
Vano berbincang dengan Edo hingga mereka tertidur di sofa. Dan tv masih menyala menonton mereka berdua tidur. Jika tv itu bisa bicara pasti dia sangat marah karena terbaikan oleh mereka. Hehe
Jeni tiba-tiba keluar mencari Vano untuk sekedar ingin Vano menemaninya. Dengan pandangan mata yang masih samar-samar Jeni berjalan dengsn tubuh sempoyongan menuju ruang tamu. Ia yang tak sanggup berdiri tegap, pada akhirnya terjatuh juga di atas tubuh Vano, tepat kepalanya bersandar dalam dada bidangnya .membuat Vano sontak terkejut membuka matanya.
Ia melihat Jeni duduk di lantai dengan kepala berada di dadanya. Wajah cantiknya membuat Vano tak bisa berhenti memandang. Ia memegang pipi merah Jeni lembut. " tetnyata dia tidur, kenapa bisa sampai sini. Apa kamu mencariku?" Gumam Vano lirih dengan mengusap lembut rambut Jeni.
" hmmmzz apa yang kamu lakukan?" Ucap jeni dengan nada setengah malas dan mata masih terpejam.
"Dia kalau lagi mabuk lucu juga" Gumam Vano dengan senyum tipisnya. Dengan sigap ia berusaha berdiri, memindah kepala Jeni di sofa. Ia beranjak berdiri dengan sigap mengangkat tubuh Jeni dengan ke dua tangannya, berjalan menuju kamar.
Jeni yang masih bergumam gak jelas dengan kedua tangan melingkar di leher Vano. tiba-tiba sebuah kecupan menempel pada bibir Vano.
Jantung Vano berdetak lebih cepat. Berpacu dalam balutan asmara cinta, bahkan matanya masih terbuka lebar tak percaya dengan apa yang ia rasakan saat ini. Vano membaringkan tubuh Jeni di ranjangnya, belum sempat ia berdiri.
Jeni menarik bajunya ke dalam dekapannya. " temani aku" tubuh Vano seakan tak bisa berkutik. Jantungnya seakan sudah mau copot. Jeni merengkuhnya sangat erat membuat hasratnya mulai bangkit. Namun ia tak mau melakukan hal itu pada gadis kecil di depannya itu sebelum ia minta izin lada orang tuanya dan menikahinya.
Mekipun keinginan itu semakin kuat. Vano tetap berusaha untuk menahan diri. Lagian Jeni tak sadar, ia tidak mau menfaatkan keadaan.
Vano berusaha melepaskan pelukan erat Jeni namun masih tetap sama, ia tak bisa melepaskannya. Rengkuhan jeni semakin erat. Meski di dalam hatinya ia sebenarnya kegirangan berada sangat dekat dengan Jeni, bahkan dalam pelukannya bisa merasakan detak jantung Jeni yang sangat cepat.
" Wanita yang imut" Gumam Vano merapikan rambut jani yang nyangkut di lehernya.
Melihat wajahnya seakan ia bergairah. Tetapi ia tak punya keberanian melakukan itu pada Jeni. Lebih baik di pendam rapat-rapat dengannya.
Merasa tangan Jeni sudah merenggang dari rengkuhannya. Vano segera melepasakan diri. Ia mengangkat kaki Jeni ke atas ranjang dan melepaskan sepatu yang masih melekat di kakinya.
Edo melihat Vano bersama Jeni ia merasa mereka sangat cocok. Namun itu belum saatnya Vano menadapatkan jeni dengan mudah. Apalagi ayah Jeni sudah terlanjur suka dengan Edo bahkan ingin anaknya hanya menikah denganya.
Entah rayuan maut apa yang Edo berikan pada ayahnya, sehingga ayahnya sangat menyayangi bahkan ingin sekali ia menjadi menantunya.
__ADS_1
Edo merasa hatinya sangat panas ia beranjak pergi dari apartement Vano. Ia tak sanggup lagi melihat mereka sedang bermesraan berdua seperti itu. Bahkan sepertinya Jeni ingin selalu dekat dengan Vano, meskipun ia tak sadar sekalipum.
Edo berjalan keluar dari apartemen Vano. Ia menutup kembali pintunya pelan tak mau mereka mendengar ia pergi.
****
Jam berdetak sangat cepat. kini jarum jam sudah menunjukan pukul 07.00. Suasana kali ini nampak sangat sejuk. Vano yang sudah bangun lebih dulu, ia duduk di kursi balkon kamarnya menatap pemandangan kota yang nampak dari luar. Dengan tangan memegang secangkir kopi hangat.
Sesekali ia kenyeduh kopi itu dengan bayangan mata tetarah pada yang amsih tidur lelap di ranjangnya.
" Dia benar-benar tidur sangat lelap" ucap Vano tersenyum tipis memandang Jeni.
Ia kepikiran Edo, kemana dia pergi ia tak melihatnya sama sekali dari tadi malam. Entah kenapa Edo pergi tanpa seuntai kata padanya. Apa mungkin dia cemburu. Ah tapi mana mungkin dia kemarin kan tidur gak tahu dengan apa yang kita lakukan. Vano mencoba menyangkal pikiran tentang Edo
Tak lama suara nada dering ponsel Vano berbunyi. Ia segera meraih ponselnya yang memang dari tadi di letakkan di meja depannya.
" Van maaf aku pulang lebih dulu gak ngabari kamu. Aku ada urusan mendadak" Ucap Edo di balik ponsel.
" Oya di mana Jeni, apa dia sudah bangun" Tanya Edo yang masih nampak sangat pansaran dengan jeni.
"Dia masih tidur tu di ranjangnya"
" Ya sudah jaga dia" Ucap Edo yang tiba-tiba langsung memutuskan telfonnya.
" nih orang aneh banget. Telfon tiba-tiba di matiin begitu aja" cerocos Vano. Ia meletakkan kembali ponselnya. Lalu meraih secangkir kopi di depannya. Lalu menyeduhnya dengan menikmati aroma wangi kopi pag hari.
tak lama jeni terbangun dari ranjangnya.
" huammm" Ia beranjak duduk dengan tangan mengusap ke dua matanya yang terasa masih lengket. Terkena kotoran mata.
__ADS_1
Ia menarik tangannya ke atas merenggangkan otot-totnya yang kaku. Sontak menarik selimut yang menutupi tubuhnya. " di mana aku?" Tanya Jeni pada dirinya sendiri. Ia pandangannya memutar menatap sekeliling ruangan itu. Ruangan yang snagat asing baginya.
Ia berdiri mencoba mengingat-ingat siapa yang membawanya ke tempat itu.
Vano yang mengetahui Jeni sudah terbangun, ia masih di balkon tanpa berkutik sedikitpun. Ia memutuskan untuk diam dan membuat Jeni terkejut dengan kejutan yang akan dia lakukan.
" Siapa yang membawaku kesini" gumam Jeni yang sudah nampak sadar.
Ia berjalan perlahan, melihat ranjang putih itu mengingatkan dia dengan kenangan malam saat ia tak sadar. Kemarin ia menarik tubuh Vano dan mendekatpnya erat. " Ah... malu-maluin sih kamu Jeni. Kenapa jadi agresif gini" Gerutu Jeni dengan memukul-ukul pelan kepalanya.
Jeni berjalan menuju ke depan ia juga mengingat Sedikit wajah Edo dan Vano. Di sofa itu ia mengacup Vano lebih dulu.
" ih...." jeni mengusap bibirnya berkali-kali dengan pinggung tangannya.
" Benar-benar aku tidak waras" Gerutu Jeni terus bergumam gak jelas. Ia membalikkan badannya kembali menuju ranjang. Ia mulai teringat Vano. " Dimana dia?" Dalam hatinya terus bertanya-tanya keberadaan Vano. Yang tak ia lihat saat ia bangun tidur. Ia ingin tanya padanya apa pagi yang ia lakukan semalam selain apa yang ia ingit.
Jeni berharap semoga tak melakukan apa-apa. Merasa ruangan itu nampak.sangat sepi. Ia beranjak duduk di ranjang menatap ke arah kamar Mandi. " apa vano di dalam" Gumam Jeni.
" Lebih baik aku tunggu di sini saja" gumamnya lagi.
Vano berjalan pelan agar langkahnya tak terdengar oleh Jeni. Ia mencoba mengejutkan Jeni dari belakang.
"Padahal aku di Balkon , apa matanya masih bulum terbuka, jelas-jelas terbuka tapi tak melihatku"
Ia merangkat ke ranjang merengkuh pinggang Jeni. Sontak Jeni meloncat dari Duduknya. "VANO !"
Vano hanya melemparkan senyum manisnya menatap Jeni. " pagi" Sapa Vano meloncag turun dari ranjang. Ia berdiri tepat di delan Jeni menarik pinggangnya masuk ke dlaam dekapan hangatnya di pagi hari. Ia menyilakan poni Jeni yang terlihat berantakan.
Wajah Jeni memerah seketika dengan perlakuan vano yang tiba-tiba. Seolah ia tak sanggup lagi berbicara di depannya.
__ADS_1
Sebuah kecupan hangat di kening membuat Jeni semakin memerah. Ia tersenyum tipis dengan pipi yang tiba-tiba merona.