
Sebuah kehamilan yang belum terpikir oleh sang ibu, tetap menjadi sebuah anugrah menggembirakan untuk keluarga kecil Jean. Perut yang semakin mengembung memperlihatkan bahwa bayi yang ada di perut Jean berkembang dengan baik.
Jean duduk di sebuah restoran bersama Clarisa, sejak hamil Jean sering pergi bersama Clarisa yang sama-sama sedang mengandung. Di banding dengan teman-teman lainnya yang memiliki kesibukan masing-masing, yang terkadang berkumpul satu kali dalam sebulan, Clarisa dan Jean lebih sering bertemu hampir tiga kali dalam seminggu.
Terkadang mereka berdiskusi mengenai kesehatan janin, sampai ilmu parenting yang mereka pelajari dari internet atau dari dokter kandungan yang mereka temui.
“Dua hari yang lalu, saat sedang bepergian bersama keluarga suamiku, perutku kram, aku benar-benar kaget dan panik”, Clarisa bercerita.
“ya tuhan, lalu bagaimana?”, Jean menanggapi sambil masih memakan hidangan di hadapannya.
“Jadi mendadak aku pergi ke dokter kandungan terdekat, tapi untungnya itu bukan hal yang terlalu buruk”. Ucap Clarisa yang usia kandungannya lebih muda di banding Jean.
“Untunglah”, Jean ikut merasa lega.
“Tapi kamu tahu?, dokter kandungan di rumah sakit itu benar-benar seorang professional, aku bisa merasakan perbedaannya dengan dokter yang berada di daerah kita”, Clarisa menjelaskan pengalamannya.
“Tapi walau begitu, dokter yang kita temui juga sudah sangat bagus, kalau sampai harus keluar kota untuk menemui dokter itu, kita akan kelelahan. Dan itu tidak bagus”. Timpal Jean.
“Iya sih, sebenarnya kak Bram bilang, kalau dokter itu memang bagus, tapi sama saja dengan dokter yang biasa kita temui. Kak Bram malah menganggap aku yang merasa dokter itu sangat professional, itu karena aku sangat menyukai wajahnya”. Clarisa mengenang bagaimana Bram cemburu.
“Hahaha, memangnya wajahnya setampan apa sampai kak Bram merasa seperti itu?”, Jean bertanya.
“Pertama, dia masih sangat muda, sekitar 26 atau 27 tahun?. Dan dia memang tampan, lihatlah”. Clarisa menunjukan layar ponselnya kearah Jean.
Jean menatap photo dokter kandungan yang Clarisa perlihatkan, terlihat seorang dokter berdiri mengobrol dengan Bram di meja dinasnya, sepertinya Clarisa memfotonya diam-diam dari kasur pemeriksaan.
Namun Jean merasa tak asing dengan postur lelaki yang ada di photo itu, wajah Jean semakin mendekatkan ke layar ponsel Clarissa.
“Eyy, sampai segitunya kamu melihat”, Clarisa menggoda Jean sembari menyembunyikan layar ponselnya dari Jean.
“Tunggu dulu, ku pikir aku mengenal dokter itu”. Jean setengah memaksa untuk melihat ke ponsel Clarisa.
“Dia mantan rekan kerjaku di rumah produksi”, Jean menyimpulkan, setelah yakin yang dia lihat di ponsel Clarisa adalah Reno.
“Apa?, gak nyambung banget. Salah lihat kali”. Ucap Clarisa.
__ADS_1
“Aku yakin, namanya Reno bukan?”, Jean bertanya.
“Bukan, namanya dokter Eric”. Jawab Clarisa.
“Aneh, tapi aku yakin tak salah lihat”, Jean kembali meyakinkan dirinya dengan menatap layar ponsel Clarisa.
“Mungkin dia punya kembaran”, Clarisa menebak-nebak.
“Ah, iya. Mungkin benar seperti itu”. Jean menyerah untuk memikirkannya lebih lama lagi.
“Oh iya, minggu depan aku akan pergi dengan nyonya Louis, kakak mau ikut?”, Jean bertanya.
“Lagi?, kamu sering sekali bertemu dengannya ya, ini yang kelima kalinya”, Ucap Clarisa.
“Aku tak enak untuk menolak, beliau juga sangat perhatian dan baik”. Jelas Jean.
“Tapi berapa lama dia akan tinggal di negara kita?, kau bilang dia Cuma liburan”, Clarisa bertanya.
“Aku kurang tahu, mungkin dia juga punya beberapa pekerjaan, jadi mungkin bisa sampai satu tahun”. Jean menerka, karena setiap bertemu dengan nyonya Louis, Jean selalu melihat nyonya Louis seperti menerima panggilan, yang berkaitan dengan pekerjaan.
“Apa maksud kakak?”, Jean tak mengerti apa yang di tanyakan Clarisa.
“Maksudku, apa Enver menyuruhmu untuk menjaga hubungan baik dengan nyonya Louis, karena dia istri dari salah satu investor penting Valera Company? ”, Clarisa menjelaskan kembali pertanyaannya.
“Ohh, tidak kok, Enver malah selalu mengeluh karena aku terlalu sering keluar, padahal aku sedang hamil”, Jawab Jean.
“Aku pernah bertemu dengan nyonya Louis saat jalan-jalan di tempat perbelanjaan, saat melihat-lihat perabotan bayi. Beliau jadi menemaniku belanja. Sebelum itu juga aku pernah berpapasan dengan nyonya Louis saat sedang makan dengan rekan kerjaku. Dia benar-benar baik, dan juga perhatian. Aku sering mendapat tips and trik di masa kehamilan”. Jean menjelaskan.
“Oh waw, kau sampai memanggilnya beliau, sepertinya kau sangat menghormatinya”. Clarisa menyimpulkan.
“Kamu tak tahu umurnya, nyonya Louis itu berumur 2012 tahun”, Jean menjelaskan.
“Kebanyakan para pegawai Enver yang di tugaskan di sekitarmu kan umurnya hampir sepuluh abad”, ucap Clarisa.
“Ya, kamu benar. Makanya setiap saat aku mengingat itu, aku merasa takjub”, Jean menimpali.
__ADS_1
“Tapi kamu tak memanggil mereka beliau”, Clarisa menegaskan maksud ucapannya.
“Aku tak tahu, mungkin karena nyonya Louis benar-benar memiliki aura yang agak..”, Jean kesulitan mengungkapkan perasaannya.
“Ya, kalau itu aku juga merasakannya. Dia memiliki aura mendominasi yang kuat. Tapi jangan ajak-ajak aku lagi, nyonya Louis itu hanya baik padamu saja, dia sepertinya bukan benar-benar orang baik. Entah karena merasa di hiraukan oleh nyonya Louis, jadinya aku merasa tak suka padanya. Atau mungkin ada yang aneh dengan nyonya Louis itu”. Clarisa mengungkapkan perasaannya.
“Maafkan aku, aku tak tahu kalau kakak tak nyaman”. Jean merasa bersalah kepada temannya itu.
Hari bertemu dengan nyonya Louis tiba, Jean berangkat di siang hari. Sepanjang perjalanan, Jean memikirkan alasa untuk menolak ajakan nyonya Louis kedepannya. Karena memang, walau nyonya Louis baik kepada Jean, namun Jean merasa kurang nyaman karena merasa terbebani.
“Jean, lihatlah ini. ya ampun ini lucu sekali”, Nyonya Louis menunjukkan sepasang pakaian bayi yang dia lihat kepada Jean.
“Aku akan membelikan pakaian ini untuk anakmu nanti, ah ini Juga”, Nyonya Louis sangat bersemangat.
“Ah tidak nyonya, jangan berlebihan. Mari makan saja”. Jean berusaha menarik nyonya Louis untuk meninggalkan toko perlengkapan bayi yang tak sengaja di lewati.
“Padahal aku sangat ingin membelikannya, apa kamu merasa terbebani?”, Nyonya Louis terlihat sedih sembari memutar-mutar spaghetti dengan garpunya.
“Bukan begitu, perlengkapan bayi saya sudah lengkap, akan mubazir jika beli terlalu banyak”. Jean menjelaskan.
“Maafkan aku, aku merasa teringat mendiang anakku, saat itu dia meninggal saat usia kandungannya sudah dekat ke waktu melahirkan. Aku benar-benar merasa terpukul saat itu, padahal aku melihatnya mempersiapkan kelahirannya dengan sangat semangat”. Nyonya Louis mengenang.
“Ya tuhan, maafkan aku. Anda pasti sangat sedih”. Jean merasa bersalah sambil memegangi punggung tangan nyonya Louis.
“Tidak, kenapa kamu minta maaf?, ini bukan kesalahanmu. Aku hanya merindukannya”. Jelas nyonya Louis sambil tersenyum.
“Hari itu dia berada di sampingku dalam perjalanan pulang, namun dia menerima panggilan dari nomor yang tidak di kenal, ternyata panggilan telepon itu membawa kabar duka. Kabar bahwa suaminya sudah meninggal di penahanan, seseorang membunuhnya. Anakku, dia sangat syok. Dia melompat dari lantai gedung yang tinggi, karena tak bisa menerima suaminya yang telah meninggal. Tak ada yang menyadari kejadian itu, karena anakku melakukannya di gedung terbengkalai. Sampai satpam menemukannya 3 hari setelah anakku melompat. Andai saja aku lebih memperhatikannya, andai saja aku tak berpikir bahwa mungkin dia butuh waktu untuk sendiri”. Nyonya Louis bercerita sembari berkaca-kaca.
Jean yang tak bisa berkata-kata mendengar hal itu hanya bisa menguatkan pegangan tangan nya di punggung tangan nyonya Louis, berharap nyonya Louis bisa tabah dan bersabar.
“Andai saja, andai saja suaminya tidak mati, aku mungkin tak akan kehilangan anak dan cucuku seperti itu”, sambung nyonya Louis.
Beberapa jam kemudian, Jean berpelukan dengan nyonya Louis, berpamitan untuk pulang. Jean masuk ke mobil, dan mengangguk sambil melambaikan tangan ke nyonya Louis yang tersenyum dan membalas lambaian tangan Jean dari luar.
Ditengah rasa sedihnya atas apa yang di alami nyonya Louis, Jean sembari mengusap-usap perut besarnya merasa bersyukur, karena tuhan masih melindungi dirinya dan bayi di perutnya selama ini.
__ADS_1