
Hampir 3 jam pelajaran sudah berlalu Vano tak perhatikan sama sekali pelajaran di depan. Karena memang tujuannya hanya untuk dekat dengan Jeni. Agar dengan mudah mendapatkan hatinya.
Bahkan dia rela memohon mohon pada mamanya untuk bisa masuk ke sekolahan lagi agar bisa dekat dengan Jeni. Dan akhirnya mamanya setuju tapi hanya untuk dekat dengan jeni gak boleh yang lainnya. sekarang ia tak mau membuang kesempatan itu . Ia memanfaatkan sebaik mungkin sampai ujian sekolah selesai nantinya. Ia harus bisa mendapatkan Jeni
Ia tahu jika Jeni di jodohkan dengan Edo. Karena memang dia diam diam menguping pembicaraan orang tua mereka saat ia menyelinap masuk ke rumah Jeni.
Maka dari itu sebelum pernikahan ia ingin mengambil hati Jeni seutuhnya hanya untuknya. Hanya dalam waktu 1 bulan mamanya mengizinkan ia berada di sekolahan. Dan ia di larang menyebutkan nama lengkapnya agar semua anak di sekolahan tidak tahu siapa sebenarnya dia.
--0o0--
Vano menyangga pipinya dengan tangannya menatap ke arah Jeni.
" Sssttt" Panggil Vano.
Jeni hanya diam dan fokus pada pelajaran di depannya.
" Hai jen" Sapa Vano lirih.
Meskipun mendengar suara Vano ia tak menggubris panggilan Vano. Dan lebih memeilih fokus pada pelajaran di depannya.
Vano menyentuh pundak Jeni dengan bolpoin di tangannya. Dan jeni masih tetap sama tak perdulikan Vano.
Hingga bel istirahat pun berbunyi. Jeni segera memasukan semua bukunya ke dalam tas dan beranjak berdiri. Langkahnya terhenti seketika saat tangannya terasa nyangkut sesuatu.
"Kamu mau kemana??" Tanya Vano. Yang masih duduk di tempatnya.
"Ke kantin" Pungkas Jeni Singkat.
Beberapa wanita di kelasnya langsung mengerumun ke arah Vano hingga ia gak terlihat wajahnya sama sekali. Tapi tangan Vano tak melepaskan tangan Jeni.
" Vano ayo ke kantin " Ucap salah satu wanita .
"Ke kantin sama aku"
" Sama aku"
Suasana riuh membuat gaduh seisi kelas.
Tanpa menjawab Vano beranjak berdiri menarik tangan Jeni berlari keluar dari kelasnya.
"Berasa seperti anak muda lagi" Pungkas Vano masih terus membawa Jeni berlari.
"Awas kalau para wanita marah denganku gara-gara kamu" ucap Jeni
Vano mengajak jeni berlari di taman belakang. Yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya untuk Jeni. Sebuah taman kecil dengan rumput kecil berbentuk nama Jeni.
Langkahnya terhenti melihat nama Jeni tertulis di rerumoutan yang sudah di potong berbentuk namanya.
"Kenapa ada taman bertuliskan namaku" ucap Jeni menatap terkejut melihat taman yang sangat indah di depannya dengan rumput bertulis namanya.
"Perasaan aku gak pernah membuat taman seperti ini di belakang sekolah sebelumnya" gumam jeni melirik ke arah Vano yang hanya diam tersenyum tipis.
" Udah gak usah di pikirin" Vano menarik tangan Jeni duduk di samping taman itu.
" Vano ngapain sih kita di sini, aku lapar mau ke kantin" pungkas Jeni beranjak berdiri. Dengan sigap Vano memegang tangan Jeni mencegahnya pergi.
__ADS_1
"Tetaplah di sini?" Pungkas Vano dengan punggung bersandar di kursi panjang.
" Bisa kelaparan aku gara gara kamu"
" Aku gak bakalan biarin kamu kelaparan" Pungkas Vano dengan santainya.
Tak lama ada seseorang membawakan beberapa makanan.
"Ini tuan makanannya" Pungkas orang itu
" Baik makasih" pungkas Vano.
Orang itu segera pergi agar tak ada yang curiga dengan Vano.
"Udah ku bilang kan aku tidak akan membiarkanmu kelaparan" Pungkas Vano mengerutkan alisnya dengan senyum manis kas nya.
" Baiklah.. sini aku udah lapar sekarang" jeni segera meraih makanannya. Namun Vano menggoda Jeni menarik makanannya ke belakang punggungnya.
" Om cepat sini makananya" pungkas Jnei mencoba meraih makanan itu di balik punggung Vano. Jeni menatap dari dekat wajah Vano membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengedip ngedipkan matanya berkali kali menunjukan rasa grogi dalam dirinya.
" Dengan satu syarat?" gumam Vano.
" apa?" Jeni mengernyitkan keningnya.
" Cium nih" Pungkas Vano menunjuk pipinya.
" Plakkk...."
Tak dapat ciuman Vano menadapatakan sebuah tamparan dari jeni.
" Dasar nih cewek gak bisa di ajak mesra dikit apa??" Ucap Vano mengusap pipinya yang mulai memerah .
"Ini itu di sekolah jangan aneh aneh" pungkas Jeni yang mulai dengan lahapnya makan.
"Apa kamu gak pernah makan" tanya Vano menatap terkejut pada Jeni yang sudah habis satu kotak makanan.
"Aku lapar Om dari kemarin gak makan" Pungkas Jeni dengan mulut masih penuh dengan makanan.
" Kenapa?"
Vano mencoba memancing Jeni untuk bisa curhat dengannya.
"Karena perjodohan aku tidak ...." Jeni behenti melanjutkan ucapannya ia seolah tidak mau cerita pada Vano.
"Kenapa kamu banyak tanya sih . Udah cepat makan" pungkas Jeni melanjutkan makannya lagi.
Tak lama dua sahabat Jeni berlari menghampiri Jeni.
" Kalian?" Ucap dua sahabatnya kompak dengan anda terkejut.
"Kalian pacaran?" Pungkas Via.
" Jadi kalian sudah saling kenal sebelumnya" Sambung Lisa.
" Apaan sih kalian, aku hanya kebetulan sama dia di sini" Jawab Jeni yang masih melanjutkan makananya.
__ADS_1
" Oh.. syukurlah jadi aku ada kesempatan buwat deketin dia" Ucap Lisa duduk di samping Vano.
Vano seolah risih ada wanita lain di sampingnya.
"Van bagi makanannya ya" pungkas Via meraih makanan Vano di tangannya.
"Jen, geser bentar dong duduknya aku mau duduk sebelah Vano" Pungkas Via menggeser geser duduk Jeni dengan tubuhnya.
Jeni mendengus kesal. Dengan terpaksa ia bergeser lebih jauh dari duduknya. Tempat duduk yang hanya bisa di duduki 3 orang Via memaksakan duduk di samping Vano. Membuat semuanya kesemoitan tak bisa bergerak sama sekali. Membuat Jeni semakin kesal.
" Gimana kalau aku yang suapin" Ucap Via yang sudah mengangkat sendoknya.
Jeni yang merasa duduknya kesempitan hingga tak bisa berkutik sama sekali ia memutuskan untuk duduk di bawah menikmati makanannya sendiri tanpa perdulikan Mereka.
"Gak mau kalian makan saja" ucap Vano dengan tangan ke depan menolak suapan Via.
" Sekali saja" Ucap Via memaksa.
" Aku benar udah kenyang" Pungkas Vano dengan pandangan menatap ke arah Jeni yang duduk di bawah tanpa perdulikan dia.
Pandangan Vano tertuju pada jeni.
"Susah banget sih buwat dekat sama dia" batin Vano berdengus kesal. Ia beranjak dari duduknya menemani Jeni duduk di bawah.
Ia terus memandang wajah lucu Jeni saat makan dengan lahapnya. Sampai ia tak perdulikan Vano di sampingnya.
" Ada sisa" pungkas Vano mengambil sebiji nasi yang menempel di bibir Jeni. Membuat Jeni menatap nya terkejut.
Mata mereka saling memandang seolah dua hati sedang di aduk aduk perasaan gugup jadi satu.
" Maaf" Ucap Vano merasa gugup
" Kenapa kamu di sini?" tanya Jeni meletakkan sisa makannnya.
"Aku mau temani kamu" jawab Vano dengan ke dua tangan di belakang menyangga badannya.
"Kalian kenapa berduaan terus sih" Ucap Via dan Lisa kompak.
Mereka beranjak dari duduknya menemani Vano dan jeni duduk di bawah.
Mereka seperti perangko yang nempel terus sama Vano. Membuat Jeni samakin risih di buatnya.
" Vano kenapa kamu selalu deketin Jeni terus" ucap Via.
" Karena...." belum sempat melanjutkan ucapanya. Vano menatap sosok lelaki yang datang menghampiri Jeni.
" Hai..." sapa laki laki itu pada Jeni.
" Hai juga" Jawab Jeni dengan perasaan kesal dan marah jadi satu. Ia seolah tidak suka kedatangan lelaki itu di depannya.
" kenapa kamu berubah" Ucap lelaki itu.
" Aku yang berubah katamu. Apa kamu gak sadar bukannya kamu sendiri yang berubah. Dan urusin tuh linda pacar kamu" Ucap Jeni dengan nada semakin tinggi. Membuat Vano hanya dia menatap pertengkaran mereka.
__ADS_1