
“Dia sudah bersamaku, aku akan mengantarnya nanti malam, ya.. ya..”, Bram berbicara dengan Ruby di panggilan smartphone.
Jean duduk di ruang tamu mansion Valera dengan pikiran yang risau, menunggu Bram berhenti menelpon.
“Jadi, kenapa?”, Jean langsung bertanya saat Bram hendak duduk di kursi yang ada di hadapan Jean.
“Haah, begini. Sebenarnya kami di larang mengatakan semua ini kepadamu oleh Enver. Tapi karena sudah terlanjur biar sekalian saja”. Bram terlihat sudah pasrah bahkan jika di salahkan oleh Enver nantinya.
“Enver sedang menjalani hukuman di penjara Vampir nasional, ancaman hukumannya sekitar 30 tahun”, Bram mulai menjelaskan.
“30 tahun?, memangnya dia melakukan kesalahan apa?”, Jean bertanya dengan perasaan syok karena mendengar kata 30 tahun.
“Yah, itu. dia membunuh”. Jawab Bram ragu-ragu.
“Membunuh?. Ja.. jangan bilang dia ikut andil dalam kasus di panti?”, Jean beropini sambil memikirkan kemungkinan yang paling dekat menurut pikirannya.
“Tidak!, tentu saja tidak!. Enver adalah orang yang membongkar kasus itu, tentu saja bukan”. Bram menyanggah pikiran buruk Jean.
“Lalu apa?”, Jean yang merasa geregetan karena Bram terus mengulur-ngulur waktu.
“Pertama, dia membunuh kakak pertamanya. Orang yang menyerang mu di restoran waktu itu”. Ucap Bram.
“Pertama?, maksudmu dia membunuh lebih dari satu orang?”, Jean terus fokus menggali informasi.
“Ya, saat itu keadaanmu sedang kritis, setelah mengirim mu ke rumah sakit dia pergi ke rumah kakak dan ibu tirinya”. Bram lanjut menjelaskan.
“Mengirim ku ke rumah sakit?”, Jean bertanya.
“Ya, Enver membunuh kakak pertamanya di restoran saat itu juga, Ruby bilang, saat dia sadar, Ruby melihat Enver sedang memukuli kakaknya yang sudah mati”, Bram berkata sembari melihat wajah Jean yang terus meminta lebih banyak penjelasan.
“Lalu setelah mengirim mu ke rumah sakit, dia menghilang entah kemana setelah menyuruhku menjagamu”, Lanjut Bram.
“Lalu keesokan harinya, aku mendapati tim keamanan vampir yang datang dengan surat pemberitahuan penangkapan untuk Enver. Dan ternyata Enver sudah di tahan di markas keamanan nasional pusat. Di malam sebelum tim keamanan vampire datang, dia menghabisi total 21 orang, total itu bisa saja bertambah. Karena ada lima orang yang masih kritis hingga sekarang”. Bram menjelaskan.
“Dari total 21 orang yang tewas itu, diantaranya kakak pertamanya, kakak keduanya, lalu ibu tirinya. Sisanya para tersangka dan terduga yang terlibat dengan kasus panti, yang memang ada di markas keamanan vampire pusat”. Jelas Bram
“Bram hanya menyuruhku untuk mengambil alih tugasnya sementara dia di tahan, dan juga menyuruhku merawat mu”. Bram menundukkan pandangannya.
“Lalu maksudmu, kamu berniat menyembunyikan semua ini dariku sampai 30 tahun ke depan?”, Jean mengeluh di tengah rasa syok yang terus-menerus bertambah.
“Ayahku secara khusus bekerja sama dengan OVI untuk mengusahakan pengurangan masa tahanan, mengingat mereka semua adalah tersangka yang terkait dengan kasus di panti. Jika bukti kerja sama antara saudara-saudara Enver dan pihak tersangka panti bisa di temukan, Enver mungkin hanya akan menerima masa tahanan paling banyak selama tujuh tahun”, Bram menjelaskan.
__ADS_1
“Tenang saja, ayahku bilang beberapa bukti sudah di temukan. Tinggal mencari bukti untuk seorang terduga”. Bram menjelaskan.
Jean terdiam sembari mencabuti kulit bibirnya yang mengering.
“Jadi sekarang Bram tinggal memiliki ayah dan neneknya?”, Jean bertanya.
“Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi nenek?, Neneknya sudah meninggal sejak lebih dari seribu tahun lalu”, Bram menjelaskan.
“Tapi katanya keluarga Valera inti itu terdiri dari 3 orang anak, ibu, ayah dan seorang nenek?”, Jean mengingat cerita dari Clarisa.
“Oh, lebih tepatnya kakeknya, tapi kakek Enver juga sudah meninggal bersamaan dengan ayah Enver”, Jelas Bram.
“Apa?, kenapa bisa?”, Jean mulai menanyakan banyak hal.
Malam itu Jean mendengar banyak cerita mengenai Enver, tragedy di keluarga Valera, soal ibu kandung Enver, dan bahkan tentang bagaimana kehidupan masa kecil Enver yang sebenarnya memberikan trauma pada Enver. Tentu saja semua cerita itu sesuai persepsi dari Bram, karena Enver mungkin tak sadar, kehidupan masa kecilnya dan tragedy di keluarganya sebenarnya berdampak pada kehidupannya.
Jean yang mendengar semua cerita tentang Enver sesekali tersenyum dengan ngeri, bagaimana bisa dia menelan semua itu sendirian selama ini?, itulah yang Jean pikirkan. Karena sejak Jean di panti, dia terbiasa berbagi kesedihan dengan teman-temannya.
Sejak hari itu Jean mulai bekerja kembali, terkadang Jean bertanya kepada Bram, apakah dia bisa menjenguk Enver di pusat penahanan?, sebanyak Jean bertanya, sebanyak itu pula Bram berkata tidak.
Rasanya seperti orang bodoh, bahkan setelah menikah dengan Enver, Jean tak bisa melakukan apapun sebesar apa yang Enver lakukan. Walau Jean tak tahu kenapa Enver membunuh para tersangka dan terduga yang padahal sudah ada di pusat penahanan, tapi tentu saja Jean masih hidup hari ini, secara tidak langsung semua itu berkat Enver yang datang menyelamatkannya.
Di luar rasa hutang budi kepada Enver, tentu saja, rasa cinta yang anehnya terus menggebu membuat Jean tak bisa berpaling sedikitpun dari Enver. Pesan dari Enver yang di titipkan Enver melalui ayah Bram, hanya menggores hati Jean, tapi tak mengurangi rasa cinta Jean kepada Enver.
Ayah Bram yang melihat kearah lain terlihat tak nyaman melihat Jean yang seperti tersulut emosi saat membaca surat dari suaminya.
“Apa dia sekalian menitipkan surat cerai?”, Jean bertanya kepada ayah Bram.
“Ah, itu bisa di urus dengan cepat oleh Bram”, Ucap ayah Bram.
“Tapi saya tidak segila itu untuk melepaskan pernikahan ini hanya untuk sekadar hidup layak”, Jean bersungut-sungut dengan nada rendah. Itu karena yang ada di hadapannya adalah Ayah Bram, Jika itu Bram Jean mungkin sudah berteriak-teriak tanpa rasa malu.
“Saya pikir layak yang di maksud Enver, mungkin sudah sangat mewah bahkan untuk kebanyakan orang kaya”. Ayah Bram mencoba menjelaskan, tanpa mengerti apa maksud Jean.
Jean terdiam dengan matanya yang sudah memerah.
“Setidaknya biarkan aku bertemu dengannya dulu, aku pikir aku ingin mengajukan beberapa hal, sebelum kita bercerai secara resmi..”, Jean mengajukan permintaan tanpa berani melihat kearah Ayah Bram. Karena berusaha mengeringkan matanya yang mulai lembab.
Ayah Bram terdiam beberapa saat.
“Anda bisa menitipkan surat kepada saya”, Ayah Bram mengajukan usulan.
__ADS_1
“Aku ingin menamparnya tujuh kali dengan keras, anda bisa melakukannya “, Jean tak menyerah mencari alasan untuk bertemu Enver.
“Baiklah, saya akan bertanya ke Enver terlebih dahulu melalui penjaga tahanan. Jika di ijinkan, kita akan berangkat minggu besok, tepat di hari persidangan”. Ayah Bram berdiri, lalu kemudian meninggalkan Jean yang duduk di ruang tamu keluarga Ruby.
Keesokan harinya, Jean menerima kabar dari Bram, bahwa Jean bisa ikut bersama ayahnya menemui Enver. Mengetahui kabar itu, dibanding tersenyum senang, Jean hanya menatap kosong ke satu titik, Jean pikir tak bisa memaksakan kehendak Enver, yang mungkin memang tak menyukainya sebagai kekasih. Itulah yang dia pikirkan, Tapi setidaknya hari itu Jean ingin melihat Enver setidaknya untuk yang terakhir kalinya.
Sampai di hari yang Jean tunggu-tunggu tiba, perjalanan yang cukup jauh di nikmati oleh Jean setiap detiknya.
‘Kupikir Jantungku sudah tak berdetak sejak lama, tapi saat ini Jantungku berdetak kencang sekali’, itulah yang ada di benak Jean saat duduk di ruang Jenguk ditemani seorang penjaga. Menunggu Enver masuk.
Sampai Enver benar-benar datang dari balik pintu yang berlawanan dengan pintu yang Jean pakai untuk masuk keruangan itu. Enver masuk dengan baju seragam tahanan, tangan yang terborgol, rambut lusuh, dan bulu-bulu wajah yang tak terurus.
Enver duduk menunduk di hadapan Jean, Suasana hening selama setengah menit.
“Waktu kalian hanya 10 menit”, Jelas penjaga yang menggiring Enver masuk keruangan itu.
“Ka.. kamu baik-baik saja?”, dengan canggung Jean bertanya. Sejak awal Jean tak terpikirkan untuk mengatakan atau menanyakan sesuatu kepada Enver, hanya ingin melihat Enver, itulah yang Jean pikirkan.
“Ya. Kudengar kamu ingin menamparku?, lalu lakukanlah dengan cepat”, Enver berucap dengan mata yang terlihat berkilatan merah. Tangan Enver yang terborgol terlihat tidak tenang disembunyikan di balik meja.
Jean tak merespon ucapan Enver.
“Jika tak ada yang ingin kamu lakukan atau kamu katakan, maka lebih baik aku kembali ke sel”, Enver berdiri, karena Jean hanya diam selama hampir lima menit.
“Ini, kompensasi. Kupikir darahku tak semahal semua tunjangan yang ada di keterangan kompensasi yang di berikan Bram”. Jean menyimpan tas jinjing yang berukuran cukup besar. Dari celah tas itu terlihat benda yang seperti sebuah termos darah.
“Apa ini?”, Enver bertanya.
“Itu darahku, kudengar walau kau tak bisa meminumnya langsung dari nadi manusia, aku bisa memberikannya kepadamu dalam bentuk botolan seperti ini dalam jumlah tertentu”, Jean membicarakan perijinan besuk.
“Kamu gila?, umur kamu berapa sekarang?”, Enver mengacu pada bahaya mengambil darah setelah umur 20-an.
“Tenang saja, aku mengambilnya dengan alat medis biasa, bukan alat medis yang di pakai vampire”, Jelas Jean memalingkan wajah.
“Sudahlah, pergi dari sini”, Enver beranjak pergi menuju pintu keluar meninggalkan Jean dengan meninggalkan termos darah.
“Aku pikir, aku tak ingin bercerai denganmu”, Jean bergumam cukup keras.
“Tapi saat kamu keluar dari penjara, mungkin aku sudah tua, sedangkan kudengar proses penuaan para vampire melambat di umur 25 tahun?”, Jean berceloteh berusaha menahan Enver yang sudah hampir dekat dengan pintu keluar.
“Bukankah masih ada waktu 3 menit lagi?”, Jean berencana mengabiskan jatah waktu besuknya.
__ADS_1
“Jika tak ada hal penting untuk di katakan, kupikir tak perlu menghabiskan waktu”, Enver menimpali.
“Aku mencintaimu..”, Jean berteriak melupakan rasa malunya di hadapan Enver dan dua penjaga.