OBSESI SANG VAMPIR

OBSESI SANG VAMPIR
Dimana istriku?


__ADS_3

“Saya kurang tahu jelas..”, suara parau dari supir yang baru sadar itu terlihat tertekan.


“Tuan, ini berlebihan. Anda setidaknya harus menunggu sampai kesadarannya pulih dengan benar. Dia baru sadar beberapa menit yang lalu”. Dokter yang mendampingi Enver memberi saran.


Enver yang tak bisa menekan supir Jean, di tengah kondisi sang supir yang masih belum stabil, hanya bisa memijat kepalanya sendiri karena rasa sakit yang beberapa hari terakhir menjangkitinya.


“Kapan terakhir anda minum darah?”. Pertanyaan dari dokter yang sedang memeriksa supir Jean menyeruak di tengah keheningan. Namun tak ada suara apapun yang menjawab pertanyaan itu.


“Saya dengar dari tuan Bram, anda bahkan hampir tak tidur setiap harinya”. Pertanyaan kedua membuat pijatan di kepala Enver terhenti.


“Anda terlalu berlebihan menekan diri anda sendiri, mau sekuat apapun gen anda, anda akan tetap mati kalau semua ini tetap berlanjut”. Dokter berbalik menghadap ke arah Enver.


“Memang berat, kakek anda pun dulu begitu terpuruk saat kehilangan istrinya, tapi dia bisa bertahan. Dia tidak mogok makan, apalagi mogok minum darah. Saya tahu anda memiliki kondisi khusus yang membuat anda sulit meminum darah, tapi bukannya benar-benar tidak bisa meminum darah. Berhentilah bersikap seperti ini”. Dokter menyodorkan sekantung darah yang dia ambil dari laci di sebelahnya sembari berceloteh menasihati Enver.


Enver hanya menatap kantung darah itu dengan pandangan semu untuk beberapa saat, tanpa terlihat ada niat untuk mengambil darah dari tangan dokter yang ada di hadapannya.


“Kamu butuh gelas?”, dokter yang menyerah beradu sepi dengan Enver beranjak hendak mencari gelas ke luar ruangan.


“Aku mungkin bisa dengan mudah mengakhiri hidupku jika tubuh istriku ada di hadapanku dalam keadaan tak bernyawa, tapi situasi ini membuatku tak bisa menyerah ataupun berjuang dengan benar. Ini sudah dua bulan sejak Jean hilang. Apa yang…”. Enver mengeluarkan rasa frustasi dalam dirinya, di ikuti tangis yang membuncah tak bisa di tahan.


Dokter mematung menatap Enver dari ambang pintu ruang rawat. Hal baru baginya melihat keturunan Valera itu begitu terpuruk sampai terlihat begitu menyedihkan.


“Hari itu nyonya mendapat panggilan telepon..”, suara lemah itu terlihat berusaha untuk tetap stabil. Enver dan dokter dengan cepat menatap supir Jean yang sekujur tubuhnya masih di penuhi alat bantu.


“Nyonya tiba-tiba menangis saat mendapat panggilan telepon itu, padahal sebelumnya saya melihat nyonya masih tersenyum dan tertawa cekikikan, bahkan beberapa kali mengambil potret diri sambil tersenyum”. Supir Jean mengenang sambil berusaha bangun untuk duduk.


“Tetap berbaring”. Dokter menyarankan sembari membantu menaikan sandaran kasur rawat, agar supir Jean merasa nyaman.

__ADS_1


“Hari itu, saya tiba-tiba merasakan aura vampire yang asing untuk saya. Saya merasa ada yang tidak beres”. Lanjut supir Jean bercerita.


“Nyonya meminta saya untuk pergi ke arah lain sambil mengusap-usap perutnya terlihat sangat panik, jadi saya bertanya ada apa. Nyonya bilang sepertinya tuan di serang, dan lagi tiba-tiba tuan Enver tak bisa di hubungi. Bahkan saya mencoba menghubungi beberapa sekretaris anda, tapi tak ada yang merespon. Jadi hari itu saya memutuskan untuk pergi bersembunyi bersama nyonya, karena saya juga menyadari ada beberapa mobil yang sepertinya mengikuti mobil kami. Setelah memastikan tak ada yang mengikuti, saya pergi ke gubuk terpencil, tempat saya dan keluarga saya biasa berlibur sembari belajar berkebun. Beberapa hari itu kami berusaha menghubungi anda dan orang-orang si sekeliling anda, tapi tetap tak ada respon. Nyonya setiap hari berusaha menahan tangis sambil bergumam, ‘tak mungkinkan Enver benar-benar sudah tiada?’. Nyonya terus seperti itu selama berhari-hari”. Jelas supir Jean walau membutuhkan waktu yang cukup lama karena cara bicara yang bertele-tele dengan suara yang lemah.


“Kenapa kamu tak berusaha mencari bantuan ke luar?”, Enver terlihat menahan emosinya.


“Saya beberapa kali berkeliling mencari jalan keluar, tapi ada beberapa aura vampire yang saya rasakan cukup berbahaya. Saya juga tak bisa meninggalkan nyonya terlalu lama. Kami terjebak, hingga satu bulan berlalu, kami yang berasil bertahan hidup dengan beberapa apel yang hampir busuk dan ikan di kolam yang ada di samping gubuk. Tapi akhirnya kami di kepung beberapa vampire selevel nyonya Ruby, saya tak bisa menangani mereka..”, supir Jean mengakhiri ceritanya sembari memalingkan wajahnya kearah lain, tak berani melihat Enver yang matanya benar-benar sudah di banjiri air mata.


“Saya bukannya tak berusaha melindungi nyonya, tapi saya tak mampu. Walau begitu saya harap anda mengampuni saya, saya memiliki keluarga yang harus saya hidupi..”, supir Jean berbicara walau sungkan.


“Tenang saja sepertinya dia tak berniat mencelakai mu”, dokter menjawab ucapan supir Jean yang masih memalingkan pandangannya. Saat mendengar suara dokter, supir Jean melihat ke arah Enver tadi berdiri, ternyata Enver sudah tak ada di sana.


“Enver, pertemuan dengan beberapa investor sedang berlangsung, jika kamu tertarik kamu bisa ikut denganku sekarang”. Bram yang terlihat mempersiapkan beberapa berkas berucap setelah menyadari Enver masuk ke dalam ruangan kantor.


“Kamu!”, Bram terkejut saat merasakan aura Enver yang tiba-tiba menyeruak.


“Siapa yang kamu salami?”, Enver bertanya dengan tangannya yang bergetar memegangi tangan kanan Bram.


“A..ap.., tolong a.. auramu”, Bram berusaha menjawab dengan terbata-bata, karena aura Enver semakin meninggi menekannya.


Enver menutup matanya berusaha menahan amarahnya, matanya berkilatan merah.


“A.. aku bersalaman dengan para Investor yang sedang menunggu di ruang rapat biasa”, Bram berusaha mengatur nafasnya.


Enver dengan cepat keluar dari ruangan, Bram berusaha mengejar Enver yang terlihat terburu-buru.


“Enver ada apa?”, Bram berbisik sedikit berteriak, saat melihat Enver memasuki ruang rapat dengan aura yang masih belum terkendali. Suara para investor yang tadinya terdengar bising tiba-tiba senyap.

__ADS_1


“A.. ada apa?”, seorang investor yang merupakan seorang manusia bingung karena beberapa orang di sekitarnya tiba-tiba mematung.


Enver berjalan mengelilingi semua orang, dengan urat leher yang menegang menahan amarah.


“Ketemu!”. Enver berhenti melangkah tepat di depan seseorang.


“Kamu bajingan!”, Enver mencekik seseorang, membuat semua orang gaduh.


“Hey.. hey tuan, apa yang anda lakukan kepada istri saya?”, seorang pria yang ternyata tuan Louis berusaha menarik tangan Enver yang mencekik istrinya.


“Hk.. ba ghaimana, kamu tahu?”, nyonya Louis tersenyum ditengah wajahnya yang memerah menahan sakit di lehernya.


“Dimana istriku?”, Enver yang sudah kehilangan akal tak bisa di tarik oleh beberapa orang yang berusaha melerai.


“Hei, apa yang kalian lakukan, bantu lerai!”, beberapa orang manusia yang tak terpengaruh aura mencekam memaksa beberapa vampire yang mematung untuk membantu.


“Kau, akan ku bunuh jika kau tak mau bicara!”, Cekikan Enver semakin menguat, sepertinya oksigen sudah tak masuk ke tenggorokan nyonya Louis. Wajah nyonya Louis membiru.


“Aku akan membunuh istrimu kalau kau tak kunjung melepaskan tanganmu itu!”, ucapan tuan Louis membuat Istrinya ambruk terbatuk-batuk.


“Katakan dimana istriku?”, Enver menarik kerah tuan Louis. Namun hanya di balas senyum hinaan dari tuan Louis.


Sebuah hantaman dari tinjuan tangan Enver mendarat di rahang tuan Louis, tubuh tuan Louis terpelanting, kain baju yang tak kuat menahan badan tuan Louis robek menyisakan serpihan kain di genggaman Enver.


“Dasar bocah sombong!”, ucapan tuan Louis yang berusaha melawan Enver membuat Enver berlari dengan cepat menarik tubuh tuah Louis yang tergeletak.


“Katakan dimana istriku?!”, Amarah Enver semakin memuncak, beberapa pegawai dan investor manusia kebingungan harus melakukan apa, sedangkan beberapa vampire terpaku, tertekan oleh aura Enver.

__ADS_1


“Jika kau dengan senang hati mati di depanku sekarang juga, aku akan membiarkan istrimu hidup!”, Tuan Louis terkekeh dengan darah yang bercucuran dari mulutnya.


__ADS_2