
#Edo POV
Edo berlari mencoba mengejar Jeni yang tadi nampak terlihat samar-samar di depannya. Ia mencoba mengejarnya namun tiba-tiba menghilang begitu saja seperti kilat. Lelaki itu terlihat bingung kehilangan jejak Jeni saat ia berusaha mengejarnya.
" Kemana dia pergi?" Gumam Edo memutar badannya sekali melihat sekelilingnya. Ia terlihat sangat bingung tidak nampak Jeni di sekitar tempat itu.
"Sialan kemana dia pergi?" Edo terlihat sangat kesal menendang nendangkan kakinya.
" Apa dia marah denganku?" lanjutnya terus bergumam bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Lelaki itu begitu menyesali apa yang ia perbuwat tadi. Ia tahu jika dia tadi salah. Tapi yang harus ia pikirkan sekarang adalah gimana cara bilang ke ayah Jeni saat dia tahu Dirinya tidak pulang dengan calon istrinya tersebut. Entahlah apa ayah mertuanya akan marah padanya atau tidak nantinya.
" Ahh.... Edo kamu terlalu bodoh" Teriak Edo mengacak acak rambutnya. Ia marah pada dirinya sendiri.
" Kenapa kamu berbuwat itu pada Jeni! apa kamu gila" Gumam Edo terus berteriak di jalan seperti orang gila. Ia tidak perduli dengan apa yang di bilang orang tentangnya. Ia ingin meluapkan semua amarahnya. berteriak sekencangnya di jalanan yang terlihat nampak sepi hanya beberapa kendaraan yang melintas di sekitarnya.
" hai!!" seseorang menepuk pundaknya membuat ia sontak menoleh ke belakang. Ia melihat seorang wanita cantik memakai hotpend dan kaos pendek berwarna putih yang kaosnya di sengaja di masukan ke dalam hotpend nya. Ia tiba-tiba berdiri di belakangnya entah dari mana datangnya wanita itu.
Edo menoleh seketika melihat detail dari ujung kaki hingga kepalanya.
" Kamu kan...." Ucapnya terhenti seolah ia masih mikir siapa wanita di depannya itu.
Thing... seolah sebuah jawaban muncul di otaknya.
" Linda!!" Lanjut Edo yang mulai teringat siapa wanita itu.
" Ngapain kamu di sini?" Tanya wanita itu mencoba basa basi.
" Gak papa cari angin aja" Jawab Edo singkat tanpa Ekspresi di wajahnya.
" Hm kamu tadi bukannya pergi sama Jeni" sambung Linda duduk di kursi di belakangnya.
" Entahlah di mana dia sekarang" Edo duduk di samping wanita itu.
" Oya bukannya kamu yang di jodohkan sama dia kan. Apa kamu benar mnyukai dia" Tanya Linda mencoba terus terang pada Edo. Ia penasaran apakah Edo benar-benar mencintai Jeni atau tidak.
__ADS_1
Dan jika memang iya setidaknya ia punya kesempatan menikung lagi sepupunya itu. Kemarin waktu jamuan minum teh di rumah Jeni, ia mengatakan jika tidak suka dengan Om-Om tapi sepertinya kini ia menarik kata-katanya itu. Kalau Om-nya masih muda dan tampan seperti Edo siapa yang tidak suka.
Linda mencoba mencuri pandang wajah Edo dari samping yang terlihat sangat tampan. Meski gak setampan Vano lelaki yang sempat ia temui kemarin di cafe. Tapi setidaknya ia mau mengambil semua orang yang dekat dengan Jeni membuat ia putar arah mendekati Edo. Karena ia tidak ingin Jeni bahagia mendapatkan semua yang ia inginkan.
Entah kenapa Linda sangat membenci Jeni dan selalu merebut pacarnya. Mungkin karena ucapan orang tuanya yang selalu membeda-bedakan dirinya dengan Jeni. Jeni yang begitu sempurna di mata keluarga hingga ia tidak nampak di sana. Saat kumpul bersama keluarga selalu Jeni, Jeni Dan Jeni yang di perdulikan.
Hingga beberapa menit nampak hening di antara mereka. hanya saling duduk bersama menatap ke depan jalan yang suah nampak sepi.
" Kamu ada waktu luang gak? " Linda mencoba memecahkan keheningan di antara mereka .
" Gak ada. Mungkin hanya ingin mencari Jeni" Pungkas Edo dengan nada datarnya duduk agak condong ke depan ke dua siku di letakkan ke pahanya seolah menyangga badannya.
" kenapa kamu harus cari dia. Aku yakin dia sudah pulang lebih dulu bersama teman lelakinya." Ucap Linda agak memeiringkan badanya menatap ke kiri wajah Edo.
Edo masih terdiam dengan posisi duduk yang sama. Ia seakan tidak perdulikan kata Linda tentang Jeni.
" Gimana kalau malam ini kita jalan berdua saja" Lanjut Linda menyandarkan kepalanya di pundak Edo dengan ke dua tangan memeluk tangan kiri Edo.
Membuat Edo sontak duduk tegap menatap ke arah Linda di sampingnya.
" Kita ke Club malam" Ucap Linda menatap wajah Edo mengedipkan mata centilnya
Edo menghela nafas nya sejenak. Meladeni wanita centil yang membosankan di sampingnya. Meskipun cantik tetapi bersifat menjijikkan seperti itu membuat Edo malas dekat dengannya.
" lagi malas" Jawab Edo memutar matanya malas. Ia kencoba menarik tangannya namun Linda memeluknya semakin erat.
" Udah gak usah munafik. Aku tahu kamu lagi banyak pikiran . Gimana kalau kita minum bersama di bar. Aku traktir kamu minum sepuasmu" Ucap Linda tersenyum tipis dengan tatapan menggoda. Seolah ia berharap Edo mau menerima ajakannya.
" Maaf sepertinya aku harus pergi ada urusan sebentar" Pungkas Edo menarik tangannya kasar dari pelukan Linda. Ia beranjak pergi meninggalkan Linda sendiri.
" Edo.." Teriak lindak menatap punggung Edo yang semakin menjauh darinya.
" Shitt..." ia menendang botol bekas yang tergeletak di depannya.
__ADS_1
" Haahhh.. kenapa semua Jeni dan Jeni" Teriak Linda. Wajahnya terlihat mulai memerah. Rahangnya menengang seketika.
" Aku akan membalas semuanya Jeni" Gumam Linda dengan tatapan tajam nya. Ia menggertakan giginya seolah amarahnya mulai memuncak.
Edo memang suka bermain wanita tapi ia tidak suka ada wanita yang genit dengannya. Ia merasa jika wanita suka genit seperti itu berarti dia sangat murahan. Tidak selevel dengan kriterianya. Ia suka dengan wanita yang tak mudah di tebak. Dan membuatnya penasaran selalu membuat ia mencari tahu tentang dirinya.
# Jeni POV
Vano mengantarkan Jeni pulang ke rumahnya. Namun ia tidak di perbolehkan masuk oleh Jeni. Jadi Vano langsung pulang dari depan rumah Jeni. tanpa bisa melihat ke dua orang tua Jeni.
Jeni berdiri di depan pintu rumahnya. Ia memegang gagang berwarna emas. Dan memutarnya perlahan agar suara pintu terbuka tak terdengar oleh ayahnya. Suasana rumah nampak hening dan sangat gelap. Seperti memang tidak ada orang di sana.
" Mungkin mereka sudah tidur" Gumam Jeni berjalan mengendap endap. Ia sengaja berjalan pelan agar tidak terdengar hentakan kakinya ke telinga ayahnya.
Lampu yang menyala dengan tiba-tiba membuat Jeni terkejut sontak menghentikan langkahnya.
" Jeni!!" Panggil ayahnya dengan nada tinggi.
Ia memutar mata malas berbalik arah menemui ayahnya yang bediri di depan ruang tamu. Dengan langkah yang seakan sangat malas harus berhadapan lagi dengan ayahnya.
" Kamu pulang dengan siapa tadi?"Tanya ayahnya dengan nada melengking namun tak membuat Jeni takut. Ia memutar mutar bola matanya dengan kaki seakan tak bisa behenti bergerak.
" Bukan urusan ayah" Jawab Jeni dengan nada kesal. Kali ini ia sudah tak mau lagi menurut apa kata ayahnya. Gadis itu beranjak pergi berlari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
" Jeni! Kamu berani membantah sekarang. Aku akan percepat pernikahanmu" Ucap ayah Jeni dengan anda semakin keras. Meskipun Jeni mendengar jelas ucapan ayahnya ia seakan sudah tak perduli lagi. Ia berniat akan pergi dari rumah jika pernikahan itu tetap di laksanakan. Karena ia tidak suka dengan Edo sedikitpun.
"Braaakkkk" Jeni menutup pintu berwarna coklat bernuansa klasik menjulang tinggi itu dengan sangat keras. Membuat suara kerasnya terdengar sampai ke telinga ayahnya.
" Sebenarnya siapa yang dekat dengannya sekarang" gumam ayah Jeni duduk si sofa mengusap dadanya beberapa kali untuk mencoba meredakan amarahnya.
" Sekarang dia bahkan berani melawanku" Lanjutnya dengan memegang dadanya.
Di balik kamar mewah miliknya Jeni ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya. " Ayah keterlaluan!" Teriak Jeni melempar bantalnya ke lantai.
__ADS_1
" Aku gak mau menikah. Pokoknya aku gak mau menikah" Jeni tengkurap menutup rapat wajahnya di balik bantal. Untuk menahan emosinya yang sudah membara.
Hingga ia tertidur lelap dalam mimpi indahnya. Dengan balutan pakaian yang masih sama dan spatu Cats berwarna biru tua beralas putih yang masih ia pakai.