OBSESI SANG VAMPIR

OBSESI SANG VAMPIR
Apa Aku Dibuang?


__ADS_3

“Apa aku di surga?”, Jean berucap dalam benaknya saat bangun dengan tubuh ringan dan segar.


“atau di neraka?”, Jean yang mengubah haluan pikirannya saat menyadari tubuhnya kaku di dalam ruangan remang.


Jean melirik ke sisi kanannya yang merasakan kehadiran seseorang.


“A..Angel?”, dengan suara parau yang lemah, Jean memanggil orang yang duduk menunduk di kursi di samping tempat tidurnya.


Angel yang terlelap perlahan membuka matanya.


“Je..Jean?, kamu sadar”, Angel yang seketika terperanjat saat melihat Jean membuka matanya.


Di bandingkan menghampiri Jean, Angel berlari kearah pintu.


“Jean sadar!!!”, Angel berteriak keras. Suara heboh terdengar sayup semakin mendekat.


“Jean?”, Ruby yang datang bersama seorang dokter yang langsung memeriksa keadaan Jean.


“kondisinya sebelum sadar pun memang sudah stabil, jadi kupikir sekarang sudah baik-baik saja mengingat nona ini sudah sadarkan diri”, penjelasan dokter itu menyadarkan Jean, bahwa dirinya sekarang bukan berada di surga ataupun neraka.


Sepintas Jean melihat dua orang yang tak di kenal berdiri di ambang pintu kamar, enggan untuk masuk.


“Jean kamu harus mengisi perutmu dulu”, Ruby yang mendorong-dorong pelan Angel, secara tidak langsung meminta Angel untuk membawakan makanan untuk Jean. Angel pergi tanpa mengatakan apapun.


“Kakak baik-baik saja?”, Jean yang sudah mulai mencerna apa yang terakhir dia alami sebelum kemudian kehilangan kesadaran mencoba duduk sambil bertanya.


“Ya aku sudah pulih total”, perkataan Ruby membuat Jean berpikir kembali. Bukankah dirinya juga mendapatkan luka tusukan di perut?, ditengah kemerindingan saat mengingat momen itu, Jean bertanya-tanya, kenapa perutnya tidak sakit saat dia mencoba untuk duduk.


Jean kemudian mengangkat bajunya untuk memeriksa keadaan perutnya, dan tak ada sobekan apapun, kecuali beberapa garis hitam yang mulai memudar dan perut bulat yang kehilangan otot.


“Apa aku hanya berhalusinasi?”, Jean bergumam tenggelam dalam pikirannya.


“Tidak, kamu tidak berhalusinasi. Kamu baru sadar setelah enam bulan koma”, Ruby menjelaskan sembari menarik baju Jean untuk menutup kembali perutnya Jean


“Enam bulan?”, Jean yang syok merasa tak habis pikir. Dia baru menyadari, alasan Enver bertindak berlebihan dalam menjaga Jean ternyata ada alasannya.


“Tapi, dimana Enver?”, Pertanyaan yang sempat di tahan Jean karena berharap Enver akan datang sebentar lagi, keluar dari mulut Jean karena harapannya tak kunjung terwujud bahkan setelah dirinya selesai makan.


“Oh, dia sedang ada urusan”, pernyataan asal dari Ruby itu membuat Jean heran.


Yah mungkin jika Jean menikah dengan seorang manusia biasa seperti dirinya, Jean akan marah-marah dan merasa kecewa karena suaminya tak ada di sampingnya saat dia terbaring koma. Tapi saat itu Jean merasa bahwa mengharapkannya saja sudah tak mungkin, jadi merasa kecewa terlalu berlebihan baginya.


Satu minggu berlalu, Jean semakin merasa tak ada artinya dirinya bagi Enver, karena Jean ternyata berada di kediaman keluarga Ruby dan Angel. Enver menitipkan Jean untuk perawatan di rumah sepupunya selama enam bulan ini, alih-alih merawat Jean di mansion. Kenyataan yang membuat Jean terluka itu tak sampai di situ saja. Setiap menanyakan keberadaan Enver, Ruby , Angel atau bahkan ayah dan ibu Ruby akan berkata bahwa Enver sedang ada urusan di luar negeri.


Jean terkadang meminta untuk kembali ke mansion Valera, tapi tak di ijinkan dengan alasan keamanan. Kalau mengingat kejadian mengerikan itu, Jean tanpa banyak bicara hanya akan terdiam karena memang benar lebuh baik dia tinggal bersama Ruby, di banding di mansion tanpa ada Enver.


Satu dua minggu masih bisa Jean terima, tapi kemudian enam bulan Jean mengisolasi diri di kediaman Ruby. Nomor ponsel Enver tak bisa di hubungi, berarti sudah satu tahun Enver menitipkan Jean di kediaman Ruby.

__ADS_1


“Tunggu, apa mungkin dia sudah mendapatkan istri baru selama aku koma, dan kemudian berniat membuang ku?”, Jean yang sudah ter patik, amarahnya menyambar alasan klise Ruby bahwa Enver sedang sibuk.


Ditengah satu keluarga yang sedang menonton tv di malam hari, Jean kehilangan control dirinya karena tak bisa mendengar alasan lain yang lebih masuk akal.


“Je.. Jean. Enver benar-benar sedang ada masalah, jadi tak bisa menjemputmu dalam waktu dekat”, Ruby menjelaskan dengan hati-hati.


“Tapi setidaknya dia bisa menghubungiku lewat ponsel, tapi nomornya bahkan tak aktif”, Jean mengeluh.


Namun satu keluarga itu hanya terdiam mendengar keluhan Jean. Jean yang sadar membuat suasana jadi buruk, memilih pergi dari ruang keluarga ke kamarnya.


“Jean!!, Jean!”, Jean yang sedang tertidur badannya diguncang-guncang oleh seseorang.


“Lisa?”, Jean yang melihat Lisa ada dihadapannya pagi itu langsung terbangun.


“Ya tuhan, aku sangat kaget mendengar berita penyerangan ******* di sebuah restoran, dan ternyata korbannya itu kamu. Dari sekian banyak orang, kenapa harus kamu?”, Lisa yang seperti hampir menangis memeluk Jean erat.


“Li.. lisa”, Jean yang hampir tercekik, menepuk-nepuk punggung Lisa agar melonggarkan pelukannya.


“Kamu sendirian disini?”, Jean yang berharap teman-temannya yang lain datang harus berlapang dada.


“Ya, yang lain sedang sibuk. Saat aku mendengar kamu sudah membaik dan boleh di jenguk dari kak Bram, aku langsung kesini”, Lisa menjelaskan.


Jean mengajak Lisa ke sebuah gajebo di tengah taman keluarga Ruby. Jean duduk bersama Lisa dan Angel mengelilingi meja.


Kedua orang tua Ruby dan Angel selalu pergi bekerja dari pagi hingga sore, sedangkan Ruby dan Angel bergantian menemani Jean di rumah.


Hari itu Jean tidak menanyakan Enver sama sekali, karena waktunya terpakai untuk melepas rindu dengan Lisa. Keesokan harinya Rani datang mengunjungi Jean, kemudian di hari berikutnya Clara, di hari berikutnya lagi Clarisa, di hari berikutnya lagi Rina dan Lita datang, di hari berikutnya lagi Lisa, dan terus berlanjut.


Awalnya Jean merasa senang dan bisa menikmati waktu, tapi rutinitas itu berlangsung sampai perayaan tahun baru memberi tahukan Jean, bahwa dirinya sudah di buang Enver selama dua tahun.


Pagi itu Jean meminta untuk jalan-jalan di sekitaran komplek, alih-alih di lingkungan rumah Ruby yang padahal sudah cukup luas. Saat melewati sebuah pasar minggu, Jean menyuruh Angel yang bersamanya untuk membelikan Jean minuman segar dengan alasan capek, sedangkan Jean ingin duduk di kursi taman. Padahal bukan kebiasaan Jean untuk menyuruh-nyuruh orang lain seperti itu.


Jean menyadari satu hal, tidak ada penjagaan berlebihan selama ini, hanya cukup Ruby dan Angel. Karena itu Jean berspekulasi kalau orang yang berbahaya baginya sudah tidak ada, apa lagi berita tentang sang ******* sudah di hukum mati mempertegas spekulasi Jean.


Jean memanfaatkan situasi ini dengan pergi, kabur dari rumah Ruby, setelah beberapa hari terakhir Jean memahami lokasi tepatnya alamat Ruby menggunakan aplikasi maps di ponselnya.


Jean menarik uang dari rekeningnya melalui ponselnya, dan berhasil pergi ke kawasan mansion Valera menggunakan taksi.


Sore itu taksi yang Jean tumpangi di hentikan petugas keamanan.


“Maaf pak, tapi kawasan ini adalah area pribadi”, Seorang petugas berbicara kepada driver taksi.


Jean menurunkan kaca taksi itu dan memperlihatkan wajahnya melalui jendela mobil kearah petugas.


“Enver ada di mansion?”, Jean yang bertanya, membuat beberapa petugas lain terlihat bergegas kembali kedalam pos jaga.


“Nona, apa yang anda lakukan disini?”, satu petugas yang tersisa bertanya kepada Jean.

__ADS_1


“Biarkan saya masuk”, Jean yang berusaha mengintimidasi dengan perintah, walau nadanya agak canggung.


“Nona, anda harus  kembali ke kediaman Ruby”, pinta petugas itu.


“Pak!!, ayo masuk cepat!, terobos aja!”, pinta Jean membuat supir taksi kebingungan.


Jean yang menyadari bahwa supir taksi tak bisa di ajak kompromi memilih turun dari taksi sesudah membayarnya.


“Pak, bisa minta air?, saya haus”, Jean yang merubah rencananya membuat petugas itu masuk ke posnya untuk mengambil air.


Segera Jean berlari sekuat tenaga masuk ke kawasan mansion Enver, kegilaan yang dia lakukan itu entah akan berujung menjadi seperti apa. Tapi hal itu di pikirkan nanti saja, begitulah menurut Jean.


Jean yang bisa mendengar deru mobil dari arah pos keamanan, segera berbelok, memilih berlari di kawasan taman. Setiap ada mobil yang mendekat, Jean akan bersembunyi di balik tanaman-tanaman bunga yang cukup rapat satu sama lain.


Jean berakhir tergeletak di atas kursi taman bahkan sebelum sampai ke mansion, nafasnya tersengal-sengal. Terdengar suara langkah yang berlari mendekat. Jean sudah tidak perduli jika ketahuan karena sudah lelah berlari.


“Jean?”, orang yang mendekat itu ternyata kak Bram.


“Kak, apa kamu punya air?, aku benar-benar kehausan”, ucap Jean.


Bram mengambil ponsel di sakunya dan menelpon seseorang.


“Jean ada bersamaku, kirimkan mobil dan air minum”, ucap Bram dalam panggilannya.


“Kamu baik-baik saja?”, Bram bertanya karena Jean terlihat benar-benar lemas.


“Ya, terakhir kali aku seperti ini, saat smp. Saat itu ada lari maraton 10 kilometer untuk ujian akhir, mata pelajaran olah raga. Aku dan teman-temanku tertidur di lantai kelas dengan kondisi seperti ini”, ucap Jean tiba-tiba bercerita walau nafasnya masih belum stabil.


“Maraton?, 10 kilometer?”, Bram bergumam.


“Aduh, anggap saja itu lari maraton!”, Jean mengomel.


“Kak, kak Enver ada di mansion?”, Jean bertanya.


“Tak ada”, Bram menjawab dengan cepat.


“Kamu tidak bohong?”, “aku tidak bohong!”. Bram menjawab lebih cepat lagi.


“Lalu dia dimana?, apa dia membuang ku atau sejenisnya?”, Jean bertanya dengan suara bergetar mulai menangis.


Bram yang melihat Jean bereaksi seperti itu mulai kebingungan.


“Dia tak menemui ku selama dua tahun ini, dia bahkan tak bisa di hubungi melalui ponsel, apa dia sudah bosan dengan rasa darahku?, atau dia .. hk..”, Jean yang mengeluarkan semua uneg-unegnya sembari menangis keras, langsung terduduk saat Jean keselek ludahnya sendiri. Setelah  terduduk Jean kembali menangis dengan keras.


“Dia.. dia di tahan di kemiliteran!”, Bram yang tak tega melihat Jean seperti itu mengatakan sesuatu yang sebenarnya Enver larang untuk di beritahukan kepada Jean.


“Apa?”, Jean langsung berdiri setelah mendengar perkataan Bram.

__ADS_1


__ADS_2