Om Muda Mengejar Cinta Jeni

Om Muda Mengejar Cinta Jeni
Perubahan Jeni


__ADS_3

Keesokan harinya jeni nampak berbeda. Ia kini bangun lebih pagi. Dan sudah bersiap dengan pakaian lengkap sekolahnya dan tas yang ransel yang sudah ia gendong di punggungnya. Dan tak lupa sepatu cats sudah terpakai di kaki mulusnya.


Jeni beranjak menuju kaca ia menatap wajahnya. Kali ini tampilannya lebih berbeda. Ia mengurai rambutnya dengan mengucir sedikit rambutnya pinggir kanan dan kiri sebagai haiasan di rambutnya. Membuat penampilannya tambah cantik gak lupa ia tampil lebih feminim memakai lipstik tipis dan bedak yang tak terlalu tebal. Dan tak lupa poni rambut tipisnya.


" Sepertinya sudah sempurna"Gumam Jeni menatap pipi kanan dan kirinya bergantian di depan kaca.


" ternyata aku cantik juga jika wajahku di poles make up sedikit" Gumam Jeni tersenyum tipis terus memandang kaca. Ia tak berhenti mengagumi kecantikan wajahnya yang mulai.


Ia bergegas keluar dengan langkah ringan berlari tipis dari kamarnya menuju ke ruang makan.  " Mama!" Teriak Jeni berlari memeluk mamanya yang sudah menyiapkan begitu banyak masakan di meja.


Tak lupa setiap pagi ia mencium pipi kanan dan kaki kiri mamanya.


" Tumben anak mama hari ini terlihat berbeda?" Ucap mama Jeni mencubit pipi kanan nya. " Pasti lagi jatuh cinta ya?" lanjut mamanya dengan nada menggoda pada Jeni.


" Apaan sih ma? Siapa juga yang jatuh cinta!" Ucap jeni hanya mengambil roti lalu menggigitnya. Perutnya terasa sangat lapar dari kemarin malam tidak makan sama sekali. Gara-gara pergi sama Edo membuat nafsu makanya hilang seketika.


" Mama masak buwat Jeni ya?" Ucap Jeni merangkul pundak mamanya.


" iya sayang. Tapi Kalau kamu gak mau makan. Mama sudah siapkan bekal buwat kamu"


" mama tahu aja pikiranku. Ya sudah aku berangkat dulu. Bye!" Ucap Jeni meraih bekal dari tangan mamanya segera berlari keluar rumah. Keburu papanya turun dan memarahinya. Ia tidak mau menemui papanya. Karena pasti yang ayahnya bicarakan hanya pernikahan dan pernikahan membuat ia merasa bosan dan penat.


Dengan segera Jeni masuk ke mobilnya. Lalu menyalakan mesin mobilnya. Mengemudi perlahan keluar dari halaman rumahnya. Kali ini ia sangat ingin menunjukan pada para temannya di sekolah jika dia juga ada sisi feminimnya. Dan buwat mantan pacarnya siap-siap saja terpesona dengan kecantikannya.


Tak butuh waktu lama ia sampai di parkiran sekolah. Dengan segera wanita itu keluar dari mobilnya seakan ada angin yang membuat rambutnya berkibar kemana-mana. Membuat kecantikkanya tambah terpancar ke penjuru sekolah.


Semua anak menatap ke arahnya. Kecantikan yang begitu mempesona.


" Dia benar-benar sangat cantik" Ucap lelaki yang melintas di depannya.


Jeni hanya tersenyum tipis menyapa mereka. Dari dulu dia memang sudah cantik namun sifat tomboynya membuat kecantikkanya seakan tertutup.


Hari ini sepertinya dia akan sendiri tanpa sahabatnya yang sedang pergi liburan dengan orang tuanya gak kunjung pulang.


Ia berjalan ringan menuju ke kelas. Meski semua mata tertuju padanya ia seakan tak perdulikan itu.


Hingga seorang lelaki datang menghampirinya. " Jeni!" Ucap lelaki itu mengehntikan langkahnya seketika.

__ADS_1


Ia kengehela nafasnya sejenak. " Ada apa?" Jawabnya dengan nada datar.


" Nanti bisa keluar gak pulang sekolah" ucap Lelaki itu. Ya dia adalah mantan pecar jeni yang meninggalkannya demi linda. Ini target pertama dia pacar linda. Jeni tersenyum tipis menganggukkan kepalanya seakan memberi jawaban jika ia menerima tawarannya.


Tak lama Linda datang mengahampiri lelaki itu dan memeluk tangannya erat. " kenapa kamu di sini dengan dia?" Tanya linda dengan nada centilnya melirik tipis ke arah Jeni.


" Oya urusin soal calon suami kamu. Karena kamu akan segera menikah" Bisik linda. Jeni terdiam seketika kenapa linda bisa tahu jika dia akan segera menikah.


Ia tidak mau menikah dan tidak akan pernah mau. Tanpa menyapa Linda dan lelaki itu ia beranjak pergi dengan tatapan kosong menuju ke kelasnya. Ia segera meletakkan tas di meja duduk melipat ke dua tangannya di meja menyandarkan kepalanya yang terasa sangat penat.


***


" Hai!!" Sapa Vano duduk di samping Jeni meletakkan tas ranselnya di meja.


Jeni hanya diam tak menghiraukan sapan Vano di sampingnya. Wanita itu masih menyangga dagunya dengan telapak tangannya. Dan tatapannya kosong menatap ke meja coklat di bawah pandangannya.


Vano mengibaskan tangannya ke wajah Jeni namun tak ada respon darinya.


" Kesambet setan apa nih anak pagi-pagi gini melamun" Gumam Vano memiringkan badanya agak menundukkan kepalanya mencoba menatap Jeni yang dari tadi melamun menyangga kepalanya agak menunduk ke bawah.


" Apaan sih" Ucap jeni menatap Vano dengan wajah yang nampak sangat lesu.


" Kamu kenapa?" Tanya Vano dengan senyum samar menatapnya.


" Aku lagi males di ganggu" Ucap Jeni yang masih cemberut.


" Selamat pagi" Sapa guru menyeka pembicaraan mereka. Suasana kelas yang semula gaduh sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang bermain ponsel ada yang begosib entah membicarakan apa yang mereka bicarakan. Namun seakan di sulap berubah menjadi hening seketika duduk di tempatnya masing-masing.


" Pagi pak" Sapa kelas itu serentak.


Namun tidak dengan jeni yang masih berdiam di tempat duduknya. Entah apa yang di pikirkannya.


Vano masih menatapnya namun kini tanpa mengusiknya. Hingga pelajaran di mulai Ke dua sejoli itu masih berdiam diri Vano terus menatap Manda yang melamun dari tadi tak perhatikan pelajaran di depan.


Dan guru mulai menyadarinya. Tetapi ia tak mau memarahi Vano karena tahu jika Vano hanya pura-pura jadi anak SMA. Dan apa lagi dia anak oemilik sekolahan ini. Pandangan Guru itu tertuju pada Jeni yang masih menyangga dagunya dengan pandangan kosong menunduk ke bawah.


" brakkk... "

__ADS_1


Suara gebrakan meja di depan Jeni membuat sekelas terkejut. Dan juga Jeni beranjak berdiri dari duduknya.


" iya pak ada apa?" Ucapnya dengan pandangan lilung. Semua anak cekikikan melihat Jeni.


" kalau kamu tak perhatikan pelajaran. Lebih baik kamu keluar" Bentak guru itu dengan tangan menunjuk ke luar kelas.


Jeni mengela nafas meraih tas di mejanya dan beranjak keluar dari kelasnya tanpa sepatah kata terucap dari bibirnya. Ia menghentakan kakinya dengan wajah nampak sangat kesal ia berjalan keluar tanpa menatap guru di depannya.


Dan Vano berlari mengikuti Jeni keluar meski semua anak memandangnya penuh curiga pada mereka berdua.


" Dasar tu anak selalu bikin ulah" Gumam Guru itu hanya bisa mengusap dadanya menggelengkan kepalanya tak percaya.


" Jeni tunggu !" Vano meraih tangan Jeni menghentikan langkahnya.


" Ada apa lagi?" Ucap Jeni membalikkan badannya dengan wajah masih nampak sangat kesal.


" Ikut aku" Vano menarik tangan Jeni berjalan menuju ke loteng sekolahan yang berada di lantai tiga. Mereka menghentakan kakinya selaras menaiki tangga dari lantai dasar sampai ke lantai 3.


Dengan nafas masih ngos-ngosan ia menarik tangan Jeni duduk di sofa.


" Ini dulu tempatku berkumpul dengan teman-temankku dan juga mantan pacarku. Duku kita sering kumpul di sini. Dan semenjak semua sudah lulus SMA di sini tak ada yang menempati lagi" Pungkas Vano menjatuhkan tubuhnya duduk bersila di sofa.


Dan di susul Jeni duduk di sebalahnya. " Ternyata indah juga sekolahan ini di lihat dari atas" Ucap Jeni .


Tak menggubris ucapan Jeni Vano beranjak berdiri mengambil sebuah gitar yang ada bersandar di gawang samping tembok atas loteng itu. Lalu duduk kembali di tempatnya


Jemarinya sangat lihai memetik gitar yang ia pegang. Ia mulai memainkan sebuah lagu untuk Jeni.


" Bisa ajarin aku main gitar" Ucap Jeni yang terbuai dalam suara merdu Vano.


Vano menhentikan petikannya sejenak mendekap gitar itu dalam tubuhnya


" Pegang gitar ini" ucap Vano memberikan gitarnya. Jeni mulai meriah gitarnya Vano memegang ke dua tangan Jeni. dengan perlahan jemarinya mengajari Wanita itu memetik kunci lagu yang ingin ia nyanyikan.


Hingga canda tawa berbaur dengan mereka. Tanpa sadar tatapan mereka saling tertuju membuat jantung mereka berdua berdetak seirama tak beraturan.


Vano mencubit pipi menggemaskan Jeni membuat Jeni ngambek seketika karena sakit.Ia melioat ke dua tangannya melempar pandangannya berlawanan Arah.

__ADS_1


__ADS_2