
“kenalin, ini pegawai baru di tim kita”, Ketua tim Jean memperkenalkan pegawai baru.
“Halo, saya Reno, mohon bimbingannya”, pegawai baru itu memperkenalkan diri.
“Oh, halo, saya Lita, lalu yang duduk di sampingku Rina, dan yang duduk di samping Rina namanya Jean”, Lita dengan semangat memperkenalkan diri. sedangkan Jean dan Rina hanya mengangguk sambil tersenyum.
Pegawai baru yang terlihat masih muda itu kemudian duduk di samping Jean, di bilik bekas Ruby dulu duduk.
Seminggu berlalu sejak pegawai baru bekerja.
“Jean kamu beneran gak bisa ikut?, kenapa?, suamimu kambuh lagi?”, Rina bertanya tentang rencana makan malam bersama untuk penyambutan pegawai baru.
“Iya, padahal kita kan jarang makan malam full tim”, Lita membujuk.
“Hari ini benar-benar tak bisa, ada kepentingan mendadak”, Jean yang sudah bersiap-siap untuk pulang lebih awal, membatalkan niatnya untuk ikut makan malam.
Karena tiba-tiba saja di siang hari Enver mengajak Jean untuk pertemuan eksekutif. Itu karena Enver memasukkan Jean ke jajaran Eksekutif, dengan alasan Jean adalah pemilik dari salah-satu anak perusahaan.
Pertemuan eksekutif kali ini bisa di bilang di luar rencana, karena biasanya para eksekutif mengadakan pertemuan terjadwal setiap bulannya. Tapi pertemuan ini, adalah pertemuan kedua di bulan yang sama. Biasanya karena ada masalah atau berbagai macam faktor eksternal.
Kali ini, sebuah perusahaan investor asing yang cukup terkemuka berencana untuk menyuntikan dana ke Valera company.
Pertemuan yang cukup memakan waktu itu membuat kelopak mata Jean hampir terjatuh karena rasa kantuk yang sangat berat.
“Kamu bisa beristirahat ke ruanganku”, Enver berbisik kepada Jean sambil menahan tawa karena kepala sang istri beberapa kali terkatuk.
Namun Jean yang tak berniat untuk pergi hanya berusaha membuka matanya, dan tetap berusaha mendengarkan persentase yang silih berganti.
Pertemuan itu akhirnya berakhir, beberapa orang mulai keluar segera setelah memberi salam kepada Enver dan pemilik perusahaan investor.
“Halo, ini istri anda?”, seorang wanita dengan wibawa yang khas bersalaman dengan Jean setelah sebelumnya bersalaman dengan Enver.
“Oh, halo”, Jean tersenyum menerima tangan wanita yang merupakan istri dari pemilik investor.
“Senang bisa bekerja sama dengan Valera company”, sang pemilik perusahaan investor menyalami Enver dan Jean secara bergantian.
“Begitupun dengan saya, senang bekerja sama dengan anda”, Enver menimpali.
“Oh ya, resort anda benar-benar memiliki pelayanan terbaik”, Sang Investor memuji tempat dimana sang Investor beserta rombongannya di jamu oleh Valera.
Basa-basi ringan itu berlangsung hampir lima belas menit sambil berdiri.
“Oh ya, kalau begitu kami pamit dahulu, soalnya penerbangan kami di jadwalkan subuh nanti”, Investor berpamitan.
__ADS_1
“Ya, silakan”, Enver menimpali.
“Oh ya, anda terlihat buncit”, salam perpisahan dari istri investor itu membuat Jean terpaku.
Bukannya tersinggung, melainkan karena Jean menggunakan baju oversize, yang mana bagian perutnya benar-benar mengawang dari perut.
“Apa aku salah dengar?”, Jean berpikir, karena kemampuan bahasa asingnya masih tak terlalu lancar.
Keesokan harinya Jean mencari-cari tas yang berisi laptop pribadinya, Jean merasa meninggalkannya di meja kerjanya saat kemarin terburu-buru menuju keruang pertemuan.
“Cari apa?”, Lita bertanya sambil meminum kopi dari gelas yang dia tenteng.
“Sepertinya aku lupa menyimpan tasku, isinya leptopku”, Jean menyingkapkan beberapa kertas yang berserakan di mejanya.
“Dan di dalamnya ada pekerjaanku yang deadline siang ini”, Jean menatap Lita yang ikut syok mendengar ucapan Jean.
“Tak ada backup-an?”, Lita bertanya.
“Tak ada, kemarin kan computer perusahaan di service”,ucap Jean.
“Oh iya, coba kamu cek cctv, tahun lalu Rita juga lupa menaruh kotak paket milik ku, dan kita cek cctv untuk melihat dimana terakhir kita menyimpannya”, Jelas Lita.
Jean kemuadian pergi ke ruang cctv sendirian, dan minta tolong kepada petugas cctv untuk memutarkan rekaman cctv di ruangan Jean, dari siang hari kemarin.
“Oh iya, aku lupa”. Walau tak ada rekaman di ruangan Enver, tapi Jean ingat menyimpannya di sofa yang ada di kantor Enver sebelum pergi ke pertemuan kemarin.
Saat Jean hendak berterimakasih kepada petugas cctv, Jean tak sengaja melihat Reno yang seperti mencari-cari sesuatu di meja Jean. Jean memperhatikan Reno yang terlihat terburu-buru mencari sesuatu sembari sesekali meihat ke semua arah.
“Sepertinya beberapa menit sebelum pergi ke makan malam”, gumam Jean setelah melihat waktu yang ada di pojok rekaman.
Jean bertanya-tanya apa yang Reno cari?, sampai mencarinya saat tak ada seorangpun di ruangan, dan dengan gelagat seperti takut ada orang yang masuk.
Tapi karena tidak ada barang yang hilang, Jean jadi tak nyaman untuk menanyakannya langsung kepada Reno.
Hari-hari berlalu, Jean yang berjalan dari loby melihat reno yang sedang menggunakan ponselnya duduk di mobilnya dengan pintu yang terbuka.
Saat melewati mobil Reno Jean tanpa sengaja melihat layar hp Reno, seperti sedang mengirimkan beberapa photo dalam obrolan chat.
“Oh, halo, baru datang?”, Reno yang terlihat kaget, hampir menjatuhkan ponselnya.
“Oh ya, halo. Duluan ya”. Jean meninggalkan Reno.
Entah kenapa, karena melihat Reno yang mencari-cari sesuatu di meja Jean tempo hari di rekaman cctv. Jean menjadi agak merasa Reno selalu bertingkah mencurigakan. Tapi Jean tentu saja berusaha melupakannya, karena mungkin bisa saja hanya perasaan Jean semata.
__ADS_1
Hingga di siang hari, Reno membagikan kopi dan beberapa minuman, sesuai yang dipesan oleh para anggota tim.
“asiikk, makasih”, Lita menerima minuman itu dengan senang.
“Ketua tim mentraktir kita adalah sebuah fenomena tahunan yang langka”, Ucap Rina.
Jean memesan lemoned, dengan semangat Jean menusukan sedotan ke kemasan minuman. Tak sengaja Jean melihat plastic penutup minumannya tak tertutup dengan sempurna.
“Pantas saja agak lengket”, Jean bergumam, dan berfikir kalau mungkin mesin kemasannya masih melum panas.
Di perjalanan pulang Jean membaringkan kepalanya di lahunan Enver.
“Kamu harusnya pulang lebih awal kalau sedang tak enak badan”, Enver memijat-mijat pelipis Jean.
Namun Jean hanya terdiam karena rasa sakit kepala. Hingga malam tiba, bukannya membaik Jean muntah-muntah beberapa kali.
Hingga keesokan harinya Jean bahkan ijin tak masuk kerja, karena di pagi hari, mualnya lebih parah lagi.
“Ayo kita kerumah sakit”,Enver yang sudah menunggu Jean menghabiskan sarapannya mulai berucap.
“Haruskah?”, Jean merasa terlalu berlebihan untuk kerumah sakit. Tapi baru kali ini dia mengalami sakit kepala disertai mual dan lemas.
Di tengah lamunannya Jean mengingat minumannya yang penutupnya sedikit terbuka. Dan yang membeli dan membagikan minuman itu adalah Reno.
“Ayo kerumah sakit”, Jean yang mendadak merasa curiga kepada Reno, bergegas pergi kerumah sakit, padahal dari kemarin Enver terus membujuk Jean untuk kerumah sakit, tapi Jean menolak karena menganggap dirinya hanya sakit ringan.
Apa mungkin aku keracunan?, pertanyaan itulah yang terus terputar di otak Jean selama perjalanan kerumah sakit. Kalau di ingat-ingat photo yang ada di chat Reno, memiliki postur yang mirip dengan Jean. semua rasa curiga semakin memuncak, Jean merasa akan menanyai Reno segera setelah hasil cek kesehatan Jean keluar. Apa lagi kalau hasilnya mengatakan kalau Jean keracunan.
Jean yang pendengarannya agak terasa bindeng karena sedang sakit, bersandar di bahu Enver dengan tangan Enver yang melingkar menahan tubuh Jean.
“Ya, tentu saja akan saya bantu, tim penyelidik dulu juga boleh ikut bersama anda. Ya, tenang saja. Saya juga akan berusaha membantu sebisa mungkin..”, Percakapan Enver dengan ponselnya terdengar samar oleh Jean yang setengah tertidur.
“Ada apa?”, Jean yang lemah bertanya karena penasaran setelah mendengar kata penyelidik.
“Bukan apa-apa?”, Enver menjawab.
“Kamu kan berjanji akan selalu memberi tahuku tentang apapun”, Jean yang ingat akan janji Enver kepadanya dulu, karena banyak kesalahpahaman yang terjadi jika kurangnya komunikasi.
“Ada puluhan panti di negara ini yang di curigai memiliki kesamaan kejanggalan dengan panti yang Valera kelola, dulu”, Jelas Enver.
“Ya tuhan, Lalu bagai mana?”, Jean yang sebenarnya tak begitu bisa fokus mencoba untuk terus bertanya.
“Mari kita bicarakan nanti, tubuhmu semakin panas”, Enver memegang kening dan tangan Jean berulang secara bergantian.
__ADS_1