OBSESI SANG VAMPIR

OBSESI SANG VAMPIR
Hari Yang Kacau


__ADS_3

Hari yang kacau untuk Valera company pusat, hari itu keluarga Bram dan beberapa vampire dengan kemampuan manipulasi otak berjaga di depan pos sebelum gerbang, para pekerja non vampire yang hendak keluar dari perusahaan di cegat dan di sterilkan dari ingatan kekacauan hari itu, akibat dari pemandangan sesosok tubuh yang terlempar jatuh dari lantai 12, tubuh itu menembus kaca ruang rapat.


Beberapa orang yang kebetulan berada di luar gedung, melihat kejadian itu, mereka berteriak histeris karena kaget. Terlebih, tubuh itu menggeliat berusaha berdiri dengan darah yang mengalir.


Dan pemandangan pemilik Valera company yang melompat dari asal tubuh yang baru jatuh itu langsung menendang tubuh yang jatuh dengan sangat brutal. Menambah kekacauan hari itu.


“Sebenarnya apa yang kamu pikirkan, kita bisa menangkap dan mengurung suami istri itu tanpa membuat keributan seperti itu”, Bram yang mengeluh sembari menyupiri Bram yang duduk di jok depan mobil.


“Berhenti berbicara dan fokus saja menyetir”, Enver yang sebenarnya merasa lebih baik menyetir sendiri itu, terpaksa di temani Bram, karena lututnya yang masih lemas, karena menopang tubuhnya saat melompat dari lantai 12.


“Mereka sudah tak bisa di tanyai sama sekali, tuan Louis sudah sekarat, dan istrinya sudah tak bisa bicara karena kerongkongannya hancur”, Bram menjelaskan hal yang sebenarnya tak di minta oleh Enver.


“bagaimana?”, Enver bertanya segera, setelah menempelkan ponsel di telinganya.


“Ck, cari di tempat lain”, Enver berkata sebelum kemudian menutup ponselnya.


Enver dan Bram berhenti di sebuah property milik keluarga Louis, tepatnya kediaman yang digunakan keluarga Louis selama di negara ini.


“Cari dengan teliti!”, Enver berteriak dengan semangat. Beberapa orang dari mobil yang berbeda bergegas memasuki property itu, bahkan menerobos keamanan yang ada.


“Jangan halangi!, minggir!”, beberapa suara dan teriakan terdengar dari mulut anak buah Enver, saat mereka di halangi beberapa tim keamanan keluarga Louis.


Enver yang ikut masuk berkeliling ke beberapa tempat yang sekiranya mungkin Jean ada di sana. Sampai ke sebuah ruang bawah tanah, tak ada tanda keberadaan Jean. Enver sebenarnya jelas tahu, karena dia tak mencium bau Jean sedikitpun.


“Tuan, dari hasil interogasi saya kepada beberapa penjaga. Katanya keluarga Louis terakhir datang kesini dua minggu lalu, dan mereka mengaku tak pernah melihat orang yang ciri-cirinya seperti nyonya Jean dibawa kedalam”. Penjelasan dari anak buah Enver itu membuat Enver semakin yakin bahwa Jean tak ada di sana.


Di tengah harapan dan kecemasan yang memuncak, Enver menerima panggilan dari komandan Harry.


“Ya?”, Enver mengawali pembicaraan.


“Teman-temanku tak bisa masuk ke property Louis, apalagi menggeledahnya. Kita membutuhkan izin dari pimpinan vampire internasional langsung”. Komandan Harry menjelaskan kesulitan penggeledahan di negara asal keluarga Louis.

__ADS_1


“Kalau sampai keluarga itu menyerang Jean, bukankah berarti mereka memiliki keterkaitan khusus dengan eksploitasi darah manusia yang sedang di tangani langsung bahkan oleh pimpinan vampire internasional?, Jadi apa masalahnya?”. Enver bertanya sembari kembali kedalam mobil.


“Sejauh ini mereka bersih, karena itu mereka tak bisa di sentuh dengan mudah tanpa bukti”. Komandan Harry menjelaskan.


“Haah, ya sudah”, Enver menutup panggilan dengan amarah yang masih labil.


“Kita pergi ke bandara XX”, Enver berbicara kepada Bram yang sudah siap dengan kemudi mobil di tangannya.


“butuh tiket atau pilot?”, Bram memastikan.


“Pilot”, Enver menjawab.


Bram kemudian menghubungi pilot yang biasa di sewa oleh pemilik pesawat pribadi. Dan meminta orang yang siap menit itu juga untuk bersiap menerbangkan pesawat.


“Tapi pengecekan pesawat belum selesai”, seorang kru pesawat yang di sewa berucap.


“Pesawat ini baru di pakai minggu kemarin oleh pegawaiku, dan semuanya baik-baik saja”, Enver yang sudah duduk di kursi pesawat meminta agar pesawat di terbangkan detik itu juga.


Enver terdiam menatap ke luar Jendela pesawat, Bram yang sibuk mempersiapkan beberapa pengawal dan petugas untuk keberangkatan beberapa kali bulak-balik di dalam kabin. Pesawat yang hanya bisa menampung 30 orang itu sudah hampir penuh dengan beberapa pengawal dan pegawai Enver.


“Tahu begini lebih baik beli tiket”, Enver ngedumel saat melihat cahaya di luar mulai meredup.


“Setidaknya ini akan lebih cepat, tiket untuk penerbangan dua jam yang lalu, sudah habis sejak kita sampai di bandara. Belum lagi harus transit”, Bram menjelaskan, berharap Enver bisa lebih bersabar.


Hingga malam tiba, Enver sampai di negara XXX, negara asal keluarga Louis. Enver bahkan sedah berdiri di depan kediaman keluarga Louis.


“Siapa kalian?, mohon maaf, tapi tuan dan nyonya sedang tidak ada”. Seorang penjaga gerbang menjelaskan.


Namun Enver dengan mata yang berkilatan menerobos penjagaan tanpa rasa takut, penjaga yang hendak menghentikan Enver di halau oleh pengawal Enver. Enver berjalan sambil mendengus beberapa kali, seperti anjing yang mencari dimana letak tulang kesayangannya berada.


Wangi ringan darah Jean, semakin menguat setiap Enver melangkah. Suara sirine polisi terdengar kencang menuju ke kediaman Louis dari kejauhan. Mungkin di mata umum, malam itu kediaman Louis terlihat sedang di jarah besar-besaran. Kegaduhan dan teriakan terdengar dari semua arah rumah besar itu.

__ADS_1


“Berhenti di sana!”, seorang polisi mengarahkan pistolnya ke arah Enver yang sedang memegang tangkai pintu sebuah ruangan.


“Angkat tangan dan menyerah lah!”, Itulah teriakan seorang polisi sebelum kemudian tubuhnya di hantam pukulan benda tumpul oleh seorang pengawal Enver.


Pintu terbuka perlahan, aroma Jean menyeruak membuat ludah Enver hampir menetes. Enver mematung melihat istrinya yang terlihat seperti memiliki busung lapar.


“Jeaan!”, Enver berteriak sembari berusaha mengambil nafas dengan benar. Rasa syok yang mirip saat melihat istrinya sedang di tusuk oleh kakak pertama Enver dulu, membuat Enver hampir lupa cara bernafas yang benar.


“Jean, sadarlah!”, Enver sambil gemetaran berusaha melepaskan rantai yang mengikat tangan dan kaki istrinya.


“Ya tuhan, apa ini?”, 3 orang polisi yang tadinya menodongkan pistol, masuk sambil menutup hidung mereka.


“Ada seseorang yang di sekap!”, Polisi lain berteriak memberitahu rekan yang lain.


“Pak, angkat tangan, dan biar kami yang mengurus orang ini”, seorang polisi memberi peringatan kepada Enver.


Namun Enver yang sepertinya tak bisa mendengar kegaduhan di sekitarnya hanya terus berusaha membuka paksa rantai tanpa menyakiti istrinya.


Trang!!, beberapa rantai putus, dengan gelang rantai yang masih melingkar di tangan dan kaki Jean.


“Jean, Jean sadarlah!”, Enver sembari menangis mengais Jean ke pangkuannya, dia menciumi Jean beberapa kali sebelum kemudian membawa Jean keluar dari ruangan itu, tanpa menghiraukan para polisi yang terlihat masih mencerna keadaan.


“D..dia bisa tahan dengan bau t*i ini?”, Seorang polisi berucap sambil segera keluar dari ruangan yang keadaanya benar-benar menjijikan. Kotoran, pesing, darah, nanah. Bau-bau itu bercampur dalam ruangan itu, lantai putih yang tertutup kerak darah, begitupun keadaan tembok yang sepertinya terciprat darah berkali-kali. Dan keadaan Jean, tak jauh berbeda dengan lantai dan tembok di ruangan itu.


Para polisi yang sedang mencoba mengamankan pengawal Enver, terpaku melihat Enver yang menggendong Jean sambil menangis. Mereka jadi bingung, sebenarnya pihak mana yang harus mereka amankan. Pihak Louis, atau pihak Enver.


Tapi untungnya beberapa perwakilan OVI datang menengahi, membuat Enver dapat dengan mudah membawa istrinya ke rumah sakit.


“Seenaknya sekali dia berbuat seperti itu!, seharusnya dia..”, suara samar dari seorang lelaki menghilang saat Bram berusaha menarik lelaki itu menjauh dari ruang rawat Jean.


Enver menatap Jean sambil memegangi tangan Jean erat. Tangan Jean yang memang kecil, kini terlihat seperti tengkorak rapuh yang di lapisi kulit. Kulit Jean yang tadinya terlihat hitam legam tertutup daki, darah dan juga nanah yang mengering, kini kembali bersih, namun memperlihatkan banyak luka di sekujur tubuhnya dengan Jelas.

__ADS_1


Bahkan kulit kepala Jean yang di penuhi luka terlihat sangat jelas, karena semua rambutnya di pangkas habis oleh dokter, untuk mempermudah proses pembersihan dan pengobatan luka.


__ADS_2