Om Muda Mengejar Cinta Jeni

Om Muda Mengejar Cinta Jeni
kecupan


__ADS_3

"Jen, sekarang aku antar kamu pulang, aku bicara dengan orang tua kamu, jika mereka tetap tak setuju, maka aku akan meyakinkan mereka untuk bisa menerimaku" Vano memegang tangan Jeni, kali ini jeni benar-benar merasa sangat bahagia, baru kali ini ia merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan.


Ia yang sempat kecewa dengan Vano, kini ia merasa semangatnya bangkit lagi, untuk bertahan dengan Vano apapun yang terjadi. Entah sejak kapan perasaan itu timbul. Baginya ia merasa sangat senang sudah menjadi sesuatu yang sangat berharga kini di mata Vano.


"Van.!!" Ucap Edo menepuk pundak Vano.


Vano terdiam, ia mengernyitkan matanya, menoleh ke arah Edo.


"Selamat ya, aku senang kalian bisa bahagia seperti ini" meskipun terluka Edo tetap tersenyum untuk hubungan mereka berdua.


"Dan kamu Jen, maaf buwat semuanya, aku pernah bertindak kasar denganmu. Dan memaksakan cintamu"Edo menatap ke arah Jeni, ia menghela napasnya, menahan air mata yang seakan sudah ingin keluar dadi matanya.


"Sudahlah, pengorbananmu pada kita begitu besar, aku tahu kamu mencintai Jeni, tapi kamu lebih memilih memberikan Jeni padaku dan melepaskan ikatan pernikahan kalian yang akan di langsungkan 2 hari lagi. Dan kami juga akan siap apapun yang akan terjadi nantinya" Vano merengkuh erat kembali sahabatnya itu.


Kalau bukan karena dia, ia tak mungkin bisa mendapatkan kesempatan ini untuk memberi sebuah kejutan buwat Jeni. Sekarang yang ia pikirkan hanya orang tuanya. Apapun yang di bilang orang tuanya nanti Vano merasa sudah siap, jika harus di usir sekalipun dari rumah Jeni, ia akan siap.


"Ya sudah, aku pulang dulu. Antar dia sampai rumah" Ucap Edo tersenyum melirik ke arah Jeni.


"Pastinya" Vano membalas senyuman Edo.


Edo beranjak pergi, tanpa sadar tetesan air mata keluar dari mata bulatnya. Begitu besar pengorbanannya. Ia menyerahkan cintanya dan membiarkan mereka menjalani hidup bahagia berdua. Semoga mereka bahagia, soal acara pernikahan Edo sudah membatalkan semuanya. Termasuk semua undangan sudah ia cabut semuanya.


Namun ia belum bilang dengan orang tua Jeni, tetapi setidaknya orang tuanya juga sudah tahu. Mereka setuju saja, dan malah kagum dengan anaknya. Karena ia begitu besar hatinya merelakan orang yang ia cintai demi sahabatnya.


"Sekarang yuk kita pulang" Ucap Edo memegang tangan Jeni,


"Bentar!!" Jeni menarik tangan Vano.


"Ada apa?" Vano nampak bingung dengan calon istrinya itu.


Jeni mengedipkan mata ke arah gaun di tangan pegawai di belakang Vano.


"Gaun ini jadi aku pakai gak, atau hanya sebatas sebagai penutup wajah tadi" Jeni tersenyum simpul.

__ADS_1


Vano menepuk jidadnya, "iya aku lupa. He..he. iya ini buwat kamu nanti di pernikahan kita" ucap Vano dengan wajah nampak malu kali ini. Bagaimana bisa ia melupakan gaun pengantin untuk Jeni tadi.


"Ya sudah kalau gitu kamu keluar dulu" Jeni mendorong tubuh Vano keluar dari ruangan ganti.


"Sekali saja aku nemenin masak gak boleh"Bisik Vano,


"Apaan sih, gak boleh" Jeni menegaskan dengan suara lantang.


"Sekali saja" Vano mengernyitkan matanya memohon pada Jeni.


"Apaan sih, kalau gitu gak jadi nikah" jeni mengerutkan bibirnya dengan tangan bersendekap, meleparkan wajahnya berlawanan Arah.


"Yah, ngambek, ya sudah aku pergi" Vano terlihat pasrah, ya mau gimana lagi, ia harus nurut sama calon istrinya kali ini, bisa-bisa ia di tendang dan gak jadi nikah.


Tanpa basa-basi Jeni segera menutup pintu ruang ganti, lalu mulai mengenakan gaun pengantin di bantu dengan salah satu pegawai wanita di butik itu. Gaun putih yang sangat indah menjulang panjang ke lantai sangat pas dengan ukuran tubuhnya.


"Sudah selesai belum" tanya Jeni, ia meraba bentuh tubuhnya yang terlihat sangat seksi berbalut gaun pengantin bewarna putih itu. Meskipun masih muda tapi ia sangat cocok mengenakan gaun pengantin itu.


"Non Jeni sangat cantik" Gumam Pegawai itu, yang berdiri di belakangnya.


Pegawai itu segera mengangkat bagian belakang gaun yang memang sangat berat dan terlalu panjang menjulang ke lantai. Jeni berjalan sangat hati-hati membuka ruang ganti yang terlihat sangat luas itu. Khusus untuk Fitting gaun-gaun pengantin.


Vano melihat calon istrinya di depannya membuat ia pangling seketika, dia benar-benar sangat cantik mengenakan gaun pengantin itu. Bahkan gaunya juga sangat pas dengan lekuk tubuhnya.


"Gimana?" Tanya Jeni, melebarkan matanya menatap Vano,


"Jelek!!" Ucap Vano mencoba menjahili Calon istrinya itu.


"Kalau jelek ya sudah gak jadi nikah"ucapnya singkat, ia kembali cemberut lagi.


"Mbak, bantu aku copot gaun ini" Ucap Jeni.


Vano memberi kode pada pegawai itu untuk pergi dari belakang Jeni. Vano berjalan memeluk pinggang Jeni dari belakang.

__ADS_1


"Sayang aku hanya bercanda, gitu aja ngambek sih" Gumam Vano lirih.


"Ya, makanya jangan gitu lagi" Jeni semakin luluh di pelukan Vano. Tak perduli para pegawai itu melihat kemesraan mereka.


"Sekarang, kamu ganti baju dan bungkus bajunya. Aku ingin segera menemui orang tua kamu"Bisik Vano, ia perlahan melepaskan pelukannya. Membalikkan badan Jeni untuk menatap matanya. Sebuah kecupan mesra di kening Jeni.


Para pegawai itu langsung menutup matanya, ya, derita bagi para jomblo melihat kemesraan mereka di depan matanya. Membuat mereka jadi iri, pasangan yang sangat romantis itu tak perdulikan lirikan pegawai di butik.


"Mau sampai kapan mencium keningku, lepaskan lihat banyak orang di sini" gumam Jeni lirik dengan mata melirik ke arah para pegawai yang berdiri di sampingnya.


Vano tersenyum, ya karena terlalu sayangnya sama Jeni hingga mengecup kening Jeni terlalu lama. Tak perdulikan suasana di sekitarnya.


"He..he.. maaf, aku terlalu syaang sama gadis kecilku ini" Ucap Vano mencubit pipi menggemaskan jeni.


"Udah aku mau ganti baju" Jeni bergegas masuk ke dalam ruang ganti lagi. Kali ini para pegawai butik itu dengan segera membantu Jeni untuk melepaskan gaunnya.


Selesai ganti baju kaos yang ia kenakan tadi, ia beranjak dari ruang ganti dan segera menghampiri Vano. "Ayo kita pulang, tapi sebelum pulang bayar dulu gaunnya" Jeni beranjak pergi meninggalkan Vano yang masih duduk sofa depan ruang ganti. Dia membawa bingkisan gaun itu di dalam tasnya dan segera masuk dalam mobil Vano.


"Udah dapat gaun pergi ninggalin aku begitu saja"Gumam Vano, menggelengkan kepalanya. Calonya itu benar-benar sungguh menggemaskan. Ya gitu perempuan kalau sudah dapat yang dia mau pergi gitu aja, tingga lelaki yang suruh bayarin.


Vano melangkahkan kakinya menuju ke kasir. "Berapa mbak total semua tadi" Tanya Vano,


"Bentar ya, saya cek dulu" Ucap pegawai kasir itu.


"Totalnya semua 10 juta untuk 2 gaun" Ucap pegawai itu.


Vano terbelalak seketika. Tadi ia hanya mencoba satu gaun tapi kenapa pulang membawa dua gaun. Dan kenapa dia tidak memberi tahuku sih, gumamnya dalam hati


Dengan terpaksa Vano segera mengelurkan kartu debitnya, dan menyodorkan pada pegawai kasir. "Tunggu sebentar ya kak" Ucap pegawai kasir itu.


"Kak, kata sandinya silahkan ketik" Ucap pegawai itu dengan nada ramahnya. Pada pelanggan baru.


vano dengan segera memencet sandinya, tak butuh waktu lama pegawai itu mengelurkan kartu debit Vano.

__ADS_1


"Terima kasih kak telah belanja di butik ini" sapa ramah pegawai kasir itu.


" Huhh... benar-benar menyebalkan Jeni, kenapa gak bilang kalau beli dua. Hzm tapi gak pa lah demi calon istri uang segitu aja gampang bisa cari lagi nanti" Gumam Vano, ia begitu perhitungan karena beberapa bulan tidak di kasih uang sama mamanya. Dan ia harus bekerja sendiri untuk dapatkan secarik uang.


__ADS_2