
Jeni berjam-jam minum di tempat itu hingga larut malam. Dan kini tubuhnya sudah terasa sangat lunglai tanpa tulang. Bagaimana tidak ia sudah habis beberapa botol sekaligus. Dan kini ingin beranjak berdiri pun susah. Namun ia tetap mencoba berdiri hingga akhirnya terjatuh dalam di dada seorang lelaki.
" Jeni!!" Sapa Vano yang terkejut melihat Jeni sudah mabuk minuman dan tak sadarkan diri. Ia terus menyetuh pipi kanan dan kirinya berkali-kali. Bau alakohol menyeruak masuk ke dalam penciuamnya membaut Vano sontak mengerutkan hidungnya.
Edo yang berdiri di samping Vano hanya diam,menatap vano yang begitu perhatiannya dengan Calon istrinya. Perasaan curiga muncul dalam hati Edo. Namun ini bukan sebuah bukti. Ia ingin tahu dari mulut mereka berdua nantinya gimana persaan mereka.
" Edo cepat bantu aku bawa dia" Ucap Vano terlihat sangat khawatir dengan kondisi Jeni.
" kita mau bawa dia kemana?" mereka berdua terdiam seketika, saling menatap satu sama lain. Ia bingung mau bawa Jeni kemana. Apa mengantarnya pulang dalam keadaan mabuk berat juga tidak mungkin. Orang tuanya pasti akan marah, Dan edo juga tahu itu. Ia tidak mau melihat Jeni terus di marahi orang tuanya.
Merasa tidak ada jawaban lagi akhirnya Vano yang memutuskan.
" Sudah bawa dia dulu ke mobil, kita lulang ambil kunci apartemenku di kamarku" Ucap Vano mengangkat jeni dengan ke dua tangannya berjalan dengan langkah sangat cepat menuju mobilnya.
Edo yang jalan di belakang mereka terus menatap punggung Vano dari belakang. Bahkan kekhawatirannya melebisi seorang pacar. Meski semoat merasa kecewa namun Vano adalah temannya tak mungkin ia marah dengan temannya sendiri.
***
Sebelumnya memang Edo sengaja untuk ajak Vano ke Club malam di mana ia pertama kali bertemu dnegan Jeni. Dan dia juga tidak tahu jika Vano juga sangat dekat dengan Jeni. Sampai dia terlihat sangat cemas dengan keadaannya sekarang.
" Van" Panggil Edo dengan wajah datar penuh rasa ragu menyelimuti hantinya.
" ada apa?" Wajah Vano masih nampak khawatir, ia duduk di kursi belakang sengaja membiarkan pahanya menjadi tumpuhan kepala Jeni saat ia tak sadar. Dan tangan Vano memegang erat tangan Jeni berharap dia sadar, lalu menatapnya.
" hemz gak jadi" Edo melihat wajah Vano dengan tangan megang erat tangan Jeni seolah ia tahu apa jawaban dari hatinya. Ia sebagai sahabat tidak marah dengannya. Namun tunggu jawaban dari Jeni bagaimana nantinya. Siapa yang akan dia pilih.
__ADS_1
Edo perlahan menyalakan mesin mobilnya. Dengan laju perlahan keluar dari tempat parkiran Club malam tersebut. Edo menuju ke rumah Vano lebih dulu sesuai apa yang di katakan Vano tadi.
" Jeni kenapa kamu mabuk seperti ini?" Gumam vano dengan wajah dan hati di selimut rasa khawatir yang semakin menjadi.
" Hmmz apaan sih" Gumam jeni mulai membuka mulutnya dengan mata tertutup. Ternyata ia hanya tertidur karena kebanyakan minum. Rasa khawatir di hatinya kini mulai berkurang.
Tiba-tiba Jeni beranjak duduk dengan mata masih tak bisa terbuka. Ia menarik kaos Vano, mendekat ke wajahnya membuat Vano tak bisa bernafas. Matanya melebar menatap wjaah Jsni dari dekat dengan detak cjantung berirama sangat cepat.
Jeni tiba-tiba memberinya sebuah kecupan lembut padanya.
Wajahnya memerah seketika, rasa senang dalam hatinya merasa ia di bawa terbang jauh melewati langit dengan gemerlap bintang.
Shiittt.. Edo tiba-tiba mengerem mendadak melihat apa yang di lakukan Jeni tadi. Karena ulahnya yang berhenti mendadak sontak membuat Jeni jatuh dalam dekapan tubuh Vano.
" ada apa?. Kenapa berhenti" Ucap jeni yang masih tak sadar. Ia kembali dengan posisinya, tidur beralaskan paha Vano yang terasa nyaman melanjutkan mimpi indahnya lagi.
"Gak papa, tadi ada kuciny nyebrang" Jawab Edo. Ia mencoba berbohong pada Vano. Padahal ia merasa sakit ketika melihat dari spion Jeni mengecup lembut bibirnya.
Vano terdiam melihat ekspresi wajah Edo yang berubah ia tahu apa yang di pikirkan temannya itu. Bukan satu hari ia kenal Edo, sejak kecil mereka salalu bersama jadi ia tahu semua hal burik tentang Edo.
Namun perasaan yang sama itu membuatnya hanya saling diam tak berani mengungkap. Mungkin saatnya nanti jeni akan tahu, siapa yang ia cintai maka dari itu salah satu harus rela melepaskan.
Edo melanjutkan perjalanannya lagi. Hingga tak lama sampai di rumah Vano. Dengan segera vano turun, lalu berlari masuk ke dalam rumahnya. Edo menunggu vano di luar sekalian jaga jeni agar tidak kabur. Apalagi ia suka ngigau gak jelas.
Merasa Vano sangat lama. Ia membuka lintu belakang mobil. Hanya untuk sekedar melihat wajah Jeni yang masih tertidur pulas. Ia menyentuh wajah mulusnya dengan jemari, lalu menyentuh bibir seksi jeni. " kenapa kamu mencium dia" Gumam Edo dengan tatapan kecewa.
__ADS_1
" Edo.." mendengar panggilan Vano ia sontak menutup pintu mobil dan menoleh ke belakang.
" Ayo antar aku ke apartmen" Ucap Vano menepuk pundak Edo.
Edo hanya tersenyum tipis berlari kecil segera mengemudi lagi mobilnya. Menuju ke apartemen Vano yang memang tak jauh dari rumah Vano, hanya 15 menit dari rumahnya.
15 menit kemudian Edo berhenti di depan tepat apartemen Vano. Mereka bergegas turun. Edo membantu Vano memapah tubuh Jeni menuju apartemen milik Vano di lantai 3.
Hingga langkah mereka terhenti tepat di depan pintu. Ia Jeni mencoba berdiri sendiri. " Aku gak perlu di papah seperti itu. Aku bisa jalan sendiri" Ucap jeni dengan mata setengah terbuka. Bahkan tubuhnya masih gemulai tak bisa berdiri tegap.
Jeni berjalan masuk ke dalam apartement vano. Dan seolah dirinya tahu di mana temoat ia tidur. Jeni masuk kamarnya dengan langkah yang tak bisa berjalan lurus. Ia menjatuhkan badannya tepat di ranjang empuk bernuansa klasik di depannya.
" Terasa sangat nyaman" Gumam Jeni yang masih tengkurap memenuhi seisi ranjang itu.
" Oya kalian jangan pernah bawa aku pulang aku gak ingin pulang. Dan kamu Om Edo jangan bilang sama ayah aku di sini" Ucap Jeni dengan tangan menunjuk namun matanya masih tetutup. Seolah ia tahu jika di depannya adalah Vano dan Edo. Padahal ia tak melihatnya sebelumnya.
" kalian kenapa di sini cepat pergi" teriak Jeni yang mengejutkan Mereka, membuat edo dan Vano beranjak dari tempat duduknya.
Vano mengehela napas sejenak dan beranjak menarik tangan Edo untuk keluar dari kamar, mereka menuju ruang tamu. Untuk sekedar bersantai, bercanda dan berbincang berdua.
" Do!! Aku boleh tanya sesuatu padamu" tanya Vano.
" Tanya apa?" Jawab Edo menyadarkan punggungnya disofa dengan kaki di kuruskan di sofa. Ia segera meyilakan tv agar tidak merasa bosan berdua.
" Kapan kamu akan menikah?" Tanya Vano sonta membuat Edo bangkit dari duduknya.
__ADS_1
" Me-menikah," kata Edo dengan nada sangat gugup.