OBSESI SANG VAMPIR

OBSESI SANG VAMPIR
Gigitan Pertama (Enver version)


__ADS_3

Hari yang cerah memperjelas hiruk-pikuk di gedung Valera company pusat. Di dalam sebuah ruangan yang terasa lebih sepi di banding ruangan lain di gedung Valera, Enver duduk dengan tumpukan berkas di atas mejanya. Enver memilah berkas mana yang sekiranya perlu dia tangani sendiri, dan berkas mana yang bisa dia percayakan kepada orang lain.


Satu dua berkas Enver lemparkan ke keranjang yang akan di ambil oleh sekretarisnya, agar bisa di tangani oleh orang lain. Kebanyakan adalah kegiatan yang sudah sering di lakukan, sebagian yang lain adalah tugas yang sudah di bicarakan di dalam rapat rutin, sehingga Enver hanya perlu untuk tahu bahwa kegiatan itu sedang berlangsung.


Namun tiba-tiba Enver terhenti, dia kembali mengambil berkas yang sudah dia lempar ke keranjang. Sebuah berkas dengan judul penganggaran kegiatan di sekolah yang dia kelola.


Enver membuka berkas itu, dan memanggil salah satu sekretaris dari telepon yang memang sudah terhubung ke beberapa divisi di perusahaan.


“Ya tuan?”, sekretari itu agak kaget saat melihat Enver menyodorkan berkas penganggaran di sekolah. Apakah ada masalah?, padahal selama ini Enver tak pernah menangani perihal pengelolaan sekolah secara langsung.


“Bisa jelaskan secara rinci mengenai beberapa kegiatan yang cukup penting di sekolah?”, ucap Enver.


“Ah, ya tentu saja. Saya akan memanggil bagian pengelolaanya segera, beserta berkas-berkas yang berkaitan”. Sang sekretaris pergi keluar setelah mengucapkan kalimat itu.


Beberapa saat kemudian masuk salah-satu anggota bagian penganggaran yang memang mengurusi penganggaran kegiatan di sekolah.


“Saya dengar anda meminta untuk menjelaskan beberapa rincian penganggaran kegiatan di sekolah?”, lelaki muda yang terlihat gugup itu mencoba memulai percakapan.


“Ya, selain kegiatan belajar mengajar”, Enver menimpali menunggu penjelasan dari orang tersebut.


“Ah, ya baik. Kegiatan yang di rencanakan di berkas tersebut adalah penganggaran untuk dukungan atlet, beberapa tim sains, beberapa kegiatan kesenian dan bea siswa untuk beberapa siswa dengan dengan keunggulan akademis dan non akademis”. Pegawai itu menjelaskan seperti sedang berpidato.


“Lalu himpunan atlet di sekolah mengajukan penganggaran untuk pengadaan pesta untuk perayaan beberapa kemenangan yang di dapat dari pekan olahraga nasional beberapa minggu yang lalu”, Jelas pegawai itu.


“Pesta perayaan?”, Enver memiringkan kepalanya.


“A.. ah iya, sebenarnya pesta perayaan seringkali di adakan di kalangan para peserta lomba yang mewakili sekolah. Tujuannya untuk mengapresiasi. Dana yang di keluarkan juga tak berpengaruh pada kesehatan pengelolaan keuangan sekolah”. Pegawai itu mulai gugup kembali.


Enver yang terdiam beberapa saat, mengingat-ingat laporan bram yang mengatakan bahwa salah satu teman dekat Jean adalah seorang atlet panahan.


“Ya, lakukan seperti biasa, tapi khusus untuk kegiatan yang ini, biarkan para atlet membawa beberapa teman mereka, lima atau tujuh teman pun tak apa”. Enver  berniat mengakhiri pembicaraannya.


“ap.. ah iya baik”, Pegawai yang cukup peka itu membungkuk dan pergi dari ruangan Enver, walau sebenarnya dia bertanya-tanya tentang perintah Enver yang menurutnya random.


Enver seringkali berkomunikasi dengan Bram, untuk mengetahui perkembangan teraktual dari pengadaan pesta. Dan yang paling seringkali di tanyakan adalah mengenai apakah Jean akan datang atau tidak. Bram yang sepetinya mulai menganggap Enver cukup kekanakan hanya bisa mengikuti semua perintah Enver, bahkan sampai Bram terkadang merasa bersalah kepada Jean karena dirinya sudah seperti menjadi penguntit Jean.


Hari pesta tiba, Enver yang masih berada di ruang rapat bersama beberapa eksekutif terlihat sudah tak nyaman untuk duduk. Tangan kanannya yang terpasang Jam tangan di sana beberapa kali terangkat. Enver sudah mengosongkan jadwalnya untuk malam itu dari tiga hari yang lalu, saat Bram mengabari bahwa Jean berencana datang ke pesta.

__ADS_1


Tapi mendadak di sore hari ada masalah yang cukup serius dalam pengelolaan salah satu cabang perusahaan yang mau tak mau harus segera di tangani. Di rapat Enver yang biasanya cenderung diam mendengarkan argument beberapa orang, dan kemudian mengambil keputusan setelah dia memahami secara betul kondisi yang sedang dihadapi. Tapi malam itu Enver banyak menanyakan kondisi dengan tergesa-gesa, seperti berusaha mempersingkat waktu.


Hingga akhirnya rapat selesai, Enver bergegas pergi ke lokasi pesta, dan memasuki aula pesta, mencari-cari dimana Jean. jangankan menemukan sosok Jean, bau Jean pun Enver tak menciumnya sedikitpun.


“Jean sedang keluar, sepertinya ke toilet”, Bram yang ternyata menyadari kedatangan Enver, memberi tahu keberadaan Jean.


Enver segera keluar dari aula pesta, berjalan di lorong menuju toilet. Enver terdiam di pertengahan Jalan. Matanya berkilauan merah, Jean memang ada di sekitar area tersebut. Enver memutuskan menunggu Jean di lorong, karena tak mungkin Enver harus masuk atau menunggu di area toilet wanita.


Beberapa saat Enver menunggu, bau darah Jean yang samar perlahan menguat. Enver yang bersandar ke tembok, kembali berdiri tegak, saat Jean mulai terlihat dari ujung lorong. Jean yang sendirian terlihat buru-buru. Enver yang pertama kalinya merasakan gugup tanpa sadar mengeluarkan aura yang biasanya dia gunakan untuk mengintimidasi orang lain. Semakin dekat Jean dengan Enver, semakin meninggi aura tersebut keluar tanpa bisa Enver kendalikan.


Enver menatap Jean yang membatu di hadapannya, namun sebenarnya tak berbeda dengan Jean, Enver yang gugup jantungnya berdebar dengan keras. Saat itu pertama kalinya bagi Enver bisa sedekat itu dengan Jean.


Sebenarnya Enver tak begitu sadar tentang apa yang di ucapkan dirinya sendiri kepada Jean, karena seperti tersihir, tanpa sadar Enver sudah hampir menggigit leher Jean. sekuat tenaga Enver melawan keinginan itu, dan memberitahukan Jean sebagian garis besar kejanggalan di panti. Karena Enver memang sudah mengurus rencana untuk mengeluarkan Jean dari panti. Enver meminta Jean menemuinya saat Jean siap.


Tanpa disangka di hari senin Enver mendapatkan panggilan dari Bram, yang mengatakan bahwa Jean meminta bertemu dengan Enver. Mengabaikan beberapa schedule, Enver bergegas ke sekolah dan menemui Jean yang sudah menunggu di belakang gudang.


Aroma Jean yang mulai tercium membuat Enver semakin semangat, karena itu lah Enver meminta Jean menunggunya di belakang gudang. Karena bisa saja dia kehilangan kendali dan menggigit Jean. Akan merepotkan bagi Enver jika banyak orang yang melihat kejadian itu.


Langkah Enver semakin melebar setiap aromanya terus menguat, saat melihat Jean yang termangu di dekat tembok bagian belakang gedung, Enver menghentikan langkahnya. Berusaha mempersiapkan diri agar Enver bisa mengatur aura intimidasi, mengingat saat terakhir kali di pesta, Jean mematung akibat Enver tak bisa mengendalikan diri.


“Kamu sudah memikirkannya?”, Enver bertanya walau sebenarnya dia tetap akan menjemput Jean dari panti sekalipun Jean menolak.


Ada yang aneh pada pertanyaan Jean yang membuat Enver berpikir sesaat.


“Kenapa juga aku harus menjawab pertanyaanmu?”, Enver berusaha memperjelas kejanggalan yang dia rasakan dari pertanyaan Jean.


Kenapa pertanyaannya harus berbunyi ‘apa yang terjadi kepada anak-anak panti terdahulu?’, bukan ‘kenapa bisa anak-anak panti terdahulu sebagian besar meninggal secara bersamaan?’. Itulah yang Enver pikirkan.


“Ka.. kamu bilang akan membantuku”, arah jawaban Jean sebenarnya bukan jawaban yang di harapkan Enver.


“kapan?”, Enver yang mulai menahan air liur agar tidak menetes karena bau darah Jean yang kuat hanya menimpali sekenanya.


Melihat Jean yang menunduk tak berani menatapnya membuat Enver tanpa sadar tertawa. Sambil memainkan rambut Jean, Enver menyadari kalau walau Enver merasa sudah sangat mengenal Jean, karena banyak informasi Jean yang ia dapatkan, dari mulai bagaimana kedua orang tua Jean meninggal, bagaimana Jean bisa masuk ke panti. Tapi bagi Jean, Enver adalah orang asing yang benar-benar asing. Enver merasa sangat bodoh karena tak mempertimbangkan dari sisi Jean setiap Enver membuat tindakan untuk membawa Jean dari panti.


“Jika kamu ingin berumur panjang, tinggalkan panti dan ikut bersamaku, tinggal lah di rumahku”, tanpa sadar Enver malah mengeluarkan kalimat yang lebih mirip ancaman. Karena Enver pikir sudah tak ada waktu lagi, Jean harus segera keluar dari panti itu sebelum terlambat.


“Itulah mengapa saya bertanya, memangnya apa yang akan terjadi jika saya terus tinggal di panti?”, Jean yang bertanya tentang hal itu, membuat Enver tak bisa mengatakan apapun.

__ADS_1


“Entahlah”, itulah kata-kata yang tersisa yang Enver punya untuk menjawab pertanyaan Jean, karena terlalu berat baginya.


“Yang Jelas, hal buruk yang mengerikan”, Enver bahkan tak bisa mengatakan bahwa hal buruk itu adalah kematian, karena kematian Jean merupakan hal buruk juga bagi Enver.


Kesadaran Enver yang sudah naik turun, membuat tangan Enver semakin berani, dari rambut berpindah ke pipi Jean. sebuah gairah tak terbendung yang berasal dari menyentuh kulit-kulit Jean membuat Enver hampir kehilangan kendali diri.


Desiran darah Jean yang dirasakan Enver saat menyentuh leher Jean, membuat Enver sudah bisa membayangkan seberapa segarnya jika dia bisa meminumnya. Mencium baunya saja sudah memberikan efek menyenangkan, apa lagi merasakan darahnya secara langsung.


“Mau ku beri tahu?, tapi kamu harus membayarnya”, Tanpa sadar Enver mencari alasan agar dirinya bisa meminum darah Jean saat itu juga.


“Bayaran?”, Pertanyaan Jean memperlihatkan seberapa tidak tahunya Jean mengenai vampire.


“Ya, dengan darahmu?”, Enver kembali memastikan.


Tapi sirat wajah Jean benar-benar menjelaskan ketidak tahuannya mengenai vampire.


“Jika kamu tidak juga menjawab, ku anggap kau setuju dengan kesepakatan itu, aku ingin bayaran dimuka oke?”Enver yang sudah kehilangan kesabaran, segera merangkul tubuh Jean yang mungil bagi Enver.


Tangan Enver membelit kepala Jean, hidungnya yang sejak awal terus menikmati bau darah jean, kini mulai mencari letak aroma yang paling kuat. Leher Jean adalah tempat yang paling menggairahkan bagi Enver saat itu, kedua tangan Enver bahu-membahu membantu mempermudah mulut Enver untuk sampai di leher Jean, dengan meregangkan bahu dan kepala Jean.


“Ini akan agak sakit”, Enver memberi tahu Jean ditengah rasa haus yang sudah memuncak.


Bibir Enver yang beberapa kali menyentuh kulit leher Jean, membuat sensasi terbakar di seluruh tubuh Enver. Tanpa sadar, Leher Jean sudah basah dengan air liur Enver.


“Krek..”, saat gigi Enver berhasil menancap di leher Jean, darah yang mengalir dari luka yang di sebabkan taring Enver mulai mengalir, aroma yang sangat kuat mengaburkan akal sehat Enver yang memang sudah hampir hilang. Rasa darah yang sangat Enver rindukan, membasahi tenggorokan Enver perlahan. Darah Jean yang memberikan efek khusus bagi Enver, terasa mulai mengisi setiap inci dalam tubuh Enver.


Namun di tengah ke kalapan Enver yang sedang menikmati darah Jean, sebuah bayangan muncul. Sebuah rasa takut yang sangat kuat saat melihat sesosok yang berdiri di hadapan Jean. Rasa takut yang menyelimuti Enver saat itu, membuat Enver terhenti sambil membuang nafas. Saat itu akal sehat Enver sudah kembali. Enver mencari Plester yang memang sudah dia siapkan dan kemudian menempelkannya pada luka yang dia buat di leher Jean, setelah sebelumnya Enver menjilati sisa darah yang tercecer di sekitar bekas luka.


“Sekarang waktunya aku menjawab pertanyaanmu bukan?”, Enver melihat Jean yang merosot terduduk karena lemas.


“Mereka, anak-anak panti, termasuk kamu, sebagian besar akan mati di ulang tahun ke 21”, Enver yang bertanya-tanya sejak kapan kancing baju Jean terbuka, jongkok untuk mengaitkan kancing-kancing itu kembali.


“Kamu mungkin butuh tiga puluh menit untuk kembali normal, tapi aku sedang terburu-buru. Jadi aku tak bisa menemanimu disini lebih lama”. Enver yang baru menyadari kejanggalan baru merasa harus segera mengumpulkan tim penyelidikan panti yang memang sudah di bentuk oleh mendiang kakeknya dulu.


“Sampai nanti dan terimakasih atas camilannya”, Enver berucap sembari meninggalkan Jean.


Sebelum keluar sekolah, Enver menelepon Bram, meminta Bram untuk menjaga Jean yang masih lemas.

__ADS_1


“Pastikan Jean aman sampai dia kembali normal”, itu lah kalimat penutup Enver saat meminta bantuan Bram.


__ADS_2