
Sebuah cahaya yang tak umum bagi Jean saat tubuhnya masih memeluk Kasur. Cahaya kekuningan dengan kehangatan yang mulai menerik.
“Haaa”, Jean kaget saat matanya terbuka sempurna.
Jean berdiri dari Kasur dengan kaki yang masih lemas. Lalu ambruk di samping ranjang.
“Ukh”, Jean melenguh. Dia baru menyadari saat seluruh tubuhnya terasa sangat ngilu.
“Ya tuhaan, pinggangku benar-benar hancur”, Jean mengeluh pada bagian tubuhnya yang paling terasa lemah.
Jean dengan cepat mandi dan memakai baju, lalu berlari keluar dari kamar.
“Nona?, saya pikir anda libur hari ini?”, Siska yang sedang duduk di kursi dapur menyapa Jean dari celah pintu dapur.
“Apa?, bagaimana bisa aku libur di hari senin”, Jean mengingat tenggat waktu pekerjaannya yang sudah mepet. Jean sudah membayangkan bagaimana Rina akan mengomelinya dengan sindiran-sindiran halus.
“Anda mau sarapan apa?”, Siska berjalan mengikuti Jean yang setengah berlari ke meja makan.
“Ah, Roti selai kelihatannya cepat”, Jean berbicara sembari tangannya yang gesit mengambil Roti di tangan kanan dan tangan kiri mengorek selai yang ada di meja makan.
“Anda mau susu?”, Siska menawari Jean sembari membuka kulkas.
“Tcak pherluuu”, Jean menjawab dengan mulutnya yang penuh dengan satu gigitan roti.
“Nona, tapi tuan bilang anda libur hari ini”, Siska sedikit berteriak saat menyadari Jean sudah berada di Lorong menuju ruang tamu yang tepat ada di area pintu depan.
Namun Jean yang sudah tak bisa mendengar ucapan Siska segera mencari sopir yang biasanya mengantar Jean.
“Dimana pak Angga?”, Jean bertanya kepada seorang penjaga di luar pintu.
“Sebentar, saya panggilkan”, penjaga itu menjawab sembari langsung memanggil pak angga melalui penjaga lain menggunakan walkie talkie.
Jean yang sudah panik karena cahaya matahari benar-benar sudah terasa hangat, beberapa kali mengetuk-ngetuk kan kakinya ke lantai teras.
Sebuah mobil dari arah parkiran terlihat mendekat. Tanpa babibu Jean langsung masuk ke mobil.
“Saya kira anda libur hari ini, karena kata Siska, tuan bilang anda libur”, pak Angga menyetir dengan rambut yang masih acak-acakan tidak seperti biasanya.
“Tidak, saya tidak libur, maafkan saya pak”, Jean merasa bersalah, karena sepertinya mengganggu pak Angga yang berpikir kalau hari itu dia bisa tidur sampai tengah hari.
“Tidak nona, saya yang meminta maaf karena tak siap siaga”, Ucap supir itu. Tapi hanya di tanggapi senyuman oleh Jean, karena dia tahu, kalau dia mencoba meminta maaf lagi, maka sepanjang perjalanan adalah kegiatan saling minta maaf antara Jean dan pak Angga.
__ADS_1
Saat tiba di gedung Valera company, Jean langsung berlari menuju lantai kantornya.
“Hah, hah, hah, maafkan hah, akuh..”, Jean yang tersengal meminta maaf tepat saat dia sudah dekat dengan bilik tempatnya bekerja.
“Kudengar kamu sedang tak enak badan?”, Lita memutar kepalanya mengikuti Jean yang melewati bilik Lita.
“Aku, kesiangan. Tak seperti biasanya, aku terbangun saat matahari sudah mulai hangat”, Jelas Jean.
“Duh, duh, duuuh. Tapi pekerjaanmu sudah hampir selesai aku kerjakan”, Rina menengok kearah Jean dengan kantung mata hitam yang menggantung.
“Apa?, kenapa?”, Jean merasa bersalah.
“ketua tim menghubungiku subuh-subuh, memintaku untuk datang sejak subuh, karena katanya kamu tak bisa datang untuk bekerja, sedangkan sisa pekerjaanmu masih belum selesai, sedangkan tenggat waktunya siang ini. KAU. GI. LA?”, Rina nyerocos karena rasa kesalnya.
“Ma, maafkan saya kak”, Jean menunduk merasa malu.
“Jangan berlebihan kamu, tugasnya kan di bagi berdua dengan ku, dan itupun hanya tiga chapter saja”, Lita sepertinya sudah terbiasa menjadi pelerai di setiap saat Rina mulai mengajak orang lain berdebat.
“Hey, kamu mengerjakan satu chapter dan aku dua chapter”, Rina melotot kearah Lita.
“Hehe”, Lita cengengesan mendengar keluhan temannya.
“Kudengar akan ada anggota baru di tim kita”, Lita mulai bergosip.
“Ayo bergosip di kantin”, Rina berdiri dengan bibirnya yang mengering karena kekurangan minum dan bekerja berlebihan sejak subuh.
“Y.. ya”, Jean mengikuti Rina dengan perasaan bersalah yang masih belum hilang.
“Katanya, karena kamu terkadang ada tugas dadakan. Dan bilik bekas kak Ruby kosong, Jadi akan ada penambahan anggota”, Lita yang sudah tak sabar bergosip memulai pembicaraan nya bahkan saat masih berjalan menuju kantin.
“Orangnya seperti apa?”, Rina bertanya.
“Tak tahu, ku harap seorang laki-laki muda yang bisa di andalkan”, Lita berucap dengan bibir mengembang.
“Hei dasar ganjen, kamu kan sudah punya pacar”, Rina yang sepertinya muak dengan keganjenan Lita mengeluh.
“Eii, tapikan benar, kita tak punya otot laki-laki di tim kita. Kalau bawa-bawa hal berat, jadi harus kita”, Jelas Lita.
“Tapi hal kita benar-benar jarang harus mengangkut-angkut barang. Bahkan mungkin hanya sekali, saat perusahaan baru di dirikan”. Jean berbicara sambil menggosok-gosok dagunya.
“Ya, benar”, Rina menimpali opini Jean.
__ADS_1
“hei kalian itu!”, Lita tak bisa berkata-kata lagi.
“Oh iya, sebenarnya ruang staf yang dulu dipakai kak Siska itu loh, sekarang kosong kan?. Tapi sejak awal aku bertanya-tanya. Apa yang mereka lakukan di sana?”, Rina yang sepertinya terus penasaran dengan fungsi staf yang dulu sebenarnya berisi staf penjaga Jean.
“tapi dimana sekarang kak Siska?, kalau kak Ruby kadang aku melihatnya di ruangan barunya, di bagian animasi. Tapi kak Siska kemana?”, Lita ikut bertanya-tanya.
“Sepertinya kak Siska benar-benar merasa trauma saat kejadian mengerikan saat itu”, Rina mengarah pada kejadian di restoran.
“Ya, bisa jadi”. Jean menimpali sekenanya sambil mengambil nampan untuk mengambil makanannya.
“Aku benar-benar bersyukur bisa selamat dari kejadian itu”, Lita bergumam.
“Tapi Jean, kamu baik-baik saja?”, Rina bertanya dengan ragu kepada Jean.
“Aku baik-baik saja”, Jean tersenyum. Dalam benaknya, ternyata Rina juga bisa merasa tak enak seperti itu saat membahas sesuatu. Padahal selama ini Rina adalah tipe yang benar-benar blak-blakan, bahkan kepada kepala pengelola rumah produksi sekalipun.
“Untung saja saat itu polisi berhasil membekuk para Ter****s itu\, sebelum kamu mengalami hal yang lebih buruk lagi”\, Jelas Lita.
Dalam benak Jean, Jean berpikir kalau kak Bram benar-benar sudah bekerja sangat keras.
“Jean, apa benar kamu istri simpanan pimpinan?”, pertanyaan random Rina membuat Lita terbatuk-batuk karena keselek makanan.
“Pimpinan siapa?”, Jean yang sama kagetnya dengan Lita merasa risau kalau sampai semua orang tahu kalau dirinya adalah istri Enver. Karena sepertinya suasana kerja Jean akan berbeda, orang-orang akan lebih menahan diri, dan itu cukup tak nyaman bagi Jean.
“Siapa lagi, tentu saja pimpinan rumah produksi, masa pimpinan Valera, di gosip yang kudengar pimpinan Valera itu bucin total pada istrinya”, Rina tanpa ragu mengeluarkan celetukannya.
“Apa, tentu saja tidak“.Jean yang mendengar kalau Enver bucin total pada istrinya, tanpa sadar tersenyum.
“Tapi kenapa kamu malah senyum-senyum seperti itu?, Jean menurutku tak ada untungnya untukmu menjadi istri simpanan pimpinan rumah produksi. Kau tahu sendiri dia itu sudah tua, bau minyak angin, tak tahu malu juga”, Rina benar-benar memiliki mulut tajam.
“Aku bersumpah tidak, suamiku itu hanya punya satu orang istri, yaitu aku”. Jean menjelaskan.
“Oh, syukurlah kalau begitu. Ada rumor yang menyebar di tim lain, katanya kamu adalah istri simpanan pimpinan rumah produksi, itulah alasan kenapa pimpinan rumah produksi selalu bersikap baik dengan berlebihan kepadamu. Dan juga setiap kamu tak masuk, dialah yang memberitahu ketua tim kita. Termasuk tadi pagi. Kau tahu, saat aku mendengar rumor itu, aku sudah berencana muntah di wajahmu kalau kamu benar-benar simpanan orang itu”. Celotehan pedas Rina sudah seperti sambal makan siang Rina dan Lita.
“Jean, kamu harus mencari orang yang menyebarkan rumor itu, dan mencabik-cabik mulutnya”, Rina memberi saran.
“Aduh!”, Rina berteriak pelan saat kepalanya di pukul sendok oleh Lita.
“Berhentilah, kalau kamu terus bercerita dengan kalimat yang lebih mirip sumpah serapah seperti itu, kau akan kesulitan kedepannya”, Lita menegur Rina.
“Kau benar, aku sudah merasakan kesulitan. Sulit untuk tidak mengoceh seperti ini”, Rina yang sepertinya tak berniat memperbaiki cara bicaranya mengabaikan teguran Lita.
__ADS_1
“Tapi aku serius, orang yang menyebarkan rumor gila seperti itu, harus di beri pelajaran. Kamu yang tidak peka dengan gossip di sekitarmu mungkin tak begitu peduli. Tapi bagaimana kalau sampai ada orang yang menyerang mu atau melakukan hal yang merugikan kepadamu, hanya karena rumor tak berdasar seperti itu. Rumor seperti itu, jika di biarkan akan menjadi duri di kehidupanmu”. Rina mencoba menjelaskan pendapatnya dengan gambling.