
Sore itu Enver duduk di samping sang kakek, di sebuah ruang rapat dengan meja yang dikelilingi banyak kursi.
Di umur Enver yang ke -14, sudah menjadi hal biasa baginya untuk mengikuti les beberapa les privat dari pagi hingga siang dan kemudian dari siang hari mengikuti kegiatan sang kakek dalam mengelola Valera company, perusahaan turun temurun yang sudah melewati 10 generasi, yang berdiri sejak 300 abad yang lalu.
Enver terduduk melihat ketegangan wajah para peserta rapat hari itu, kakeknya yang seperti sedang berusaha menahan kemarahan besar menggenggam kosong tangannya di atas meja.
Ada sekitar enam orang yang ada di ruangan itu, mereka adalah tiga kepala keluarga yang ikut mengelola panti, termasuk kakek Enver yang merupakan kepala keluarga Valera. Tiga orang sisanya adalah para anak masing-masing kepala keluarga, yang rencananya akan menjadi penerus kepala keluarga selanjutnya, walau dalam kasus Enver dia adalah seorang cucu.
“Kamu gila?, bagaimana kamu bisa melakukan ini?”, kepala keluarga Reynard yang memiliki umur mirip dengan kakek Enver, melotot ke arah kepala keluarga Allagi yang sudah sangat tua. Kepala keluarga Allagi memiliki umur di atas rata-rata harapan hidup para vampir, yaitu 3050 tahun.
“Aku bersumpah tidak melakukannya!”, kepala keluarga Allagi berbicara dengan suara yang sudah lemah.
“tenanglah, kita harus melakukan penyelidikan agar bisa jelas siapa pelaku sebenarnya”. Kakek enver mencoba untuk tenang.
“Bisa menjadi masalah besar kalau kasus seperti ini terus menerus terjadi, para manusia akan menyadari kejanggalan di panti, dan akan menganggap kita sebagai pembunuh”, kepala keluarga Allagi berpendapat dengan ekspresi khawatir.
Rapat ini diadakan karena 10 tahun terakhir terjadi masalah di panti, para penghuni panti yang melewati umur 20-an 90% menjemput ajal mereka. 70% meninggal karena penyakit, dan 20% meninggal karena kecelakaan, dan sisanya mengakhiri hidup mereka karena masalah psikis yang terganggu. Dalam dua tahun terakhir ada 800 penghuni panti yang berumur 20 hingga 23 tahun meninggal dalam waktu yang berdekatan.
Sehingga memberi kesan tak pernah ada penghuni panti yang keluar dari panti untuk melanjutkan hidup secara mandiri. Karena penghuni panti yang tersisa akan bekerja di panti sebagai pengurus panti.
Disaat semua orang di sana khawatir jika panti akan di tutup kalau sampai kejadian itu bocor keluar, Enver tanpa sadar menggigiti bibirnya karena entah mengapa terus teringat pada Jean, Enver menebak-nebak berapa tepatnya umur Jean, dan memikirkan cara untuk mencegah Jean mengalami hal yang sama dengan para penghuni panti lainnya.
“Kita tak bisa menyerahkan penyelidikan ini pada satu keluarga saja”, seorang pria paruh baya, yang merupakan anak dari kepala keluarga Allagi mengusulkan.
“Kamu benar, selama ini kita mempercayakan penyelidikan kepada pihak mu, tapi tak ada hasil yang jelas”. Kakek Enver menjawab usulan itu dengan nada sindiran kepada sang pengusul.
“Kupikir karena inilah kalian mencurigai keluarga kami, tapi aku sudah menjelaskannya berkali-kali di rapat tahunan panti, para saksi kunci yang kami dapatkan mengakhiri hidup mereka dengan menenggak racun. Hal itu sudah lima kali terjadi.”, penerus Allagi itu menjelaskan dengan tenang.
Kakek Enver tak merespon apapun, karena sebenarnya dia sudah pernah menyelinapkan mata-mata ke tim penyelidikan Allagi, dan kejadian saksi kunci yang di temukan mati karena menenggak racun di ruang isolasi itu benar adanya.
Tiga kepala keluarga memutuskan untuk mengirimkan masing-masing dari pihak mereka kedalam tim penyelidikan. Hingga malam sudah larut, dan rapat di hentikan karena masing-masing kepala keluarga memiliki agenda lain yang harus di lakukan.
“Bukankah terlalu berlebihan menggantikan anakmu dengan cucumu yang masih kecil?”, Kepala keluarga Reynard berucap sembari menghirup rokoknya di dalam lift.
__ADS_1
“Kebiasaan buruk mu merokok di tempat umum benar-benar tak bisa di perbaiki”, Kakek Enver mengabaikan perkataan kepala keluarga Reynard.
“Haha, maafkan aku. Aku benar-benar akan merasa sangat lemas jika tidak merokok dalam waktu yang cukup lama”. Kepala keluar Reynard tertawa.
“Padahal saya pikir anak laki-laki anda memiliki bakat yang bagus, tidak bijak menggantikannya dengan seorang anak kecil yang umurnya bahkan belum sampai 5 abad”, penerus Reynard berbicara tenang.
“Kita memiliki kepala yang berbeda, tentu saja isinya pun berbeda. Hal yang menurutmu tidak bijak, bisa menjadi kebijakan paling tepat menurutku”, Kakek Enver menanggapi.
“Itu karena kamu hanya memiliki satu anak, setelah istrimu meninggal karena wabah infeksi di darah yang kita minum dulu, kamu memilih untuk tidak menikah lagi. Hal itu membuatmu tak memiliki banyak pilihan untuk penerusmu”. Kepala Reynard mengoceh.
Biasanya para vampire atau manusia dengan genetic yang bisa hidup dalam jangka waktu yang sangat lama, rata-rata memiliki anak yang sangat banyak. Walau tak jarang juga yang memutuskan memiliki anak sedikit dengan alasan kesulitan dalam mengurusnya. Tapi pada kasus kakek Enver, hal itu karena kesetiaannya kepada sang istri yang sudah meninggal.
Saat itu Enver tak tahu kenapa sang kakek memilih untuk membuat Enver menjadi penerus Valera, mengingat sebenarnya kejeniusan Enver yang bisa beradaptasi dalam kepengurusan company adalah gen yang diturunkan ayahnya.
Seiring berjalannya waktu, sang kakek membatasi pengaruh ayah Enver di Valera company, dan membantu memperbesar pengaruh Enver di perusahaan dalam tiga tahun terakhir.
Hingga di malam ulang tahun Enver yang ke -15, Enver yang tertidur di kamarnya yang gelap. Mendengar suara langkah kaki yang mengendap. Siluet yang tak asing bagi Enver, kakak pertamanya menyelinap memasuki kamar Enver.
Sekelebat Enver melihat kilatan semacam besi atau aluminium yang mengkilap mengayun kearahnya. Refleks Enver berguling kebawah ranjang mengindari ayunan benda itu.
“Apa maksudnya ini?”, Enver berdiri dengan rasa kecewa menggebu dalam dirinya kepada sang kakak.
“Padahal aku bermaksud menghabisi mu dengan cepat saat kamu tidur, agar kamu tak perlu merasakan sakit”, Kakak Enver berdiri di tengah remang bulan yang menyelinap masuk dari tirai.
“Kenapa?”, Enver bertanya.
“Ini semua berawal karena mu, karena kamu lahir semuanya berantakan”, Sang kakak mengucapkan kalimat itu sebelum kemudian melompat menghunuskan pedang kearah Enver.
Enver melompat menerobos kaca karena terpojok, saat itu Enver merinding karena merasakan hawa membunuh dari sang kakak. Aura intimidasi yang biasa di keluarkan oleh para vampire untuk melemahkan mental lawan. Tapi tentu saja, aura yang di hasilkan tergantung tingkat energy yang di miliki vampire itu sendiri. Karena saat itu Enver menendang perut sang kakak dengan keras, saat sang kakak terdiam karena aura Enver yang jarang Enver tunjukan.
“Bagaimana bisa?, Sejak kapan?”. Kakak Enver yang selalu menganggap sang adik hanya jenius di otak, namun memiliki tubuh yang lemah, merinding merasakan ke jomplangan energy miliknya dan sang adik.
“Dasar monster!”, Kakak pertama Enver yang tak pernah terlihat takut pada sesuatu, kehilangan kepercayaan dirinya dalam sekejap.
__ADS_1
“Jangan bermain-main denganku”, Enver melenggang pergi memasuki mansion melewati jendela kamarnya yang sudah hancur.
Karena perasaannya yang memburuk, Enver memutuskan untuk keluar dari kamar, hendak mengambil darah favoritnya untuk menghilangkan perasaan buruk.
Namun saat melewati lorong kamar yang menuju kamar sang kakek, Enver membatu mendapati sang kakek yang terkapar dengan darah bersimbah. Hal yang paling membuat Enver syok adalah sang ayah yang berdiri memegang pedang yang sama yang di pakai kakak pertama Enver sebelumnya.
“Oh, anak tak berguna itu gagal membunuhmu?”. Ayah Enver menyeringai menghampiri Enver sambil menyeret darah yang menempel di sandal yang sang ayah gunakan.
“Apa yang kau lakukan?!!”, Enver berteriak mengekspresikan kemarahannya.
“Apa lagi?, aku berencana mengambil kembali apa yang seharusnya aku miliki. Aku bekerja keras berabad-abad lamanya untuk menduduki posisi kepala keluarga. Saat kemudian lima tahun lalu kau secara resmi mengambil alih, membuat keringat dan rasa lelahku selama ini sia-sia”. Ayah Enver meluapkan rasa gilanya yang sudah tak bisa dia bendung.
Malam itu suara bising di mansion itu terdengar sangat keras, perabotan yang berjatuhan terhantam pedang atau tubuh Enver yang berusaha mengindari pedang itu membuat seisi mansion berantakan.
Ditengah Enver yang terpojok, kedua kakaknya mencoba menangkap Enver untuk mempermudah ayah mereka membunuh Enver. Walau mereka berdua harus melawan rasa takut yang menyiksa karena Energy Enver yang sangat besar meluap.
Sang ibu dan para pelayan yang bersembunyi di kamar mereka masing-masing menahan rasa tegang, sambil bertanya-tanya. Bagaimana bisa Energi seorang bocah 15 tahun bisa mengimbangi energy sang ayah yang sudah berumur satu abad.
Suara gerungan mobil terdengar dari luar mansion, entah siapa yang datang di tengah kekacauan itu. beberapa kali Enver menghantamkan benda-benda yang bisa dia raih kepada kakak dan ayahnya, tapi tentu saja itu bukan apa-apa untuk ketahanan tubuh vampire, mengingat dulu Enver pun sangat sulit untuk dibunuh oleh ibunya.
Tiba-tiba beberapa orang masuk menerobos mansion, wajah-wajah yang tak asing bagi Enver membekuk kedua kakak Enver, namun tak berani membekuk sang ayah. Itu karena ternyata pedang itu adalah pedang langka, yang biasanya di pakai para penegak hukum vampire, untuk melancarkan eksekusi mati bari para penjahat dari bangsa vampire.
“Dari mana kamu mendapatkan benda itu?”, seorang eksekutif di Valera company yang merupakan ayah Bram bertanya dengan wajah pucat sembari mencoba melindungi Enver di belakang tubuhnya.
“Bukankah aku sudah memintamu untuk mendukungku sebelumnya?, apa kamu menyesal sekarang?, bukan hal sulit untukku menghabisi mu”, ayah Enver berucap.
“kau gila?, mana mungkin aku memberi dukungan kepada psikopat sepertimu”, ayah Bram menimpali.
“pada dasarnya kita semua adalah psikopat, karena kita meminum darah manusia seperti makan telur ayam”. Enver mendorong Ayah Bram, saat menyadari sang Ayah mengayunkan pedangnya kearah leher Ayah Bram.
Walau gagal mengenai ayah Bram, Ayah Enver tak menyia-nyiakan kesempatannya untuk menghabisi Enver yang ada tepat di hadapannya. Saat Enver melihat dengan Jelas pedang bergerak mendekati tubuhnya, mata Enver menyala dan tiba-tiba tubuhnya berpindah kebelakang sang ayah, bergelayut di punggung sang ayah sambil mencekik leher sang ayah dengan kencang menggunakan lengannya.
“Ukhh, dasar gila. Siapa sangka kamu memiliki kemampuan wanita sial itu”, sang ayah meracau sembari berusaha mengarahkan pedang kepada Enver. Namun pedang itu terjatuh karena tubuh ayah Enver tak seimbang. Dengan gesit Enver mengambil pedang itu dan menusuk ayahnya tepat di jantung sang ayah. Darah men-ciprat ke wajah Enver. Malam panjang itu mungkin akan di akhiri dengan kematian Enver alih-alih ayah Enver, jika sang kakek tak berhasil menghubungi keluarga Bram saat berusaha menyelamatkan diri. Namun karena itulah, fokus kakek Enver terfokus pada ponselnya, sehingga anak laki-lakinya berhasil menebas leher Kakek Enver.
__ADS_1