
Jam sekolah pun sudah selesai, jarum jam menunjukan pukul 16.00. Jeni pulang ke apartementnya sendiri kali ini, Vano tak menjemputnya, Entah ada urusan apa kali ini dia tak mengirim chat pada Jeni. Dan bahkan dia juga tidak meneponnya sama sekali. sibuk apa dia membuat Jeni kepikiran tentangnya.
Ia segera ganti baju sekolah dengan baju biasa berwarna putih, yang terlihat lebih tipis, namun juga sangat longgar. Selesai ganti baju, jeni beranjak menuju balkon kamarnya. Ia menatap ke bawah, berharap Vano datang menemuinya. Lalu lintas orang lewat di bawah tak menunjukan ada tanda-tanda Vano akan datang. Dari sederetan mobil yang datang juga tak terlihat mobil Vano.
Dia merasa sangat cemas tak ada kabar sama sekali dari Vano. " Apa dia melupakanku" Gumamnya.
" Hai." Sapa Edo pada jeni yang duduk melamun di balkon apartemenya. Kedantangannya tak terduga. Dan suara sepatunya saja tak terdengar saat ia masuk ke kamarnya.
Wajah wanita cantik itu, yang dari tadi cemas mikirin tentang Vano, tiba-tiba suara yang tak asing itu menyapanya. Ia tahu jika itu Edo. Dengan segera ia memasang muka malasnya.
Jeni menoleh seketika,
" Ya" Melihat yang datang benar Edo ia terlihat sangat malas menjawab sapaannya.
Edo hanya senyum melihat wajah malas Jeni padanya. Ia tahu jika Jeni sepertinya mikirn seseorang. Dia mengharapkan kedatangan seseorang dari pada kedatangan dirinya untuk menyapanya
Jeni terus nenatap ke halaman apartement tepat di bawah balkon kamarnya. Ia tak menghiraukan Edo yang sudah berdiri di sampingnya.
" Kamu nunggu sapa?" Tanya Edo sembari menyandarkan punggungnya di pegangan balkon, dengan mata menatap ke wanita cantik berpakaian hitam yang terlihat longgar itu.
Semoat ia memandang baju manda yang terlihat bentuk tubuhnya, tatapan kotor itu tiba-tiba merasuk dalam otak Edo.
" apa urusannya denganmu" Ucap Jeni memutar matanya malas. Ia merasa tak suka Edo tiba-tiba datang tanpa sopan santun masuk ke kamarnya. Bahkan dia juga tak mengetuk pintu lebih dulu. Itu adalah salah satu hal yang ia tidak suka darinya.
Makin hari wanita itu semakin geram dengan tingkah Edo padanya. Cara ia mencari perhatian dan mendekati jeni membuatnya tambah ilfil. Dan semakin menjauh darinya.
Namun Edo tak permasalahkan jika Jeni cuek dengannya.
" Gimana kalau kita keluar, biar kamu gak suntuk" Ucap Edo mencoba memegang tangan Jeni.
Wanita itu menepis tangan Edo.
__ADS_1
" aku lagi malas keluar kemana-mana" Ucapnya singkat beranjak masuk ke dalam kamarnya.
" Tunggu, berilah aku kesempatan Jen"
Namun jeni tetap saja tak perdulikan Edo yang terus mengajaknya berbicara.
Bukan Edo namanya jika ia menyerah dengan sifat jeni, ia semakin gigih untuk mengejarnya. lelaki itu melangkahkan kakinya semakin cepat, meraih tangan Jeni.
" Tunggu!!"
" Lepaskan tanganku" Ucap Jeni dengan nada semakin tinggi.
" aku gak akan melepaskanmu" Edo memojokan tubuh Jeni di tembok belakangnya. Lelaki itu mencengkram erat ke dua tangan Jeni ke mengunci di atas kepalanya.
" jangan macam-macam denganku" Bentak Jeni.
Edo tak menggubris ucapan jeni, ia mengecup bibir Jeni dengan kasar agar ia tak terus berbicara, lalu mendarat ke lehernya.
Edo menyantuh dada Jeni, membuat Jeni semakin geram, ia spontan menendang perut Edo, hingga ia bisa melepaskan diri darinya. Jeni mencoba berlari untuk pergi.
" jangan Pergi" Edo meraih tangan Jeni, melemparnya ke ranjang mencoba bermain kasar dengannya.
" Jeni kamu harus jadi milikku, aku gak mau kamu menyukai orang lain. Tenang saja kita akan segera menikah jadi kamu jangan takut" Edo mengunci tangan dan kaki Jeni agar tak bisa berkutik. Ia bermain mengecup sekujur tubuh Jeni.
" Lepaskan aku" Teriak Jeni yang tak berdaya untuk melawan. Tubuhnya tak sebanding dengan tubuh kekar Edo.
" Tenanglah aku tidak akan berbuwat kasar denganmu" Bisik Edo berdengus di leher Jeni.
Jeni teringat dengan Vano, ia meneteskan air matanya, ia berharap Vano cepat datang untuk menolongnya dari sosok menjijikan seperti Edo. Rasanya ingin menendangnya jauh, namun apalah daya tubuhnya tak bisa berkutik dari cengkraman Edo.
Ia merobek kasar balutan baju yang menutupi tubuh Manda. Hingga terbelah menjadi dua.
__ADS_1
" Kamu benar-benar sudah gila Edo" Teriaknya. Ia menggigit lunggung Edo. Namun edo tak pedulikan itu ia bermain dengan sangat ganasnya.
Jeni tak bisa berbuwat apa-apa ia terus melawan namun tak ada hasinya. Cengkraman Edo semakin erat. Ia hanya diam menutup matanya. Merasakan sebuah permainan Edo yang membuatnya diam-diam berdesah. Jemari nakal Edo bergerak liar ke seluruh tubuh jeni.
Belum sempat melakukan hasratnya, suara hentakan kaki melangkah menuju ke apartementnya, permainan Edo terhenti untuk menbuat sebuah kejutan tak terduga untuk Jeni.
" Non Jeni" Sapa seorang ajudan ayahnya yang tiba-tiba masuk ke dalam apartemennya. Edo terjingkat dari ranjang, ia segera menutupi tubuh Jeni yang masih tersisa bra yang menutupi, dengan kemeja putih miliknya.
" Apa yang kalian lakukan di sini?" Bentak Ayah jeni dengan wajah nampak sangat menakutkan.
Edo dan Jeni beranjak dari ranjangnya. Mereka hanya terdiam menundukan kepalanya. " Besok kalian harus menikah, seblum ayah tambah malu dengan semua yang kamu lakukan jeni. Dan sekarang bawa dia pulang" Ucap ayahnya. Berbalik arah dan melangkahkan kakinya pergi. Ayahnya terlihat sangat kecewa dengan Jeni.
" ayah tunggu aku bisa jelaskan, ku tidak mau dengan lelaki seperti dia" Teriak Jeni, namun ayahnya tak menggubria ucapan Jeni.
2 ajudan itu mulai memegang tangan Jeni menariknya keluar dari apartemen milik Vano itu. Hanya balutan kemeja Edo yang menutupi badanya.
Vano yang baru saja tiba dan turun dari mobil terdiam seketika melihat Jeni hanya mengenakan kemeja putih yang menutupi tubuhnya yang terbuka.
" Itu bukannya ayah Jeni" gumam Vano,
Apa yang di lakukannya kenapa dia terlihat menangis dan hanya balutan kemeja menutupi tubuhnya, apa ada lelaki yang berani menyentuh Jeni di dalam apartemenku.
Jeni tak melihat Vano ada sampingnya, ia hanya diam, menundukkan kepalanya, Dan masuk ke dalam mobil.
" Jeni!!" Vano mencoba mencegah Jeni pergi .
" Jeni tunggu , ini aku Vano" Vano terus mengejar Mobil yang sudah perlahan menjauh darinya. Jeni mendengar teriakan Vano, ia menoleh ke belakang.
Vano maafkan aku, aku belum sempat bilang sesuatu padamu namun setidaknya aku tahu perasaanmu denganku sekarang, gumamnya.
Mobil sudah semakin melaji jauh, Vano tak bisa mengejarnya lagi, kali ini dia benar-benar sudah apsrah dan beranjak balik ke apartementnya. Ia teringat saat baju jeni terbuka. " pasti ada seseorang di dalam" Gumam vano berlari menuju apartementnya.
__ADS_1