Om Muda Mengejar Cinta Jeni

Om Muda Mengejar Cinta Jeni
Prolog


__ADS_3

Di balik gemerlapnya malam di sebuah Club malam. Musik Dj terdengar merdu dengan kemelap lampu discotik yang membuat suasana jadi semakin riuh. berbagai kalangan menari bersama di satu


tu titik.


seorang gadis mengangkat tangannya menikmati alunan musik Dj yang begitu asyik terdengar di telingannya. Di dalam keadaan mabuk berat setengah sadar, gadis cantik beranjak dari duduknya, menikmati musik DJ di balik kerumunan para lelaki dan wanita jadi satu sedang asik menggerakan tubuh gemulainya mengikuti irama alunan musik DJ.


"Hai Van.. coba lihat seorang gadis cantik yang menari di sana"


Vano menatap ke arah wanita itu,


Plakk...


Dia memukul kepala Edo dengan tangannya.


" dia masih gadis ingusan apa kamu mau menggaetnya juga, nanti di kira kamu pedofil" vano meneguk minumannya, berhenti sejenak untuk menghela nafas dengan pandangan tertuju pada gadis itu.


" tapi dia memang cantik, aku tak bisa pungkiri itu. Tubuhnya juga sangat seksi beda dengan gadis kecil seumurannya" gumam Vano tersenyum kecil terus memandang gadis itu.


" hai Van apa kamu tidak suka dengan wanita jangan jangan kamu suka lelaki ya, ih." Edo mengernyitkan pundaknya menatap jijik Vano.


"Hah.. gila apa!! aku masih normal, jika aku suka sejenis aku sudah menidurimu dari dulu" Vano memeluk pundak Edo dengan tatapan menggoda.


" apa kamu mau denganku?" Senyum menggoda vano membuat Edo jijik.


Edo dengan cepat melepaskan pelukan Vano. "aku juga masih normal lebih baik meniduri para wanita di luar sana dari pada harus tidur denganmu" Edo nampak jijik dengan ulah Vano.


Vano terkekeh kecil melihat tingkah edo.


"Eh Van coba lihat gadis itu tubuhnya begitu seksi apalagi wajahnya sudah tidak di ragukan lagi dia sangat cantik " Edo menepuk pundak vano membuat vano tersendak minuman.


" uhuk..uhuk..."


" sialan kamu do"


" ckckck, maaf " edo tertawa kecil.


" gimana kalau kita taruhan siapa yang akan mendapatkan tubuhnya hari ini dengan waktu satu malam saja. Aku akan memberikan rumah baruku padamu. Tapi jika kamu kalah mobil sport kesayanganmu jadi milikku. "


" terserah!!" Ucap Vano meneguk minumannya kembali.


"Sekarang lihat aku akan segera beraksi" Edo berjalan mendekati wanita itu.


Vano tak bisa menolak taruhan Edo meski ia harus kehilangan mobil sport terbarunya. Ia bisa dengan mudah membelinya lagi. Tapi ia hanya ingin tahu wanita itu murahan atau tidak. Jika memang iya edo pasti dengan mudah mendapatkannya. Apalagi wajah tampannya tak ada satu wanita yang menolak ajakan untuk tidur meski hanya satu malam.


      -0o0-

__ADS_1


Edo melenggak lenggokkan tubuhnya mendekati gadis itu sambil menikmati alunan musik DJ.


"Hai .. kamu sendiri??" Edo ternsenyum menyapa gadis di depannya.


"Bukannya om punya mata jadi bisa lihat kan aku dengan siapa?" jawab gadis itu sangat cuek.


Gila nih cewek aku di panggil om, emangnya aku sudah pantas jadi om om. Umurku masih 25 tahun. Lagian ini cewek juga kentus amat, tapi aku gak mau kalah taruhan dengan Vano pasti dia lama-lama akan terpesona dengan ketampananku gumam Edo


" baiklah. boleh kenalan, aku Edo" mengulurkan tangan pada wanita di depannya.


"Jeni" tersenyum lembut membalas uluran tangan Edo dengan tubuh sempoyongan masih menikmati alunan Musik DJ.



cerita sedikit tentang Jeni : Jeni gadis cantik, manis dan juga seksi, bahkan lebih seksi di bandingkan remaja pada umumnya. rambut panjang sepunggung, wajah oval, bulu mata lentik meneduhi mata bulatnya bibir berwarna merah muda alami terlihat sangat manis. Dia anak dari seorang pengusaha kaya. Namun ia merasa kesepihan tanpa kasih sayang orang tua. dia selalu keluar malam gak jelas, pergi ke Club malam bahkan main dengan teman temannya jarang pulang. saat dia terpuruk bertepatan hari ulang tahunya yang ke 17 orang tuanya tak sekalipun mengucapkan selamat ulang tahun. bahkan tidak menghubunginya sama sekali. akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari rumah.


#Back to Story


Edo tersenyum Girang dalam hatinya, akhirnya hati gadis itu takluk juga dengannya. Namun ia mulai sadar sepertinya gadis di depannya dalam pengaruh alkohol. Lagian kenapa juga gadis kecil seperti dia harus keluar malam menghabiskan waktu malamnya di Club malam harusnya dia berdiam diri di rumah untuk belajar. Apa lagi sekarang dia dalam keadaan mabuk berat.


Edo menghilangkan fikiran kasian pada jeni.Kini ia ingin mengeluarkan jurus gombalan mautnya untuk menaklukkan hati gadis kecil itu.


" di pipi kamu ada gula ya??" Gumam Edo, menunjuk pipi Jeni.


jeni mengibaskan pipi merah cabinya.


"Tapi kenapa kamu bisa terlihat manis" gombalan Edo membuat kedua pipi Jeni memerah seketika.


"Apaan sih Om??"


Vano menatap Edo tersenyum kecil.


"Sialan Edo sepertinya dia akan menang hari ini"  Vano menaruh kunci mobilnya di meja.  Dan bergegas pergi dari Club malam yang membuat dia harus kehilangan mobilnya.


"Benar-Benar sialan taruhan hanya mendapatkan gadis murahan seperti dia. Benar benar bodoh, gadis kecil yang malang harus menyerahkan tubuhnya untuk lelaki seperti Edo, yang hanya penggila wanita seperti dia." batin Vano menggelengkan kepala tak percaya.


Vano segera menelfon sekertarisnya. " kamu cepat jemput aku sekarang" ucap Vano Finish segera mematikan ponselnya.


Tubuh Jeni sepertinya sudah mulai tidak sanggup lagi berdiri ia mulai tumbang di dada kekar Edo.


"Hai kamu kenapa?" Edo terlihat panik wajah Jeni nampak sangat menyedihkan. Seperti banyak beban di fikirannya. Edo nampak kasihan melihat wajah polos gadis itu. Ia tidak tega harus meniduri gadis yang terlihat polos di pulukannya itu.


Edo segera menggendong jeni pergi dari Club malam.


dan berjalan kelaur dari pusat keramaian itu.

__ADS_1


Sedangkan Vano berdiri di luar Club mengeluarkan rokok menunggu jemputan sekertaris mamanya. ia menimati setiap isapan demi isapan rokok di tangannya. 


"Eh Vano ini kunci mobilmu. Sekarang cepat bawa mobil kamu dan segera kemari" nafas Edo mulai tak beraturan, Dia masih ngos ngosan mencoba mengatur nafasnya kembali. padahal dia hanya membawa beban yang tak seberapa berat.


"Kenapa dia, kamu apakah dia jadi tak sadarkan diri seperti itu. Kamu bisa di tangkap polisi karena pencabulan anak di bawah umur tahu gak?" Ucap Vano dengan nada keras.


Pengunjung yang baru masuk ke Club itu menatap bingung ke arah Vano dan Edo


" sssttt diam jangan keras keras" Edo menutup mulut Vano.


Edo menurunkan tubuh jeni dalam dekapan Vano.


" udah jangan banyak bicara, kamu di sini aku yang akan ambil mobil sekarang" Edo berlari menuju parkiran mobil ia nampak sangat panik melihat gadis itu sudah mabuk berat tak sadarkan diri .


Tak jadi menikmati tubuh gadis itu. Ia malah ingin menolongnya sekarang dan mengurungkan niatnya dalam dalam untuk meniduri gadis polos itu. Mungkin dia akan di sebut sebagai pedofil benar kata Vano.


"Eh kamu kenapa meninggalkan dia padaku" teriak Vano. Ia menatap wajah polos gadis di dekapannya. Nampak sangat polos dan cantik wajahnya cantik natural tanpa make up tebal seperti wanita umumnya. bibirnya sangat sexy dan menggoda membuat Vano mulai menghayal ingin melumat memainkan pelan bibir seksi gadis kecil di dekapanya.


Apa Edo tak jadi menimakti tubuh gadis ini, jadi dia gagal dalam taruhan. hatinya tersenyum kecil kemenangan Gadis ini sangat menggoda dia harus jadi milikku dan hanya milikku gumam Vano.


"Eh vano cepat masuk, kenapa kamu masih berdiri di situ" teriak Edo dalam mobil.


Vano menggendong jeni dan mulai membaringkan tubuhnya di kursi belakang.


Sepertinya dia benar benar sudah mabuk berat ia tak sadarkan diri sama sekali.


Edo menyalakan mesin mobilnya menancapkan gas pergi.


"Dia tak sadarkan diri itu sangat mudah kamu bisa menikmatinya"


"Aku lebih suka jika dia sadar jadi kita bisa saling menikmati, jika dia tidur seperti itu sama saja aku bermain sendiri tidak ada rasa nikmatnya sama sekali" Edo tersenyum kecil dengan mata menggoda.


Vano terkekeh kecil, ia sempat melirik ke arah jeni yang masih tertidur pulas memiringkan badannya ke kanan dan ke kiri. Gadis itu nampak sangat nyenyak tertidur di kursi belakang.


"Sekarang kamu bawa dia kemana, apa kamu tahu rumah dia" tanya Vano.


"Biarkan dia tinggal di rumahmu sementara, jika aku bawa dia kerumah bisa mati aku kalau  orang tuaku tahu. Kamu tahu sendiri kan orang tuaku bagaimana jika aku bikin ulah semua fasilitasku perusahaanku di cabut. Aku tidak bisa hidup dan bersenang senang dengan wanita jika tanpa uang mereka kan" jawab Edo dengan mata fokus pada jalan di depannya.


Vano terdiam seketika, di dalam hati nya merasa ingin menolongnya. Tanpa menolak Vano membiarkan Edo membawa gadis itu tinggal di rumah nya.


" Baiklah biarkan aku yang merawatnya" Vano tersenyum kecil, merasa ia ada kesempatan bersama dengan gadis itu.


" tapi jangan sentuh dia" ucap Edo menegaskan.


20 menit perjalanan Vano segera membawa jeni masuk ke dalam rumah mewahnya.

__ADS_1


" Aku pulang dulu, kamu rawat gadis itu" teriak Edo dalam mobil yang mulai menjalankan pelan.


__ADS_2