
" apa kamu mencariku" Ucap Vano memcolek pipi Jeni.
" ih ... sapa juga yang cari kamu.. ogah" Ucapnya meleparkan pandangannya ke arah Berlawanan. Dengan ke dua tangan bersendekap.
" Jangan malu-malu gitu. Aku tahu kok" Vano menyentuh dagu Jeni menariknya agar ia bisa menatap mata indah Jeni. Sembari menggoda wanita cantik itu.
Menatap bibir seksi Jeni, Vano gak bisa lagi berkutik. ia menelan ludah berkali-kali hingga melegakan tenggorokannya yang terasa kering kembali.
Tanpa persiapan apapun sebuah kecupan mendarat tepat di bibir Jeni. Tak mau menghilangkan kesempatan lagi Vano menciumnya lembut. Seperti tak ada penolakan dari Jeni.
Wanita itu tiba-tiba menikmati dan membalas lumatannya. Hingga berpacu dalam sebuah perasaan . Jeni melingkarkan tangannya ke leher Vano menaikmati semakin dalam.
Suara nada ponsel berbunyi membuat permainan bibir mereka terhenti. Mereka saling menatap satu sama lain.
" ponselku" Ucap Jeni segera mencari ponselnya yang entah ia taruh mana.
Ia beranjak naik ke ranjang, mengobrak abrik bantal di atas ranjangnya.
" ini dia ketemu" Ucap Jeni tersenyum ke arah vano.
" Siapa yang telfon" Vano merasa sangat kecewa tak bisa melanjutkan permainan bibirnya lagi. Ingin sekali rasanya melempar jauh-jauh tuh ponsel agar tidak ada yang mengganggunya lagi saat bermesraan dengannya.
Wajah Jeni yang semula terlihat tersenyum senang menatap ponselnya seakan senyumnya mulai pudar. Wajahnya mulai menegang seketika. Bagaimana tidak ia melihat siapa yang menghubunginya membuat ia sontak terkejut.
" ayah" Pungkas Jeni dengan mata masih melebar tak percaya.
" Gimana nih ayahku hubungi aku, aku harus gimana" Jeni meloncat dari ranjangnya dengan wajah kini mulai panik. Ia mendorong-dorong tubuh Vano membuatnya hanya bisa terdiam tak melawan.
"sudah tenang lah, kenapa kamu panik . Tinggal angkat aja kan gampang" Ucap Vano dengan santainya.
Vano memang tak tahu masalah Jeni sebenarnya. Jeni saja belum cerita ke Vano jika ada masalah dengan ayahnya. Bahkan soal penolakan dirinya dengan perjodohan itu.
Jeni memukul kepala Vano dengan telapak tangannya. Dan meloncat turun dari ranjang. " Enak tinggal ngomong aja gampang. Kamu gak tau masalah aku sebenarnya apa" Ucap Jeni dengan nada semakin meninggi. Ia menekuk wajahnya duduk di ranjang.
__ADS_1
" Emangnya masalah kamu apa?" Tanya Vano dengan santainya beranjak duduk di samping Jeni.
" Karena aku lagi berantem ma ayah aku, aku gak mau pulang dan aku tidak mau lagi tinggal di rumah ayahku. Semua keluargaku sudah beda. Aku gak suka aku ingin bebas seperti biasanya" Ucap Jeni dengan mata terbayang saat masa ia bisa bebas tanpa seorang pun yang mengatur dirinya sebelum keluarganya pulang dari luar negeri.
Namun semenjak ke dua orang tuanya pulang, tiba-tiba menjodohkannya dan saat itu semua kebahagiaan serasa hilang dari hidupnya.
" Apa kamu gak mau di jodohin" Ucap Vano yang nampak penasaran dengan jawaban dari mulut Jeni.
" Gak lah..!! Hari gini masih di jodohi. Ini zaman modern kali, gak jaman lagi seperti jaman kuno di jodoh-jodohkan segala. Lagian aku juga bisa cari suami sendiri nantinya dan jauh lebih baik dari pada dia" Jeni mengerutkan bibirnya nada biscaranya sudah terlihat ia sangat kesal.
Vano kini paham isi hati Jeni. Dalam hatinya kini mulai semangat untuk merebut hati Jeni. Perlahan sudah ada kesempatan untuknya. Namun sepertinya perjuangannya tak cukup sampai di jeni saja.
Orang tuanya entah kendukungnya atau tidak nantinya. Ia masih berpikir belakangan yang penting selama 1 bulan dia di beri kesempatan untuk bersama Jeni sepuasnya. Sebelum ia kembali ke kantor dan mulai menjalankan bisnis keluarganya. Bahkan entah ia akan bertemu lagi dengan Jeni atau tidak nantinya. Ia sih masih berharap selamanya bersama Jeni.
"Udah biarin aja ponsel kamu di sini. Sekarang kamu ikut aku jalan-jalan. Mau gak?" Vano menatap jeni dengan mata satu menyipit seolah menggoda jeni.
Tanpa pikir panjang, ia melemparkan ponselnya ke ranjang segera menarik tangan Vano keluar dari apartemen. Mereka berlari menuruni anak tangga menuju ke parkiran.
" Kita mau pergi kemana?" Tanya Jeni
Ia menuju suatu tempat makan yang tak jauh dari apartemenya. Sebuah restauran kecil ya bisa di bilang mini seperti depot aja.
" kita makan di sini" Jeni nampak memutar mata menatap sekelilingnya. Ia tak menyangka harus makan di tempat seperti itu. Kalurganya bahkan tak pernah mengizinkannya makan di luar. Jika bukan karena ada acara, itu pun juga di restauran besar.
" Apa kamu gak suka" Tanya Vano sembari mengangkat tangannya memanggil pelayan.
" Suka sih. Tapi gak tau aja aku harus makan seperti ini. Tapi gak papa ini pengalamanku yang tak akan aku pernah lupakan" Ucap jeni sembari menatap Vano dengan senyum manis terpancar di wajahnya.
Vano mengacak-acak rambut Jeni. " Kamu nih imut juga ya" Ucap Vano. Sontak membuat jeni terkejut.
Ia tak menyangka candaan Vano tiba-tiba masuk ke hatinya. Ia gak bisa mencerna apa maksud ucapanya itu. Sebagai pujian atau ungkapan perasaannya.
" Kenapa kamu menatapku seperti itu" Ucap Vano manarik dagu jeni ke atas.
__ADS_1
Ia mendekatkan wajahnya hingga desiran nafasnya terasa satu sama lain.
" Apa kamu men.... " belum sempat melanjutkan si pelayan datang pada mereka.
" permisi tuan" Sapa pelayan memetong pembicaraan Vano dengan Jeni.
"Mau pesan apa tuan" lanjut pelayan itu lagi.
Vano menatap ke arah jeni membiarkan dia untuk memesan makanannya lebih dulu.
" Kamu mau makan apa?" tanya Vano pada jeni yang sibuk membuka buku menu.
" aku tiba-tiba lagi gak mood makan. Aku pesan jus strawberry dan stick kentang. Udah itu aja" Ucap Jeni. Sembari mengembalikan buku menu ke arah pelayan.
" Baik non" ucap pelayan itu.
" Ya sudah sama aja sama dia" Ucap Vano dengan senyum manis tepaut di wajahnya.
" kenapa kamu main ikut aja, lagian kan banyak menu yang lain" Jeni mulai mengajak debat dengan Vano.
" Terserah aku mau makan apa daja" Ucap Vano dengan tatapan mengejeknya.
" Baiklah"
Pelayan itu mendengarkan mereka berbicara. Ia mengira masih ada pesanan lagi yang ingin di sampaikan.
" maaf tuan apa ada pesanan lagi" Ucap pelayan menyeka pembicaraan mereka.
" udah itu aja, gak pakai lama ya mbak" ucap Vano dengan mata masih tertuju pada Jeni di depannya.
Saling berdebat tadi, kini mereka saling terdiam tanpa seuntai kata. Tanpa melirik bahkan memandang. Perasaan canggung di antara mereka mulai terjadi. Jemari jeni mulai memucat bahkan. Ia terlihat sangat gugup.
Entah kenapa perasaannya jadi berbeda bahkan ia jauh lebih gugup saat nenatap Vano di sampingnya.
__ADS_1
Dan sebaliknya Vano juga begitu. Ia merasa sangat tegang, bahkan ingin memulai pembicaraan lebih dulu saja susah.