OBSESI SANG VAMPIR

OBSESI SANG VAMPIR
Aku Membelikanmu Apel


__ADS_3

“Aku akan pergi bertemu nyonya Louis siang ini, tidak akan lama”, Jean meminta ijin kepada suaminya di meja sarapan. Hari sebenarnya belum pagi, karena langit masih gelap. Tapi karena Enver seringkali berangkat di subuh hari, Jean sudah terbiasa menyiapkan sarapan sederhana untuk Enver.


“Jangan terlalu capek”, Enver memeluk Jean dari belakang, saat melihat sang istri yang sedang membuatkannya sandwich dan menyiapkan segelas susu.


“Aku juga bisa menyiapkan sarapanku sendiri, kamu harusnya tidur sedikit lebih lama”, Enver mengelus-ngelus perut Jean yang besar sembari menciumi tengkuk Jean.


“Aku juga sering lapar subuh-subuh, bukannya sengaja bangun untukmu”, Jean menjelaskan.


“Haaah, aku ingin liburan dan memelukmu seperti ini sepanjang hari”, Enver berandai di tengah jadwalnya yang sangat padat.


“Lepaskan aku, kau menghalangi ruang gerakku”, Jean mengeluh saat Enver tetap menepel padanya saat berjalan menuju meja makan, saat Jean membawa dua piring sandwich.


“Bawa susunya”, Pinta Jean yang kemudian langsung di turuti Enver.


Enver meletakan dua gelas susu di meja makan, dan mulai memakan sandwitch buatan istrinya.


“Kalau kamu lapar, kan bisa bilang padaku, aku akan minta koki untuk membuatkan makanan”. Enver melanjutkan obrolannya yang tertunda.


“Jangan mengganggu pegawai di luar jam kerja”, Jean menimpali.


“Kan bisa di buat pembagian waktu kerja, seperti tim keamanan. Ada yang tugas siang, sore, dan malam”. Enver menjelaskan.


“Itu berlebihan”, Jean tak terlalu tertarik.


Jean yang sudah menghabiskan makanannya lebih dulu menatap suaminya dalam waktu yang lama. Jean kemudian berdiri dari duduknya sesaat setelah melihat suaminya meneguk tetesan susu terakhir di gelasnya.


“Apa?”, Enver bertanya setelah Jean menodongkan tangannya di depan wajah Enver.


“Minumlah, sejak aku hamil muda kamu belum minum darahku”, ucap Jean sembari mendekatkan pergelangan tangannya ke mulut Enver. Enver kemudian mengecup tangan Jean beberapa kali.


“Tak perlu, aku kan bisa minum darah lain”. Enver menolak, setelah menciumi tangan Jean.


“Tapi kamu sering muntah-muntah setelah minum, minumnya juga tak bisa banyak, dan lagi lihat kamu terlihat kurang sehat”. Jean khawatir.


“Aku tak apa”, Enver menyandarkan kepalanya keperut Jean, sambil sesekali menciuminya.


“Tapi dokterkan bilang tak apa, kondisi darahku pun stabil dan bagus, dan sekarang usia kandunganku sudah cukup tua”, bujuk Jean sambil mengelus rambut Enver.


Jean kemudian melepaskan pelukan Enver, dan berjalan membelakangi Enver ke pantry sederhana tempat Jean tadi membuat sandwich.


Enver memperhatikan istrinya yang tiba-tiba mencuci pisau, Enver berpikir mungkin istrinya ingin mengupas buah seperti biasa.


Namun Enver tiba-tiba melotot saat melihat istrinya menekan ujung pisau yang runcing dengan telunjuknya.


“Apa yang kamu lakukan, itu akan melukai jarimu!”, Enver dengan panik segera menghampiri istrinya, dan merebut pisau yang di pegang sang istri.


“Ini, dari pada terbuang sia-sia, lebih baik kamu jilat”, Jean menyodorkan telunjuknya yang sedikit terluka kepada Enver.


“Haah, apa yang kamu lakukan?”, Enver berlari ke kamarnya meninggalkan Jean. Dan kembali dengan plester luka.

__ADS_1


“Minum dulu, baru di plester”. Jean menepis tangan Enver yang berniat menutup lukanya dengan plester.


“Jangan membantah, kemarikan jarimu”, Enver terlihat serius.


“Kamu yang jangan membantah, aku sudah dengan sengaja membuat luka di jariku, tapi kamu tidak menghargainya”, Jean bertingkah lebih serius lagi.


Enver melihat istrinya yang memang keras kepala itu menatapnya dengan tegas, istrinya itu kemudian merebut plester di tangan Enver, dan menyodorkan tangan yang terluka dengan darah yang sudah mulai mengalir panjang di jarinya. Enver kemudian melahap darah itu, merasakan nikmatnya darah Jean yang sudah dia tahan sejak kehamilan Jean terungkap.


“Akhu haryap, ini perhtemuhan terakhirmhu denghan istri khelyuargha Louyis”, Enver berbicara dengan jari Jean yang masih ada di mulutnya.


“Kalau dengan Clarisa atau teman-temanmu aku masih bisa mengijinkan, asal jarak tempatnya tidak terlalu jauh”. Lanjut Enver setelah mengeluarkan jari Jean dari mulutnya, yang kemudian menarik tangan Jean ke tempat cuci tangan, dan mencuci luka Jean sebelum kemudian membungkusnya dengan plester.


“Dan jangan lakukan hal seperti ini, berbeda dengan luka gigitan dariku, luka biasa selain dari taringku akan agak lama untuk sembuh”. Enver menambah daftar omelannya.


“Apa tidak kurang?, itu terlalu sedikit”. Jean malah membahas darahnya yang di jilati Enver.


“Itu sudah lebih dari cukup, berikan aku yang lain sebagai gantinya”, Enver menyosor bibir istrinya. Satu kecupan, dua kecupan, hingga semakin intens, menghabiskan sisa waktu Enver sebelum pergi bekerja.


Enver yang berkutat dengan laptop dan tumpukan kertas, hampir lima belas menit sekali menatap layar ponselnya. Membuka dan menutup chat dari istrinya, takutnya ada chat baru yang belum dia baca.


Di siang hari dia melihat chat dari istinya yang mengatakan kalau dia berangkat ke pertemuan dengan nyonya Louis.


“Baiklah, hati-hati dan ingat jangan sampai kamu kecapean”. Enver membalas pesan itu dengan cepat.


“Enver, tim penyelidik menjadwalkan rapat mendadak jam tiga sore nanti”. Bram yang masuk keruangan Enver terlihat terburu-buru.


“Ada masalah apa?”, Enver bertanya setelah melihat Bram yang jarang datang ke ruangannya, datang dengan terburu-buru seperti itu.


“Jadi maksudmu, kegiatan eksploitasi itu dilakukan secara terstruktur di semua panti nasional?”, Enver yang sebenarnya sudah menebak nya dari gambaran kecurigaan ketua penyelidik OVI sebelumnya.


“Tapi bukankah tak akan terlalu sulit?, mengingat OVI sendiri cukup berpengaruh di internasional”. Enver menekan tombol telepon kantornya.


“Ya pak?”, Suara dari telephon itu terdengar.


“Tolong kosongkan waktuku dari jam 3 sore, ada hal penting yang harus ku urus”, Pinta Enver ke tim sekretarisnya.


“Apa?, mmm, pak tapi ada jadwal pertemuan dengan tuan Louis, untuk teken kontrak kerjasama terbaru”, sang sekretaris mengingatkan.


Enver terdiam sebentar, mengingat tuan Louis adalah salah satu investor penting Valera saat ini.


“Tak apa, tolong sampaikan permintaan maaf dan rasa bersalahku kepadanya. Katakan juga ada masalah urgent yang cukup serius”. Enver memutuskan.


Jam tiga sore hampir dekat, Enver duduk di kursi penumpang bersama Bram di sampingnya. Mereka berangkat ke tempat pertemuan, sebuah gedung yang memang di persiapkan Enver khusus untuk operasional tim penyelidikan.


Dia menatap ponselnya, dan membuka chat dari istrinya, namun tak ada pesan baru.


“Ada hal serius, sepertinya kegiatan Eksploitasi ini merupakan jaringan besar internasional”, Pimpinan penyelidik dari OVI menjelaskan di tengah rapat.


“Ini cukup menyedihkan”, ungkapan itu menjelaskan keadaanya.

__ADS_1


“ketua OVI pusat sedang mengusahakan untuk mendapat bantuan dari pemimpin Vampir internasional untuk mendalami masalah ini”, pimpinan tim penyelidik dari Ovi yang sering di panggil komandan Harry itu menjelaskan langkah pertama yang sudah di ambil.


“Lalu apa yang membuatnya menjadi masalah besar?”, Enver yang berpikir mungkin akan mudah mengatasi semua itu, apalagi kalau organisasi kepemimpinan Vampir resmi sampai ikut campur.


“Masalahnya adalah, tak semua Vampir berpengaruh di setiap negara mau ikut berkontribusi seperti kamu. Dalam kasus terburuk, di beberapa negara, utusan dari OVI bahkan tak bisa melakukan penyelidikan terkait hal ini, karena di halangi oleh vampire berpengaruh dari negara-negara itu”. komandan Harry menjelaskan.


“Hal terburuk dari semua itu adalah, karena jaringannya sudah hampir sama dengan organisasi kepemimpinan vampire, ada kemungkinan pemberontakan, dan rencana-rencana terburuk lain yang masih belum kita ketahui”, Lanjut komanda Harry.


“Kuharap semua orang yang berkaitan dengan penyelidikan ini, keluarganya bisa bahu-membahu, saling melindungi. Karena mengingat apa yang di lakukan mereka beberapa tahun lalu, merupakan terror yang cukup mengerikan”. Ucap komandan Harry, mengenang tragedy kakek Enver sahabatnya, dan tentu saja penyerangan Jean yang sebenarnya masih berkesinambungan.


Enver dan semua peserta rapat mendengarkan dalam keadaan hening, mereka tahu kalau salah langkah, mungkin sebuah perang bisa saja terjadi. Ditengah rapat yang cukup serius itu, Enver dengan tidak tenangnya mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke lantai.


Layar ponsel Enver yang memang terlentang ke atas, menyala. Memperlihatkan sebuah pesan dari Jean.


“Aku sedang dalam perjalanan pulang, aku beli buah pir dan apel kesukaanmu, aku melihat pedagang yang menjual buah-buahan yang terlihat sangat bagus di perjalanan pulang, jadi aku beli beberapa kresek, cukup banyak untuk seisi rumah”, isi pesan itu membuat Enver terlihat lebih tenang. Saat Enver mengetuk notifikasi itu, Enver melihat photo Jean yang berselfie dengan apel dan pir yang hampir memenuhi jok belakang, sampai Jean sendiri duduk cukup mepet.


“Dan masih ada di bagasi, juga di jok depan”, sebuah pesan lanjutan masuk.


Enver tersenyum, dan kemudian menutup ponselnya, setelah menjawab pesan Jean dengan jawaban ringan.


Rapat berjalan dengan serius dalam waktu yang cukup lama.


“Baiklah, kupikir rapatnya cukup sampai disini, mari jalankan sebisa mungkin sesuai rencana. Kupikir akan mudah di negara ini, mengingat 3 panti sudah berhasil kita amankan”. Komandan Harry menutup rapatnya.


Enver yang sudah kelelahan dengan aktifitasnya sepanjang hari, berjalan menyusuri lorong menuju kamarnya di mansion Valera. Pencahayaan yang sudah redup karena banyak lampu yang sudah di matikan, memperlihatkan seberapa malam dia pulang. Sebuah jam yang Enver lewati menunjukan jam 01:23 dini hari.


Enver yang melihat pintu kamarnya membuat Enver semakin tak sabar ingin berbaring sembari memeluk istrinya.


“Haah, tentu saja aku harus mandi dulu”, Jean memperkirakan seberapa banyak bakteri yang menempel di tubuh dan pakaiannya.


Namun ENver dengan tergesa menyalakan lampu kamarnya, dia menyadari istrinya tak ada di kasur.


“Jean?”, Enver mencoba memanggil Jean di kamar mandi. Namun kamar mandi sepi itu tentu saja kosong, itu terbukti karena Enver dengan tergesa membuka pintu kamar mandi.


Enver dengan perasaan yang tak enak, mencari ke balkon kamar, namun tentu saja tak ada Jean disana. Ini membuat Enver panik, karena biasanya Jean selalu ada di kasur setiap Enver datang malam.


Enver kembali mengecek ke tempat-tempat Jean biasanya menghabiskan waktu, namun tak ada.


“Dimana istriku?”, Enver bertanya kepada penjaga di pintu depan.


“Sa, saya pikir anda tahu”, Jawaban gugup penjaga memperlihatkan bahwa mereka berdua tidak tahu.


“Sebentar, saya panggil Siska”, penjaga itu berinisiatif.


Beberapa saat kemudian Siska datang sedikit berlari dari arah mansion lain yang dekat dengan mansion utama.


“Tu, tuan. Tapi nona belum pulang. Nona bilang akan mampir ke kantor tuan, dan pulang bersama tuan”, Siska langsung bercerita.


“A, Apa?, kenapa kamu tidak memastikannya padaku?”, tanya Enver dengan tersungut.

__ADS_1


“Sa, saya sudah memastikannya seperti biasa melalui ajudan anda, dan dia bilang anda memang mengetahui dan mengijinkannya”, Siska menjelaskan sembari memperlihatkan Chat dengan Jean, dan Chat dengan si penjaga.


“Haahh!, panggilkan penjaga itu!”, Enver yang merasa prustasi, merasakan panas amarah meluap dari kaki hingga ubun-ubunnya.


__ADS_2