OBSESI SANG VAMPIR

OBSESI SANG VAMPIR
Hari Bahagia


__ADS_3

“Kamu sudah sadar?”, Bram menyodorkan segelas air kepada Enver yang terduduk sambil memijat pelipisnya.


“Dimana ini?”, Enver bertanya sembari menerima segelas air itu.


“Hotel di jalan xx”, Bram menjelaskan.


Enver kemudian berdiri setelah menenggak habis air di gelasnya.


“Mau kemana?”, tanya Bram.


“Ke rumah sakit”. Enver beranjak ke pintu keluar.


“Dokter melarang mu ke rumah sakit, Ruby dan Siska sudah datang dan menemani Jean di sana”. Bram menjelaskan.


Namun Enver tak menghiraukan.


“Kamu mau kesana dan membuat keributan begitu?” Bram berteriak muak.


“Tenang saja, aku hanya ingin melihat Jean sebentar. Dan untuk rapat yang tertunda itu, kita lakukan di sini saja, jemput para peserta rapat kesini”, Bram berbicara dengan tenang.


Enver berjalan memasuki loby rumah sakit. beberapa resepsionis yang melihat Enver melotot kaget.


“Orang yang tak mempan di bius itu, baru saja melewati meja resepsionis..”, salah satu resepsionis berbicara pada telepon, terlihat menahan panik.


“Tunggu pak, maaf tapi anda tak di izinkan masuk”, seorang perawat laki-laki mencoba menghadang Enver di lorong rumah sakit.


“Aku hanya ingin melihat istriku”, Enver menjawab dengan tenang.


“Tuan Enver?, mari ikut saya”, Dokter yang menangani Jean terlihat setengah berlari menghampiri Enver.


“Apa yang anda lakukan terakhir kali, terlalu gegabah. Saya tahu tentang teori gigitan vampire yang bisa menambah sari kehidupan manusia. Tapi itu bisa di lakukan jika manusia itu sedang stabil, anda melakukannya saat istri anda kritis. Untung saja dia bisa bertahan!”, Dokter itu menasehati Enver dengan tegas.


“Tapi terakhir kali berhasil..”, Enver bergumam.


“Apa?”, dokter bertanya.


“dulu istri saya di tusuk berkali-kali di perutnya oleh seseorang, dia sekarat. Dan aku melakukannya, dia berhasil bertahan”. Enver menjelaskan.


Dokter hanya terdiam mendengar ucapan itu sambil jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja perlahan, ketukan meja terdengar mengisi sepi di ruangan itu.


“Itu tindakan yang beresiko, anda harus bersabar”. Dokter itu menutup ucapannya dengan kesimpulan yang tetap sama.

__ADS_1


“Mungkin karena kamu terus menerus mengurus istrimu sendirian, kamu mengalami tekanan stress berlebih, jadi kamu tak bisa berpikir sehat. Aku tak akan melarang mu untuk mengunjungi istrimu. Tapi hanya satu jam perhari, tak bisa lebih. Biarkan dua kerabatmu itu yang menjaganya”. Dokter mengakhiri pembicaraannya dengan Enver.


Setiap harinya Enver menatap Jean selama satu jam, sambil duduk di kursi di samping ranjang Jean.


“Tak perlu khawatir, terakhir kali dia juga koma sampai 6 bulan”, ucapan Ruby berulang setiap hari, menjadi tanda bahwa satu jam waktu untuk Enver berada di sana sudah habis. Enver akan pergi ke luar dan mengurus pekerjaannya.


Sampai-sampai Valera company membuat cabang perusahaan di negara itu, untuk mempermudah Enver bekerja dari sana.


“Berkatmu 98% pembersihan eksploitasi sudah terlaksana. Aku tak menyangka ternyata Louis merupakan salah satu kepala di balik kegiatan illegal itu”, seorang komandan OVI yang di tugaskan di negara itu mengobrol di pertemuannya dengan Enver.


“Kudengar kamu akan mencalonkan diri?, kamu sangat pintar mengambil langkah nak. Kamu memiliki banyak dukungan, terutama dari petinggi OVI”. Komandan itu berceloteh sembari menikmati minuman di gelasnya.


“Kamu pasti sudah tahu, di banding panggilan pimpinan vampire internasional, jabatan itu lebih sering di sebut sebagai raja vampire. Dan kamu akan menyandangnya sampai kamu beranjak umur 2500 tahun. Jika kamu berhasil terpilih”. Lanjut sang komandan.


“Memikirkannya berapa kali pun, itu sangat luar biasa. Ada orang dari pihakku yang akan maju mencalonkan diri. Jika kamu berhasil terpilih, jangan lupakan aku oke!”, komandan itu terlihat sangat bersemangat.


“Tentu saja, aku tak akan melupakan anda sebanyak anda membantu saya”, Enver tersenyum.


Kunjungan dari petinggi beberapa organisasi vampire menjadi lebih sering akhir-akhir ini. Enver berusaha memposisikan dirinya dengan benar, walau sebenarnya dia masih ingin mencari jalan untuk mangkir dari permintaan Abercio.


Di sore hari Enver menuju ke rumah sakit, melakukan kunjungan rutin, mengobati rasa rindu walau sedikit. Enver melihat Ruby yang sedang menerima panggilan telepon, tersenyum kearah Enver di depan pintu kamar rawat Jean.


Enver yang tak begitu menghiraukan Ruby, kemudian membuka pintu kamar Jean. Enver mematung di sana, bibirnya bergetar menahan untuk tidak melebar, air mata tiba-tiba membuncah membasahi wajah Enver. Enver berusaha menghapus air matanya dengan tangan. Namun terus kembali basah dengan air mata baru.


“Jean”, Enver menghampiri jean dengan suara bergetar.


“Memangnya kamu secengeng ini ya?”, suara lemah Jean terdengar mencoba menggoda Enver.


“Ini semua karena kamu, aku jadi sering menangis setelah bertemu denganmu”, Enver menciumi lengan Jean yang selama ini tak berani Enver sentuh sejak dia mengigit nya terakhir kali.


“Bagaimana kamu masih begitu tampan, disaat aku jadi botak begini?”, Jean tersenyum sembari mengelus pipi Enver.


“Haruskah aku membotaki kepalaku juga?”, Enver bertanya.


“Jangan, aku tak suka lelaki botak”. Jean tertawa.


Beberapa alat bantu sudah di copot, alat bantu nafas yang sudah di lepas sejak dua minggu lalu, dan alat bantu makan terlihat baru saja di lepas. Enver Tersenyum lebar melihat tubuh istrinya yang sudah mulai berisi.


“Pak supir, bagaimana kabarnya?”, Jean bertanya di tengah suapan bubur dari suaminya.


“Aku tak tahu”, Enver menjawab.

__ADS_1


“Beliau sudah sehat, dan sudah kembali bekerja”, Siska ikut menjawab pertanyaan Jean.


“Syukurlah”, Jean tersenyum lebar sebelum kemudian melahap bubur cair yang di sodorkan suaminya.


“Tapi bagaimana kamu bisa tak tahu?, kamu kan bosnya?, keterlaluan! ”, Jean bergeleng walau perlahan karena tenaganya masih belum pulih.


“Itu karena kamu tak kunjung sadar, jadi aku tak bisa memperhatikan hal lain”, Enver menjawab.


“Kasihan Bram dan ayahnya”, Jean berpendapat.


“Kenapa jadi Bram yang kamu kasihani?”. Enver mengeluh.


“Dia pasti kesulitan karena kamu terkadang tak professional, ckckck”, Jean mendecak.


“Kamu baik-baik saja?”, Enver bertanya ragu.


“Bagaimana aku bisa baik-baik saja, lihat selang kencing ini masih menembus perutku. Ini membuatku ngilu”. Jean tertawa ngeri.


“Aku ingin makan brownis coklat yang banyak nanti jika kita pulang”, sambung Jean sambil tersenyum.


Enver tersenyum kecil mendengar ocehan istrinya.


“Baiklah, kamu juga harus makan banyak daging nanti”. Itulah yang keluar dari mulut Enver setelah mengecup kening istrinya yang masih belum bisa duduk dengan benar.


“Sudah satu jam berlalu”, Ruby berucap sembari berjalan masuk dari luar pintu.


Namun Enver terlihat seperti orang tuli, dan hanya terus bermanja-manja kepada Jean.


“Pak Enver, anda sudah kehabisan waktu jenguk”. Ruby berbicara dengan suara yang lebih keras.


“Tak ada lagi jam besuk”, Enver mengeluh.


“Hei, yang memutuskan itu dokter, kamu bisa seharian dengan Jean, jika Jean sudah bisa pergi dari rumah sakit!”, Ruby mengomel.


“Haah, yang benar saja. Jean aku ingin tetap disini bersamamu”. Enver merengut.


“Apa itu aturan rumah sakit?, kalau begitu mau bagaimana lagi?”, Jean menjawab.


“Bukan, itu bukan aturan rumah sakit. Itu Cuma aturan dokter”. Enver menjelaskan.


“Tapi aturan dokter berarti aturan rumah sakit juga, kamu sepertinya datang kesini setelah bekerja, kamu harus beristirahat dengan benar”, Jean mengusap kantung mata suaminya yang menghitam.

__ADS_1


Hari itu menjadi hari bahagia bagi Enver, rasa lega melihat istrinya yang terlihat jauh membaik. Rasanya cekikan dan mimpi buruk yang selama ini menyiksa, perlahan hilang. Kini Enver bisa bernafas lebih lega. Tanpa rasa takut ataupun cemas berlebih.


__ADS_2