OBSESI SANG VAMPIR

OBSESI SANG VAMPIR
Hari Pertama Di Kediaman Valera


__ADS_3

Genggaman tangan Enver dengan erat mengait di pergelangan tangan Jean. membimbing langkah Jean masuk kedalam mobil yang terparkir.


Mobil berwarna hitam mengkilap itu memperlihatkan status pemiliknya dengan jelas. Hingga saat mobil itu melintas di jalanan ramai, seringkali menjadi perhatian para pengguna jalan.


Jean yang asing dengan semua itu terduduk didalam mobil tersebut, berdampingan dengan Enver di bangku penumpang.


Supir yang terlihat sudah sangat terbiasa dengan keheningan di dalam mobil, sesekali melirik melihat kebelakang melalui spion dalam mobil, karena penasaran dengan seorang wanita yang duduk berdampingan dengan bosnya itu.


Enver yang termangu, melamun kearah luar jendela mobil, sambil menutupi hidungnya yang sekilas seperti menyangga dagu.


Jean yang hanya berusaha tetap tenang dalam keadaan tak nyamannya, beberapa kali melirik Enver dan supir bergantian.


"Apa aku boleh bertanya?", tanya Jean di tengah keheningan.


Enver yang sepertinya tidak peduli, mengabaikan pertanyaan Jean.


"Ini mengenai panti..", "jangan mengajakku berbicara sekarang", ucapan Jean yang yang langsung di potong oleh penolakan Enver, menciptakan keheningan baru yang lebih canggung.


Jalanan mulai menjadi sepi, Jean melihat beberapa lelaki yang seperti sedang berjaga, membungkukkan badannya saat mobil yang dia tumpangi melewati mereka.


Oh ini kah tempat si kakak wibu itu di berhentikan?, pikiran Jean berceloteh sendiri. Anehnya, rasa tertekan yang sebelumnya dia rasakan jika bersama Enver kini tak ia rasakan.


lima belas menit berlalu, yang Jean lihat hanyalah pepohonan atau area taman, Jean yang berpikir kalau dia akan di bawa ke kediaman Valera bertanya-tanya, seberapa luas area pribadi milik keluarga itu?.


Setelah tiga puluh menit berlalu, Jean melihat mension tinggi yang berdiri tegak di kelilingi taman.


Jean ternganga melihat kemewahan lahan yang benar-benar terawat itu.


Jean membuntuti Enver yang berjalan memasuki mension. Berbeda dari suasana hangat di luar, suasana di dalam mension terasa sangat dingin.


Jean juga melihat banyak retakan pada beberapa sudut mension.


Sesekali Jean sedikit berlari untuk mengimbangi langkah Enver di depannya.


Enver mengangkat tangannya setinggi pinggang, dan menggerakkan jari telunjuknya.


Salah seorang wanita yang berdiri di ambang pintu ruangan yang sepertinya ruang tamu itu, menghampiri Enver sambil menunduk.


"Antar dia ke kamar yang sudah ku perintahkan untuk di siapkan kemarin", pinta Enver kepada wanita itu.


"Mari ikuti saya", wanita itu meminta Jean untuk mengikutinya.


"Ta.. tapi, Enver?", Jean yang merasa ada hal yang harus ia tanyakan itu sempat mencoba menolak.

__ADS_1


"Mari bicara besok, aku ada urusan yang belum selesai hari ini", jelas Enver yang meninggalkan Jean ke arah pintu keluar.


Jean yang kikuk hanya pasrah mengikuti wanita yang di perintah Enver sebelumnya.


Jean di bawa memasuki sebuah kamar luas, yang berada di bagian paling dalam mension.


"Nona bisa beristirahat dulu disini, apa anda mau mandi?", tanya wanita dengan seragam mirip pegawai hotel itu.


"Apa?, ah tidak , aku baru mandi tadi siang", jawab Jean yang agak geli saat dirinya di panggil nona.


"Makan malam sedang di siapkan, anda mau makanannya di antar kesini atau mau makan di ruang makan?", pertanyaan kedua dari wanita itu membuat Jean semakin kikuk.


"Ah, tak usah repot-repot. Tapi sebenarnya apa yang harus saya lakukan?, saya agak bingung, kenapa saya harus disini?", tanya Jean


"Anda bisa menanyakannya langsung kepada tuan Enver besok, dan untuk makan malam, tuan Enver bilang bahwa nona harus makan teratur karena kondisi nona sedang tidak baik. Karena sepertinya nona belum nyaman di tempat ini, saya akan mengantar makanan kesini nanti malam. Jika nona membutuhkan sesuatu, nona bisa menekan tombol di sana (menunjuk kearah tombol di atas meja di samping tempat tidur), apa ada yang nona butuhkan sekarang?" penjelasan wanita itu membuat Jean tak bisa berkata-kata.


"a..ah, ya terimakasih, tak ada yang saya perlukan, ha ha",jawaban Jean yang kaku seperti robot.


"Baik, kalau begitu saya undur diri, silakan menikmati waktu anda", ucap wanita itu dengan sopan, lalu kemudian pergi meninggalkan Jean sendirian di kamar itu.


Jean berdiri di tempatnya mematung cukup lama.


"apa konsep di rumah Enver itu konsep pelayanan hotel?. Orang kaya memang tak bisa di tebak", gerutu Jean yang merasa dirinya sedang syuting drama kolosal kerajaan.


Beberapa langkah dari kamar, Jean melihat dua orang wanita yang langsung berbisik saat melihat Jean. Salah satu dari dua wanita itu kemudian berlari kearah yang berlawanan terlihat sedikit panik, Jean melihat kearah orang yang masih di sana dan menyapa dengan senyum dan anggukan yang kemudian di balas oleh wanita yang mendorong satu roda full alat bebersih itu.


"Permisi kak, apa anda tahu Enver dimana?", tanya Jean yang memutuskan tidak perlu mengimbuhkan kata kakak saat memanggil Enver.


"Ah saya tidak melihat tuan, tapi biasanya tuan sudah pergi di subuh hari", jawab wanita itu.


"Apa?", Jean menyangka kalau Enver akan mengajaknya mengobrol langsung di pagi hari.


"Nona, anda sudah bangun?. Mau sarapan dulu atau mau mandi dulu?", teriak wanita yang kemarin mengantar Jean kemari datang dengan tiga orang pegawai lain.


"Ah apa?, oh iya, saya keluar karna ingin bertanya dimana saya bisa mendapatkan sabun mandi", jawab Jean.


"Oh tenang saja, biar kami siapkan", kata wanita itu, yang kemudian memberi kode ke beberapa orang yang lain.


Satu orang yang tadi bersama wanita yang membawa peralatan bebersih pergi melanjutkan pekerjaannya.


Sementara dua orang lain bergegas masuk ke kamar Jean.


"Mari masuk", ajak wanita itu dengan ramah.

__ADS_1


"Ya..?, oh iya" Jean kembali masuk ke kamarnya.


"Anda mau aroma apa?, kemari biar saya bantu buka pakaian anda", wanita itu sembari mendekat ke arah Jean yang sedang berdiri di dekat pintu kamar mandi, yang ada di dalam kamarnya.


"Apa?, kenapa?", Jean reflek menaikkan tangannya dan juga nada bicaranya.


"Ah maafkan saya, Nona tak nyaman di mandikan?, mau mandi sendiri?", tanya wanita itu memberikan pilihan.


"Ya tentu saja saya mandi sendiri, saya hanya butuh alat mandi saja, jangan berlebihan", Jelas Jean yang tak nyaman.


Pagi hari yang membuat Jean syok, dengan pelayanan yang menurutnya ekstrim itu, membuat Jean melupakan niatnya untuk segera mencari Enver sejenak.


Jean keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membelit tubuhnya dan rambutnya yang basah.


"Ya tuhan!", Jean yang kaget karena menyadari ada seseorang yang sedang duduk di pinggiran kasur, padahal seingatnya dia sudah berhasil mengusir para pegawai Enver yang cosplay menjadi pelayan kerajaan itu.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini?", tanya Jean sambil berpose menyembunyikan dirinya di balik udara


"Kamu bilang ingin berbicara denganku", jelas Enver yang berjalan mendekati Jean.


Jean yang merasa tak nyaman karena belum berpakaian dengan benar, hendak kembali kedalam kamar mandi untuk menyembunyikan diri.


Tapi Enver mendekapnya dari belakang, tangan kanan Enver membelit tubuh Jean dengan telapak Enver yang mencengkram bahu kiri Jean.


"Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku!", ucap Jean dengan nada cukup tinggi.


"Biarkan aku mencicipi darahmu sedikit", ucap Enver sambil menciumi tengkuk Jean.


"Apa?, aku bisa mati kehabisan darah, jika kamu terus menerus meminum darahku!",jelas Jean sambil meronta.


"Sedikit saja", ucap Enver pelan.


"Uugh,", Jean melenguh bersamaan dengan gigitan yang di lakukan Enver di tengkuknya.


"Cepatlah!", keluh Jean, yang tau, kalau dirinya tak bisa menolak.


Enver terus menyeruput sambil sesekali menjilati darah di tengkuk Jean.


Nafas Jean yang memberat terdengar cukup jelas di ruangan itu, suasana aneh itu membuat Jean semakin tak nyaman. Belum lagi Jean sulit bernafas karena Enver mendekapnya dengan sangat erat.


"Kamu kan bisa menghisapnya tanpa harus memelukku seperti ini, tolong lepaskan, aku sulit bernafas".Keluh Jean yang sepertinya sudah


tidak takut lagi pada situasi tersebut.

__ADS_1


Namun Enver tak merespon apapun, hanya suara decakan dan suara nafas berat Enver yang terdengar dari mulut Enver.


__ADS_2