Om Muda Mengejar Cinta Jeni

Om Muda Mengejar Cinta Jeni
Balap Mobil


__ADS_3

Jeni turun dari tangga membuat mata Edo tercengang seketika. Ia berpenampilan hanya menggunakan kaos penden sangat oas dengan tubuhnya. Penampilanya sangat sederhana namun tetap terlihat sangat cantik dan anggun.


Mata gadis itu tak memandang sedikitpun ke arah Edo. " Benar benar perintah yang menyebalkan" Gumam Jeni lirih.


" Hai" Sapa Edo tersenyum simpul menatap Calon istrinya itu.


" hem iya" Jeni memutar matanya malas. Melihat Edo lelaki mesum itu saja buwat ia malas apalagi harus jalan berdua dengannya. Tak terpikirkan olehnya sebelumnya.


Kalau bukan karena suruhan ayahnya tak mungkin mau jalan dengannya. Meski hanya satu jam pun. Ia tak sudi jalan dnegannya.


" Udah jangan saling diam. Udah kalian cepat pergi" Ujar ayahnya yang sok baik saat di depan Edo. Padahal tadi aja marah marah gak jelas di suruh pulang segala. Eh taunya suruh pergi sama lelaki mesum ini.


Edo meraih tangan Jeni namun terus di tepis olehnya. " aku bisa jalan sendiri" Ucap Jeni jutek berjalan dengan perasaan kesal dan marah campur jadi satu masuk dalam mobil sport merah di depannya.


Edo tak permasalahkan itu. Ia berjalan di belakang Jeni masuk dalam mobil. Kali ini entah ia akan membawa Jeni kemana.


" Kita mau kemana" tanya Jeni dengan nada malasnya.


" Entahlah." Jawab Edo dengan nada santainya.


" jangan sampai dia berani menyentuhku lagi. Awas saja?" Batin Jeni melirik sekilas ke arah Edo yang fokus pada jalan di depannya.


" Oya kamu tadi kemana?" Tanya Edo.


Jeni hanya diam tak menggubris Edo. Ia menatap ke luar jendela mobil tanpa memandang sedikitpun ke arah Edo di sampingnya.


" Apa kamu gak suka jalan denganku" Edo melihat jeni sepertinya tak begitu suka dengannya. Mungkin karena perjodohan atau ada lelaki lain di hatinya ia tidak begitu tahu.


" Aku lagi capek saja" Ucap Jeni acuh tak memandang Edo di sampingnya.


" Baiklah kamu tidur aja" ucap Edo santai tak terlalu menganggap serius sifat cuek Jeni. Ia tak permasalahkan itu Mungkin dia masih belum terima jika di jodohkan olehnya. Tapi ia yakin lama-lama Jeni juga bertekuk lutut padanya.


" Iya nanti" Jawab Jeni jutek.


Tak lama perjalanan mereka sampai di suatu tempat yang sangat luas. Sebuah taman namun luasnya seperti lapangan Golf. Jeni sebenarnya menatap kagum indahnya taman itu. Tapi ia tak mau menunjukan rasa kagumnya di depan Edo. Nanti dia bisa besar kepala.


Edo membuka pintu mobil mempersilahkan Jeni untuk turun dengan badan sedikit menunduk. Sedangkan tangan kirinya tersampir di belakang pinggang. Di ikuti dengan tangan yang berputar sekilas. Lalu meraih tangan Jeni seolah memepersilahkan seorang outri untuk turun dari kerete kencana.

__ADS_1


Jeni tersipu melihat kelakuan Edo yang begitu romantis padanya. Tak mau memegang tangan Jeni Edo, berjalan lebih dulu ke depan di ikuti Jeni yang berjalan berputar melihat sekelilingnya penuh dengan tanaman bungan yang sudah terbentuk sangat rapi. Dan di hiasi lampu lampion mungkin kalau malam akan erlihat lebih bagus lagi suasanya.


" kamu mau minum" Tanya Edo melirik sekilas ke arah Jeni.


Jeni yang merasa sangat haus dari tadi ia tak bisa menerima tawaran minum dari Edo. Meski hanya untuk melegakan sejanak tenggorokannya. Ia hanya menganggukan kepalanya menandakan ia menerima tawaran Edo.


" Baiklah kamu tunggu sini aku akan belikan kamu minum" Edo bergegas berlari membeli minuman untuk Jeni.


Sedangkan Jeni duduk sendiri di taman. Tak sadar ada seseorang di sampingnya.


" ssstt" Panggil seorang lelaki tepat di belakang telingannya. Membuat Jeni sontak menoleh ke belakang. Mata mereka saling menatap membuat jantung mereka saling beradu kecepatan.


" Vano!!" Ucap jeni memulai pembicaraannya.


" Sst. Jangan bilang aku di sini . Ok !" Ucap Vano mengedipkan mata pada Jeni. Melihat Edo sudah balik dengan membawa 2 kantong plastik entah isinya apa di dalamnya. Vano bergegas pergi agar Edo tak mengetahuinya jika ia diam-diam mengikutinya.


Vano memang diam-diam mengikuti mereka. Karena Ia tak mau kalah start dari Edo. Sepertinya ini akan jadi persaingan diam- diam antara dua sahabat.


" Eh kamu mau kemana?" Ucap Jeni melihat Vano sudah berlari menjauh di belakangnya.


" Bicara sama siapa?" Ucap Edo mengejutkan Jeni.


" Ini aku bawakan beberapa Snack dan minuman untukmu. Kamu bisa tinggal pilih mau yang mana" ucapnya meletakan kantong plastik di tangannya ms tempat duduk tepat samping Jeni.


Tak mau ambil pusing memilih ia mengambil botol air putih. Karena ia sangat haus Jeni meneguknya sampai habis.


Edo tersenyum tipis. " Masih mau lagi" Ucap Edo menyodorkan minuman ke arah Jeni.


" Kenapa dia tahu saja kalau aku lagi haus" Gumam Jeni lirih.  Ia bergegas meraih minuman itu mulai meneguknya juga.


Belum sampai habis ia meletakkan minumannya di sampingnya. " Kamu mau main golf gak. Di seberang sana ada lapangan golf kalau mau aku akan bawa kamu ke sana".


" Gak usah tahu sendiri aku gak hobi main golf" Ucap Jeni menundukan kepalanya. Ia tak suka bermain golf bukannya gak tertarik atau apa tapi dia sudah coba berkali kali tetap gak bisa namun tambah bikin emosi jiwa.


"Oya gimana kalau kamu ikut aku" lanjut Jeni menarik tangan Edo segera masuk ke dalam mobilnya kembali.


" kita mau kemana? Lagian juga baru sampai mau pergi lagi" Ucap Edo.

__ADS_1


" Udah diam ini kesempatan aku untuk ikut pertandingan"


Edo mengerutkan keningnya. " pertandingan apa?" Dia nampak bingung apa yang di bilang Jeni ia mau ikut pertandingan tapi pertandingan apa.


" Nanti kamu juga tahu. Cepat bawa mobilnya ke lapangan. Pkoknya lapangan dekat sini" pungkas Jeni yang mulai memakai sabuk pengamannya.


" harus cepat" Lanjutnya.


" Baiklah" dengan terpaksa Edo menuruti apa kata Jeni. Sifatnya yang kadang masih seperti anak kecil ia mencoba mengimbanginya. Ia yang memilihnya jadi ia harus bisa membuatnya berubah.


Tak lama Edo berhenti di lapangan ia memarkir mobilnya sejenak. Seasana nampak rame membuat edo jadi kebingungan. " sebenarnya ada acara apa di sini" Tanya Edo dengan nada semakin tinggi.


Karena suara riuh penonton di sana membuat suaranya terdengar pelan kalah saing dari mereka.


" Udah ayo temanku sudah menunggu" Jeni menarik tangan Edo masuk ke dalam kerumunan para penonton yang sudah bersorak ria.


Mata Edo tercengang seketika. Ia berada di arena balap mobil dan kali ini apa yang di lakukan calon istrinya ia tidak tahu. Edo kalau soal balap montor ia sangat mahir namun ia tak pernah ikut balapan. Karena ia takut dengan orang tuanya yang super protektif. Ia anak tunggal orang tuanya takut jika Edo kenapa napa tidak ada yang mewarisi harta mereka.


" Jangan bilang kamu mau ikut" Ucap Edo di balas dengan senyuman oleh Jeni yang mulai beranjak pergi meninggalkannya sendiri. Ia masuk ke dalam mobil yang sudah di persiapkan khusus temannya untuk Jeni.


" Mesinya bagus kan" Tanya Jeni oada teman-temannya.


" Tu anak perempuan benar benar gila. Semua balap ia bisa" gumam Edo menggelengkan kepalanya tak menyangka.


" Jen kali ini kamu harus menang" pungkas salah satu temannya.


" Emangnya aku pernah kalah. Sudah kalian lihat saja" Jawab Jeni dengan percaya dirinya. Ia beranjak menancap gas menuju ke garis Start. Di sana hanya ada empat mobil yang akan melaju melawannya.


Seorang gadis berjalan sangat centil dengan baju sexynya khas mereka membawa bendera dan mulai menghitung mundur. Setelah hitungan gadis cantik itu mengibarkan benderanya.


Semua melaju dengan kecepatan di atas rata-rata Jeni dengan santainya mengungguli ke 3 temannya di belakangnya. Namun ada satu musuh bebuyutannya seorang lelaki tampan yang selalu kalah oleh Jeni.


" Jangan senang dulu" Ucap lelaki itu dengan nada sangat tinggi melaju mencoba mendahului Jeni.


Wanita itu hanya senyum tipis mulai bersiap untuk serius kali ini. Ia menambahkan kecepatanya membuatnya unggul lagi di depan. Jeni membuka kaca jendela mobilnya melayangkan ibu jarinya dan menurunkan ke bawah.


Khas Jeni saat detik detik mau menang lagi. Lomba hari ini hanya 5 putaran. Tinggal menghitung detik Jeni sampai di Finish membiat semua penonyon menegang seketika. Karena posisi mereka sangat dekat. Namum Jeni menang tipis di garis finis dari lawannya.

__ADS_1


Suara riuh tepuk tangan dari para penggemarnya dan para kawan- kawannya membuat jeni tersenyum senang. Keluar bersama Edo ada manfaatnya juga. Ia daat ikut balapan tidak akan di omeli orang tuanya.


__ADS_2