Om Muda Mengejar Cinta Jeni

Om Muda Mengejar Cinta Jeni
Sebuah trauma


__ADS_3

Jeni berjalan menghampiri Vano yang ternyata sudah duduk di tempat tadi.


" Hai Van" Sapa Jeni duduk di samping Vano.


" Ayo kita pergi, aku udah bayar semuanya" Vano memegang tanga Jeni berdiri.


" pergi kamana" Jeni nampak bingung .


" Sudah nanti kamu juga akan tahu" Ucap Vano dengan senyuman manis terpancar di raut wajahnya.


Mereka berjalan keluar menuju ke mobil yang terparkir di depan. Tak pikir panjang Mereka segera masuk dalam mobil sport hitam itu.


"Hari ini aku mau ajak kamu ke suatu tempat" ucap Vano sembari mengemudi mobilnya. Ia terlihat sangat fokus dengan jalan didepannya.


Jeni terus menatapnya dan tersenyum tipis, ia menyandarkan kepalanya ke samping bahu Vano. Entah kenapa Jeni juga merasa sangat nyaman berada dalam dekapan Vano yang menghangatkan hatinya. Meskipun dari mulut ia berbicara tidak, tapi hatinya berkata lain. Ia tak bisa pungkiri itu. Jika berlawanan dengan apa yang ia katakan hatinya seolah terus memberontak.


Tak lama perjalanan memakan waktu hingga 1 jam. Vano sampai di sebuah pantai, hal yang paling mengejutkan baginya. Ia tak pernah sama sekali ke pantai sebelumnya. Sejak kejadian masa ia kecil dulu yang membuat ia tak berani ke pantai. Dan kini ia membawa Jeni berharap dia bisa menghilangkan rasa traumanya terhadap pantai.


Dan Jeni juga sama ia tak pernah melihat pantai sebelumnya. Dunianya hanya balap, club malam dan terdiam di rumah seperti seorang wanita yang berada di kurungan penjara.


Vano berlari memutar ke depan mobil, membuka pintu mobilnya, mempersilahkan dengan badan agak membungkuk dan tangan kiri dilipat ke belakang. jeni keluar bak seorang putri kerajaan. Ia memegang erat tangan jeni untuk turun.


" jangan menolak" Ucap Vano menatap ke arah Jeni.


Seraya ia tahu jika Jeni pasti akan menolak ia memegang tangannya. Belum sempat berbicara Jeni mengurungkan niatnya untuk menolak. Dia tersenyum dan menimati pemandangan pantai bersamanya. Vano memegang tangan Jeni untuk pergi ke pinggir pantai. Hanya sekedar mengisi waktu yang sangat membosankan ini bagi mereka. 


Jeni melepaskan tangan Vano dan berlari menuju ke tepi pantai yang terlihat ramai pengunjung itu.


" sangat indah" teriak Jeni dengan merentangkan ke dua tangannya diiringi hembusan angin pantai yang membuat rambutnya kini berantakan berterbangan kemana-mana.


Namun itu tak akan bisa mengurangi kecantikan wajah polos Jeni. Ia masih terlihat cantik dengan rambut panjang terurai di sapu hembusan angin.


Vano tiba-tiba memeluk Jeni dari belakang, membuat Jeni sontak terkejut dengan pelakuannya. " tetaplah diam, ku hanya ingin kamu berada dalam dekapanku. Jangan pernah pergi" Ucap Vano lirih.

__ADS_1


Jeni hanya terdiam kebingungan dengan apa yang Vano katakan padanya. Ia perlahan melepaskan pelukannya dari pinggang nya, lalu membalikkan badan menatap Vano.


Jemarinya memegang pipi Vano, lalu sebuah kecupan mendarat di bibir Vano. Kini lelaki itu tak hanya diam Vano membalas Kecupan jeni semakin dalam. Hingga mereka terbawa dalam hasrat yang seirama.


Jeni menyeka bibirnya dengan punggung tangannya.


" ayo kita pergi mencoba permainan itu" ucap jeni mengehentikan kecupannya. Ia belari menuju ke sebuah permainan banana boat.


Vano mengerutkan keningnya. Ia terlihat masih ragu jika apa yang ia alami dulu akan terjadi lagi.


"Kamu yakin mau naik, aku gak bawa baju buwat ganti" Ucap Vano masih ragu-ragu seolah ia mengalihkan rasa takutnya.


" Kan kamu bisa telfon pelayanmu suruh bawa baju ke sini sekalian belikan aku baju" Ucap Jeni dengan nada keras.


" Baiklah" ucap Vano dengan terpaksa menuruti Jeni. Karena ia juga ingin bisa melihat senyum Jeni lagi terpancar dari raut wajah cantiknya.


" Jen kamu di mana" Ucap Vano melihat sekelilingnya tak ada jeni di sampingnya.


" Kemana dia pergi" Gumam Vano.


Vano tersenyum, dan berlari menuju ke arah Jeni. Dengan perasaan ragu dan takut yang menyelimuti hatinya. Saat ingin mengalahkan rasa takutnya ia beranjak naik. Namun kejadian itu terbayang dalam otaknya. Saat ia petlahan tegelam dan pelampung itu tiba-tiba lepas dari tubuhnya.


" Van kenapa kamu diam cepat naik" Jeni menarik tangan vano agar cepat naik di belakangnya.


" Kita belum pakai pelampung " ucap vano.


" udah gak usah takut, gak bakalan kita tergelam. Aku jago dalam berenang, meskipun kamu gak bisa berenang dengan senang hati aku akan membantumu ke daratan nanti" Jawab jeni dengan santainya. Senyum manis itu tetpancar lagi dari wajah jeni.


Vano terpaksa menuruti apa kata Jeni, setidaknya membuat dia melupakan masalahnya ia rela berkorban. Vano segera naik ke belakang Jeni meskipun hanya berdua setidaknya lebih baik untuk Vano bisa dekat dengan Jeni.


Banana boat sudah di tarik, Jeni menikmati dengan teriakan gembiranya di hiasi percikan air yang membasahi sekujur  tubuhnya. Rambutnya panjangnya jadi mengerut menispis terkena air pantai .


Vano hanya terdiam sebenarnya ia takut jika harus naik banana boat. Karena ia punya trauma masa kecil yang tak pernah dia lupakan sampai sekarang. Ia pernah tergelam di laut saat memaksa ikut main banana boat dengan keluarganya waktu umur 7 tahun. Dan itu hal pertama yang hingga sampai sekarang masih tetap terbayang dalam otaknya.

__ADS_1


Ia kini terdiam memegang erat tali yang melingkar di depannya. Vano mencoba mengatur napasnya agar tidak terlalu takut. Ia mencoba untuk menghilangkan taraumanya.


Semakin jauh perjalanan banana Boat itu terbalik membuat Jeni semakin senang tercebur dalam pantai. Namun berbeda dengan Vano ia menutup matanya semakin tergelam ke bawah.


" Vano??" Jeni melihat sekelilingnya


" Tolong.. tolong.."


" mama!! Ayah!!"


Bayangan ketakutan saat tergelam itu pun muncul begitu saja. Ia hanya tersenyum tipis. Demi melihat Jeni bisa tersenyum lagi ia harus mengorbankan dirinya yang trauma karena air laut.


" Vano.!" Jeni berenang semakin dalam mencoba menggapai tangan Vano, lalu merangkul ke pundak Jeni. Wanita itu membawa Vano berenang ke tepian pantai.


" Vano!! Sadarlah..." Jeni terlihat sangat cemas. Gara-gara memaksa Vano naik ia harus melihatnya hampir tergelam.


" Vano bangun" Jeni mencoba menekan nekan perut Vano untuk mengeluarkan air dari dalam perutnya. Namun nampaknya tak berhasil.


Jeni yang sangat gugup, cemas dan khawatir jadi satu. Ia tak punya pilihan lain ia segera memberinya napas buatan ke mulut Vano.


" Uhukk... hukk.." Vano mulai tersadar , ia begitu banyak mengeluarkan air dari mulutnya.


" Vano kamu gak papa kan" Tanya Jeni memeluk Vano. Entah apa yang hatinya katakan ia merasa tak bisa jika kehilangan Vano. Tapi ia tak tahu perasaan apa itu. Apa itu cinta atau sebuah perasaan sebagai sahabat.


Vano tersenyum tipis. " Gak papa " Vano membalas pelukan Jeni.


" Maafin aku, aku gak tau kalau kamu gak bisa berenang" Ucap Jeni melepaskan pelukannya.


Vano hanya diam ia memegang tangan Jeni dan beranjak berdiri. Ia berjalan menuju ke pinggir pantai.


"Semua berawal dari tempat yang sama" Ucap Vano. membuat Jeni menatapnya kebingungan ia tidak tahu apa maksud Vano berkata seperti itu.


Vano beranjak duduk dan mulai menceritakan semua pada Jeni.

__ADS_1


" Di sini awal aku tergelam waktu itu" Mendengar cerita yang tenang kehidupan Vano. Jeni duduk di samping Vano dengan pandangan tertuju pada raut wajah Vano yang terlihat menunduk. Seolah ia menahan kesedihannya.


__ADS_2