
Pertandingan balap sudah selesai semua berkumpul di kelompoknya masing masing. Untuk merayakan kemenangan atas dirinya. Dan Jeni menemui seseorang yang dari tadi melihatnya dari jauh. Ia duduk sendiri di tempat duduk penonton dengan tatapan kagum mengarah padanya.
Ia melangkah ringan menerobos kerumunan para penonton hanya untuk menghampiri seorang lelaki yang sangat familiar di matanya itu.
" Hai!" Sapa Jeni duduk di samping Vano. Ia tersenyum menggoyang-goyangkan kakinya dengan sesekali melirik ke arah Lelaki di sampingnya itu.
" Ternyata kamu memang wanita luar biasa" Ucap Vano menatap ke arahnya Jeni di sampingnya. Tangannya merayap di samping mencoba memegang tangan Jeni namun seolah Jeni terus menghindar tangannya bergerak seolah ia mengetahui keinginan Vano.
" Tapi gimana kamu bisa tahu aku ada di sini" lanjutnya tak menyangka. Dia mencoba menghilangkan rasa canggung di antara mereka fengan saling berbicara basa-basi dengannya.
Jeni tahu saat ia duduk sendiri di tempat itu. Bahkan Ia rela meninggalkan Edo yang terlihat kebingungan mencarinya di tengah banyak kerumunan orang yang mulai merayakan kemenangan. Itu dia lakukan hanya sekedar untuk pergi dari sisi Edo.
" Aku melihatmu saat pertandingan tadi" Ucap Jeni melempar senyum manis padanya. Dengan duduk santai ke dua tangannya menyangga badan mungilnya serta menggoyangkan ke dua kakinya perlahan.
Seakan hatinya berbunga-bunga tanpa sebab. Jeni terus tersenyum memandang ke depan.
" Oya bawa aku pergi dari Edo " Ucap Jeni menoleh ke arah Vano. Mereka tepat saling memandang tatapan mereka terkunci seolah ada bumbu-bumbu cinta bertaburan di udara.
Vano memang diam-diam memendam rasa dengan jeni. Ia baru menyadari saat dia benar benar kehilangan dia sehari tidak bertemu dia seakan sudah ratusan tahun tak pernah bertemu. Mungkin itu terlihat lebay tapi dia tak perduli karena memang itulah kenyataannya. Bahkan dia tidak bisa tidur selalu terbayang wajah cantiknya yang terlintas di pikirannya.
Dan jeni masih terasa hambar soal perasaannya. Ia belum menaruh hati sama sekali dengan Vano. Apalagi Edo sama sekali tidak ada rasa. Jeni hanya menganggap mereka teman baru dan menghargai mereka karena lebih tua darinya. Lagian dia juga sudah biasa berteman dengan orang yang lebih tua. Karena dalam dunia balapnya banyak teman yang lebih tua darinya. Namun dia malah senang bergaul dengan yang lebih tua bahkan lebih punya pengalaman banyak. Bisa bertukar cerita 0engalaman masing-masing.
Namun bagi Jeni saat ini bukan soal cinta dan perasaanya. Dia hanya fokus ingin membalas sepupunya itu, yang tidak pernah mau kalah darinya bahkan pacarnya pun di rabut berkali-kali. Takutnya jika ia menikah nanti suaminya juga yang di embat. Jika tidak di beri pelajaran maka dia akan tetap sama.
Vano dengan sengaja memegang tangan jeni yang berada di sampingnya menyangga tubuh mungil wanita itu. Sontak Jeni menoleh seketika ia terkejut dan memarik tangannya dari tangan Vano.
" Eh..ma-maaf" Ucap Vano tiba-tiba merasa gugup ia menjawab dengan nada terpatah patah. Ia sangat grogi harus menatap jelas mata wanita yang ia sukai di depannya. Apalagi harus ketahuan ia berani memegangnya
__ADS_1
" gak papa" ucap Jeni dengan santainya.
Pandangannya tertuju pada Edo di depannya terlihat sedang kebingungan mencarinya di balik kerumunan para penonton.
Hingga pandangan edo tertuju padanya.
" Jeni!!" Teriak Edo berlari mendekati jeni.
Bukannya wanita itu terlihat senang malah Jeni terdiam seketika. Wajahnya kebingungan apa yang harus ia lakukan sekarang.
" Van !!" Jeni mencoba memegang Vano di sampingnya tapi tak ada siapapun di sampingnya.
" Dimana dia?" Jeni menoleh ke kanan, ke kiri kebingungan dan ke belakang mencoba mencari dimana Vano pergi. Ia tidak tahu kapan dia pergi tadi. Bahkan lelaki itu tidak berpamitan dengannya sebelumnya.
" kamu mencari siapa?" Tanya Edo duduk di sampingnya.
" gak tadi ada temenku di sini. Tapi entah pergi kemana dia" Jeni terdiam seolah wajahnya malas menatap Edo di sampingnya.
" Biasa aja " Jawab Jeni cuek ia beranjak berdiri melangkahkan kakinya pergi menuju ke kerumunan para penggemaenya dengan perasaan kesal dan malasnya.
" jeni tunggu" Edo berlari meraih tangan nya hingga membuat langkahnya terhenti.
" Ada apa?" Tanya jeni cuek tanpa memandang Edo di belakangnya.
Tak terima terus di cuekin oleh Jeni. Ia menarik tangan jeni hingga tubuhnya masuk ke dalam dekapan hangatnya. Pandangan mereka saling tertuju. Jeni mencoba meronta untuk melepaskan diri. Namun dengan sigap Edo menyentuh bibir seksi Jeni hingga melumatnya dalam. Jeni terus meronta namun tak di perdulikan oleh Edo.
Hingga semua mata tertuju pada aksi mereka. Dengan suara riuh meriah tepuk tangan seolah ada tontonan heboh dan Vano hanya menatap mereka dari jauh. Ia sangat marah dengan apa yang ia lihat. Tak mau melihat adegan itu lama Vano beranjak pergi bukannya ia tak mau menolong Jeni tapi Edo adalah sahabatnya ia tidak mau berantem gara-gara seorang wanita.
__ADS_1
Di pikirannya jika bisa bersaing dengan sehat. Kenapa tidak di lakukan?
Vano lebih baik menghindar memantau mereka dari jauh dari pada tonjok-tonjokan gak jelas sesama teman. Apalagi ia juga tidak tahu apa yang ada dalam hati Jeni dan siapa yang akan di pilihnya nanti.
Edo melepaskan ciumannya sejenak. Jeni mengangkat tangannya seakan ia ingin menampar namun semua orang menatapnya ia tidak mau repurtasinya buruk di depan teman temannya. Mereka mengira dia adalah pacar jeni jadi bagi mereka melakukan hal itu wajar. Namun jika Jeni menampar Edo di kira nanti KDRT padahal kan mereka belum tahu yang sebenarnya.
" Kalian cocok" ucap temannya di balik kerumunan orang menatap mereka.
" apaan sih kalian" Jeni berdecak kesal menghentakan kakinya menatap beranjak pergi meninggalkan Edo sendiri.
Ia sangat kesal seakan di permalukan Edo di depan semua orang. Dia benar-benar membuat Jeni merasa sangat muak.
Jeni berjalan dengan langkah cepat mengusap berkali -kali bibir seksinya dengan punggung tangannya. Ia tak mau ada bekas ciuman Edo di bibirnya. Karena bagi dia itu hal menjijikan ciuman dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai.
Ia berjalan tanpa ragu menerobos jalanan dalam gelapnya malam yang terasa sangat sepi hanya beberapa mobil yang lewat. Sekilas Jeni menatap jam yang melinggkar di tangannya sudah menunjukan pukul 21.00.
" belum begitu malam" gumamnya berjalan dengan langkah lebih cepat. Ia merasa ada yang selalu mengikutinya di belakang. Wanita itu merasa takut jika itu Edo yang sudah mulai mengejarnya. Ia berlari untuk menghindar dari kerjaran Edo yang membuatnya kesal.
" Jeni !" Teriak Edo berlari mencoba mencari Jeni.
" Sialan kenapa dia mengejarku" Pungkas Jeni bedecak kesal. Tiba-tiba seseorang menarik tangannya berlari bersembunyi di gang kecil sela antara rumah besar yang ada di sampingnya.
" Aku akan membawamu pergi" Ucap Vano memegang ke dua bahu Jeni menatapnya. Hingga tatapan mereka saling terkunci.
" Vano!" Wanita itu memeluk erat tubuh Vano untuk menghilangkan kegundahan hatinya sejenak.
Jeni berpikir ini saatnya ia pergi dari rumah untuk menghindari keluarganya. Ia tidak mau keluarganya terus mengatur hidup nya soal pernikahan. Bagi dia pernikahan tak akan seindah yang di bayangkan. Dia masih kecil dan masih banyak hal yang harus ia lakukan nantinya.
__ADS_1
" Untung aja ada kamu" gumam Jeni melepaskan pelukannya.
Vano terdiam kaku seketika. Ia terkejut dengan pelukan tiba-tiba dari Jeni. Ia tak bisa mengucap satu kata pun dari mulutnya. Namun di hatinya berteriak kegirangan menerima pelukan tak terduga itu.