
Vano berjalan dengan langkah sangat cepat menuju ke kamarnya, ia melihat seorang lelaki duduk tanpa balutan baju menutupi tubuh kekarnya.
Perasaan kesalnya semakin memuncak, ia menggertakkan giginya, langsung mendekati lelaki itu.
Bukkk...bukkk..
Sebuah pukulan tepat di pipi kanan dan kiri Edo.
" Edo..!!" Vano yang baru saja melihat itu langsung menurunkan tangannya, Edo hanya terdiam . Namun rasa kecewanya berani menyentuh Jeni.
" Van, maaf" Pungkas Edo. Ia menyesali apa yang baru saja ia lakukan. Meskipun besok ia akan menikah dengannya, namun Edo juga teringat bagaimana dengan perasaan temannya itu, bahkan dari kecil mereka sudah berteman.
" apa katamu maaf, pasti sekarang kamu senang kan bisa dapatin dia, ayahnya tahu semua perbuwatanmu dan pasti akan menikahkan anaknya denganmu" Ucap Vano, wajah kecewanya kini telihat lesu. Ia menunduk meratapi semua yang terjadi.
" iya dia tau , Dan besok kita menikah" Edo menundukkan kepalanya seketika.
" Shitt.. " Vano mengusap mukanya hingga ke seluruh kepalanya. Ia menahan emosi yang semakin menjadi dalam hatinya. Ia tak bisa melupakan semua perasaannya, bagaimana dengan Jeni nanti apakah dia sama mencintaiku atau tidak.
Edo mendongakkan kepalanya menatap Vano,
" Aku tahu kamu pasti kecewa denganku, pukulah aku sekarang sepuasmu, aku memang sahabat yang tak berguna" Ucap Edo beranjak berdiri menarik tangan Vano menempelkan pada pipinya. Ia berharap Vano memukulinya. Karena sebuah kesalahan yang tak harus ia lakukan.
" Baiklah, kalau memang kamu mencintai dia, aku berharap kamu menjaganya setelah kamu menikah dengannya" Ucap Vano lirih, ia tak kuasa menahan kesedihannya.
Ia tak bisa membendung air mata yang sudah ingin keluar. Terasa berat melepaskan seseorang yang baru saja ia sayangi, baru memulai sebuah kebahagiaan. Namun semuanya sirna, harapan dan perjuangannya seakan tak ada artinya.
Vano hanya bisa menutup matanya, dengan tetesan air mata yang perlahan menjatuhi pipinya.
__ADS_1
Vano duduk di samping Edo, ia merangkul pundak Edo. " Selamat, kamu sudah bisa mendapatkannya. Dan tolong jagalah dia, jika memang dia wanita yang terbaik untukmu, maka aku akan memberikan semuanya pada sahabatku ini" Ucap Vano, mencoba tersenyum, memukul pelan dada Edo.
Kenapa dia merelakan orang yang ia cintai demi melihat orang lain bahagia, kenapa kamu tidak berjuang lagi untuk mendapatkannya. Semua masih ada kesempatan. Aku tahu kalian saling mencintai. Meski kalian tidak ada yang saling jujur, Dan memilih untuk tetap diam merahasiakan perasaan kalian masing-masing, Gumam Edo, ia mencoba tersenyum, namun pandangannya kosong menatap raut wajah sedih Vano.
Edo beranjak berdiri, dari ranjangnya.
" Ikut aku" Ucap Edo ia segera meraih jaket untuk menutupi tubuhnya. Dan tak lupa memakai semua yang ia lepaskan tadi.
Edo menarik tangan Vano untuk pergi ke suatu tampat. Semua permasalah ini harus segera di selesaikan. Jangan sampai ke dua perasaan mereka terambang tanpa penjelasan. Jika mereka saling sadar atas perasaan mereka masing-masing. Maka itu adalah hal baik untuk hubungan mereka ke depan nantinya.
" Kita mau kamana?" Vano nampak bingung, Edo terus manarik tangann Vano, keluar dari apartement dan masuk ke dalam mobilnya.
" Sudah diamlah, kamu nanti akan tahu. Aku ingin kamu menyiapkan mental kamu, untuk bicara semuanya" Ucap Edo. Ia segera mejalankan mobilnya keluar dari parkiran apartement, melesat secepat kilat menuju ke suatu rumah yang sangat familiar di mata Vano.
" Ini bukanya rumah jeni?" Ucap Vano dengan tatapan bingungnya.
Mereka bahkan kini sudah berhenti tepat di depan rumah Jeni. Para pejaga menghampirinya. Vano segera melangkah ke kursi belakang dan bersembunyi di bawahnya, agar pengawal itu tak melihatnya.
" Maaf tuan ada apa?" Tanya salah satu penjaga rumah jeni.
" Aku boleh bicara dengannya" Ucap Edo mencoba basa-basi pada penjaga itu.
" Boleh tuan saya akan antarkan" Jawab penjaga itu, tanpa rasa curiga pada Edo.
Edo beranjak turun dari mobilnya, " Kalian berdua antar aku ke sana" Ucap Edo, membuat dua penjaga itu bingung.
" Biar saya saja yang antar tuan, takutnya di sini nanti gak ada yang jaga" Gumam penjaga itu, agak menundukkan badanya sedikit.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu, antar saja sampai depan pintu" Ucap Edo, matanya sembari melirik ke arah mobil. Ia memberi kode pada Vano untuk segera bersiap keluar dari mobilnya.
" Baiklah tuan" Gumam penjaga itu.
Mereka melangkahkan kakinya menuju ke depan pintu. Melihat Edo dan pejaga itu sudah jauh dan tak memerhatikan ke belakang. Vano beranjak keluar berlari menuju ke balkon kamar Jeni. Ia masih ingat di semak-semak ada tali yang pernah ia tinggalkan. Dengan segera melemparnya ke atas dan merangkak naik dengan sepucuk tali.
" Jeni..!!" Vano mengetuk lirih pintu balkon Jeni.
Mendengar suara Vano jeni bergegas membuka pintu balkon kamarnya. " Vano!!" Matanya melebar seketika, saat melihat Vano bergitu nekat naik ke atas balkon kamarnya. Ia melihat ke bawah ada penjaga atau tidak, dengan segera Jeni menarik tangan Vano masuk ke kamarnya, lalu menutup rapat pintu balkon serta tak lupa menutup semua kaca di sana dengan. Selambu putih yabg terbentang panjang.
" Gimana caranya kamu bisa masuk ke sini? Gimana kalau nanti ayah aku tahu kamu ada di sini" Ucap Jeni, wajahnya terlihat sangat pucat, bahkan bibirnya kini terlihat abu-abu kebiruan. Dan pipinya juga terlihat merah seperti bekas tanparan sangat keras. Matanya juga sembab dan hanya bisa menunduk tanpa menatap Vano di depannya.
Vano menarik tangan Jeni, sebuah kecupan di bibir Jeni menghentikan perkataannya yang bertubu-tubi pada Vano. Jeni terdiam matanya terbelalak, merasakan sebuah kecupan tiba-tiba menyetuh bibirnya. Vano berhenti sejenak, ia memegang ke dua pelipis Jeni. " Aku mencintaimu, aku gak mau kehilanganmu. Jangan pernah pergi lagi dariku" Ucap Vano, sebuah ungkapan perasaan yang membuat Jeni semakin takut.
Jeni menunduk lesu, ia beranjak berdiri dari duduknya. Bagaimana bisa ia mendengar ucapan itu. Besok adalah hari pernikahanya. Dan besoklah semua akan hilang termasuk cinta dan perasaannya pada Vano.
" Kau tahu kamu ragu, sebenarnya kamu mencintaiku kan" Vano beranjak berdiri meraih tangan Jeni.
Jeni hanya bisa terdiam tanpa kata dan terus menunduk, ia meneteskan air matanya. Jeni sebenarnya tak sanggup mengucapkan kata yang berlawanan dengan hatinya saat ini.
" Aku tidak mencintaimu, maaf" Sebuah ucapan yang membuat Vano terdiam seketika.
Vano tersenyum tipis, " Apa kamu yakin tidak mencintaiku" Ucap Vano, kini ia semakin bertindak nekat. Dengan segera melemparkan tubuh Jeni ke ranjang putih miliknya, Sebuah kecupan bertindak liar di leher Jeni. " Vano hentikan" Jeni mencoba menolak.
" Aku mau kamu mengakui semua perasaanmu, dengan ini kita akan terus bersama" Ucap Vano.
" Vano jangan bsrtindak bodoh, ini tidak akan menyelesaikan semua masalah yang ada. Dan ini akan menambah masalah baru dalam hidupku" Jeni mencoba mencenggah Vano bertindak padanya.
__ADS_1
Namun Vano tak perdulikan itu ia segera membuka helaian kain yang menutupi tubuh Jeni, dan ia mulai memainkan sebuah hentakan tak hentinya. Vano menutup mulut Jeni agar tidak berteriak sampai ke luar pintu. Karena di depan pintu kamar Jeni ada penjaga yang menjaganya agar Jeni tidak kabur lagi