
Kejadian yang tak terduga itu sudah terjadi. Jeni hanya terdiam meratapi semuanya. Ia merasa malu telah melakukan hal itu sebelum menikah. Bahkan Vano seakan tak perduli dengan tangisannya. Meskipun Jeni mencintai Vano. Tapi apa yang di lakukan Vano itu di luar batas wajar. Tak seharusnya ia melakukan itu. Setidaknya ia harus berpikir bagaimana perasaannya saat semuanya usai nanti.
Vano tidur berbaring di samping Jeni, dengan tangan merengkuh erat tubuh Jeni. " Sudahlah aku yakin kamu mencintaiku kan, harusnya kamu menyukai ini semua" Ucap Vano dengan santainya. Ia beranjak duduk bersandar di ranjang Jeni.
Plaakkkk..
Hiks..hiks...
Sebuah tamparan keras tepat di pipi kanan Vano. Jeni merasa sudah hina kali ini. Perasaan cinta di nodai dengan perbuwatan kotor Vano. "Ini bukan bukti cinta, kalau kamu memang cinta denganku harusnya kamu datang ke orang tuaku dan datang baik-baik melamarku, jika memang mereka tak menyetujuinya. Berarti kita harus berjuang meyakinkan mereka untuk menerima hubungan kita" Ucap Jeni, ia tak berhenti terus menangis.
Jeni menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Ia melihat Vano hanya diam menunduk. Ia merasa bersalah dengan semuanya. Namun semua sudah terlanjur. Amarahnya membuat hasrat ingin memiliki jeni semakin menggebu, tak bisa tertahankan.
" Jen maaf" Vano menunduk, ia memeluk erat tubuh Jeni yang masih memakai balutan selimut, untuk menutupi tubuhnya.
" Kamu minta maaf atas semua yang terjadi" Ucap Jeni. Kini ia merasa sangat kecewa pada Vano. Ia tak ada bedanya dengan Edo. Sama-sama otak kotor. Bahkan ia lebih hina kali ini dari pada Edo. Keperawanan yang ia jaga selama ini smeua hilang hanya beberapa menit.
" Baiklah aku sekarang akan pergi, semoga kamu bahagia menikah dengan Edo" Ucap Vino beranjak dari ranjangnya, ia meraih bajunya dan dengan segera memakainya.
Jeni hanya terdiam, ia mencengkram erat selimut yang menutupi tubuhnya.
" Semuanya membuatku sangat muak" Gumam Jeni lirih. Ia membiarkan Vano pergi darinya. Bukannya ia tak mencintainya lagi. Rasa cinta itu masih ada dalam hatinya, namun rasa kecewa lebih besar dari pada rasa cintanya.
__ADS_1
Jeni melihat punggung Vano yang sudah pergi menjauh darinya. Ia hanya diam, tak bisa mengucapka. Sepatah kata pun, dengan terpaksa ia membiarkan Vano pergi meninggalkannya.
Jeni beranjak dari ranjang, dan melangkahkan kakinya beranjak menuju ke kamar Mandi. Ia segera membersihkan badannya dan beranjak turun menemui Ayahnya. Ia sudah memutuskan semuanya, semua yang tak seharusnya ia putuskan.
Hampir setengah jam di berendam di kamar Mandi. Jeni keluar menggunakan handuk purih menutupi tubuhnya.
Tok..tokk..tokk..
Suara ketukan pintu itu terdengar jelas di telinganya. "Siapa?" Tanya Jeni, ia segera menuju ke lemari untuk segera memakai baju.
" Saya non bi Inem, Tuan dan nyonya besar menyuruh non Jeni turun" Ucap pelayan itu di balik pintu kamarnya.
" Baiklah, bentar lagi aku turun " ucap Jeni, ia meraih kaos hitam longgar yang biasa ia pakai. Kali ini wajahnya terlihat murung tak ada daya untuk melangkahkan kakinya menuju ke pintu.
Hentakan berat kaki jeni menuruni anak tangga. Terlihat di ruang tamu sudahada ayah dan ibunya duduk bersandar di sofa. Dan di sana juga ada Edo dan 2 orang wanita serta laki-laki paruh baya yang duduk di sampingnya. Sepertinya itu orang tuanya. Namun Edo tak memerhatikan kedatangan Jeni. Ia hanya menunduk menatap lantai putih di bawahnya.
"Do lihat itu calon istri kamu, cantik ternyata" Gumam wanita paruh baya di dekat Edo. Wanita itu terlihat seperti seumuran mamaku, namun lebih muda mama Jeni sedikit kayaknya.
Edo hanya diam, ia tak mau menatap Jeni. Karena mungkin ia terlihat sangat malu dengan apa yang ia perbuwat tadi. Namun Jeni lebih malu lagi. Harus menikah namun statusnya sudah tak suci lagi. Bahkan Vano sudah menodainya. Jika ingin memilih ia ingin menikah dengan Vano. Namun semua tidak akan pernah terjadi padanya. Pilihan itu hanyalah angan-angan bagi Jeni.
Jeni beranjak duduk di samping mamanya. "Baiklah kita akan terus terang saja ya, pernikahan mendadak mungkin tidak akan baik, jadi besok aku menyuruh kalian untuk memilih baju pengantin lebih dulu. Dan pernikahan akan di adakan 3 hari lagi. Kita juga sudah sebar semua undangan" Ucap wanita paruh baya dengan balutan gaun mewah yang sangat pas dengan umurnya. Dia masih terlihat elegan, modis dan cantik.
__ADS_1
Jeni hanya diam, ia menoleh ke arah mamanya. Sebuah belaian lembut dari jemari mamanya membuat hatinya kini tenang sejenak.
" Baiklah, tapi semua keputusan hanya di tangan Jeni" Sambung Mama Jeni. Jeni sontak terkejut, seakan mamanya tahu apa isi hati Jeni. Namun sekarang ia sudah memutuskan pilihan yang terbaik untuknya nanti.
Jeni menegapkan posisi duduknya, ia menghela napasnya sejenak. " Baik, ku besok aku dan Edo akan fitting baju pengantin" Ucap Jeni, sembari melemparkan senyum manis ke hadapan orang tua Edo. Meskipun senyum itu hanya senyum palsu.
Edo mendongakkan kepalanya mendengar ucapan Jeni tadi. Ia tak percaya jika Jeni menerima untuk menikah dengannya. "Apa yang di bilang Vano, bisa membuat Jeni setuju menikah dengannya" Batin Edo menatap bingung ke arah Jeni.
Ia masih bingung dengan apa yang di ucapkan jeni tadi. Dan kali ini merasa berada dalam mimpi, namun sepertinya semua terlihat nyata di depannya.
" Baiklah, besok aku akan jemput kamu" Ucap Edo penuh semangat kali ini. Akhirnya ia bisa menikah juga dengan Jeni. Sebuah keberuntungan berpihak padanya.
"Sepertinya nanti aku harus hubungi Vano" Gumam Edo lirih.
"Oya, gimana kalu kita makan malam dulu" Ucap ayah Jeni. Kali ini sangat bangga dengan anaknya sudah mengambil keputusan yang sangat tepat. Dan bentar lagi Edo akan menjadi menantunya. Yang berati bisa mengembangkan bisnisnya semakin lebih maju lagi. Karena ia butuh dorongan dari orang-orang muda hebat seperti Edo.
Ayahnya juga tahu Vano juga dari kalangan orang kaya, bahkan bisa di bilang harta kekayaanya lebih dari Edo. Namun ia tak suka dengannya, karena dia itu masih kekanak-kanakan, tidak mau menjalankan bisnis ayahnya sendiri. Ia mau anak muda yang menikah dengannya punya jiwa semangat kerja yang tinggi. Dan tidak mengharapkan kekayaan dari orang tuanya.
Ayah Jeni tersenyum menatap Jeni. Meski Jeni terlihat lesu. Tak ada rasa bahagia dalam hatinya. Namun ayahnya tak perduli, ia yakin suatu hari nanti Jeni akan merasakan kebahagiaan dengan Edo. Emang awalnya tak ada rasa cinta, tapi setidaknya jika mereka terus bersama pasti cinta itu akan muncul dengan sendirinya. Dan Semoga dia bisa menjauh dari Vano.
Kini semua keluarga berkumpul di meja makan, berbagai makanan dan buah-buahan tersedia di meja makan yang nampak panjang dan mungkin cukup untuk 10 orang. Namun di sana hanya ada 6 orang yang akan menikmati sebuah hidangan masakan dari para koki kusus di rumah Jeni.
__ADS_1
" Oya setelah menikah nanti, aku sudah siapkan rumah untuk mereka berdua. Namun nunggu setelah Jeni lulus sekolah, baru mereka boleh pindah" Ucap ayah Jeni menghilangkan keheningan di antara mereka semua yang sibuk menikmati hidangan yang ada.