Om Muda Mengejar Cinta Jeni

Om Muda Mengejar Cinta Jeni
Sebuah Perjodohan


__ADS_3

"Kamu cari kesempatan ya" Pungkas Jeni mulai menggerakakn kakinya perlahan. Namun Vano mengunci kakinya agra tak bisa bergerak. Dan hanya bisa terdiam di dalam dekapanya.


Ia membalikkan badan Jeni ke ranjang,


"Sdah ku bilang jangan bergerak, punyaku sangat sensitif" Bisik Vano lirih membuat Jeni bergidik seketika.


Jeni mengerutkan bibirnya menatap tajam ke arah Vano. " dasar gila apa yang kamu lakukan" Bentak Jeni.


Vano masih menindih tubuh jeni membuat nya tak bisa berkutik sama sekali. Ingin rasanya menendang jauh tubuh Vano.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.


" tok..tok..."


" Non Jeni, gak papa" Tanya seorang pelayan di balik pintu.


" Bilang ke pelayan kamu gak papa" Bisik Vano lirih.


"Gak papa bik"Ucap Jeni dengan nada kerasnya.


"Kenapa si kecil gak bisa di kontrol" Batin Vano nampak terlihat keringat dingin mulai bercucuran.


Menghilangkan rasa tegang ia mencium lembut bibir Jeni. Namun Jeni membalas menggigit bibir Vano membuat darah segar kelur dari bibirnya.


"Jangan menciumku seenaknya" Ucap jeni menatap tajam ke arah Vano.


Jeni nampak kikuk merasakan ada benda keras bergerak di atas miliknya. " Apa ini" Batin Jeni dengan mata memandang ke atas.


Vano mencium lembut leher Jeni membuatnya merasakan nafas berat Vano berjalan ke lehernya.


Merasa vano sudah mulai lengah Jeni mendorong tubuh Vano hingga jatuh terlempar ke lantai. " Dasar Om mesum" Pungkas Jeni beranjak berdiri.


" Sudah ku bilang jangan pernah menyentuhku. Apa masih kurang jelas" jeni melanjutkan ucapnya.


"Apa yang kamu lakukan sakit tahu" ucap Vano meringis kesakitan masih duduk di lantai.


" Itu balasan buwat lelaki mesum seperti kamu" pungkas Jeni menyeret tangan Vano menuju ke balkon kamarnya.


" Aku yang melemapar kamu loncat ke bawah atau kamu turun sendiri" Pungkas jeni dengan tatapan tajam membuat Vano bergidik ketakutan.


" Udah.. udah aku bisa turun sendiri" ucap Vano beranjak turun ke bawah perlahan .

__ADS_1


Pergi jauh jangan ganggu aku" Teriak Jeni di atas balkon menatap Vano yang sudah berlari mengendap endap bersembunyi di balik pohon agar tak terlihat oleh penjaga.


Tak lama mobil keluarganya sudah mulai datang . Namun ada satu mobil yang sangat familiar baginya. " Mobil siapa itu??" batin Jeni. Ia melirik Vano yang masih belum keluar dari gerbang rumahnya ia masih menatap ke arah mobil keluarganya.


Jeni bersiul memanggil Vano. Memberi kode padanya agar cepat pergi dari rumahnya. " Tu Om Om ngapain masih melotot di situ" Batin jeni.


" Tok...tok...tok..." Suara ketukan pintu membuat Jeni kesal.


" Siapa?" teriak Jeni.


" Ini mama nak" Jawab mama Jeni.


" ayo cepat keluar ada tamu di luar, dan semua sudah berkumpul di luar" Pungkas mamanya dari balik pintu.


" Ada linda gak ma?" Tanya Jeni berjalan mendekat ke pintu.


" Gak ada sayang, entah linda pergi kemana dari tadi belum balik juga" Jawab mamanya.


" ya sudah mama keluar dulu aku mau ganti baju sebentar"


"Baiklah"


Jeni berjalan menuju lemarinya ia membolak balikkan bajunya melihat tak ada baju yang cocok untuknya. Apa lagi ia sudah tidak punya gaun lagi. Dan gaun yang ia pakailah gaun satu satunya yang ia punya.


Ia segera membuka pintu kamarnya turun menuju ruang tamu. Di sana keluarganya sudah menunggu dia. Ia tak sabar siapa sebenarnya tamu yang mama maksud tadi. Kenapa di lihat dari mobilnya sangat familiar baginya.


Ia turun dari tangga semua mata tertuju padanya. Bagaimana tidak semua berpakaian formal dan ada yang pakai gaun agar lebih anggun sedangkan jeni pakai kaos hitam pendek biasa agak longgar.


"Hallo semua" sapa Jeni dengan senyum manisnya.


" Jeni kenapa kamu pakai kaos" Tanya papa nya yang melotot seakan sangat marah dengan ulah Jeni.


" Gak ada gaun" pungkas Jnei lirih.


Kini pandangannya tertuju pada lelaki di depan ayahnya yang sangat familiar di pandangannya.


" Edo?" Jeni membelalakan matanya melihat Edo di depan ayahnya. Dia terlihat sangat akrab dengan keluarganya. Dari tadi berbincang hingga bisa tertawa bersama.


" kenapa kamu di sini?" tanya Jeni masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.


" Kalian sudah saling kenal" tanya papa Jeni.

__ADS_1


" sudah om. Kenal akrab malahan " pungkas Edo menarik tangan Jeni duduk di sampingnya.


" Ya syukurlah jadi perjodohan akan berjalan dengan mulus jika kalian sudah akrab" Pungkas papa Jeni dengan wajah nampak berbinar.


" Apa perjodohan??" Jeni di bikin syok seketika mendnegar kata perjodohan itu. Bagaimana tidak terkejut melihat siapa yang di jodohkan dengannya. OM mesum yang selalu mengganggunya.


"Iya,apa kamu gak setuju?" Tanya papa Jeni.


" pasti dia setuju om, mungkin sekrang dia lagi syok aja mendengar kata perjodohan" saut Edo membuat Jeni melirik tajam ke arahnya.


" Apa yang kamu katakan??" Bisik Jeni mencubit kecil paha Edo.


" Aaww.. sakit" pungkas Edo lirih.


" Jangan bilang seenaknya pada orang tuaku. Siapa bilang aku mau di jodohkan denganmu" Bisik Jeni membuat Edo terdiam seketika.


"Kalian kenapa" sambung mamanya.


"Gak papa ma??" Ucap Jeni dengan senyum terpaksa.


" Jika kalian mau menikah makan bulan deoan selesai kamu ujian kalian menikah" Pungkas papa Jeni membuat mata jeni melotot seketika sekaan mau keluar.


" Paa!! Aku gak mau" Ucap jeni mengerutkan bibirnya.


" Tidak bisa di ganggu gugat, Edo memilih kamu untuk menikah dengannya dari pada Linda maka dari itu kamu mau tidak mau harus menikah dengannya. Titik." pungkas papa jeni.


" Apa apaan kalian semua, aku gak mau" jeni beranjak berdiri berlari menaiki tangga dengan air mata yang sudah tak bisa terbendung lagi.


" Jeni" teriak mamanya mencoba menghentikan langkah Jeni.


"Sdah biarkan saja dia berfikir dulu, aku yakin lama lama ia mau menerimanya" ucap Papanya.


" Brakkkk" Jeni membanting pintu kamarnya membuat semua orang menatap ke atas .


"Mereka benar benar gak bisa mikirin perasaanku?? Apa mereka gak tau jika aku tidak suka perjodohan. Ini bukan jaman siti nurbaya lagi kenapa harus di jodoh jodohkan segala" Decak Jeni kesal melemparkan tubuhnya ke ranjang emouk miliknya. Ia tengkurap memeluk bantal dengan air mata yang sudah mulai jatuh membasahi pipinya.


" Semuanya jagat" pungkas jeni melemparkan Bantalnya ke lantai.


"Kenapa bukan linda kenapa harus aku" Gumam Jeni.


"Aku tidak perduli dengan harta, lebih baik aku menikah nanti dengan pilihanku sendiri belahan hatiku" decak Jeni beranjak duduk memeluk guling mendekapnya erat.

__ADS_1


Ia masih terus berdecak kesla. Menggerutu gak jelas di kamar mengurung diri.


"Kenapa aku harus menikah dengan Edo" gumam Jeni menarik tisu mrmbersihkan ingusnya. .


__ADS_2