OBSESI SANG VAMPIR

OBSESI SANG VAMPIR
Pertemuan Ke dua


__ADS_3

Di sebuah pemakaman elit, sekelompok orang berdiri mengelilingi sebuah makam dengan tanah yang masih basah, Enver berdiri di sana dengan tatapan kosong. Tak bisa di percaya, dia harus kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya keluarga.


Tragedy di mansion Valera, menjadi berita hangat di kalangan vampire, tapi tertutup dari masyarakat luas.


Setelah pemakaman selesai, Enver mengetahui sebuah fakta yang membuatnya akhirnya mengerti, kenapa sang ibu begitu ingin membunuhnya, dan juga bagaimana sang ayah bisa membunuh kakek Enver.


Ayah Bram yang merupakan salah satu eksekutif Valera company kepercayaan kakek Enver, memberitahukan semua kebenaran yang belum di ungkapkan sang kakek kepada Enver.


Fakta yang terungkap karena percobaan pembunuhan Enver oleh sang ibu beberapa tahun lalu, saat perilaku kekerasan itu terungkap, kakek Enver menemukan fakta bahwa ternyata Enver adalah anak ayah Enver dari wanita lain, bukan dari sang istri sah. Dari situlah terungkap bagaimana bejatnya perilaku ayah Enver di mata kakek Enver.


Karena di belakang kakek Enver yang menjunjung martabat yang baik, ayah Enver hobi berjudi dan bergonta-ganti pasangan, atau bahkan melakukan pemerkosaan.


Suatu hari ayah Enver bertemu dengan sebuah keluarga vampire yang sederhana, mereka bertemu dengan ayah Enver untuk membicarakan rencana kerjasama bisnis. Satu keluarga itu datang ke pertemuan, sepasang suami istri dan anak perempuannya yang cantik.


Entah kenapa ayah Enver tak bisa berhenti memikirkan wanita cantik itu, dia bahkan berpikir rela mencampakkan istri sah nya demi wanita itu. Namun berbeda dengan ayah Enver, wanita itu enggan menerima perasaan ayah Enver karena sudah memiliki seorang suami, yang merupakan manusia biasa.


Menerima penolakan berkali-kali, ayah Enver membayar beberapa orang untuk menculik wanita itu, dan mengurungnya di sebuah apartemen yang terletak di sekitar kawasan gedung Valera company.


Tak sulit bagi ayah Enver, untuk menghabisi anggota keluarga wanita itu, yang mencari keluarga mereka yang hilang. Karena mereka adalah jenis vampire yang memiliki energy yang lemah. Namun karena keadaan itu, keluarga tersebut memiliki kemampuan teleportasi yang membuat wanita itu beberapa kali mencoba melarikan diri. Walau usahanya selalu gagal karena keterbatasan energy, wanita itu seringkali ditemukan pingsan di tangga atau lift apartemen itu.


Karena merasa muak, ayah Enver tak memberikan makan ataupun darah kepada wanita itu kecuali sedikit, agar wanita itu tak bisa melakukan teleportasi, bahkan hanya untuk keluar dari kamar tempat dia di sekap.


Perlahan tubuh wanita itu mengurus, berbeda dengan perutnya yang membuncit. Karena penampilan wanita itu sudah tidak secantik dulu, ayah Enver menelantarkannya. Hingga suatu hari para orang bayaran yang ayah Enver tugaskan untuk mengawasi wanita itu mengatakan bahwa wanita itu sedang mengandung.

__ADS_1


Ayah Enver yang kelabakan mencoba membunuh wanita itu, namun bahkan setelah terbunuh, janin di perutnya terus bertahan hidup. Itu karena DNA Valera sangatlah kuat. Ayah Enver juga tak bisa membuang bayi itu sembarangan. Jadi dia menyuruh istri sahnya untuk berpura-pura hamil, dan jadilah Enver masuk ke keluarga Valera.


Namun semua usaha ayah Enver untuk menutupi keburukannya selama ini terbongkar saat istri sahnya ketahuan beberapa kali mencoba membunuh Enver. Seperti apa yang di takutkan ayah Enver selama ini, kakek Enver yang menjunjung tinggi martabat baik, segera melengserkan ayah Enver dari posisi penerus, dan posisi itu sempat kosong beberapa saat.


Kakek Enver memperhatikan perkembangan ketiga cucunya, Enver memiliki tingkat perkembangan yang paling menonjol. Kepemimpinan, tanggung jawab, kecerdasan dan hal lain yang menunjang kemampuan untuk memimpin Valera company. Saat itulah sang kakek memutuskan untuk menjadikan Enver sebagai penerus kepala keluarga Valera.


Ayah Enver dan istri sahnya sempat di tahan di penjara vampire, tempat yang sangat terisolasi dari dunia luar. Namun entah mengapa mereka bisa keluar dari penjara hanya dalam waktu satu tahun, pihak penjara mengatakan karena mereka berdua selalu berkelakuan baik. Kakek Enver tak bisa berbuat apa-apa karena kuasa hukum ada pada perangkat hukum masing-masing di setiap negara.


Dan karena mau bagaimanapun, ayah Enver merupakan satu-satunya anak bagi kakek Enver. Kakek Enver tak bisa benar-benar mengusir anaknya sendiri, dan kemudian membiarkan ayah Enver tinggal di mansion dengan harapan sudah berkaca diri.


Namun keputusan itu adalah bom waktu, karena ayah Enver dan istrinya bisa keluar dari penjara bukan karena berkelakuan baik, tapi karena bantuan dari oknum seorang pejabat hukum, yang ternyata merupakan sahabat dari penerus keluarga Reynard, dalang dari penyimpangan eksploitasi darah di panti yang menyebabkan banyak penghuni panti yang menjadi korban.


Semua itu terbongkar sehari sebelum kematian kakek Enver, karena itulah malam tragedy itu bukan hanya terjadi di Mension Enver. Tapi di keluarga Allagi dimana sang kepala keluarga tewas, dan sang penerus mengalami kritis. Bahkan di keluarga Reynard itu sendiri, sang kepala keluarga tewas di tangan anaknya sendiri.


Enver yang menjadi kepala keluarga Valera, tak sempat mengurusi ibu dan dua anaknya itu. Karena di awal kepemimpinannya, Enver harus membersihkan jejak-jejak sang ayah. Beberapa eksekutif dan legislative di Valera company di copot dan di ganti oleh orang baru.


Hingga saat rasa lelah memuncak, Enver menyadari bahwa dirinya belum meminum darah Jean sejak kematian kakeknya. Karena pasokan darah dari panti di hentikan oleh petinggi pengelola panti yang ternyata kaki tangan penerus Reynard yang sekarang sudah menjadi kepala keluarga Reynard. Karena itu terpaksa Enver meminum darah lain hanya agar bisa bertahan hidup.


Saat Valera company sudah mulai stabil, Enver mulai tepikir mengenai Jean. Gadis kecil itu mungkin akan mengalami kemalangan dalam hidupnya jika di biarkan. Rasa rindu akan aroma darah gadis itu yang bisa membuat Enver merasakan ketenangan mulai menguat, membuat Enver mengalami gangguan fokus.


Enver mulai mencari cara agar bisa membawa Jean ke genggamannya, kebetulan Enver sedang mencoba membongkar kasus panti yang bisa tertutup dengan mudah padahal dua kepala keluarga pengelola panti itu tewas, Enver mencoba memasukan mata-mata ke panti, seorang perawat, dokter, pengasuh, atau bahkan tukang kebun. Beberapa kali gagal, namun akhirnya seorang perawat bisa lolos tanpa di curigai. Awalnya tak ada yang bisa di curigai di lingkungan panti, karena sepertinya tak semua pegawai panti ikut terlibat. Dan lagi mata-mata yang lolos adalah seorang manusia, sehingga dia tidak bisa peka pada kegiatan vampire.


Perihal kasus panti mungkin bisa dilakukan dengan santai tanpa batas waktu. Tapi Jean, dia bisa saja meninggal di usianya yang ke dua puluh nanti. Enver yang sepertinya sudah ketergantungan pada darah Jean untuk menenangkan diri, tak bisa tenang atas kemungkinan Jean akan mati dalam beberapa tahun kedepan.

__ADS_1


Karena hal itu Enver mencari cara lain, agar dia bisa menggapai Jean. Enver yang mendapatkan informasi bahwa Jean sudah menginjak kelas satu di sekolah menengah pertama, bisa saja bertemu dengan Jean di sekolah nya. Tapi ternyata hal itu akan terlalu gegabah, karena banyak staf di sekolah itu merupakan kaki tangan kepala keluarga Reynard yang baru.


Dari sanalah, Enver memutuskan untuk membeli sebuah sekolah swasta yang hampir bangkrut karena korupsi. Membenahi pengelolaanya, dan memutuskan menjadi murid di sana untuk suatu alasan.


Saat Jean mendekati waktu kelulusan sekolah menengah pertama, Enver meminta mata-matanya untuk menyogok pengurus bagian pendidikan di panti.


Jean yang bersekolah di sekolah yang berbeda dengan kebanyakan penghuni panti, tak terlalu mencurigakan karena memang ada bebera penghuni panti yang masuk kesekolah lain dengan beasiswa, dan hal itu jelas menguntungkan panti, karena bisa menghemat biaya pendidikan beberapa penghuni panti.


Enver yang terlalu bersemangat untuk melihat Jean, sempat pergi ke sekolah di hari pertama kelas satu, memulai kegiatan belajar mengajar. Namun karena ada hal penting yang mendadak di perusahaan, Enver tak bisa melihat Jean, karena Jean belum datang saat Enver tiba di sekolah.


Beberapa kali Enver datang dan berdiri di luar kelas Jean yang sedang dalam jam pelajaran, Enver yang hanya memiliki sedikit waktu luang itu hanya bisa menghirup wangi darah Jean yang samar terhalang pintu. Walau begitu sudah cukup bagi Enver untuk memperbaiki mood.


Namun semakin lama, Enver semakin haus. Terkadang dia meminta Bram, anak dari Eksekutif perusahaan untuk mengiriminya kabar atau foto-foto Jean di sekolah.


Suatu hari Bram mengirimi foto Jean yang sedang mengantri mengambil makan siang, entah karena lelah yang menumpuk, atau karena banyak masalah yang sedang Enver hadapi. Tanpa pikir panjang Enver pergi ke sekolah, memakai seragam sekola yang memang selalu tersedia di mobil, dan pergi kekantin sekolah.


Mata Enver berkilatan saat menginjakan kakinya di kantin, wangi darah Jean tercium dengan jelas. Selama jam istirahat berjalan, Enver duduk di meja bersama Bram dan beberapa teman Bram yang lain.


Suasana makan Bram dan teman-temannya canggung, Enver yang menjadi alasan kecanggungan itu hanya terus menatap ke arah Jean yang memunggunginya. Darah terasa berdesir keras di seluruh tubuh Enver. Pertemuan kedua Enver dengan Jean, membuat Enver kembali merasa hidup.


Setelah sekian lama penglihatan Enver terasa buram berkabut, karena rasa sedih atas kehilangan sang kakek. Hari itu tawa Jean yang sedang bergurau dengan teman-temannya membawa warna baru dalam hidup Enver.


Sebuah semangat hidup yang sebelumnya telah hilang terkubur dendam atas kematian sang kakek, kini memercik kembali dalam angan Enver saat mata Enver tak sengaja bertatap dengan pandangan Jean yang menoleh kearahnya.

__ADS_1


Apakah memang selalu seperti ini, perasaan para vampire saat memandang dan mencium wangi darah, dari pemilik darah yang mereka minum?. Atau hal ini hanya terjadi pada beberapa kasus vampire yang merasa kesepian?. Enver bertanya-tanya, karena sebenarnya, walau membawa rasa tenang dan bahagia dalam diri Enver. Keberadaan Jean mengganggunya untuk fokus pada pekerjaannya. Selain itu perasaan takut mulai menggelitik Enver, rasa takut tentang kemungkinan Jean akan mati dengan cepat.


__ADS_2