
Vano mengemudi mobilnya menjauh daei gerbang sekilah, ia menuju ke sebuah perusahaan besar milik teman mamanya. Seperti aoa kata mamanya. Hari ini adalah hari pertama dia kerja, tetapi hanya jadi karyawan biasa. Meskipun begitu semoga berhasil, gumamnya.
Vano di kasih kesempatan selama 2 bulan untuk bekerja sendiri. Jika dalam dua bulan mamanya merasa dia mampu menjalankan bisnis ayahnya. Maka ia akan menyerahkan semua bisnisnya pada anaknya itu.
Tak lama perjalanan, Vano berhenti tepat di depan perusahaan milik teman mamanya itu. Ia mencoba merapikan rambutnya sejenak dengan jemari tangannya.
Lalu ia juga tak lupa mencoba merapikan kemejanya, yang di lihat sih sepertinya sudah rapi. Bahkan sudah sangat rapi.
Ia neranjak turun dari mobilnya, berjalan memasuki perusahaan itu. Semua mata tertuju padanya. Penampilannya yang berbeda dari karyawan biasa dia lebih elegan dengan balutan kemeja putih, dan jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya. namun penampilannya kini tanpa jas hitam yang biasa ia pakai kalau mau ke kantornya.
Kalau bukan mamanya yang menyuruh dia belajar dari O, maka ia tak mau susah payah untuk bekerja sebagai karyawan biasa. Lebih baik memilih untuk langsung meneruskan bisnis ayahnya. Jika seperti ini akan mengalangi waktu bersama dengan Jeni. Tak akan bisa lagi berduaan dengan Jeni,
Vano berjalan ringan, tegap serta percaya diri berjalan menuju ruangan teman ibunya itu yang di bilang Boss di perusahaan yang ia masuki. dengan wajah penuh karisma Vano menatap pegawai lainya, senyum manisnya membuat para wanita berterbangan sangat bahagia.
Tok..tok..
Ketukan pintu yang lembut, di sisi lain para di belakang dan sampingnya, para pegawai wanita tak berhenti memandang wajah tampannya. Mereka cari kesempatan untuk curi pandang menatap ke arahnya. Tetapi Vano tak perdulikan itu tatapan mereka semua. Seolah ia acuh pada wanita lain selain Jeni. Ia hanya ingin kerja demi mendapatkan hati Jeni dan keluarganya.
tak lama pintu itu terbuka, seorang boss ternama di perusahaan itu, mempersilahkan dia masuk ke dalam.
" Pagi om" Sapa Vano menundukkan badanya sedikit.
" pagi juga, silahkan masuk Van" Jawab Tuan MO. Sembari mempersilahkan Vano untuk masuk ke ruangannya.
" Duduklah" Ucap Tuan mo memeprsilahkan Vano untuk duduk meskipun hanya sebentar.
Tuan mo pemilik perusahaan itu , ia adalah sahabat mama Vano sejak SMA. Namun entah apa mereka ada perasaan atau tidak. Lagian mama Vano juga sudah lama sendiri. Dan tuan Mo juga cerai dari istrinya. Entah apa masalah keluarga mereka. Vano tak begitu perdulikannya, itu urusan keluarga mereka.
" Kamu mau minum apa?" Tanya tuan Mo pada Vano.
" Sudah gak usah om, langsung saja pada intinya. Gak enak di lihat pegawai lainya" Ucap Vano merasa sangat sungkan dengannya. Karena ia juga sudah lama tidak bertemu dengan tuan Mo. Semenjak ayahnya meninggal dulu.
__ADS_1
" baiklah, Mama kamu sudah bilang semuanya, jadi mulai hari ini kamu bekerja bagian akutansi perusahaan" Ucap Tuan Mo. Segera beranjak berdiri, menuju ke meja kerjanya. Meraih bebeberapa catatan file yang harus di kerjakan.
" Ini semua kamu harus kamu rekap, dan ingat jangan sampai salah. Kalau kamu jadi pengusaha kelak tidak tahu bagian pengeluaran dan pendapatan kamu berapa. Tidak akan mungkin bisa menjadi pengusaha sukses. Ujung-ujungnya mampet karena tidak bisa memisahkan ke duanya itu" Tuan Mo menyerahkan beberapa file di tangannya pada Vano yang duduk di sofa.
Vano menerima file itu, tanpa komplain apapun. Bahkan tubenya ia tak bersuara sama sekali di hadapan tuan mo.
" Baik om, aku ambil dan segera kerjakan" Vano beranjak berdiri.
" Baiklah jam istirahat kantor nanti, bawa semuanya ke ruanganku" Tuan mo menegaskan perintahnya.
" Baik tuan" Jawab Vano dan bergegas pergi sebelum karyawan lainnya tahu tetang hubungannya dengan Vano.
ya, Vano hari ini mulai bekerja di salah satu perusahaan. Entah bagaimana pengalamanya nanti. Ia berharap sih lebih baik agar perusahaan itu bisa bekembang dengan bantuanya. Mamanya juga berharap Vano akan berhasil dalam bisnis, dan juga berhasil mendapatkan hati seorang wanita.
" semoga hari ini menyenangkan" Gumam Vano berjalan dengan wajah penuh dengan senyuman ceria.
" Vano semangat" kata Vano memberikan semangat pada dirinya sendiri.
" Brukkkk.."
" Maaf..maaf" Ucap salah satu wanita yang tanpa sengaja menabraknya. Ia terlihat begitu sangat polos.
" Kalau jalan pakai mata" ucap Vano, ia melanjutkan langkahnya lagi. Tanpa perdulikan wanita lugu itu.
" Baik tuan" Jawab Wanita itu terus menundukkan kepalanya.
Vano tidak perdulikan wanita itu, baginya kini tak ada yang menarik selain Jeni. Dia begitu membuat hatinya bagai di aduk-aduk. Bahkan banyak wanita cantik juga di perusahaan itu. Vano masih tidak tertarik sama sekali, bahkan miliriknya saja tidak.
#Back Jeni.
Suasana riuh kelas Jeni membuat wanita cantik yang duduk melamun di mejanya merasa terganggu.
__ADS_1
Ia mengerutkan bibirnya sembari menatap kesal pada anak-anak di ruangan itu.
" Eh jen kenapa kamu diam dari tadi" Tanya Via yang kini duduk kembali di sampingnya sejak vano tidak ke sekolahan itu lagi.
Jeni mendengus, " Entahlah, pikiranku lagi melayang-layang entah kemana nih" Ucap Jeni mengerutkan bibirnya.
" Pasti kamu lagi mikirin Vano ya" Via sahabatnya itu, mencoba menggodanya.
" Apaan sih siapa juga yang mikirin dia, cuma kang..." Jeni menghentikan ucapanya, ia hampir saja keceplosan tentang perasaannya pada Vano.
" Kengen ya" sambung Lisa mencolek Jeni dari belakang tempat duduknya.
" Cie.. lagi kangen nih sama pujaan hatinya" saut Via dengan nada menggoda pada Jeni.
" Apaan sih kalian" Jeni mencoba menghindar dari mereka. Mungkin suasana hatinya sedang tidak mood membuat ia tak merespon candaan temannya.
Wanita itu beranjak berdiri, keluar dari kelas menuju ke kantin.
" Ehh... kapan kamu mau menikah" Tanya Linda dengan nada keras. Ia memang sengaja mengeraskan seuaranya, agar anak-anak yang duduk bersantai di sekitarnya kendengar ucapan mereka.
" Apa katamu?" Jeni nampak sangat kesal. Ia menggertakkan giginya, menatap tajam ke arah Linda.
" Menikah!!" Ucap Linda, ia melebarkan matanya seolah mengejek Jeni.
" Aku tidak akan pernah menikah" Ucap Jeni beranjak meninggalkan Linda.
Jika terus ladenin omongan linda juga tidak ada habisnya, nenek lampir itu hanya bikin tambah kesal dan moodku menjadi jelek. Lebih baik pergi makan, mengisi perut yang terasa mengaduk-aduk, gumamnya.
" shitt.. " umpat Linda dengan nada sangat kesal.
" Tu anak gak bisa di pancing ya, hmmzz kalau aku bilang sama semua anak di sini. Bagaimana ya reaksi mereka" Gumam linda, tatapan mata liciknya terpancar dari mata bulatnya.
__ADS_1
Ia merasa tak bisa menyaingi Jeni dari segi pacar dan keluarganya, bahkan dia semenjak putus selalu dapat yang lebih baik, dan lebih tampan dari mantan-antanya. Membuat Linda semakin iri dengannya.