OBSESI SANG VAMPIR

OBSESI SANG VAMPIR
Disaat Bahaya Tiba


__ADS_3

Tiga bulan berlalu sejak rumah produksi animasi dan komik milik Jean di resmikan, peresmiannya pun tak di publikasikan ke semua perusahaan yang bernaung di bawah Valera company. Karena Jean tak mau menjadi bahan perhatian.


Rumah produksi itu beroperasi di lantai 3 gedung Valera pusat. Enver menugaskan seorang wanita yang cukup terkenal di bidang animasi, untuk bergabung di rumah produksi Jean.


Awalnya Jean menolak, karena terlalu membebani untuk menaungi kreator terkenal itu di rumah produksinya yang masih merintis. Tapi jika Jean tak mau, Jean harus mau di kawal oleh sebelas orang pengawal seperti saat Jean reuni dengan teman-temannya sebelum acara pernikahan. Karena hal itulah Jean memohon kepada Enver agar dia bekerja di sana sebagai salah satu kreator pemula saja, dan pemimpin perusahaannya biar orang lain saja.


Jean kemudian menyadari kalau kreator terkenal yang selalu merahasiakan identitasnya itu, adalah kakak kandung Angel, setelah Jean bertemu langsung dengannya, karena tingkat kemiripannya yang sangat tinggi. Nama aslinya adalah Ruby, sedangkan nama samarannya adalah Devil.


Pagi itu Jean berjalan memasuki ruangannya di temani Siska, Jean berjalan melewati beberapa kreator muda lainnya yang sudah mulai bersiap untuk bekerja. Jean duduk di bilik tempatnya selama ini bekerja. Sedangkan Siska masuk ke ruangan administrasi yang pintunya terletak tepat di belakang bilik atau  meja kerja Jean.


Jean melihat jam di ponselnya menunjukkan jam 7 pagi, ruangan itu memang cukup sepi di pagi hari, karena kebanyakan pegawainya mulai aktif bekerja dari siang sampai larut malam, sebagian bahkan menginap, atau pulang pagi dan mulai bekerja kembali di sore hari.


Hari itu Jean mulai mengerjakan sebuah proyek komik, Jean bertugas sebagai penggambar gambar dasar, sebelum kemudian di serahkan kepada penanggung jawab karya lalu di serahkan ke bagian pewarnaan.


“Jean, gambar ini kurang rapi, tolong di ulangi untuk 3 panel terakhir episode 3”, pinta penanggung jawab.


“Baik”, Jean mangut menerima komplain itu.


“Ck!, kalau tak bisa gambar kenapa harus kerja di sini si?, saat aku sudah menyelesaikan sepuluh chapter, kamu hanya menyelesaikan tiga chapter, itu pun sering sekali ada revisi!”. Keluh Rita yang bekerja di bilik sebelah Jean.


“Maafkan saya”, Jean menjawab pasrah akan kenyataan. Terkadang dia merasa menjadi halangan untuk timnya, karena dia benar-benar belajar dari awal.


“Ada apa?”, pimpinan rumah produksi itu menyambangi Jean yang terdengar minta maaf olehnya.


“Bukan apa-apa”, Rina merengut menjawab pimpinan produksi yang anehnya sering kali mendatangi area biliknya bekerja. Dan mulai mengomeli Rina jika tak sengaja mendengar Rina mengomeli Jean.


“Jangan macam-macam, Fokus saja pada pekerjaanmu!”, Pimpinan yang biasa di panggil pak Roy itu memelototi Rina, lalu kemudian tersenyum tipis kepada Jean.


Jean membalas senyuman pak Roy, walau perasaannya tak nyaman, karena perlakuan khusus dari pak Roy kepada Jean terlalu berlebihan.


“Eh, kak sudah datang?”, Rina yang tersenyum lebar menyapa Ruby yang baru datang, memperlihatkan dengan jelas bagaimana dia mengagumi kreator terkenal itu.


Ruby duduk di bilik paling ujung, di samping bilik Jean, dengan peralatan animator lengkap. Orang-orang mungkin akan bertanya-tanya, kenapa Ruby yang bagian Animator duduk di ruangan itu. Hingga beberapa orang yang pekerjaannya berkaitan dengan Ruby harus bulak-balik ke ruangan itu jika ada keperluan.


Saat makan siang tiba, Jean, Ruby, Siska, Rina dan Lita (orang yang bekerja di samping bilik Rina), makan di meja yang sama di kantin.


“Kak Siska, kakak dan teman-teman kakak mengerjakan apa di dalam ruangan itu?”, Rina yang memang ceplas-ceplos bertanya penasaran.


“Saya mengerjakan apa yang harus saya kerjakan”, Jawaban formal Siska membuat Lita terkekeh.


“Silakan di coba lagi besok”, Lita menertawakan Rina yang tak bosan-bosannya bertanya hal yang sama kepada Siska setiap makan siang.


“Kak, sebenarnya kakak itu sangat cantik, cobalah untuk jangan terlalu kaku saat bersosialisasi!”, Rina yang mengoceh kepada Siska.

__ADS_1


Rina dan Lita memiliki umur yang sama, yaitu 28 tahun. Siska memperkenalkan diri dengan umur 30 tahun, sedangkan Ruby 29 tahun. Dengan begitu Jean adalah yang termuda di sana.


Ruby yang mirip sekali dengan Angel, sering kali hanya terdiam, walau tak separah Angel.


“Maaf ini ada kiriman paket atas nama Jean, orang-orang bilang orangnya salah satu dari kalian”, Seorang kurir mendatangi meja Jean dan yang lainnya saat makan di kantin.


“Oh itu saya!”, Ruby mengangkat tangannya, dan menerima paket itu.


Sudah hampir satu bulan terakhir, banyak paket datang atas nama Jean yang entah siapa yang mengirimnya. Ruby akan langsung menerima paket itu dan menolak memperlihatkannya kepada Jean.


“Kak Ruby, kamu terlalu baik. Bagaimana kalau didalam-nya itu adalah hal yang berbahaya?” Rina berucap di tengah makannya.


“Kamu juga Jean, sekiranya punya masalah dengan seseorang selesaikanlah dengan benar, jangan keenakan seperti ini hanya karna kak Ruby terus menerima paket-paket itu untukmu!”, Rina yang memang agak tak menyukai Jean berbicara ketus.


“Jangan begitu, terkadang ada orang yang melakukan hal buruk kepada kita hanya karena alasan tak masuk akal”, Lita mencoba menengahi.


Jean hanya mencoba tersenyum tanpa banyak bicara.


Di sore hari Jean dan beberapa pegawai satu timnya yang berisi sekitar 20 orang di tambah dua orang yaitu Ruby dan Siska berencana makan malam bersama di sebuah restoran. Jean yang biasanya tak bisa ikut hari itu berhasil membujuk Enver agar memberinya ijin, walau setengah memaksa.


Jean duduk di meja yang sama dengan geng makan siangnya.


“Wuhuuu, makan enak gratis yang membahagiakan”. Semangat Rina meluap.


“Jean tumben ikut?, suamimu tumben memberi ijin”. Rina bertanya.


“Umurmu masih dua puluhan, kamu sudah terkekang seperti itu karena mendapatkan suami yang mengekang. Kasihan sekali”. Rina nyinyir tepat di depan Jean, yang hanya di timpal senyuman oleh Jean.


“Ya, dan kamu yang sulit mendapatkan pacar karena mulut yang berduri ini terlihat sangat bebas”, Lita tertawa setelah mengucapkan kalimat itu, membuat Rina cemberut menatap Lita.


“Iya deh, kamu yang tiap putus pasti langsung dapet ayang baru..”, Rina membalas ledekan Lita.


Lita , Rina dan kebanyakan pegawai tak mengetahui siapa dan seperti apa istri Enver, karena walau pesta pernikahan di adakan meriah, hanya para petinggi saja yang di undang. Selain itu para tamu di larang mendokumentasikan pernikahan Enver dan Jean, dan termasuk para awak media. Berita yang diijinkan hanya berbentuk tulisan saja.


“Restorannya cukup penuh ya, untung kita kebagian tempat duduk”, seorang pegawai lain berbicara dari meja di samping meja Jean.


Jean menyadari kalau pelanggan lain, selain anggota timnya merupakan para pengawalnya. Jean bahkan melihat beberapa pengawal yang berjaga di depan restoran sebelum Jean memasuki restoran.


Jean merasa, entah kenapa satu bulan terakhir ini pengawalannya benar-benar berlebihan. Padahal tak pernah ada yang terjadi bahkan sejak Enver mulai dengan terang-terangan menugaskan pengawal disisi Jean. Hanya sebatas paket misterius yang sebenarnya tak terasa membahayakan, karena Ruby yang terus menerimanya. Walau sebenarnya sering kali Jean penasaran dengan isi paket-paket itu.


Tapi kemudian Jean berpikir, kenapa para kurir itu selalu mendatangi Jean di kantin, atau di lobi  saat menjelang pulang?. Padahal biasanya paket yang datang ke gedung perusahaan akan di terima di resepsionis lantai satu. Dan penerima paket akan mengambilnya ke resepsionis.


Jean yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri itu mendadak merinding, sepersekian detik kemudian Ruby yang duduk di samping kiri Jean mendadak berdiri dan berpindah ke samping kanan Jean dengan sangat cepat.

__ADS_1


“Siapa?”, Jean melihat Lita yang duduk di hadapannya menengadah ke arah Ruby dengan pandangan heran di sertai kaget.


“Apa, ada apa?”, suasana restoran mulai riuh. Jean melihat seorang lelaki berdiri dengan tangan Ruby yang mencekik leher lelaki itu. para pengawal Jean yang di anggap pelanggan biasa oleh para pegawai di tim Jean, sudah berdiri tegak, berjajar melingkari meja yang Jean duduki.


“Hahaha, Halo adik ipar?, ini pertemuan pertama kita bukan?”, Suara lelaki itu menambah kengerian Jean. Jean perlahan menengok ke arah kanannya sambil sedikit menengadah.


Walau terhalang tubuh Ruby, Jean melihat wajah lelaki jangkung, yang sedikit terhalang bahu Ruby itu tersenyum menatap Jean dengan leher yang di cekik oleh Ruby.


Tubuh Jean kaku saat melihat ekspresi gila orang itu, matanya yang merah menyala, taring tajamnya yang terlihat di tengah-tengah bibirnya yang menyeringai membuat Jean semakin merinding.


“Siaal!”, Ruby berteriak saat kepalan tangan lelaki itu menghantam satu sisi kepala Ruby, hingga tubuh Ruby terpental cukup jauh.


Para pengawal lain yang berdiri di sekeliling Jean termasuk Siska terlihat tenggelam dalam kengerian pikiran mereka masing-masing. Mata mereka melotot dengan pandangan kosong, tubuh mereka kaku, dan urat di leher mereka menonjol seperti menahan rasa sakit.


Jean melihat teman-teman kerjanya yang lain tak sadarkan diri menelungkup di meja mereka masing-masing.


“Kamu tak terpengaruh apapun?”, lelaki itu menunduk menatap tepat di depan wajah Jean.


“Istri adikku ini memang beda”, lelaki itu terkikik.


“Haah, sayangnya suami kesayanganmu itu harus di beri pelajaran, karena sudah membunuh ayahnya sendiri, yang kebetulan adalah ayahku!”, Ekspresi penuh amarah lelaki itu membuat Jean mengepalkan tangannya dengan erat.


BRUAAKKK, kaki Ruby mendarat tepat di pelipis lelaki itu, membuatnya tersungkur seketika.


Jean melihat Ruby yang kepalanya bercucuran darah melompat menendang lelaki itu yang belum sempat bangkit, tepat di area rusuknya. Saat Ruby hendak melayangkan tendangan keduanya , kaki Ruby di genggam kuat oleh tangan lelaki itu. suara dentuman saat tubuh Ruby terdorong menghancurkan meja terdengar sangat bising.


“Dasar cewek sinting!”, lelaki itu mengumpat sambil menendangi tubuh Ruby berkali-kali hingga tak bisa bergerak lagi.


Lelaki itu menghampiri Jean kembali dengan pelipis yang lebam.


“Jangan menangis adik ipar, nanti adikku menyangka aku melakukan sesuatu yang buruk kepadamu”, Lelaki itu tertawa-tawa saat meliihat pipi Jean yang sudah di banjiri air mata.


Jean tak bisa bergerak sedikitpun, keringatnya bercucuran, bola mata Jean bergetar menahan rasa takut yang sangat besar.


Lelaki yang menyebut dirinya sebagai kakak ipar Jean itu, mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku jaketnya.


“Lukanya harus rapih, agar jahitannya terlihat indah. Karena adik bungsuku itu seorang perfeksionis”, Lelaki itu membentangkan mata pisau yang tadinya terlipat.


JLEB, JLEB, JLEB. Dengan gilanya lelaki itu menusuk perut Jean berkali-kali dengan ekspresi kegirangan


Jean merasakan panas dari luka yang di hasilkan tusukan pisau di perutnya. Dagu Jean menganga dengan mata yang terbelalak memerah menahan rasa sakit yang sangat luar biasa.


Suara dentuman keras menghentikan tusukan yang menghantam perut Jean. Jean menyadari dirinya sudah tergeletak di ubin restoran. Dengan penglihatannya yang mulai kabur, Jean melihat tubuh Ruby yang terlihat sangat mengenaskan terbaring di atas pecahan kaca meja yang hancur.

__ADS_1


“Jeaan, Jean, Jea..”, suara Enver yang memanggil Jean entah terdengar dari mana mulai bias dan menghilang. Suara Enver itu terdengar sangat ketakutan, seolah sangat takut jika Jean meninggalkannya.


Jean pikir, apakah karena sedang meregang nyawa?, dia jadi mendengar suara Enver yang memanggilnya dengan emosi yang menunjukan rasa cinta. Sebuah mimpi yang paling Jean harapkan.


__ADS_2