Om Muda Mengejar Cinta Jeni

Om Muda Mengejar Cinta Jeni
gak peka


__ADS_3

Perjalanan yang menyenangkan hari ini membuat Jeni semakin ceria. Seolah ia melupakan masalahnya dengan ayahnya. Ia dari tadi tidak mengaktifkan ponselnya dan sengaja untuk meninggalkan di apartemen Vano. Ia tidak mau hari ini ada yang menganggunya lagi.


Dan Vano hari ini pulang lebih dulu, ya mau gimana lagi ia tidak mungkin bersama dalam satu atap lagi bersama Jeni. Lagian status mereka belum suami istri. Mereka takut terjadi apa-apa nantinya. Dan Vano benar-benar menjaga Jeni sampai ia menikah nanti.


Jeni yang habis membersihkan badannya yang terasa sangat lengket bekas air laut tadi. Kini ia beranjak menuju ranjangnya meraih ponselnya di meja kecil dekat ranjangnya.


Ia berharap ada Wa dari Vano "  Semoga saja dia hubungi aku" Gumam Jeni menjatuhkan tubuhnya terbaring di ranjang empuk yang kini jadi miliknya sementara.


Tangannya leluasa meraih ponsel di sampingnya. Ia mulai mengaktigkan ponselnya, menunggu ada pesan atau chat dari Vano atau tidak. Lama menunggu ia hanya terus membuka menu dalam ponselnya menggeser-geser berkali kali. Menunggu Vano chat lebih dulu, ya meskipun hanya sekedar kirim pesan kabari jika dia sudah di rumah atau sekdar basa-basi sedikit.


Lama menunggu hingga hampir 3 jam Vano belum juga menghubunginya. Jeni yang merasa sudah mulai mengantuk ia perlahan memejamkan matanya dengan ponsel di atas dadanya di balik genggaman tangan kananya.


Ting...


Suara chat masuk di ponselnya, sontak Jeni membuka matanya lebar-lebar meloncat langsung duduk di ranjangnya.


" Semoga dia" Gumam Jeni lirih, dengan senyum gembira terpancar di wajahnya. Ia berharap itu Vano. Karena sudah sejak tadi ia menantikan chat darinya.


" yee.. ternyata benar dia" Jeni beranjak berdiri. Mengekpresikan rasa senangnya dengan menari gembira.


Ia segera membuka chat dari Vano.


Chat Wa Vano pada Manda.


" Kamu sudah tidur" Vano.


" Belum" Manda.


" Ya sudah selamat tidur"


" Kok ya sudah sih" Pakai emoji sedih.


" Aku takutnya ganggu, lagian ini sudah malam cepat tidur"


" Uya sudah selamat malam" Jeni mengakhiri chatnya. Ia terlihat sangat kesal, lalu melemparkan ponselnya ke ranjang dan beranjak menarik selimut menutupi sekujur tubuhnya.


" Nyebelin banget sih, baru Chat eh malah singkat, padat, gak jelas lagi" Gerutu Jeni dengan bibir mengerucut. Ia sangat kesal dengan Vano berharap ia menemaninya meskipun hanya sekedar lewat Chat. Eh ternyata dia malah bilang ya sudah gitu aja.


" Dasar gak peka" Gumam jeni lirih.

__ADS_1


Jeni perlahan menutup matanya yang sudah merasa sangat berat. Rasa ngantuknya sudah tak tertahan lagi.


*****


Di balik kamar mewah milik Vano, ia hanya diam duduk bersandar di ranjang dengan menggenggam ponsel di tangannya. 


" Jeni, lama-lama kamu membuatku gila" Gumam Vano. Ia dari tadi senyum-senyum sendiri. Namun dia kurang peka sih sama Jeni.


Jeni sudah kasih kode eh malah dia gak nyambung saat chat dan menyudai chat mereka begitu saja.


Terlintas di benak Vano untuk segera melamar Jeni. Agar tidak menimbukan suatu hal buruk nantinya.


" Sepertinya aku harus segera bilang pada orang tuanya untuk melamar Jeni. Aku tidak perduli apa kata mereka nanti mau menolak atau menerima. Aku tidak akan menyerah. Tunggu aku Jeni" Gumam Vano. Ia membaringkan tubuhnya ke ranjang hingga tertidur pulas.


****


Keesokan harinya, matahari nampak sudah muncul dengan senyum merekahnya. Sinar matahari masuk ke dalam menembus kaca jendela apartement Vano yang kini ditinggali Jeni.


Namun kali ini Jeni sudah bersiap untuk pergi ke sekolah lagi. Berkat Vano ia bisa mengambil bajunya dengan bantuan pelayan di rumahnya diam-diam membawa bajunya ke rumah Vano.


Ia sudah berdiri di depan kaca dengan baju sekolah lengkap. Tinggal membalut sedikit wajahnya dengan make up tipis.


Ia melihat jam tangan coklat yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukan pukul 06.30. Hari ini akan ada ujian sekolah. Ia belum ada persiapan sama sekali sebelumnya.


Tanpa banyak bicara lagi Jeni berlari keluar dari apartemenya.


Hari ini ia tak menghubungi Vano jika dia sekolah. Jeni berharap Vano peka dan datang menjemputnya untuk mengantarnya ke sekolah.


Ia menatap ke depan apartement melihat mobil Vano sudah ada di depan. Namun sepertinya Vano tak ingin keluar dari mobilnya.


Ia bergumam dalam hati.


Ternyata dia peka juga, belum aku kode juga udah tahu aja gimana kebiasanku. Sepertinyanya ini akan jadi hal yang sangat menarik tentang cintaku, yang akan aku jalankan mulai sekarang.


Jeni berlari masuk ke dalam mobil Aron.


" hai. Udah lama nunggu" Sapa jeni dengan senyum semangat paginya hari ini.


" lihat rambut kamu masih berantakan" Ucap Vano merapikan poni jeni yang berantakan menutupi wajahnya.

__ADS_1


" he.he. Makasih, udah ayo berangkat" Ucap Jeni. Yang mulai mengenakan sabuk pangaman di tubuhnya.


Vano mulai menyalakan mesin mobilnya. Lalu perlahan melaju dengan kecepatan standart kaluar dari depan apartemen miliknya.


Di balik mobil sport warna hitam terparkir di depan. Apartemen mewah itu. Edo berada di dalam mengamati mereka. Ia sebanarnya belum rela jika Vano mendapatkan hati Jeni kelak nanti. Karena baginya Jeni lah cinta yang selama ini ia cari.


Berkali-kali ganti-ganti pasangan, hanya Jeni lah yang bisa membuat hatinya tak karuan. Bahkan ia tak hentinya terus memikirkan Jeni.  Dan di saat orang tuanya menjodohkan dengan jeni, mendengar itu ia sangat bahagia dan berharap akan menjadi suami yang terbaik buwat Jeni.


Namun sekarang sepertinya semua berubah, Jeni tak memandang sedikutpun ke arahnya. Dan sebaliknya ia terus bersama Vano. Bahkan dari cara ia berbicara dan saat ia bersama Vano. Seperti ada camistry dalam mata dan hati mereka.


Tapi Edo tak menyerah begitu saja, ia ingin tetap berjuang hingga saatnya jeni akan memandanganya. Dan menerima perjodohan itu dnegan senang hati.


***


" Shitt..." Edo memukul setir mobilnya penuh emosi.


" kenapa semuanya Vano dan Vano. Apa dia tak melihatku sama sekali" Gumam Edo dengan nada kesalnya.


Ia perlahan menyalakan mobilnya nya, melaju mengikuti kemana Vano pergi. Bahkan ia curiga dengan Vano. Apa yang dia lakukan hingga Jeni sekarang begitu dekat dengannya.


#Back Jeni


Vano sampai tepat di depan halaman sekolahan Jeni.


Jeni beranjak turun," Makasih " Ucap Jeni yang masih berdiri di samping mobil Vano.


" Iya ..cepat masuk" Ucap Vano mengibaskan tangannya dan beranjak pergi meninggalkan Jeni.


Vano sudah tidak berpura-pura menjadi anak SMA lagi, ibunya menyuruhnya untuk berhenti pura-pura dan mulai menjalankan bisnisnya. Jika dia tidak mau maka ibunya akan mengancam dia tidak akan menyetujui hubungannya dengan Jeni.


Jika ingin mengalahkan usaha Edo. Ia harus menjadi pengusaha sukses. Dan berjuang sendiri mulai dari O. Mamanya hanya menyuruh dia bekerja di perusahaan milik temannya. Ia harus menjadi karyawan biasa di perusahaan temannya, agar terbiasa menangani perusahaan kelak.


Dan dia hanya bilang pada Jeni, agar ia tak memberi tahu teman-temannya jika ia hanya pura-pura. Ia membiarkan biar semua tahu dengan sendirinya kelak nanti.


****


" Vano kenapa kamu tak bilang perasaanmu" Gumam Jeni terus menatap mobil Vano yang sudah menjauh dari halaman sekolahnya.


"Hai jen kenapa kamu masih di luar, sebentar lagi ujian mau di mulai" sapa teman lelakinya.

__ADS_1


" iya bentar lagi aku akan segera menyusul" Teriak Jeni pada teman lelakinya.


__ADS_2