Om Muda Mengejar Cinta Jeni

Om Muda Mengejar Cinta Jeni
Kejutan Dari Vano


__ADS_3

Jeni bersiap untuk fitting gaun pengantin hari ini, ia merasa kali ini perasaannya tidak enak, entah kenapa hatinya merasa sangat resah, dan bimbang jadi satu. Bukannya sebentar lagi adalah pernikahanya. Namun bukan kebahagiaan yang ia dapat, melaikan rasa takut, serta keraguan, yang kini mulai mengigil seluruh tubuhnya.


Wajahnya terlihat muram di depan cermin, mukanya nampak kusut, kantong mata tebal dan menghitam. Kerena ia terus menangis dan tak bisa tidur semalaman, memikirkan cinta yang tak kunjung bisa bersatu. Mungkin karena dia terlalu memikirkan tentang Vano. Tapi setidaknya sekarang ada hal yang baru yang harus ia lakukan. Ia mencoba untuk melupakan semuanya.


"Jen!!" Sapa Edo berjalan mendekatinya.


"Iya" Ucapnya tanpa daya, ia merasa sangat malas hari ini.


"Gimana? Udah siap kah" Edo memegang ke dua pundak Jeni. Menatap wajah Jeni yang nampak muram dari belakang punggungnya.


"Sudah kok"ungkapnya.


Edo tahu jika Jeni tidak terlalu suka dengan semua ini. Tapi ia sudah mempersiapkan sebuah kejutan nanti untuknya. Semoga dia suka. Ia tak ingin membebankan perasaannya lagi. Lagian sahabatnya Vano juga suka dengannya.


"Baiklah, sekarang ayo kita turun" Edo memegang tangan Jeni keluar dari kamarnya. Sepertinya orang tua Jeni tidak ada di rumah. entah kemana mereka pergi, tapi Edo sudah di izinkan untuk pergi dengan Jeni sebelumnya.


Mereka bergegas masuk ke dalam mobil sport merah yang sudah terparkir di depan. Edo mulai menyalakan mesinnya dan menancap gas pergi dari halaman rumah Jeni.


Tak lama Edo berhenti tepat di depan sebuah butik, di sanalah Edo akan memberi kejutan dengannya. "Kamu masuk saja duluan, ku mau keluar sebentar gak lama kok".


"Baiklah" Jeni beranjak keluar tanpa ragu sedikitpun. ya, setidaknya ia bisa memilih gaun sendiri.


Jeni berjalan masuk ke dalam butik, ia melihat berbagai macam gaun pengantin yang sangat bagus. "Ini pasti cocok buwat kamu"Ucap lelaki di belakangnya.


Jeni sontak menoleh ke belakang, wajah lelaki itu tertutup gaun putih yang begitu indah di tangannya, dengan hiasan pernak pernik di bagian dada. Jeni yang sangat familiar dengan suaranya, ia dengan segera menyingkirkan gaun itu dari wajah lelaki itu. Matanya terbelalak seketika menatap siapa yang ada di depannya, "Vano!!" .

__ADS_1


Jeni terlihat bingung, kenapa ada Vano di sana, bukannya dia bilang mau menjauh darinya, tapi kini melihat Vani di deoan matanya terasa mimpi. Di saat ia akan menikah dengan sahabatnya dia begitu tegarnya tersenyum di depan Jeni.


"Aku akan antar kamu untuk memakai gaun ini, oya aku punya dua pilihan gaun untukmu" ucap Vano dengan santainya, seraya tak ada masalah dengan Jeni. Dan dia tak terlihat ada beban di pikirannya.


Jeni hanya terdiam menatap Vano, dan ia tak bisa mengucapkan sebuah kata-kata lagi untuknya. Ingin sekali ia memeluknya, namum ia tak bisa, ia merasa ada didin pemisah di antara mereka. Dan dirinya juga akan menikah 2 hari lagi, bagaimana dengan Edo nantinya. Tanpa sadar tetesan air mata keluar dari mata bulat Jeni. Ia mendengarkan setiap apa yang di ucapkan Vano, tanpa menanggapinya.


"Kenapa kamu menangis" Ucap Vano, mengusap lembur air mata di pipi jeni dengan jemarinya.


Vano memegang tangan jeni mengantarnya ke ruangan ganti. Di balik ruangan tertutup yang masih terbuka selambu depannya, Vano berlutut padanya, sembari mengeluarkan sebuah cincin untuknya.


"WILL YOU MERRY ME".


Sebuah kata yang membuat jeni ingin sekali menangis sekencangnya, ia sangat syok, tak menyangka Vano akan melakukan hal seperti itu di depan umum. Dan dirnya juga tak percaya serasa dalam mimpi Vano akan memberi sebuah kejutan untuknya. Air matanya tak bisa terbendung lagi, ia menutup mulutnya, dan air mata kebahagiaan sudah membanjiri pipinya.


#Falsh back


"Van, apa kanu benar-benar mencintai Jeni" Ucap Edo yang berdiri di atas balkon kamar Vano.


"Kamu pasti sudah tahu"Vano duduk di kursi samping Edo berdiri. Dengan wajah nampak lesu, seakan ia pasrah dengan semua keadaan.


"3 hari lagi aku akan menikah, apa kamu mau melepas Jeni begitu saja"Ucap Edo dengan nada semakin meninggi.


"Sudahlah, orang gltuanya lebih memilih kamu, aku juga tak perduli dengan semua itu. Asalkan kamu dan dia bahagia"Wajah Vano nampak lesu kali ini.


Sebuah pukulan keras mendarat di pipi Vano, "Apa itu yang di namakan cinta, kalau kamu cinta dengannya, kamu harus pertahanin dia, bejuang kembali agar bisa bersamanya. Setelah kamu tahu semuanya kamu menyerah begitu saja, kamu laki-ki pengecut. Tak bisa menghadapi sebuah cobaan cinta. Apa kamu tahu Jeni terus murung memikirkanmu, dia juga suka denganmu. Asal kamu tahu dia juga terpaksa mau menikahiku, tapi dalam hatinya ia masih mencintaimu. Kamu harus kejar dia, pertahanin dia" Ucap Edo meninggikan suaranya.

__ADS_1


Vano terdiam seketika, benar apa kata Edo, bahkan dia sudah tidur dengannya. Dan kini ia malah pergi tanpa penjelasan. Harusnya ia berjuang demi cintanya pada Jeni. Jika orang tuanya menolak ia harus siap hadapi semunya.


Ia juga mengingat kata-kata terakhir yang di ucapkan Jeni, jika memang ia mencintainya harusnya ia berjuang demi dia. Namun kini dirinya hanya diam di rumah meratapi semuanya.


"Besok aku akan fitting gaun pengantin dengannya, kamu temui dia di sana dan jngkapkan semua apa yang ingin aku ungkapkan. Jika kamu tidak datang maka aku yang akan menikahi dia. Tolong jagalah dia, bahagiakan dia, jangan buwat dia menangis. Dia itu wanita yang beda dengan wanita lainnya. Meskipun gayanya sangat tomboy tapi dia menarik" Gumam Edo, menatap pemandangan diatas balkon yang terlihat jelas deretan rumah, dan jemabatan kita dengan lampu penerangan berbagai warna.


"Pikirkan semuanya, aku tunggu besok"Edo menepuk pundak Vano, dan beranjak pergi.


Vano hanya diam, ia masih memikirkan semua kata-kata Edo untuknya.


#Back story


Jeni tersenyum tipis, mengulurkan tangannya ke arah Vano. Dengan segera Vano memakaikan cincin itu di jemari manis.


Suara tepuk tangan dari para pegawai yang melihat momen mereka sangat riuh bahagia.


Vano beranjak berdiri, sebuah pelukan bahagia ia dapatkan dari Jeni.


"Aku tidak menyangka kamu merencanakan semua ini,Dan Edo apa kalian berdua sebanarnya yang merencanakan ini semua" Jeni melepaskan pelukannya manatp bingung pada Vano.


"Iya, aku yang menyuruhnya untuk kesini, aku tahu kalian saling mencintai. Harusnya kalian lebih berhak untuk bahagia"Saut Edo berjalan mendekati mereka.


Vano menarik tangan Edo, dan merangkul pundaknya. Ia tak menyangka sahabatnya itu rela mengorbankan cintanya untuk orang yang ia sayangi. Sebuah pengorbanan yang membuatnya sangat terharu.


Hingga semua orang yang berada di butik itu menatap mereka terharu, sebuah persahabatan dan cinta. Mereka akan menyatu dengan sendirinya.

__ADS_1


Cinta memang tak bisa di paksakan, saat kamu memaksakan cinta maka kamu yang akan tersakiti sendiri.


__ADS_2