
Vano masih menatap jeni yang duduk terdiam sembari memegang ke dua tangannya. Ia ingin sekali bertanya padanya namun rasa ragu membuat mulutnya tak bisa mengeluarkan seuntai kata dari bibirnya.
" Eh....ka-mu " ucap Vano terpatah-patah.
Jeni menoleh seketika mendengar ucapan aneh Vano itu.
" Eh.. eh apa..apa kamu mau ke toilet. BAB atau hanya buang air kecil dan bla..bla..bla" Cerocos Jeni seolah tak ada ragu lagi dalam hantinya untuk terus berkata pada Vano.
Vano terdiam seolah mulutnya masih menganga mendengar cerocos jeni tak hentinya.
Ia menelan ludahnya. Mengumpulkan semua keberanian untuk menjawab. Vano membungkam mulut Jeni agar terhenti berbicara. Dan mengizinkannya untuk menjawab lebih dulu.
Jeni menarik tangan vano yang menutupi mulutnya.
" kenapa kamu menutup mulutku" Uca0 Jeni dengan tatapan juteknya.
" Apa kamu suka sama pelayan tadi" Ucap Jeni sangat keras, dan tertawa kecil seolah itu hal yang sangat lucu. Meski dalam hati terasa sakit jika mengucap kata itu.
" bukan. Bukan itu" Vano mengibaskan ke dua tangannya ke depan.
Jeni mengentikan ketawanya seketika,
" terus apa?" Wanita itu mengerucutkan bibirnya dengan kening mulai mengerut. Ia memiringkan kepalanya menatap detail wajah Vano dari samping.
"Emmmm.." ia tak bisa lagi berkata, mau mengucap suatu kata namun mulutnya terasa sangat berat untuk mengungkap semua perasaannya yang ingin di ketahui oleh Jenis.
" Gak jadi deh" lanjutnya duduk tegap kembali.
Jeni terdiam menatap aneh pada Vano di sampingnya. Ia berpikir apa yang mau Vano katakan pada dirinya. Tentang hatinya atau tentang mantanya itu.
Tak lama pesanan mereka datang. Vano tak perdulikan soal apa yang ingin ia katakan tadi. Seolah ia lupa dengan semuanya itu. Ia menatap jeni dengan telapak tangan menyangga kepalanya. Bahkan ia tak berhenti memandangi Jeni. Meskipun makanan sudah ada di depannya, bahkan ia tak perdulikan makanan itu.
" Oya Van kenapa kamu mau menolongku?" Tanya Jeni menghilangkan keheningan di antara mereka. Sembari menyantap kentang goreng yang ia pesan, ia menatap ke arah Vano di sampingnya yang anehnya terus memandang wjahanya tanpa berkedip.
Vano hanya diam menatap Jeni dengan tatapan kosong, ia senyum-senyum sendiri solah membayangkan sesuatu dalam bayangan di otaknya bersama dengan Jeni bermesraan berdua.
__ADS_1
" hai... Van kamu gak papa" Jeni menepuk pundak Vano membuatnya terkejut seketika.
" ehh.. Iya ada apa jen?" Jeni memasukan satu irisan ketang goreng dalam mulut Vano. Membuatnya berhenti berbicara seketika. Mata mereka saling tertuju dan Vano spontan memegang tangan Jeni yang masih menyuapinya. Tatapan saling terkunci dalam satu perasaan yang berkobar-kobar jadi satu dalam balutan asmara.
Vano tiba-tiba tersadar dengan pandangannya.
" Eh maaf" Ucap vano seketika melepaskan tangan Jeni.
Jeni menarik tangannya , tersenyum samar.
" Gak papa, kenapa kamu harus minta maaf" Ucap Jeni mulai tersenyum kembali. Seolah ia merasakan hal sama dengan Vano.
Tiba-tiba sebuah kecupan di kening Vano membuatnya kini semakin terkejut. Matanya melebar seketika tak percaya. Ia tak menyangka akan mendapatkan sebuah kecupan tak terduga dari Jeni.
" Kamu sangat nenggemaskan" gumam jeni lirih. Namun terdengar jelas di telinga Vano.
" apa katamu" Tanya Vano dengan tatapan bingung.
" udah lupain saja" ucap jeni melanjutkan menyantap kentang goreng di depannya. Dengan tangan kiri menyangga dagunya.
Merasakan kecupan hangat dari Jeni. Kini Vano semakin yakin dan mantap pada hatinya. Ia tak boleh menyerah dengan apa yang akan terjadi nantinya dengan hubungan mereka. Entah itu hanya sebatas teman atau calon istri nantinya.
" Van" Sapa Jeni membuat senyum Vano terhilang dari raut wajahnya.
" Kenapa?" Ucap Vano dengan tatapan bingung. Dan takut nantinya Jeni akan marah atau akan berkata tentang perasaan yang tak tebalas.
" Apa kamu merasakan hal sama" Ucap Jeni.
Vano terdiam seketika menatap Jeni, Tatapan mereka saling terkunci. Mereka tak hentinya memandang satu sama lain tanpa gerakan sama sekali dari wajahnya.
" Hal yang membuat hatiku merasa sangat gundah, bahkan untuk tidur pun susah" Balas vano .
" Dan nafas terasa sangat sesak" Sambung Jeni.
" Seolah berada dalam lautan persaan yang sama, kita di aduk aduk menjadi sebuah hasrat untuk saling memiliki" Sambung Vano lagi. Dengan mata masih tetap saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
Jeni tersadar dari lamunannya yang dari tadi terus menatap Vano. Seakan ia tak tahu apa yang ia bicarakan tadi.
" Eh... maaf" ucap Jeni. Kembali menatap ke depan dengan menikmati kentang gorongnya lagi. Ia kini terasa sangat ragu bingung dan bimbang jadi satu.
Apa yang tak sengaja yang ia katakan tadi benar-benar gila. Benar-benar sudah gila. Bahkan ia tak percaya dengan apa yang ia ucapkan tadi. Seraya tadi adalah hatinya yang berkata.
Vano juga terdiam ia sangat malu bicara seenaknya saja pada Jeni. Tanpa berpikir panjang tadi. Kini mereka saling menikmati kentang goreng itu hingga habis. Tanpa saling menatap maupun saling sapa lagi. Mereka lirik-lirik kucing jika ingin melihat satu sama lain. Merasa sangat malu dan gugup tentang ucapanya tadi.
Mereka berdua kompak mengambil jus yang sudah ia pesan dan mulai meminumnya habis.
Sepertinya mereka berdua merasa sangat gugup salah tingkah sejak kejadian tadi. Tak menyangka jadi kompak satu sama lain saat mengambil minum dan menghabiskan minumannya.
" Eh aku.. " Ucap Vano
" Eh aku.." ucap jeni
Mereka berbicara kompak berusaha untuk memulai pembicaraan lebih dulu.
" kamu aja dulu" Ucap Vano.
" Gak kamu aja dulu" Ucap Jeni.
" perempuan lebih dulu, karena perempuan tu paling utama" Ucap Vano dengan senyum samarnya.
" Baiklah. Aku mau ke toilet" Ucap jeni.
" Aku juga sama" Sambung Vano.
"Baiklah kita sama-sama 0ergi ke toilet masing-masing" Ucap Jeni beranjak berdiri menuju toilet lebih dulu.
" jantungkunseraya mau copot, perasaan apa ini" gumam Jeni terus berjalan menuju ke toilet yang tak begitu jauh.
Jeni pergi ke toilet bukan nau buang air kecil. Ia hanya mencoba menghilangkan rasa canggungnya , rasa gugupnya yang menyelimuti dalam hatinya. Seakan jantungnya tak bisa berdetak dengan normal.
Jeni berdiri di depan oaca toilet memandang wajahnya sendiri. " jeni jangan gugup ingat apa yang harus kamu lakukan nanti" Gumam Jeni pada dirinya sendiri.
__ADS_1
" sebenarnya perasaan apa ini, perasaan yang tak pernah aku raskaan sebelumnya" Jnei terus bertanya-tanya pada bayangan dirinya di depan kaca.
" Ah udahlah sekarang semua harus kembali seperti semula jangan ada rasa gugup lagi" Gumam Jeni beranjak pergi dari toilet kembali menemui Vano .