OBSESI SANG VAMPIR

OBSESI SANG VAMPIR
Andai saja


__ADS_3

Delapan bulan berlalu, Jean menapakkan kakinya di mansion Valera setelah sekian lama. Aroma yang di penuhi kenangan lama menyeruak, membawa memori selama menjalani hidup di sana.


Rasanya sudah lama sejak dirinya tak bisa pulang ke mansion itu, sejak dia menerima panggilan telepon terakhir dari nyonya Louis. Rasa takut mencengkram setiap inci kulit Jean, kenangan mengerikan yang tak ingin Jean ingat. Rasa takut yang bahkan lebih mengerikan di banding rasa sakit saat menerima tusukan pisau dari kakak Enver dulu.


“Kenapa belum masuk?”, Enver memegang pundak Jean yang mematung di ambang pintu mansion.


“Aku menunggumu”. Jean tersenyum melihat suaminya.


“Kamu mau makan brownies sekarang?”, Enver bertanya saat berjalan melewati ruang makan.


“Kenapa tiba-tiba brownies?”, Jean bingung.


“Katamu kamu ingin makan Brownies yang banyak”. Enver menunjuk beberapa kotak brownies yang sudah siap di atas meja makan.


Jean mengerutkan alisnya bingung, dan mencoba melihat isi kotak itu, brownies coklat yang menggiurkan. Jean kemudian mencuci tangannya dan mengambil sebuah pisau, lalu kemudian mengambil sepotong kecil Brownies dan memakannya.


“Hmmm, ini enak. Mau ku potongkan?”, Jean menawari suaminya.


“Ini. Ada apa?, kenapa begitu banyak brownies?, apa ada yang mengirim?”, Jean memberikan sepotong brownies ke suaminya, sambil bertanya dengan mulut yang masih mengunyah kue berwarna coklat gelap itu.


“Inikan permintaanmu, katamu kalau kamu sudah sembuh, kamu ingin makan banyak brownies”. Enver berucap.


“Begitukah?”, Jean yang tak begitu mengingat ucapannya enam bulan lalu, menyerah untuk berusaha mengingat.


“Aku ingin mandi”, Jean beranjak meninggalkan Enver dengan sepuluh kotak kue yang baru di buka satu kotak, itupun hanya habis seperempatnya.


“Lalu bagaimana dengan semua ini?”, Enver menanyakan nasib brownies-brownies di meja.


“Nanti aku minta siska untuk membagikan brownies ini ke pegawai yang ada di mansion”, Jean menjelaskan.


“Apa?, tapi aku membelikannya untukmu”. Enver merasa di khianati.


“Kamu ingin aku memakan semuanya?”, Jean bertanya. Namun Enver hanya terdiam.


“Kamu ingin aku mati karena gula darah tinggi?, yang benar saja”. Jean mengomel sembari berjalan ke kamarnya.


“Bukan begitu, kamu kan bisa menyimpannya di kulkas, dan memakannya sedikit demi sedikit”. Enver masih bersikeras.


“Nanti aku minta tinggalkan satu kotak”, Jean menjawab sembari mengambil handuk kering yang menggantung di samping pintu kamar mandi.


“Yang bareng dong yang!”, Enver mengikuti Jean memasuki kamar mandi.


“Ih, enggak ah. Nanti malah lama. Aku ingin buru-buru tidur, badanku cape. Kita baru sampai.”, Jean mengeluh sambil mencoba mendorong Enver ke luar.


“Tak akan lama, kita hanya akan mandi bersama saja”. Enver memaksa masuk, sembari menutup pintu kamar mandi.


Sinar mata hari mengintip dari celah tirai di kamar Jean dan Enver. Jean yang meringkuk di balik pelukan Enver mungkin tak menyadari cahaya itu. tapi Enver melamun menatap cahaya remang itu. sembari membelai rambut Jean yang masih pendek.

__ADS_1


“Kamu gak kerja?”, Jean bertanya.


“Gak, aku memutuskan libur dua hari di akhir pekan mulai sekarang”. Enver menjawab.


“Hehe, kamu jadi pemalas ya”, Jean mengejek walau tak bisa menutupi rasa senangnya.


“Aku merasa iri pada karyawanku yang punya hari libur”, Enver menciumi pipi Jean lembut.


“Lalu kamu mau apa di hari libur?”, Jean bertanya sambil menatap mata suaminya.


“Hmmm, entahlah. Kamu mau melakukan apa hari ini?”, Enver bertanya balik ke Jean.


“Ayo jalan-jalan di taman”, Jean yang merasa rindu ke taman di mansion Valera, mengungkapkan keinginannya.


“Oke baiklah”. Enver menyetujui.


Jean dengan semangat bangun dari kasur, namu tubuhnya kembali jatuh ke kasur tiba-tiba. Jean merasakan tangan Enver yang menggerayangi tubuhnya, menjelaskan keinginan sang suami.


“Katanya ayo jalan-jalan”, Jean mengeluh sembari berusaha menjauhkan diri dari Enver.


“Jalan-jalan di taman itu paling enak kalau sore hari”, Enver menindih Jean sambil tersenyum.


“Hei yang benar saja!, aku ingin sarapan!”, Jean terus menolak.


“Ayolah, satu kali sebelum sarapan, oke”, Enver menciumi Leher Jean.


“Enver..”, Jean berbicara ragu.


Namun Jean tak bersuara beberapa saat, membuat Enver menatap Jean tepat di mata Jean.


“Kenapa?”, Enver bertanya sembari membelai beberapa helai rambut Jean yang masih pendek.


“Tidak, hanya saja.., aku lapar”. Jean menjawab sambil mengalihkan pandangan dari Enver.


Enver bangun dari tidurnya, dan kemudian mengulurkan tangannya ke arah Jean.


“Ayo”, Enver berbicara meminta Jean untuk menyambut tangannya.


Mereka berdua pergi ke ruang makan, menikmati makanan yang sudah tersedia, kemudian berjalan-jalan di taman, dalam sunyi.


Jean merasa tak enak kepada Enver, namun ingin minta maaf pun Enver terlihat masih terus tersenyum kepadanya sebari menggandeng tangannya Eeat.


“Kamu sudah capek?”, Enver bertanya ketika Jean tiba-tiba duduk di salah satu bangku taman yang mereka lalui.


“Hanya saja…, ingin duduk saja”. Jean menjawab sembari melepaskan tangannya yang menggantung di genggaman Enver.


“Ukkhhh, rasanya aku ingin setiap hari bermalas-malasan seperti ini”. Enver meringkuk, membaringkan kepalanya di pangkuan Jean, dengan kaki yang menjuntai karena bangkunya tak sepanjang tubuh Enver.

__ADS_1


Jean menatap suaminya yang sedang menatap ke wajah Jean.


“Kalau kau melihatku dari sana, kamu mungkin akan melihat lubang hidungku”, Jean tersenyum.


Enver mengulurkan tangannya ke bibir Jean yang tersenyum, dan mengusapnya lembut.


“Kenapa kamu tersenyum?”, tanya Enver pelan.


“Hanya ingin”, Jean menjawab sekenanya dan kemudian mengecup tangan Enver.


“Apa kamu terluka?”, Enver bertanya.


“Tidak”, Jean menjawab agak bingung dengan pertanyaan Enver.


Enver memiringkan badannya dan memeluk perut Jean.


“Kamu selalu memintaku untuk terbuka, kuharap kamu pun akan terbuka denganku”, Enver membenamkan wajahnya di perut Jean.


Jean tersenyum sembari membelai rambut Enver.


“Aku sangat mencintaimu”, Jean berbisik sambil masih tersenyum.


Namun Enver hanya terdiam tanpa suara, telinga Enver terlihat memerah.


“Aku benar-benar lelah, dan juga takut. Dan memikirkan bagaimana kamu menderita sendirian, membuat perasaan buruk itu mengganda beberapa kali lipat”. Enver mengeratkan dekapannya.


Jean menatap wajah Enver yang bersembunyi di perutnya. Jean bertanya-tanya, apa mungkin dirinya terlihat seperti menutupi sesuatu?, apa karena penolakan Jean tadi pagi kepada Enver?.


Jean gelisah memikirkan mungkin Enver akan berlebihan lagi menjaganya, jika Enver tahu bahwa Jean masih sering merasakan takut dan gelisah. Karena perlakuan keluarga Louis selama dia di kurung.


Dan yang paling menyiksa, adalah mimpi Jean setiap tidur, saat berada di ruang penyiksaan. Dan menyadari perutnya yang besar, yang Jean peluk setiap hari di ruang penyiksaan itu, telah hilang saat Jean membuka mata di rumah sakit.


Jean terperangah saat melihat setetes air mata, tanpa sadar sudah menetes di telinga Enver. Jean mengusapnya perlahan, berharap sang suami tak menyadarinya.


“Enver, ku harap kamu mengurangi rasa cintamu padaku”, Jean tiba-tiba berkata.


“Aku tak bisa”, Enver menjawab.


“Kalau begitu, lebih cintailah dirimu, sampai di titik kamu mencintai dirimu lebih banyak, di banding cintamu padaku”, Jean berucap.


Enver menatap wajah Jean.


“Apa hal seperti itu bisa di lakukan dengan sengaja?”, Enver bertanya.


“Jean, aku tak bisa menakar perasaanku, itu diluar kendaliku”. Enver terduduk dan memeluk Jean yang matanya memerah.


“Apa aku menyakitimu?, maafkan aku”. Enver berbicara sembari menepuk-nepuk punggung Jean.

__ADS_1


“Andai saja kamu tak mencintaiku, mungkin anak kita tak akan meninggal. Jika saja, rasa sukamu tak sebesar ini, mungkin saja anak kita akan memilih untuk selamat, dari pada menyelamatkanku”, Jean terisak menangis tiba-tiba.


“Apa maksudmu?, semua itu tak ada hubungannya”, Enver berusaha menenangkan Jean.


__ADS_2