OBSESI SANG VAMPIR

OBSESI SANG VAMPIR
Keributan Karena Rumor


__ADS_3

Sore hari telah tiba, tepat di jam bubaran kebanyakan karyawan. Jean berjalan beriringan dengan Rina dan Lita. Mereka berencana untuk mencoba sebuah restoran ramen yang baru buka beberapa hari, restoran itu berada sekitar 700 meter dari gedung Valera company. Dengan wajah sumringah Jean berjalan keluar dari lobi gedung bersama kedua rekan kerjanya itu.


“Akhir-akhir ini sepertinya kamu tak sulit untuk meminta ijin kepada suamimu ya”, ucap Rina.


“Haha, iya kak. Sekarang karena kondisinya sudah membaik, jadi aku mudah untuk mendapatkan ijin, asal aku sudah ada di rumah sebelum dia pulang”. Jelas Jean yang terlihat senang.


Di depan gerbang terlihat seorang ibu-ibu yang berdiri sambil beberapa kali celingak-celinguk mencari seseorang dengan, gerak-gerik tubuh yang tak tenang. Jean yang sudah lebih peka terhadap perbedaan vampire dan manusia, bisa dengan mudah mengetahui kalau ibu-ibu itu merupakan seorang vampire.


Jean yang tak merasa memiliki urusan atau mengenal orang tersebut hanya kemudian kembali fokus pada dua orang yang beriringan berjalan di samping kanan Jean.


“Sial kau wanita baji**an, sekarang aku menemukanmu!”, suara teriakan itu berbarengan dengan kepala Jean yang tiba-tiba tertarik dengan keras kebelakang.


Jean yang merasakan perih karena rambutnya di Tarik dengan cukup keras meringis menahan sakit.


“Hei apa yang sedang kau lakukan ba**sat!”, Rina yang sepertinya bertemu dengan spesies yang sama dengan dirinya langsung berteriak sambil mencoba melepaskan tangan ibu-ibu yang tiba-tiba menjambak Jean.


“Je.. jean, apa yang harus ku.. oh pak SATPAAAM, pak SATPAAAM”, Lita yang kikuk melihat situasi tersebut berlari sambil berteriak ke arah pos keamanan.


“Ada apa?”,” apa yang terjadi?”,”ya tuhan bagaimana kalau rambutnya sampai rontok?”, Keributan itu tentu saja mengambil banyak perhatian dari orang-orang yang berduyun-duyun keluar dari gedung.


“Lepaskan!”, ibu-ibu itu mendorong Rina dengan sangat mudah, sampai Rina terjatuh ke jalanan.


“Ukh, dasar gila, apa kau atlet MMA atau semacamnya?”, Rina mengeluh sambil berdiri dengan kedua lutut yang baret. Sedangkan mata Jean sedikit berair karena menahan perih di rambutnya.


“Hei kau wanita sial, ikut denganku!, kamu harus membayar semua yang kamu lakukan pada suamiku! ”. Wanita paruh baya itu menyeret Jean ke arah gerbang keluar , sambil terus mengoceh dengan suara keras.


“Apa yang kau lakukan?!”. Ruby yang baru datang dengan cepat menarik rambut cepol ibu-ibu itu dengan keras. Hingga membuat wanita itu seperti terhempas sampai dua meter, Sedangkan Jean ambruk dengan rambut sepunggungnya yang sudah kusut.


Drama di dekat gerbang keluar gedung Valera itu menjadi hot news di antara para pegawai. Terutama bagi para karyawan di rumah produksi Jean, mereka berspekulasi bahwa ibu-ibu itu adalah istri dari pimpinan rumah produksi, berdasar pada teriakan yang sebenarnya tidak spesifik. Dan tentu saja, sebuah spekulasi yang awalnya menggunakan kata 'mungkin' atau 'bisa jadi', berubah menjadi kata fakta yang di percayai sebagian orang yang terbiasa menelan informasi mentah mentah.


Sedangkan Jean, harus terus memohon dan merayu Enver yang sempat berniat melarang Jean keluar dari mansion, karena ternyata wanita itu adalah salah satu istri dari tersangka kasus eksploitasi dari panti yang Enver bunuh.


Membutuhkan waktu seminggu lamanya, sampai kemudian Enver mengijinkan Jean kembali bekerja.


“Kamu tahu, jangan membiasakan dirimu langsung mengurungku setiap ada sesuatu yang terjadi”. Jean yang masih mengeluh bahkan saat menaiki mobil menuju perusahaan.


“Kamu tak ingat apa yang terjadi padamu terakhir kali?”, Enver yang tak kalah kesal karena istrinya terus memaksa untuk kembali bekerja.

__ADS_1


“Padahal apa susahnya kamu tinggal di mansion, aku tak kekurangan uang untuk menghidupi kamu, sampai kamu harus bekerja seperti ini”. Enver berucap sambil memijat pelipis kepalanya.


“Kamu pernah di penjarakan?”, Jean mendelik ke arah Enver.


“Haaah, sudahlah, jangan mengajakku berdebat di pagi hari seperti ini”. Enver menyerah sambil bersandar ke bahu Jean mencoba bersikap manja.


Perlahan Enver mendengus di area leher Jean, dan mulai menjilati Leher Jean.


PLAKK!!. Suara tamparan yang cukup nyaring mendarat di pipi Enver sesaat sebelum taringnya menancap di leher Jean.


“Tadi subuh kan kamu sudah minum!, mau berapa lubang lagi yang akan kamu buat?. Dan lagi sekarang kita sedang menuju ke tempat kerja. Kalau bajuku kena noda darah bagaimana?”, Jean mengeluh sambil memalingkan wajah dari arah Enver.


“Haaah, Jean kamu sangat jahat”, Enver meringkuk memeluk pinggang Jean, dengan setengah tubuhnya berbaring di pangkuan Jean.


Tangan Enver mengangkat sedikit baju Jean.


“Haah, baiklah, lakukanlah”. Jean membuka plester yang ada di pinggang kirinya. Enver sambil tersenyum menjilati pinggang Jean dan bekas gigitan yang sebenarnya hampir memudar.


Tubuh Enver yang jangkung meringkuk seperti bayi, tubuh atas Enver yang di pangku di pangkuan Jean dengan tangan yang melingkar di area pinggang Jean. Enver mulai menggigit area dekat bekas gigitan Enver di malam hari sebelumnya.


Jean menatap Enver yang terlihat seperti bayi raksasa yang manja, tanpa sadar mengelus-elus rambut Enver.


Enver mendorong tubuhnya ke atas, dari terbaring hingga terduduk menatap Jean dan mengecup bibir Jean.


“Aku yakin kamulah yang lebih sering memerah”, ucap Enver sambil tertawa.


“Jangan lakukan hal seperti ini di depan umum, itu tidak sopan!”, Jean mendorong Enver sampai terguling ke sela-sela pijakan kaki antara jok belakang dan jok depan.


“Aduh!”, Enver mengeluh sambil kembali posisi duduknya yang benar.


“Haruskah aku membeli mobil caravan yang tertutup?”, Enver bergumam sambil memperhatikan istrinya menempelkan plester di pinggangnya di balik bajunya.


Dari semua kehebohan di jok belakang, sang supir menahan rasa malu dan mencoba untuk tak melihat ke arah spion tengah di dalam mobil.


“Dibanding membeli caravan seperti katamu, lebih baik aku pergi menggunakan salah satu mobilmu yang menganggur di garasi”, Ucap Jean sambil membuang sampah plester ke tong sampah kecil yang ada di mobil.


“Kamu itu kenapa terus berusaha menjauhiku di depan umum?, apa kau malu atau sebagainya karena memiliki suami seperti aku?”, Enver berucap dengan mulut yang sedikit meruncing.

__ADS_1


“Apa kamu sedang memintaku memujimu?”, Jean menimpali pertanyaan Enver ke arah yang lain. Karena sebenarnya Jean sudah sangat sering menjelaskan kalau dia merasa tak nyaman kalau sampai para rekan kerjanya tahu kalau dia istri dari pimpinan sekaligus pemilik Valera company.


Jean bergidik membayangkan akan ada lebih banyak karyawan yang cari muka kepadanya, tingkah pimpinan rumah produksi yang terus memberi perhatian lebih kepada Jean saja sudah membuat Jean tak nyaman.


“Apa?”, Jean bertanya karena Enver terus menatapnya dalam diam selama beberapa menit.


“Kamu yakin tak mau memecat pegawai yang bernama Rina itu?, pimpinan produksi terus melaporkan kalau dia selalu mencaci kamu hampir setiap hari. Tapi kamu terus menolak, sangat menyebalkan mendengar kamu di rendahkan oleh orang lain”. Ucap Enver.


“Kak Rina tidak mencaci ku, dia hanya mengomentari cara kerjaku. Sebenarnya dengan adanya kak Rina aku jadi lebih mudah untuk tahu hal apa yang harus ku perbaiki saat aku bekerja”, Jelas Jean.


“Dan sebenarnya, kupikir Pimpinan rumah produksi itu terlalu sering menjilat, sebenarnya itu tak terlalu nyaman untukku. Kamu tahu, sampai ada rumor kalau aku istri simpanan pimpinan rumah produksi, karena katanya dia selalu menjadikanku anak emas”, Jelas Jean.


“Aku tahu itu hanya gossip, tapi terdengar sangat menyebalkan”, Enver menahan emosinya yang hampir ter sungut.


“Apa aku ganti saja pimpinannya?”, Enver bertanya.


“Tapi kerja pimpinan rumah produksi cukup bagus, tak susah untuk para creator mendapatkan proyek. Dan semakin kesini kwalitas proyek kerjasama semakin meningkat, itu karena pengalaman dan koneksinya yang luas”, Jean menjelaskan.


“Apa yang sebenarnya aku maksud adalah, Jangan terlalu percaya pada laporan dia tentangku yang sering di lebih-lebihkan, aku akan meminta bantuanmu langsung jika memang ada orang yang benar-benar menggangguku”, Jelas Jean.


Hari itu, setelah selama satu minggu Jean tak masuk kerja. Pandangan mata orang-orang terasa lebih intens dari pada biasanya. Beberapa orang dari tim lain bahkan dengan terang terangan mencoba membully Jean secara halus, seperti pura-pura tak sengaja menabrak, tak sengaja menumpahkan minuman, dan hal klise yang kekanakan. Kebanyakan dari mereka adalah para pegawai muda yang masih belum cukup dewasa. Sedangkan sisanya anya bergosip dan kemudian berlalu.


Hingga dua hari setelah Jean kembali bekerja. Para pegawai di kumpulkan di satu ruangan rapat. Mereka yang tak kebagian kursi berdiri berdesakan di pojok-pojok ruangan. Suara bising yang tak jelas dari beberapa bisikan yang menanyakan ada apa, mendadak sepi saat pimpinan rumah produksi masuk.


“Halo semuanya, apa kabar?”, kalimat pembuka yang cukup santai untuk rapat tidak resmi yang cukup mendadak.


“Saya mengumpulkan anda semua disini untuk membahas kabar tak nyaman yang beredar baru-baru ini”, Pimpinan memulai topik dengan cukup cepat. Jean yang berdiri di pojokan bersama teman-temannya merasa ada yang tak beres.


“Masalahnya, rumor tak berdasar itu bahkan membuat sekitar lima orang mengajukan petisi yang meminta memperbanyak hari cuti dalam sebulan, karena merasa tak adil karena ada seorang pegawai yang dengan mudah bisa libur sampai seminggu leih setiap bulannya di luar hari libur resmi”, Pimpinan rumah produksi menjelaskan alasan awal di adakannya rapat.


“Saya akan langsung mengatakan saja yang sejujurnya, karena sepertinya akar rumor dan petisi adalah karena satu hal. Itu karena katanya saya menganak emaskan seorang pegawai”, beberapa orang mulai berbisik mendengar topik itu.


“Begini, rumor itu membuat saya malu untuk menghadap ke pimpinan Valera company, dari pada seperti ini lebih baik kalian semua tahu, kalau nyonya Jean pegawai yang kalian sangka adalah simpananku itu, merupakan..”, “pemilik rumah produksi!!”, Jean berteriak memotong penjelasan pimpinan, membuat semua orang melihat ke arah Jean.


“Apa ?, hahaha”, Rina tertawa canggung mencoba menelan informasi mendadak itu.


“Ah, ya benar nyonya Jean memang pemilik rumah produksi, tapi bukan hanya itu..”, “Ya begitulah kawan-kawan semua, sebenarnya saya adalah pemilik resmi rumah produksi ini. saya menyerahkan kepemimpinan kepada beliau karena saya sangat ingin belajar menjadi seorang komikus atau seorang animator. Terkadang saya bolos kerja karena ada urusan mengenai rumah produksi yang tak bisa di wakilkan kepada pimpinan. Saya pikir sudah cukup untuk rapatnya, dan kalian bisa kembali keruangan masing-masing. Saya yakin beberapa dari kalian sedang di kejar dead line, jadi semangat, dan terima kasih atas semua pengabdiannya”, Jean menyerobot ke tengah kerumunan, dan berusaha sekuat tenaga membubarkan rapat. Dalam pikirannya, lebih baik mereka mengetahui kalau dia pemilik rumah produksi di banding mereka mengetahui kalau Jean adalah istri Enver.

__ADS_1


Jantung Jean yang hampir copot itu kembali membaik setelah beberapa hari berlalu sejak rapat. Dan tentu saja rumor itu langsung mereda, walau Jean harus mengorbankan kenyamanan kerja yang dia nikmati selama ini. karena beberapa orang dengan sifat yang mirip dengan pimpinan rumah produksi, mulai berperilaku baik kepada Jean secara tidak wajar.


__ADS_2