
Jean terbaring di kasur rumah sakit dengan tangannya yang tersambung ke selang infus. Beberapa saat kemudian Enver masuk keruang rawat tersebut, dengan bibir yang terlihat berkedut menahan ekspresi.
“Kenapa?”, Jean bertanya melihat tingkah suaminya yang benar-benar aneh. Namun pertanyaan Jean malah di balas sekecup ciuman yang mendarat dipipi Jean.
Jean mengerutkan alisnya dengan rasa penasaran yang semakin berkecamuk.
“Katanya kamu hamil, janinnya di perkirakan berumur tiga bulan”, Enver bercerita dengan bibir yang mesem menahan rasa kebahagiaan.
“Ha.. oh, aaah. Ternyata aku hamil”. Jean yang sudah mengumpulkan rencana untuk mengumpulkan bukti kebusukan Reno, nuraninya mendadak meningkatkan rasa bersalah yang tak wajar.
“Kamu tak senang?”, Enver terlihat kecewa dengan respon Jean saat mendapat kabar bahwa dirinya sedang mengandung.
“Apa?, bukan begitu. Aku hanya tak pernah terpikirkan untuk hamil”. Respon Jean jujur. Selama ini Jean selalu mengonsumsi obat kontrasepsi dengan teratur. Jadi dia bertanya-tanya kenapa bisa?, walau tentu bisa saja.
“Aku tahu kamu tidak merencanakan semua ini, tapi jangan sampai kamu menolak anak ini”, Enver memberi peringatan.
“Apa?, kau pikir aku gila?”, Jean yang bahkan tak kepikiran untuk bersedih karena kehamilannya merasa tersinggung setelah mendengar wejangan dari Enver.
“Haah, pantas saja”, Jean berguman namun dengan suara keras.
“Kenapa?”, Enver penasaran.
“Entah kenapa sejak bulan lalu aku merasa muak melihat wajahmu”, Jean mendelik kepada Enver.
“Apa?, kok kamu jahat sih?”, Enver dengan wajah gugup menimpali Jean.
“Tunggu, kenapa kamu berekspresi seperti itu?, ada yang kamu sembunyikan dariku kan?”. Jean yang mengharapkan ekspresi sedih atau marah dari suaminya, merasa aneh karena malah melihat gerak-gerik gugup seperti orang yang menyembunyikan sesuatu.
“Ap.. apa maksudmu?, aku tak menyembunyikan apapun. Aku hanya tak habis pikir, kenapa kamu bisa merasa muak kepadaku?”. Enver beralasan.
“Terkadang, ibu hamil akan merasa muak kepada suaminya. Itu hal yang lumrah. Tapi tak disangaka kamu berekspresi seperti seorang yang ketahuan melakukan dosa”. Jean menyidik.
“Ti.. tidak kok”. Enver memalingkan pandangannya.
“Bilang, apa yang kamu sembunyikan dariku?”, Jean menarik baju suaminya yang mencoba menghindari percakapan.
“Tapi kamu jangan marah, aku melakukannya karena aku merasa sepertinya kamu bisa pergi dariku kapan saja. Kamu bahkan sangat rajin meminum pil kontrasepsi. Itu agak membuatku risau”. Enver memutar obrolannya.
“Langsung saja ke intinya”. Jean berucap dengan tegas.
“A, aku yang menghabiskan camilan favoritmu diam-diam tempo hari”. Enver berucap. Namun sepertinya Jean merasa tak puas dengan penjelasan Enver. Jean tahu, kalau camilan favoritnya habis tanpa di ketahui olehnya, itu selalu membuatnya menjadi badmood dan agak kesal. Tapi terlalu berlebihan untuk membuat suaminya sampai tegang seperti itu.
“Baiklah, ya, aku menyuruh siska menukar isi obat kontrasepsimu dengan vitamin biasa”, Enver mengaku sambil gugup karena melihat istrinya yang terus menatapnya tanpa henti.
“Sejak kapan?”, Jean bertanya sambil menahan kesal.
“E.. enam bulan yang lalu.., ah tidak maksudku lima bulan yang lalu”. Mungkin tak pernah ada orang yang melihat tingkah gugup Enver yang seperti itu, selain Jean.
“Haahh, kamu menyebalkan!”, Jean bersandar ke kasur rumah sakit membelakangi Enver setelah memukul lengan Enver dengan tenaga yang Jean miliki.
“Jangan marah, kamu tak boleh stres saat hamil,. A... aku tak sengaja”, Enver mengelus Lengan Jeang yang tidur membelakangi Enver.
"Tak sengaja?, tapi kamu dengan niatnya membuat vitamin-vitamin itu benar-benar menyerupai obat kontrasepsi, bahkan sampai ke bungkus nya". Jean merasa tak habis pikir.
“Kamu harusnya bersabar, aku akan berhenti minum pil-pil itu saat aku sudah siap. Memangnya yang hamil itu kamu?. Seenaknya saja kamu melakukan hal seperti itu di belakangku. Kalau ini hanya kebobolan mungkin aku tak akan merasa seburuk ini. kamu memuakkan”. Jean cemperut menutup dirinya dengan selimut.
Setelah tubuhnya kembali membaik, Jean pulang ke mansion. Selama dua hari di rumah sakit, Enver bekerja seadanya dari ruang rawat Jean. Tapi selama Enver menemani Jean, selama itu pula Jean tak menghiraukan Enver sedikitpun. Jean hanya tersenyum dan tertawa saat suster, dokter atau siska yang datang. Namun saat semua orang itu pergi Jean langsung memperlihatkan wajah cemberutnya dengan jelas kepada suaminya.
Malam itu Jean berbaring di kasurnya, namun ponsel Enver berbunyi beruntun sebanyak lima kali, tanpa sadar Jean membaca isi pesan mengambang dari Bram. “Saya pikir anda tak perlu khawatir berlebihan”, “Saya tahu anda benar-benar menyukai Jean, tapi begitupun dengan Jean”, “Ini adalah hal yang belum saya beritahukan kepada anda sebelumnya”, “Jean pernah menangis sesenggukan karena berpikir anda membuangnya, saat anda di tahan dulu”. Itulah isi deretan pesan yang Jean lihat dari jendela notifikasi.
__ADS_1
“Apa ini?”, “Dia curhat kepada temannya?, benar-benar”. Jean terkekeh karena mengetahui sisi kekanakan Enver.
Jean yang baru menyadari dirinya memegang ponsel Enver, dan membaca pesan Enver tanpa ijin dari Enver. Membuat Jean dengan cepat menyimpan ponsel Enver dengan cepat ketempat semula.
‘Apa yang kulakukan’, itulah yang Jean pikirkan saat ingat pada prinsipnya untuk tidak melanggar privasi suaminya.
“Nanti pas aku pulang mau kubelikan sesuatu?”, Enver yang berniat kembeli bekerja ke kantor, bertanya kepada Jean.
“Strobery yang besar”, Jean menjawab dengan posisi tibur membelakangi Enver.
“Apa?”, Enver yang tak menyangka akan mendapatkan respon dari istrinya mengembangkan senyum di bibirnya tanpa sadar. Karena suda dia hari Jean tak berbicara sepatah katapun kepada Enver.
“Ku bilang aku ingin Srawbery yang besar”. Jean tak menyadari kalau ucapannya itu akan membuat Enver sumringah sepanjang hari.
“Kamu kemana aja?, ku dengar dari ketua tim kamu sakit?”, Lita bertanya.
“Makanya jangan Jajan sembarangan”, Rina melanjutkan.
“Aku hamil”, Ucap Jean memberitahu kedua rekan kerjanya.
“Uaaah, yang benar?”, Ekspresi Rina berubah menjadi bersemangat.
“Halo dede, aku teman kerja ibu kamu”, Rina bertingkah bertolak belakang dengan kebiasaanya selama ini, sambil mengusap-ngusap perut Jean. membuat Jean dan Lita terdiam saling tatap.
“Apa yang kalian pikirkan?”, Rina kembali ke sifatnya saat menyadari teman-temannya melihat dirinya aneh.
“Tapi kak, ini isinya t*i. bayinya masih dibawah sini". Jean menjelaskan letak bayinya.
“Hahahahha”, Lita tertawa terbahak-bahak.
“Oh iya, aku akan berhenti kerja bulan besok”. Jean menjelaskan.
“Iya”. Jean menjawab.
“Suamimu kerja apa?, melihat rumah keluargamu dulu saat menjengukmu sepertinya suamimu dari kalangan kaya”, Lita bertanya karena merasa rumah Ruby adalah rumah yang sangat mewah, dia tahu saat menengok Jean setelah kejadian di Restoran dulu.
“Oh, yaah. Suamiku punya beberapa usaha”. Jean menjelaskan.
“Ku tebak, pasti usaha turun-temurun yang di kelola oleh keluarga”. Ucap Lita.
“Ya, begitulah”. Jean menjawab sekenanya.
“Kalau di pikir-pikir, kenapa kamu tak bilang kalau kak Ruby itu sepupu suamimu”. Rina bertanya sambil menatap layar komputernya yang baru di nyalakan.
“Oh, tak ada alasan khusus”. Jawab Jean.
“Oh iya, kemana Reno pergi?”, Jean bertanya.
“Kamu tak tahu?, dia berhenti. Katanya sih pekerjaannya tak cocok dengannya”, Lita menjawab dengan ekspresi sedih.
“Kalau tak cocok harusnya sejak awal jangan masuk ke rumah produksi, konyol sekali”, Rina mencibir.
“Hei, namanya juga anak muda”, Lita membela menggunakan umur Reno yang baru 26 tahun.
Jean yang bertanya hanya untuk basa-basi kemudian mulai fokus pada pekerjaannya.
Satu bulan kemudian, Jean duduk bersama Rina dan Lita mengelilingi sebuah meja di sebuah rumah makan yang cukup terkenal.
“Padahal kamu tak perlu memaksakan, kemarin kan kita sudah makan bersama dengan semua karyawan rumah produksi”, Lita tak enak.
__ADS_1
“Hei, dia kan pemilik rdumah produksi, belum lagi sepertinya suaminya orang kaya”, Rina menimpali.
“Hei, anda disini?”, seorang wanita yang merupakan orang asing tiba-tiba menyapa Jean.
“Ah, halo”, Jean tersenyum menjawab sapaan wanita asing itu yang ternyata istri dari investor yang terakhir kali.
“Anda sepertinya sedang menikmati waktu dengan teman-teman anda”, Jean hanya tersenyum berkali-kali menjawab pertanyaan dari istri investor.
“Oh, kudengar anda sedang mengandung, kapan-kapan ayo pergi denganku untuk membeli beberapa perlengkapan, aku tahu toko yang bagus”, istri investor itu menawarkan.
“Dan titip salam kepada suamimu ya”, wanita itu kemudian meninggalkan Jean.
“Rasanya aku pernah lihat”, Rina mengingat-ngingat wajah vamiliar dari wanita yang baru saja menyapa Jean.
“Bukankah itu nyonya louis, istri dari investor terkenal itu, James louis”. Lita mendapatkan ingatannya.
“Bagaimana kamu tahu?”. Jean bertanya.
“Tentu saja aku tahu, perusahaan merekakan yang teratas di dunia”. Lita menjawab.
“Oh iya benar, bagaimana bisa kamu bisa kenal dengan orang seperti itu?”, Rina bersemangat sambil melihat profil nyonya louis dari ponselnya.
“E.. eh, ternyata dia adalah salah-satu investor Valera”, Rina melotot saat melihat sebuah thumbnail sebuah berita local.
“Uaah, tapi kalau Valera, aku megerti”. Lita menimpali dengan bangga, karena dirinya adalah karyawan dari anak usaha Valera company.
“Oh iya, kalau di pikir-pikir, aku tak pernah melihat pemilik Valera secara langsung. Padahal ku pikir setidaknya akan melihatnya sekali karena kantor kita ada di gedung Valera pusat”, Lita memulai gossip.
“Iya, kau benar. Tapi Valera menyediakan satu lantai khusus untuk rumah produksi itu sudah menjadi pembicaraan untuk anak perusahaan yang lain. Karena selama ini gedung pusat digunakan untuk kantor pusat saja. Aku sudah bersyukur karena kita bisa bekerja di bangunan megah seperti itu”. Rina berujar.
“Ya, kau benar. Oh iya, kamu kan pemilik salah satu anak usaha Valera company, berarti kamu pernah lihat pemilik Valera secara langsung dong?”, Lita bertanya.
“Oh iya, mungkin karena itu juga kamu bisa kenal dengan nyonya Louis”, Rina menantikan jawaban Jean untuk pertanyaan Lita.
“Ya”, Jean seperti merasakan perasaan berdosa, karena merasa membodohi teman-temannya selama ini.
“Seperti apa dia?, kudengar dia sangat tampan. Tapi terlalu serius. Dan apa kamu pernah bertemu dengan istrinya?, aku sangat penasaran, karena kudengar pemilik Valera sangat bucin kepada istrinya”. Lita dan Rina nyerocos dengan asyiknya.
“Ya, yaah. Istrinya biasa saja”, Jean menjawab pertanyaan terakhir dari rentetan pertanyaan yang terlalu cepat untuk di hafal.
“Masa biasa saja, seorang istri dari tuan Enver yang memiliki perusahaan teratas di negara ini, bahkan tahun ini perusahaan kita ini debut di 50 teratas dunia”, Lita berbicara dengan sangat bangga.
“Jangan berlebihan, itu membuatku tak nyaman. Kamu tahu perusahaan gurita bisa berdiri kuat, karena kaki dan tangan yang kuat yang membuatnya besar”. Jean menjawab.
“Ya tetap saja itu karena kemampuan bisnis dari otak perusahaan”, Rina menjawab.
“Tapi kenapa kamu merasa tak nyaman, kita kan bukannya sedang memuji suamimu”, Rina melirik ke Jean.
“Itu karena Enver itu suami ku”, Jean yang memang berniat memberitahu kedua rekan kerjanya itu mendapatkan timing yang mendukung walau agak canggung.
“Ha,hahaha. Kalau suamimu dengar dia akan cemburu. Suamimu itu kan overprotektif sekali padamu”, Lita tertawa menganggap pengakuan Jean itu hanya bercandaan. Begitupun dengan Rina.
“Aku memang berniat memberitahu ini kepada kalian hari ini, karena bagaimanapun kalian adalah teman terdekatku di tempat kerja. Aku merahasiakannya karena takut tak bisa bekerja dengan nyaman kalau sampai banyak orang yang tau”, Jean menjelaskan di tengah suara tawa Rina dan Lita.
Kedua temannya terdiam karena mulai percaya. Namun masih belum percaya.
“Kalau di pikir-pikir, kalau nyonya Louis menyapamu sampai seperti itu, itu berarti kamu orang yang cukup penting sampai bisa di ingat”, Rina berbicara dengan tenang.
“Aku serius, nanti kalau aku melahirkan datanglah menjenguk”, ucap Jean.
__ADS_1