
Suasana mansion yang memang selalu sejuk, menjadi lebih dingin, karena kecuali derap langkah pegawai, tak ada suara apapun lagi. Mansion keluarga Valera, tepat di hari kelahiran anak ketiga mereka. Anak laki-laki itu hanya tertidur atau terbangun tanpa suara.
Dapur di mansion adalah tempat dimana suara para pegawai terdengar berbisik-bisik, dengan mata yang waspada menoleh kesana kemari. Hari itu adalah enam bulan sejak Enver lahir. Seorang pengasuh berbincang dengan tiga orang koki yang sedang menyiapkan makan malam.
“Kasihan sekali, lengan Enver penuh dengan luka lebam, sepertinya nyonya terus mencubitnya setiap bayi itu hendak menangis”, Pengasuh itu bergosip, menceritakan kondisi bayi yang dia asuh, sembari menunggu bubur bayi yang sedang di siapkan salah satu dari koki yang bekerja.
“Sebisa mungkin jauhkan Enver dari nyonya, bisa-bisa kamu di jadi kan kambing hitam oleh nyonya, kalau tuan besar tahu”, seorang laki-laki yang cukup tua itu memberi saran.
Begitulah, keadaan di dalam mansion itu tergambarkan oleh suara bisik-bisik di dapur mansion, tempat dimana para pegawai meluapkan kegelisahan mereka saat bekerja.
Kehidupan tak adil yang dialami Enver, membuat semua orang bertanya-tanya, kenapa?. Padahal dua anak pertama mereka, begitu di sayangi sang ibu. Sedangkan sang ayah yang tak pernah peduli pada kehidupan dirumahnya, hanya terobsesi untuk menjadi penerus ayahnya untuk meneruskan kekuasaan dan kekayaan keluarga Valera.
Enver yang sudah terbiasa mendapatkan kekerasan dari sang ibu, sejak dia masih bayi. Air mata emosi Enver, sepertinya mengalami kekeringan. Dia tak pernah menangis bahkan saat ini, di umurnya yang menginjak umur 6 tahun.
Enver menatap ibunya yang tersenyum ke arahnya dari kejauhan, ibunya berdiri sambil menunduk menatap Enver, dari balkon hotel yang berada di lantai 7. Sayup terdengar sang ibu menangis dengan keras sambil berteriak minta tolong, tapi sudut bibirnya yang memicing ke atas menjelaskan semuanya. Menjelaskan apa yang hanya Enver dan para pengasuh tahu.
Enver melihat orang-orang berkumpul mengelilinginya, sambil menyebut nama tuhan mereka masing-masing, karena melihat tembok jalan setapak di banjiri darah dari tubuh Enver. Bibirnya yang memang selalu pucat, menjadi sangat putih, seperti daging ayam tanpa darah. Mata Enver yang menyala merah perlahan meredup, dan tubuhnya tergeletak kaku seperti hiasan tanduk rusa yang dipaku di dinding.
Enver yang bahkan tak takut apalagi peduli tentang kematian, hanya menatap kosong dinding rumah sakit. Dia bertanya-tanya, kenapa sangat sulit untuknya mati, padahal sang ibu sudah sangat berusaha dengan keras.
Kakek Enver yang jarang ada di samping Enver karena selalu melakukan perjalanan jauh, hari itu duduk di kursi, tepat di samping ranjang Enver.
Enver menatap kosong sang ibu yang menangis sambil di rangkul suaminya, mereka berdua duduk di sofa yang ada di ruang inap rumah sakit.
__ADS_1
“Kasihan sekali anakkuu”, sang ibu meracau sembari sesekali menghisap ingusnya keras.
“Ibu lah kasihan sekali”, Enver berbicara menatap kosong kepada sang ibu. Dengan tubuh yang di perban sana sini.
Sang ibu hanya terus menangis mengaburkan ungkapan Enver.
“Jika ingin membunuhku, maka lakukanlah dengan benar”, Enver berucap cukup keras, agar tak teredam tangisan ibunya.
Ayah Enver hanya memalingkan wajahnya, setelah melihat ekspresi kakek Enver yang terlihat kaget.
“Sepertinya aku sudah tak sanggup untuk menanggung rasa sakit yang terus meningkat setiap waktu”, Anak kecil itu melanjutkan ocehannya.
“Bukannya aku berusaha bertahan hidup, aku bahkan tak tahu kenapa sangat sulit untukku mati. Setidaknya carilah cara yang tak terlalu menyakitkan”, Enver kecil yang sepertinya sudah mencapai batasnya memohon kepada sang ibu untuk mencari cara untuk membunuhnya tanpa rasa sakit. Karena jelas sudah puluhan kali sang ibu mencoba membunuhnya.
Sejak hari itu, dibanding tinggal di mansion, Enver lebih sering memegang tangan sang kakek, dan mengikuti sang kakek yang merupakan salah satu anggota pengurus organisasi Vampire internasional.
“Enver, jangan lupa minum darah, aku tahu kamu tak suka dan terkadang sampai muntah-muntah. Tapi seminggu ini kamu belum meminum darah sama sekali. Itu berbahaya untuk tubuhmu”. Kakek Enver mengingatkan Enver yang memang memiliki kondisi penolakan pada darah, tapi tubuhnya membutuhkan darah sama hal nya dengan Vampire lain.
Hari itu tepat seminggu setelah sang kakek pensiun dari kepengurusan, karena umurnya yang sudah menginjak 2800 tahu, umur yang dianggap sudah tua untuk para vampire.
“Ini darah anak baru, yang baru pertama kali di ambil darahnya”, kakek Enver menuangkan darah dari botol.
Enver yang sudah mengira-ngira akan seperti apa omelan kakeknya jika dia menghindar untuk meminum darah hari itu, menahan nafas sambil menutup matanya untuk memulai minum darah itu.
__ADS_1
Enver mendadak membuka matanya setelah dia melihat bayangan seorang perempuan yang menelungkup memeluk lututnya sambil berbaring di tempat yang sangat gelap. Enver mendengar sayup tangisan anak perempuan itu terisak. Rasa kesepian, takut dan sedih yang bercampur, menyeruak. Setiap tetesan darah itu menyentuh lidah dan tenggorokan Enver. Apa itu?, sensasi yang pertama kali Enver rasakan saat meminum darah. Mata Enver mengeluarkan cahaya merah sekelebat.
“Ohh, kamu suka darah ini?, kamu bahkan menghabiskannya dalam satu tegukan”. Ucap kakek Enver sambil tersenyum.
“Kalau begitu, darah ini khusus untukmu saja”. Kakek Enver menyodorkan botol berukuran 700ml itu kepada Enver.
“Karena pengambilan darahnya dilakukan selama satu bulan sekali untuk keamanan pemilik darah, jadi kamu harus menyelinginya dengan darah lain agar kebutuhan darahmu terpenuhi”. Kakek Enver menjelaskan.
Setelah makan malam Enver membawa botol berisi darah itu ke kamarnya, dia yang takut kehilangan darah yang tak membuatnya mual saat mengkonsumsinya itu, mengamati setiap inci botol dan warna darah yang ada di dalamnya. Dia melihat label bertuliskan ‘Jean”, menempel di botol tersebut.
Enver mencium bau darah yang mulai menggumpal itu perlahan, matanya berbinar, jantungnya berdegup. Dia merasakan aroma unik yang membuatnya merasa bahagia.
Seiring berjalannya waktu, bayangan-bayangan anak kecil yang menangis saat Enver meminum darah itu, perlahan berubah menjadi senyuman anak perempuan yang sangat manis.
Enver yang penasaran seperti apa anak pemilik darah itu, meminta ikut dengan sang kakek yang pergi mengunjungi sebuah panti yang di kelola keluarga Valera.
Saat sang kakek mengobrol berdiskusi dengan kepala kepengurusan panti, Enver pergi berjalan-jalan di area panti.
Dia mulai berdebar karena dapat mencium aroma darah kesukaanya, walau aroma itu sangat lemah. Enver mengikuti aroma itu yang membawa Enver ke area asrama.
Saat melewati sebuah lorong terbuka penghubung dua gedung asrama, aromanya kembali melemah, jadi Enver kembali kearah berlawanan. Setelah beberapa kali bolak-balik di lorong terbuka itu, Enver menyadari kalau si pemilik darah ada di sekitar lorong. Enver melihat ke segala arah sembari mendengus mencari dari mana aroma itu berasal.
Enver melompat ke area bawah lorong, dan melihat sepasang kaki mungil di bawah lorong itu, Enver memiringkan tubuhnya untuk melihat area bawah lorong. Mata Enver mengkilat merah saat mendapati anak yang selalu muncul di bayangannya sedang jongkok di bawah lorong, aroma kuat yang membuat Enver merasakan kebahagiaan itu membuat Enver tanpa sadar tersenyum.
__ADS_1
Tapi kemudian sang kakek memanggil Enver untuk pulang.
‘Sayang sekali, karena tak bisa melihat anak perempuan itu untuk waktu yang lebih lama’, itulah yang ada di benak Enver saat itu.