
Enver mengendarai mobil dengan tangannya sendiri, hari itu matanya yang menghitam tersorot sinar matahari dari luar mobil.
“Isi penuh!”, Enver mengisi bahan bakar mobilnya untuk kedua kalinya sejak tengah malam.
Setelah mengetahui sang ajudan yang di maksud Siska menghilang, Enver berkeliling di seluruh kota mencari keberadaan Jean. menyusuri jalan yang menurut tim pencari di kantor menunjukan mobil Jean melewati daerah tersebut. Beberapa tim berpencar mencari keberadaan Jean, namun tak ada perkembangan yang di harapkan Enver. Perasaan marah dan frustasi yang menggebu, menyiksa Enver sepanjang hari. Rasa khawatir dan rasa takut menggerogoti Enver, bahkan hingga satu bulan lamanya.
Kaki Enver yang berjalan, terasa mengambang. Matanya yang merah mengering tak lagi bisa meneteskan air mata. Pekerjaan yang memang sudah terbengkalai sejak Jean menghilang di tangani Bram dan ayah Bram.
“Enver, kupikir kamu harus istirahat. Terakhir kali kamu tidur itu dua hari yang lalu”. Bram menyarankan.
“Apa yang harus ku lakukan?, rasanya aku putus asa”. Enver yang berusaha bekerja seadanya untuk mengalihkan kesedihannya tetap tak bisa berhenti tenggelam dalam kesedihan.
“Malam ini, ada rapat penyelidik”, Bram memberitahu.
“Aku akan datang”, Enver menjawab sembari berharap ada perkembangan, karena pencarian Jean juga di bantu tim penyelidik jaringan Eksploitasi.
“Ada perkembangan baik dari pusat, dan juga 30 persen panti sudah berhasil di bersihkan. Itu berarti progresnya cukup cepat, karena itu adalah persentase secara internasional”. Komandan Harry menjelaskan di tengah rapat, sambil beberapa kali melihat ke arah Enver yang terlihat kehilangan nyawanya.
__ADS_1
“Sedangkan progress disini sudah berhasil sampai 90 persent, walau tentu saja dengan banyak korban yang berjatuhan di pihak kita”, komandan menjelaskan kengerian lapangan dari pelaksanaan pembersihan eksploitasi panti.
“Untuk membersihkan sisanya, kita harus membahas kembali para tersangka yang sudah di tangkap dan di eksekusi, untuk mengungkap kira-kiranya siapa lagi tersangka yang tersisa”. Sebuah layar persentasi menyala menampilkan beberapa orang tersangka.
Beberapa data di bacakan oleh seorang sekretaris kepercayaan komandan Harry, hingga menghabiskan waktu tiga jam lamanya, data puluhan tersangka di bacakan.
“Orang ini bernama Erick, dia bekerja sebagai dokter kandungan di RSXX KotaXX, dia terbukti menyeludupkan beberapa anak secara illegal ke beberapa panti. Orang ini di ketahui pernah bekerja di salah satu anak perusahaan Valera dalam waktu singkat, dengan identitas palsu..”. Penjelasan itu membuat Enver memfokuskan matanya yang awalnya tak jelas melihat kemana, kelayar persentasi.
“Dan tuan Enver, ternyata dia merupakan saudara dari seorang ajudan anda yang anda cari selama ini, ajudan yang menghilang berbarengan dengan hilangnya istri anda”, jelas sekretaris tim penyelidik OVI yang bernama Max.
“Namun tak di temukan hubungan antara mereka berdua, dengan supir yang menyupiri Nyonya Jean terakhir kali. Tapi ada hubungan antara mereka berdua dengan seorang tersangka di kasus panti yang di kelola Valera. Orang ini”. Max memperlihatkan tambahan profil seorang lelaki di samping profil Erick (Reno) dan ajudan Enver. Yang merupakan seorang tersangka yang menjadi korban pembunuhan Enver dulu. Enver mengerutkan dahinya. Merasakan rasa bersalah yang semakin besar.
Enver menarik rambutnya ke belakang, tangannya menahan kepala yang tertekuk memperlihatkan rasa frustasi.
“Saya tahu anda sangat sedih kehilangan istri anda, tapi saya pikir anda sudah bertekad untuk ikut campur memberantas tindak penyelewengan di banyak panti ini, selain itu semua ini sepertinya berkaitan dengan tindakan gegabah anda dulu. Dibanding bertingkah seperti itu, harusnya anda tetap melakukan tugas anda dalam proses pembersihan secara professional. Anda yang melibatkan perasaan anda di sini, membuat penanganan sedikit tersendat”. Max memprotes Enver.
“Sejujurnya, jika hilangnya Jean tak ada hubungannya dengan semua ini, aku mungkin sudah meninggalkan tugasku sepenuhnya disini, dan akan fokus ke pencarian istriku”, Enver memperlihatkan dimana rasa professionalismenya di letakkan. Bukan pada Valera company, bukan pada OVI, tapi pada istrinya Jean.
__ADS_1
“Benar-benar menyedihkan!”, Max mencibir, merasa muak dengan tingkah Enver.
“Max!, cukup!”. Komandan Harry mencoba menghentikan percakapan yang sepertinya mulai memancing pertengkaran.
“Maafkan saya, saya hanya kecewa kepada dia. Saat dia bertindak dengan gegabah membunuh para tersangaka, saya memakluminya, karena mau bagaimanapun, dia adalah penyelamat untuk ratusan anak. Tapi sekarang aku menyadari, kalau dia tak bertindak dengan sungguh-sungguh pada semua ini”, Max membicarakan Enver tepat di depan wajah Enver, sembari mengeluarkan auranya untuk membuat Enver tertekan.
Enver berdiri dengan wajah muak dan marah, sebuah aura dengan gelombang tak wajar, membuat seisi ruangan menjadi sunyi, hampir semua orang terpaku tak bisa bergerak, termasuk Max yang memulai perkelahian.
Bugh!!, Maks terkapar setelah menerima tinjuan dari Enver yang menghampirinya di mimbar persentasi. Dengan mata merah dan nafas yang menahan luapan amarah, Enver memelototi Max yang pelipis dan area mata kirinya memerah mulai melebam akibat tinjuan Enver.
“Kau salah!, sejak awal aku selalu bertindak dengan sungguh-sungguh, tapi sepertinya kamu salah memahami dimana alasan kesungguhanku di letakkan. Sejak awal, aku membersihkan panti yang aku kelola sampai harus memohon kepada kalian untuk membantuku, itu karena aku ingin mengeluarkan istriku dari sana. Tapi ternyata tak cukup untuk istriku dengan hanya mengeluarkan dirinya dan beberapa temannya saja. Jadi tanamkan di pikiranmu, jangan sampai kau salah paham. Mari bekerjasama selama kita memiliki tujuan yang sama. Dan jangan menuntutku untuk bekerja secara professional menurutmu itu!”, Enver hendak menendang Max dengan kakinya di tengah kemarahannya. Namun sebuah aura menyeramkan meluap, sebuah aura yang sepertinya tak bisa di atasi oleh Enver.
“Kupikir cukup nak!, aku mengerti caramu bekerja, tapi anak buahku itu belum terlalu mengerti, karena dia baru bekerja dua abad terakhir ini. Jadi mohon maklumi”, Komandan Harry, melerai dengan tegas.
Enver berjalan kembali kemejanya, perlahan aura mencekam kembali tenang, Max berdiri sempoyongan mencari tempat duduk, dia berkeringat, dia tahu kalau aura kuat seperti komandan Harry itu menyeramkan, tapi tak pernah merasakan aura seperti itu di tujukan padanya. Hari itu Max menatap Enver, dia tak menyangka kalau dia akan langsung membatu, saat Enver menekannya dengan aura. Bagaimana bisa anak ingusan yang baru umur 30-an itu menekannya dengan mudah. Itu cukup tak terduga untuk Max dan beberapa anggota baru. Namun untuk para anggota yang pernah bekerja dengan kakek Enver, hal itu sudah mereka perkirakan, karena gen Valera, walau bukan yang terkuat, tapi termasuk teratas di dunia.
Beberapa hari kemudian, supir Jean di temukan tak sadarkan diri di sebuah gubuk tersembunyi, di kelilingi apel dan pir yang berserakan. Luka di tubuhnya dan kerusakan di area gubuk yang bagian atap hingga tengah gubuk sudah hancur dan berserakan di sekeliling gubuk, memperlihatkan gambaran perkelahian yang cukup serius walau berat sebelah.
__ADS_1
“Dia masih belum sadar?”, Enver menatap supir Jean yang di rawat intensif di rumah sakit vampire.
“Belum, sudah lebat dua hari, tapi belum sadarkan diri. Luka-lukanya sangat kronis, tapi walau begitu, keadaanya menunjukan perkembangan yang positif”, Jawab seorang dokter yang berdiri berdampingan dengan Enver.