”, Jean langsung mengomel saat Enver keluar dari kamar mandi.
“Kenapa harus malu?”, Enver tertawa sambil langsung menciumi pipi Jean.
__ADS_1
“Keringkan rambutmu dengan benar, kalau kamu langsung tidur bantal akan basah”, Jean berusaha berbicara saat Enver terus menciumi wajahnya.
“Nanti juga basah lagi karena keringat”, Enver mengecup bibir Jean dengan tatapan yang jelas membuat Jean mengerti.
“Haruskah aku mandi dulu?”, Jean bertanya.
“Tapi tubuhmu masih wangi sabun”, Enver berucap sambil menciumi leher Jean.
“Begitukah?”, Jean tersenyum. Karena perlakuan Enver sejak bertemu di teras. Jean lupa akan hal yang dia khawatirkan. Yaitu ketakutan bahwa dirinya akan terlihat jauh lebih tua di banding Enver. Tapi saat itu, saat Jean melihat wajah Enver dari jarak yang sangat dekat, Jean teringat topik itu lagi.
Jean kemudian berbalik menelungkup di kasur dengan terburu-buru.
“Kenapa?”, Enver menindih Jean sambil memaksa Jean untuk melihat kearahnya.
“Lakukan dari belakang saja”, Ucapan Jean yang cukup kontroversial bagi Enver membuat Enver kehabisan kata-kata.
"Apa?, belajar dari mana kamu tentang hal seperti itu?", Enver menggoda Jean.
" Jean, tapi aku ingin melihat wajahmu", Enver membelai rambut Jean.
"Aku mengantuk", Jean menimpali sambil terus menempelkan wajahnya ke-bantal.
" Oh ayo laahh..", Enver yang terus berusaha setengah memaksa.
Enver membalikan Jean yang menelungkup dengan kekuatannya, Jean yang terpelanting ke sisi lain kasur terlentang kaget, sambil langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hey, kenapa kamu begini?. Aku benar-benar merindukanmu, tapi kamu malah bertingkah seperti ini? ". Enver masih berusaha.
" Ini memalukan", Suara Jean teredam oleh kedua tangan Jean yang masih menutupi wajah.
"Sejak kapan kamu menjadi pemalu?, biasanya saat malu cukup dengan wajahmu memerah, tapi sekarang kamu menutupi wajahmu?". Ucap Enver.
" Itu karena wajahku sudah menua, tapi wajahmu terlihat seperti masih 20-an, Jean mengeluh.
"Apa maksudmu?, tapi kamu tak terlihat berubah", Enver yang berhasil menarik kedua tangan Jean yang menghalangi wajah Jean, mengatakan pujian sebelum kemudian mengecup kening Jean.
__ADS_1
"Kamu menarik tanganku paksa?", Jean mengeluarkan keluhan yang sebenarnya hanya untuk menyembunyikan rasa tak percaya dirinya.
Tapi Ekspresi Enver yang seperti tidak mempermasalahkan beberapa tanda penuaan awal di wajah Jean, membuat Jean perlahan melupakan rasa tidak percaya dirinya, saat Enver terus mencumbu Jean.