
Jeni beranjak berdiri tepat di depan lelaki itu. Ia tersenyum tipis " Asal kamu tahu sekarang aku sudah tidak cinta sama sekali denganmu" Ucap Jeni mendorong pundak rayhan mantanya berjalan pergi dengan langkah erburu buru meninghalakn reyhan di belakangnya.
" Jeni tunggu!!" Ucap rayhan mencoba mencegah Jeni.
Dengan segera Vano mengejar Jeni ia tahu jika jeni pasti sedih. Ia menahan tangisnya agar tidak keluar saat mantannya ada di depannya.
Vano terus berlari mengejar Jeni. Hingga ia bisa menggapai tangan Jeni.
" Jeni aku tahu apa yang kamu rasakan" pungkas Vano menarik tangan Jeni untuk pergi menuju parkiran.
"Kita mau kemana??" ucap Jeni seolah sudah tak kuasa menahan air mata.
"Udah diam" Vano segera membuka mobilnya. Ia manarik Jeni masuk ke dalam mobil. Agar semua orang tidak melihat nya dan Jeni.
"Udah sekarang luapkan semua tangisanmu" pungkas Vano
Jeni mulai meneteskan air matanya menangis tersedu sedu.
Bagaimana tidak orang yang dulu ia sayangi diam diam menghianatinya bersama dengan sepupunya sediri. Dulu ia mati matian ngejar dia sekarang hanya luka yang tersimpan.
"Apa laki-laki tadi pacar kamu??" Tanya Vano mencoba memgang pundak Jeni namun selalu di tepis olehnya.
"Bukan" Jawab jeni dengan nada semakin tinggi.
"kenapa kamu menangis kalau bukan. Pasti dia sudah nyakiti kamu ya?" Tanya Vano lagi yang samakin penasaran dengan kisah cintanya.
" Tisu" Ucap Jeni mengulurkan tangannya ke arah Vano dengan nada sesegukan.
Vano dengan segera memberi tisu untuk Jeni.
" Dia tu orang yang ku benci" jawab Jeni.
" Benci tapi sayang" Ucap Vano.
Jeni mengeluarkan ingusnya dan membuang ke bawah kaki Vano.
" Ih.. jorok" Gumam Vano mengangkat kakinya bersila . Ia seolah jijik kakinya terkena ingus dari Jeni.
" kenapa cinta tak berpihak padaku. Udah capek-capek aku mengejar cintanya. Tapi apa daya seseorang merebutnya dengan mudah" gumam Jeni. Vano kini hanya terdiam mendengarkan ucapan Jeni.
" Dia gak sadar apa kalau aku tuh tulus dengannya" Gumam Jeni dengan terus mengeluarkan ingusnya membuang ke bawah kaki Vano lagi hingga jadi tumpukan tisu di bawah kaki.
Vano menatapnya sangat jijik . " gimana nanti aku bersihin nya" Gumam Vano menatap sampah di bawahnya.
Jeni menarik baju Vano menyandarkan kepalanya ke dada Vano.
"Aku boleh tanya gak. Apa cinta tu sesakit ini" ucap Jeni.
"Iya tapi jangan buang ingus di bajuku" Ucap Vano seolah ingin menghindar. Namun ia tak bisa tangannya mengusap lembut air mata di pipi Jeni.
Membuat Jeni menghentikan tangisannya menatap Vano. " jangan pernah mencintai orang yang belum tentu dia mencintai kamu. Ingat seseorang laki laki yang baik akan selalu menghargai setiap perjuanganmu. Namun jika dia mengacuhkanmu berarti dia bukan terbaik buwat kamu. Masih banya lelaki yang jauh lebih baik dan selalu sayang denganmu" pungkas Vano membuat Jeni hanya dia mendengarkan.
__ADS_1
Meskipun dalam hati Vano berharap ia tahu perasaannya yang tiba tiba jatuh cinta dengannya.
" OM!!" Ucap Jeni menatap Vano .
Melihat tatapan Jeni yang begitu menggoda tak bisa menahan hasratnya ingin menikmati bibir mungil Jeni.ia semakin mendekatkan wajahnya mencium lembut bibir mungil Jeni.
Kini sepertinya Jeni hanya diam tak ada penolakan sama sekali dari tubuhnya. Ciuman yang semakin dalam membuat Jeni sangat gerah. Vano menikmati ciuman yang terasa lebih dari biasanya karena tanpa penolakan darinya.
Tak berhenti di situ tangan Vano megang paha mulus milik Jeni yang tertutup rok pendek miliknya.membuat ciuman mereka semakin panas.
" Tok..tokk.tok..." suara ketukan di luar pintu mobil Vano.
Jeni segera melepaskan ciumannya mendorong tubuh Vano menjauh darinya.
"Sialan siapa sih ni ganggu aja" Decak Vano kesal.
Jeni segera membersihkan bibirnya dengan punggung tsngannya. Dan merapikan rok pendeknya.
Vano segera membuka kaca mobilnya. " ada apa?" Pungkas Vano melihat ada seorang pelayannya datang.
"Nyonya besar suruh tuan sekarang pulang dulu" ucap pelayan itu.
"Baiklah aku akan segera pulang nanti" Jawab Vano. Menutup kembali kaca mobilnya.
" Udah kamu jangan sedih lagi" Ucap Vano menyilakan rambut Jeni ke belakang telingannya.
Jeni hanya diam menganggukan kepalanya.
" Apa kamu hak nerusin pelajaran nanti" Ucap Vano.
Jeni menggelengkan kepalanya.
Vano menghela nafasnya sejenak. " Baiklah aku ajak kamu" ucap vano.
Jeni tersenyum manis di hadapan Vano. Ia sangat senang bisa pergi lagi dari sekolahan.
"Aku akan suruh orang untuk ambil mobil kamu nanti" Ucap Vano. Segera menjalankan mobilnya pergi dari parkiran sekolahan.
Di perjalanan Jeni yang merasa fikirannya sangat kesal ia terlihat sudah tertidur lelap. Vano mengusap wajah tanpa balutan make up itu dengan jemari jemarinya.
" Kamu sangat cantik" gumam Vano terus menatapnya.
" Haahhh..." jeni memiringkan badannya ke arah Vano.
Melihat tubuh jeni ia merasa sangat ingin melahapnya. Gimana tidak tubuhnya sangat sexy bahkan baju sekolahnya sangat ketat. Membuat ia tak bisa berhenti memandangnya.
20 menit perjalanan Vano berhenti tepat di depan rumahnya.
" jen..." panggil Vano memegang pundak jeni.
" Hmmm ada apa? Ucap Jeni dengan nada malasnya.
__ADS_1
"Sudah sampai ayo cepat turun" ucap Vano segera melepaskan baju sekolahnya.
"Jangan ngintip" Ucap Vano membuka celananya ganti dengan baju yang sudah ia bawa di kursi belakang.
Jeni menutupi matanya dengan ke dua tangannya memalingkan pandangannya.
"Jangan lihat bisa pingsan kamu nanti" ucap Vano segera memakai baju gantinya.
"Sudah belum" ucap Jeni.
"Sudah" Ucap Vano bergegas turun membuka pintu mobilnya untuk Jeni.
Terlihat ada beberapa mobil terparkir di depan rumah Vano membuat nya bingung. Ada acara apa smeua pada berkumpul di rumah. Vano memegang tangan jeni masuk ke dalam rumah.
"Lepaskan" ucap Jeni melepaskan tangannya.
"Aku bisa jalan sendiri" pungkas Jeni berjalan di belakang Vano.
Tak permasalahkan itu Vano segera masuk ke rumah menuju ruang tamu. Terlihat beberapa orang sudah berkumpul di sana.
" Vano sini" panggil ibunya.
Vano dan jeni berjalan mendekat ke arah ibunya.
" Ini anak aku. Ganteng kan?" Pungkas mama Vano.
"Jadi ini nanti yang akan menikah dengan Maya" Sambung salah satu orang yang ada di sana.
" Menikah??" Vano nampak terkejut ia memegang erat tangan Jeni agar ia tak pergi meninggalkannya.
" Maaf buwat kalian semua aku sudah punya calon istri sendiri" Ucap Vano membuat Jeni terkejut.
Ia bingung siapa calon istri Vano. Vano sebelumnya tak cerita dengan jeni.
Vano melirik sejenak ke arah Jeni.
"Dia istri aku" ia mendorong pelan tubuh jeni ke depan membuat semua mata memandang Jeni terkejut. Bagaimana tidak terkejut jeni masih berpakaian lengkap seragam sekklah mau jadi calon istri Vano.dan sedangakan maya sudah sangat mapan dari segi materi.
" Vano apa yang kamu bilang" ucap Mama Vano menarik tangan Vano.
"Ya sudah maaf, kita mau pamit pulang dulu" Ucap keluarga maya bergegas pergi dari rumah Vano.
"Vano apa yang kamu lakukan" ucap Jeni
" Maaf kamu harus pura pura jadi istriku" Ucap Vano.
"Maa, bukannya mama sejak awal dukung aku dengan Jeni kenapa mama sekarang menjodohkan ku dengan orang lain" Ucap Vano dengan anda kesalnya
" Mama gak enak dengan teman mama terlanjur setuju dengan perjodohan itu. Tapi kalau kamu nantinya mau menikah dengannya gak papa" ucap mama Vano beranjak pergi.
Vano menghela nafas lega akhirnya mamanya setuju dengan keputusan yang ia ambil.
__ADS_1