
Enver melenggang masuk ke kamar rawat istrinya, dia berdiri terpaku menatap Jean yang masih belum sadarkan diri.
“Kau bisa istirahat”, Enver berucap meminta Bram yang duduk di sofa ruang rawat untuk pergi.
“Enver, ada beberapa hal yang harus kamu urus”. Bram menatap Enver ragu.
“Kau bisa kirim ke emailku, aku akan mengerjakannya malam mini”, Enver duduk di kursi kecil yang berada di samping ranjang Jean.
“Maksudku, ada beberapa rapat penting yang sudah tertunda sampai dua bulan lamanya. Ku pikir kamu bisa pulang terlebih dahulu beberapa minggu, dan minta Ruby atau Angel untuk menemani Jean”. Bram menahan rasa takutnya.
“Bukankah kita bisa melakukannya secara daring?”, Enver mencoba mempermudah urusannya.
“Enver, tapi kita hampir kehilangan dua anak perusahaan selama dua bulan ini. Aku dan ayahku tak bisa mengatasinya sebaik kamu. Valera company mungkin akan kembali ke titik terendah lagi, seperti saat kamu menjalani penahanan”. Bram menjelaskan.
Enver menatap Bram dengan lesu, berharap Bram mengerti bagaimana kondisinya sekarang. Namun Bram tak bergeming sedikitpun.
“Bukankah ini masih jauh dari kerugian?, di banding saat aku di tahan dulu, saat ini perusahaan benar-benar dalam kondisi terbaik”. Enver berucap.
“Aku akan mengerjakan apa yang harus ku kerjakan dari sini sebisa mungkin. Jean tak mungkin bisa pindah rumah sakit, apalagi pemindahan antar negara. Itu terlalu beresiko”. Enver memperjelas alasannya tak bisa kembali ke negara asalnya.
Bram yang menyerah, hanya bisa keluar dari ruangan itu tanpa bicara apapun.
Enver yang kelelahan merebahkan dirinya di sofa, dia terlelap setelah sekian lama matanya terbuka.
“Enver?”, suara halus itu terdengar remang di pendengaran Enver.
“Enver!”, suara yang bisa memuaikan air mata Enver itu semakin terdengar jelas.
Enver membuka matanya, mendapati wajah Jean yang tersenyum kepadanya. Jean berlutut di samping sofa tempat Enver tidur.
“Jean?, kamu sadar?”, Enver berkaca-kaca sembari memegangi wajah Jean, memeluk Jean berkali-kali. Rasa bahagia menyeruak ke sekujur tubuh Enver.
__ADS_1
“Hei, hentikanlah, mau sampai kapan kamu terus memelukku seperti ini”. Jean mengeluh sembari menepuk-nepuk punggung Enver.
“Enver, kemana rambutku?, kenapa aku jadi botak?”, Jean mengeluh sambil cemberut. Pemandangan itu membuat Enver tersenyum.
“Para perawat yang membotaki mu, tapi itu bagus. Supaya aku bisa begini..”, Enver merangkul kepala Jean dan menciumi kepala botak Jean.
“Hei yang benar saja!”, Jean merajuk.
“Hahaha, Jean ayo kita pulang”. Enver mendekap Jean sekali lagi.
“Tapi aku tak bisa ikut denganmu”, ucapan Jean membuat Enver membatu.
“Apa?, Kenapa?”. Enver bertanya sembari melepaskan pelukannya. Enver menatap dalam kearah Jean.
“Bagaimana bisa aku meninggalkan anakku sendirian disini?”, raut wajah Jean yang manis berubah kecut seketika.
Enver terdiam beberapa saat, bingung dengan apa yang di ucapkan oleh istrinya.
“Tidak, Jean. sadarlah, anak kita sudah meninggal. Kita harus merelakannya”. Enver menahan Jean yang beranjak hendak meninggalkan Enver.
“Maka kamu pun begitu”. Jean menoleh ke arah Enver.
“Apa?”, Enver kebingungan.
“Kamu pun harus bisa rela melepas ku”. Jean melepaskan tangannya dari genggaman Enver.
“Je.. Jean!, Kumohon tetaplah bersamaku, Jean!”. Enver berusaha mengejar Jean yang pergi keluar kamar rawat inap. Namun tubuhnya begitu berat untuk di gerakan.
“Haahhh”. Enver terbangun di sofa dengan keringat yang memenuhi seluruh tubuhnya. Nafas enver tersengal, matanya melirik ke segala arah di ruangan itu. saat Enver menatap kearah ranjang, dia melihat tubuh Jean masih terbujur kaku di sana.
Enver berdiri dari tidurnya, berjalan perlahan menuju kursi di samping ranjang Jean, dan kemudian duduk di sana. Memperhatikan perut Jean yang kembang-kempis bernafas.
__ADS_1
Nafas Enver yang perlahan tenang, menyatu dengan sepinya ruangan itu.
“Jean, aku merindukanmu”, Enver menggenggam tangan Jean.
Satu minggu kemudian, Enver duduk di ruang dokter untuk mendengar perkembangan kesehatan Jean.
“Kondisi tubuh istri anda semakin membaik, tapi anehnya tak ada tanda-tanda kesadaran. Di samping semua itu, kondisi bayinya sudah tak bisa di selamatkan, setiap harinya ukuran bayi semakin menciut. Saat di lakukan pemeriksaan lebih lanjut, kami menemukan bayi itu seperti membusuk. Kita harus segera melakukan pengangkatan, karena di takutkan malah akan menginfeksi sang ibu”. Awal penjelasan dari dokter, sudah menjadi gambaran jelas bagaimana akhirnya. Enver yang sudah menerima semua itu, hanya beberapa kali mengangguk tanpa bertanya banyak hal.
Operasi caesar di lakukan, namun hari itu Enver mengalami guncangan emosi untuk ke sekian kalinya, karena Jean mengalami kritis. Padahal saat pertama kali di bawa ke rumah sakit, tubuhnya terus membaik, dan tak pernah mengalami kritis. Tapi setelah proses operasi caesar, Jean mengalami drop hingga mengalami kritis.
Malam itu Enver menatap Jean yang terbaring dengan lebih banyak alat bantu untuk bertahan hidup, Enver mengusap-usap jari Jean beberapa kali, sebelum kemudian mengangkat tangan Jean.
“Dimana aku harus menggigitnya?, apa kamu memiliki darah yang cukup?”, Enver bertanya sembari menciumi pergelangan tangan Jean, yang terlihat seperti tulang belulang tak berdaging.
“Dokter bilang tak boleh melakukan ini. Katanya akan berbahaya bagimu jika aku menghisap darahmu sekarang. Tapi aku begitu putus asa sekarang, kamu tak kunjung membuka matamu. Jika kamu setelah ini menyerah untuk hidup, maka aku akan menemui mu segera”. Enver menggigit pergelangan tangan Jean perlahan, menghisap darah dari tubuh yang sudah pucat seperti mayat.
Enver menitikkan air mata, rasa segar dari darah Jean yang menyeruak, menyirami dahaganya yang sudah lama dia tahan. Perasaan bahagia menyeruak mengobati kemarau yang cukup menyiksa Enver beberapa bulan terakhir. Namun sebuah titik kecil kekhawatiran menusuk perlahan, perasaan takut jika langkah yang dia ambil merupakan langkah yang salah, akan menyisakan duka yang mengerikan.
“Pak!, apa yang anda lakukan?”, tiga orang perawat masuk dengan panik kedalam ruang rawat. Sepertinya mereka melihat tayangan CCTV, dan menyadari apa yang Enver lakukan.
Dua orang perawat lelaki berusaha menarik Enver untuk menjauh dari Jean, dan seorang perawat perempuan berusaha melepaskan tangan Jean dari genggaman Enver.
“Tolong sadarlah tuan, istri anda akan mengalami kekurangan darah, itu akan memperburuk keadaannya yang sedang kritis”. Perawat perempuan itu berusaha menyadarkan Enver, pria bertubuh besar itu tak bergeming walau di tarik dua orang laki-laki. Dan dua orang lelaki itu tentu saja merupakan vampire, karena berada di rumah sakit khusus vampire.
Hingga beberapa orang lain masuk ke dalam ruangan membantu, dan seorang perawat menyuntikan obat bius ke leher Enver, namun Enver tetap tidak bergeming.
“Tambah dosisnya!”, dua kali suntikan bius menyusul teriakan itu.
Pandangan Enver berkabut, dia menatap wajah istrinya. Pandangan yang memang sudah terhalang air mata, kini semakin gelap perlahan.
“Jean, apa kamu sudah memutuskan?, ingin menyerah, atau tetap hidup?. Aku menunggu keputusanmu”. Laki-laki gila itu kemudian ambruk, menyisakan rasa lega untuk sembilan orang perawat yang panik di ruangan itu.
__ADS_1