OBSESI SANG VAMPIR

OBSESI SANG VAMPIR
Menghadapi Kekhawatiran


__ADS_3

Enver menatap Jean yang tertidur dengan gelisah, keringat terlihat mengalir di setiap sudut tubuh Jean. Enver menatap Jean sepanjang malam, mendapati keanehan pada diri Jean. Mata tertutup, namun gelisah.


Berbanding terbalik dengan saat Jean membuka mata, Jean akan tersenyum dengan begitu murah. Hingga mungkin tak ada yang menyadari penderitaan Jean.


Enver berjalan ke ruang rapat, hari itu Abercio akan datang ke Valera company, dan tentu saja menjadi berita hangat bagi para vampire.


“Aku sudah menghubungi semua pendukungku dahulu, mereka setuju untuk menjadi mendukungmu kali ini. tapi itu tak cukup, usahakan agar kamu memperluas relasi, jadi luangkan waktumu untuk itu”. Abercio berucap.


“Apa kau ayahku atau semacamnya?”, ucapan Enver membuat Abercio yang sedang serius menjelaskan terdiam.


“Untuk mencalonkan diri itu, paling tidak seseorang harus memiliki keinginan, tapi pada dasarnya anda menekan saya”. Enver berucap di tengah sepi ruang rapat.


“Jika anda berpikir dengan mencalonkan saya adalah sebuah terobosan yang bisa membawa kestabilan antara manusia dan mutasi seperti kita. Saya pikir anda salah besar. Saya mungkin bisa menjadi seorang pendukung, tapi saya menolak untuk turun tangan menjadi pemimpin”. Enver menjelaskan.


“Apa?, tapi kupikir anda memiliki keinginan”, seorang pejabat OVI yang sempat menemui Enver kebingungan.


“Apa kau gila?”, Abercio terlihat tersungut.


“Jika anda berniat untuk menekan saya dengan aura anda lagi, atau dengan mengancam keluarga saya. Maka saya pikir sebaiknya anda hentikan. Saya tak berniat untuk patuh”. Enver berdiri menjadi pusat perhatian.


“Saya akan menjelaskan kepada para hadirin yang mungkin sedang bingung dengan suasana ini”. Enver berdiri di tengah 43 orang yang duduk.


“Abercio yang terhormat, menekan saya beberapa waktu yang lalu, memaksa saya agar saya bersedia mencalonkan diri. Apa anda sekalian pikir ini akan berhasil?. Saya pikir harus orang yang benar-benar memiliki keinginan untuk menjadi pemimpin, yang seharusnya anda sekalian dukung. Jadi di kesempatan kali ini, saya lihat ada begitu banyak orang muda yang memiliki potensi dan orang-orang yang berpengaruh hadir di sini. Jika kalian hadir di sini pada awalnya untuk mendukung saya, itu berarti kalian memiliki kesamaan tujuan”. Enver berpidato cukup panjang.


“Silakan berdiri, jika ada yang terpikir ingin mencalonkan, dan mari kita diskusikan siapa diantara kalian yang mungkin akan cukup bagus untuk mencalonkan diri”, Enver menutup pidatonya dan kembali duduk.


Abercio menatap tajam Enver, dengan tatapan yang bercampur amarah.


“Saya! , saya pikir saya ingin mencalonkan”, seorang lelaki bertubuh besar berdiri dengan semangat.


“Tapi saya pikir tak ada yang lebih baik dibandingkan anak dari komandan Harry”, seorang lelaki muda dengan ragu mengajukan seseorang.

__ADS_1


“Tapi dia tak ada di sini”, Lelaki bertubuh besar menimpali.


“Saya pikir sayapun cukup baik untuk menyandang beban sebagai pemimpin”, seorang wanita paruh baya berdiri.


Suasana rapat yang semakin kacau malam itu, membawa senyum di bibir Enver dan meninggalkan amarah bagi Abercio.


“Kau gila?, bagaimana bisa kamu membuat semuanya kacau seperti ini. Tak sembarang orang bisa menjadi pemimpin”. Abercio marah di ruang rapat yang sudah sepi, menahan Enver yang hendak pulang.


“Menurut anda mereka semua sembarang orang?”, Enver menimpali.


“Aku sudah memperhitungkan semuanya sebelum menunjuk kamu, kamu adalah bibit terbaik untuk menjadi pemimpin”, Abercio menekankan.


“Dari mana anda tahu?, apa anda tuhan?. Saya mohon berhentilah, saya memiliki perusahaan saya sendiri yang menjadi tanggung jawab saya. Saya tak bisa menelantarkannya”. Enver menjelaskan.


“Kamu, apa kamu masih ingat apa yang ku katakan?, apa kamu akan baik-baik saja jika istrimu..”.


“Sekarangpun istriku sedang menderita trauma karena penculikan dan penyiksaan yang di lakukan keluarga Louis”, Enver memotong ucapan Abercio.


“Haha, apa kamu yakin akan mengotori tanganmu untuk semua ini?. pada akhirnya jika istriku pergi, aku berniat menyusul istriku”. Enver berlalu meninggalkan Abercio yang terlihat masih bersikukuh dengan keinginannya untuk menjadikan Enver sebagai pemimpin.


“Kamu pulang?”, Jean tersenyum saat melihat suaminya datang.


“Sedang makan apa?”, Enver bertanya saat melihat istrinya duduk di meja makan.


“Ini, buah apel. Kamu mau?”, Jean menyodorkan piring berisi potongan buah apel.


Enver mengecup kening dan pipi Jean sebelum kemudian mengambil sepotong apel dengan garpu.


“Kenapa belum tidur?”, Enver bertanya, karena biasanya Jean sudah tidur di saat dirinya pulang.


“Aku lapar”, Jean menjawab.

__ADS_1


Cahaya yang remang di ruang makan saat tengah malam, membuat suasana menjadi sedikit dingin menusuk. Enver duduk di samping Jean sembari menelungkup di meja makan, dengan mata yang tak mau lepas dari menatap istrinya.


“Kamu gak mandi, tambah malam nanti tambah malas”, Jean berucap.


“Memangnya aku itu kamu?”, Enver menggoda, hingga Jean memanyunkan bibirnya untuk merespon ucapan Enver.


“Kamu pusing?”, Jean memijat-mijat satu sisi pelipis suaminya. Alih-alih menjawab pertanyaan Jean, Enver malah menutupkan matanya sembari tersenyum, menikmati pijatan dari istrinya.


“Kamu tak takut hidup di sisiku?”, Enver bertanya.


“Kenapa takut?”, Jean tersenyum menimpali ucapan Enver yang tiba-tiba.


“Kamu sudah mengalami hal mengerikan berkali-kali selama bersamaku, tapi sepertinya tak akan ada akhir”, Enver menggenggam tangan kanan Jean yang sedang memijat kepala Enver.


“Yah, terkadang aku takut. Sepertinya semakin kaya dan berkuasa seseorang, semakin banyak musuh”. Jean menjawab dengan tenang.


Enver terbangun dan duduk dengan tegak, tubuhnya menghadap ke arah Jean, dan tangannya masih menggenggam tangan Jean.


“Aku tak berniat melepaskan mu, walau aku tahu kamu selalu bisa dalam bahaya selama kamu berada di sisiku. Maafkan aku”. Enver tertunduk.


“Kamu tahu, saat perjalanan pulang, sesaat sebelum aku menghilang dulu. Nyonya Louis mengatakan kalau suaminya telah berhasil membunuhmu di pertemuan bisnis. Dia bilang dia menyewa seorang algojo lengkap dengan pedang apa gitu aku lupa. Dan saat itu aku tak bisa menghubungimu, lebih tepatnya aku dan pak sopir tak bisa menghubungi siapapun. Aku pikir situasinya benar-benar kacau. Jadi aku tak berani untuk memastikannya sendiri dan menemui mu”. Jean bercerita.


“Aku menangis setiap hari seperti orang gila, membayangkan kamu meninggalkanku sendirian di dunia ini, benar-benar menakutkan. Hingga saat aku di culik dan disiksa oleh nyonya dan tuan Louis. Aku menyadari kalau mereka gagal membunuhmu. Mereka berteriak dan meluapkan Emosi mereka, mereka bertanya ‘kenapa Enver sialan itu membatalkan janji?’, aku benar-benar merasa lebih tenang dan bahagia walau seluruh tubuhku babak belur”. Lanjut Jean.


“Walau terkadang aku masih menyesal dan merasa buruk, saat mengingat anak di perutku tak bisa di selamatkan. Tapi rasa syukurku lebih besar saat aku tahu kalau kamu baik-baik saja”. Jean menarik tangan Enver yang sedang menggenggam tangannya dan mengecupnya.


“Aku di sisimu karena aku menginginkannya, dan aku sadar apa resikonya. Tapi semengerikan apapun resikonya, aku tak bisa menolak kasih sayangmu Enver. Jadi jangan khawatir mengenai rasa takutku. Bahkan sebelum bertemu denganmu, kejadian mengerikan untukku terkadang datang. Ku pikir semua itu sudah satu paket dalam kehidupan, keberuntungan dan kemalangan”. Jean tersenyum menatap Enver yang terlihat sedang kalut.


Enver berusaha mengangkat bibirnya yang lesu untuk tersenyum, dia begitu bahagia menyadari kalau rasa cinta istrinya bukan hal yang akan pudar karena rasa takut. Enver memeluk erat Jean dengan rasa syukur yang menghangatkan perasaanya.


Sejak saat itu, Enver dan Jean memutuskan untuk menghadapi semua kekhawatiran yang mungkin akan datang menyiksa bersama-sama dengan cara mereka masing-masing.

__ADS_1


Hal buruk maupun hal baik, akan selalu datang silih berganti dalam kehidupan. Tergantung bagaimana kita memfokuskannya, Jangan sampai kita terlalu fokus pada hal buruk dan tersiksa karenanya, padahal ada hal baik yang tak kita sadari yang menunggu untuk di syukuri.


__ADS_2