
Vano terdiam sejenak menatap pemandangan pantai di depannya. Ia ingin menceritakan semuanya pada Jeni. namun tak sanggup untuk mengeluarkan semua kata-ata itu dari mulutnya.
" Kenapa kamu diam" Tanya Jeni menatap wajah Vano di sampingnya. Terlihat menunduk seakan berat untuk berbicara padanya.
Vano menarik napasnya mencoba menahan kesedihan dalam hatinya. Ia mulai mengeluarkan semua keberaniannya untuk berbicara.
" aku akan menceritakan semua padamu. Semua berawal saat aku yang dulu masih kecil berumur 7 tahun. Dulu aku tak di perbolehkan ikut dengan keluargaku, saat ingin naik banana boat. Dan waktu itu hanya acara keluarga tak ada pemandu seperti sekarang. Aku yang merengek, memaksa ikut pernah terjatuh dari banana boat dan tiba-tiba gelombang pasang menerjang dan aku tertarik gelonlmbang itu, hingga tergelam ke dasar laut. Dulu aku sempat berpikir, apakah aku masih bisa hidup atau tidak. Namun ayah aku nekat menolongku. Dan tiba-tiba saat berenang ke dasar laut melawan gelombang kakinya kram dan memgakibatkan ayah aku tergelam juga bersamaku. Aku bisa di selamatkan, namun tidak dengan ayahku dan saat itu gara-gara aku ayahku jadi korban" Ucap Vano dengan mata terlihat berkaca-kaca. Seolah ia menyembunyikan kesedihan itu dalam hatinya.
Jeni memegang erat tangan Vano. Mencoba menguatkan hati Vano yang sepertinya terluka kehilangan ayahnya. " Tapi sekarang apa kamu masih takut lagi" Tanya Jeni melempar senyum manis pada Vano.
Vano hanya terdiam ia menatap tangan jeni yang memegangnya di atas pasir putih. Ia membalas dengan senyum manis.
" Makasih" Ucap Vano yang tak terhenti menatap Jeni.
" Untuk apa?" Tanya jeni yang nampak bingung dengan ucapan Vano.
" Karena kamu telah ..." Vano menghentikan ucapanya. Ia tak bisa mengungkapkan perasaannya dulu. Karena ini belum saatnya. Ia terus bergumam dalam hatinya.
" Karena kamu telah meluluhkan hatiku Jeni" batin Vano menatap Jeni.
" Telah apa?" Jeni terlihat sangat penasaran dengan apa yang di ucapkan Vano. Seraya ada hal di sembunyikan dari hatinya.
" Gak jadi" Ucap Vano tersenyum lebar mencubit pipi Jeni.
" Vano sakit tahu" Jeni mengerutkan bibirnya. Ia kini terlihat sangat kesal saat ia bertanya selalu sjaa Vano mencari alasan mengalihkan pembicaraannya.
" Gitu aja ngambek" Vano menyolek pipi Jeni mencoba menggodanya.
Jeni terdiam menatap Vano. " Apa hanya aku yang merasakan suatu perasaan yang tak pernah aku tahu itu apa" Batin Jeni terus memandang Vano di sampingnya. Senyumnya tak berhenti membuat ia terus memikirkannya. Bahkan terkadang saat dengannya Jeni merasakan hal aneh pada dirinya.
Perasaan yang membuat hatinya merasa sangat sesak, bahkan saat dekat seolah napasnya berhenti sejenak. Apa itu yang di namakann cinta. Ia tak tahu apa itu cinta, jeni pernah jatuh cinta, namun itu hanya sebatas cinta monyet.
__ADS_1
Kenapa aku jadi gugup saat bersamanya. Perasaan ini, apakah aku jatuh cinta dengannya. Dan kenapa, apa alasannya aku jatuh cinta dengannya. Tak ada alasan mengapa aku bisa suka dengannya. Apa itu yang di namakan cinta sungguhan. Cinta tanpa alasan, namun hanya perasan nyaman saat bersamanya membuat ia ingin terus dan terus bersamanya. Meskipun tak ada kata terlontar dari mulutnya tentang bagaimana perasaannya denganku.
Jeni terus memandang Vano yang dari tadi sibuk memandang pantai. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Apakah sama dengan suara hatinya atau berbeda.
" Van!" Sapa Jeni mencoba memecahkan keheningan di antara mereka.
Vano menoleh seketika ke arah Jeni, namun ia hanya menatapnya tanpa suara.
Jeni mengrutkan keningnya menatap Vano
" Sepertinya suasana sudah tidak mendukung, lebih baik kita pulang" lanjut Jeni. Ia merasa suasana hati Vano tidak mendukung untuk bersenang-senang.
Wajahnya kini nampak muram seolah ia mulai tidak suka dengan sifat Vano yang dari tadi terus diam. Seolah ia tak di perdulikan sama sekali.
Vano menyadari jika Jeni merasa bosan, lelaki itu beranjak berdiri. menarik tangan Jeni berjalan menembus desiran ombak Pantai. " kita mau kemana?" Tanya Jeni terlihat bingung dengan Vano.
" Kita senang-senang agar kamu tidak bosan" Ucap Vano lirih.
Hal yang paling indah saat bisa melihat senyumnya. Senyuman yang bisa mengalihkan duniaku.
" Van, kenapa kamu diam lagi" Ucap Jeni menatap mata Vano di depannya.
" eh ..iya jen" Vano tersadar dari lamunanya.
Suasana yang tadinya cerah, kini langit nampak tak bersahabat. Awan hitam perlahan menutupi matahari yang menyinari menembus langsung ke kulit putih Jeni. Kini langit perlahan berubah menjadi gelap. Dan sinar matahari sudah tertutup rapat.
" Sepertinya akan turun hujan" Ucap Vano mendongakkan kepalanya menatap ke atas langit.
Tiba-tiba rintikan hujan turun menjatuhi tubuh mereka. Vano menarik tangan jeni berlari menuju ke mobilnya.
" Kita harus segera pulang, tidak baik ke pantai saat kondisi seperti ini takutnya ada gelomvang pasang" Ucap Vano terus menarik tangan Jeni. Ia terlihat panik saat hujan turun, seperrinya ada kenangan buruk tentang hujan. Mungkin kejadian ombak besar yang merenggut nyawa ayahnya saat hujan turun di pantai.
__ADS_1
Hujan semakin lebat, tubuh mereka yang tadinya sudah mulai mengering berjemur di tengah terik matahari. Kini menjadi basah kuyup lagi.
Mereka segera masuk ke dalam mobil. Vano sekilas melirik ke arah Jeni yang membersihkan tubuhnya. Baju ketat dan transparan jeni membuat ia tak bisa bekedip menatapnya. Bagi lelaki normal seperti dia tidak mungkin tidak tergoda melihat baju jeni yang terlihat ketat dan melihatkan bentuk badannya.
Namun vano hanya diam, ia hanya bisa menahan nafsunya lebih memilih untuk hanya sekedar melihat. " Tubuh yang menggoda" Gumam Vano. Yang hanya bisa menelan ludahnya berkali-kali hingga melegakan tenggorokannya yang tiba-tiba merasa kering.
Ia hanya bisa berhayal dengan otak kotornya, merasakan bagaimana hal yang belum pernah ia lakukan itu jika terjadi. Apa akan terasa menyenangkan, menyehatkan atau malah sebaliknya. Meski ingin merasakan, namun ia tak mau menodai Jeni sebelum menikah.
" Van kenapa kamu menatapku seperti itu" Ucap Jeni agak menundukkan kepalanya menatap detail Vano yang tak hentinya menatap tubuh Jeni.
" Van!!" Bentak jeni sontak membuat Vano terkejut.
" eh iya aku ingin merasakannya" Ucap Vano yang baru saja terbangun dari hayalan mesumnya.
" Maksud kamu? Merasakan apa?" Tanya Jeni nampak bingung. Ia mulai curiga dengan pandangan Vano yang mengarah ke tubuhnya.
Jeni menatap tubuhnya sejenak.
" Dasar otak mesum" Jeni mencoba menutupi tubuhnya dengan ke dua tangannya sebisa mungkin.
" maaf tadi aku gak sangaja melihatnya, hanya sedikit saja. Lagian kan gak papa hanya melihat, untuk olahraga mata sejenak" Ucap Vano. Ia perlahan menjalankan mobilnya pergi dari panntai itu kembali menuju apartemennya.
" Awas saja kamu berani menatapku seperri itu lagi" Jeni mengerutkan bibirnya dengan tatapan mengancam ke arah Vani.
" Baiklah aku tidak akan menatapnya lagi" Ucap Vano tanpa melirik ke arah Jeni lagi.
Hingga 2 jam perjalanan ia sampai di apartemen miliknya. Jeni bergegas turun dari mobil Vano.
" Kamu tidak mau masuk dulu ke dalam" Tanya Jeni.
" Udah gak usah, lebih baik kamu vepat mandi. Dan jangan lupa buwat teh hangat untuk menghangatkan tubuhmu" Balas Vano dengan senyum manisnya. Ia segera pergi tanpa mempir sebentar ke apartemen miliknya.
__ADS_1