Om Muda Mengejar Cinta Jeni

Om Muda Mengejar Cinta Jeni
Kabur


__ADS_3

Vano mengantarkan pulang jeni sampai di depan rumahnya. Kali ini tetap sama ia tak mengizinkan Vano untuk masuk ke rumahnya. Bukannya tak mau menerima kedatangan Vano. Tapi ia takut jika ayahnya marah besar saat dia membawa Vano ke rumah.


****


" Byee..." Vano segera pergi dari depan rumah jeni dengan perasaan kecewa menyelimuti hatinya. Lelaki itu tak bisa masuk untuk bekenalan dengan orang tuanya. Meski ia sangat berharap dan berharap mendapatkan restu dari orang tuanya ingin memiliki Jeni.


Jeni masih tersenyum tipis melihat mobil Vano sudah pergi menjauh dari rumahnya. Kali ini hatinya benar-benar sangat gembira. Entah apa yang membuat hatinya tiba-tiba berubah. Ia membalikkan badan berjalan perlahan dengan memeluk gitar Vano yang ia bawa tadi. perasaan senang menyelimuti hatinya ia berjalan dengan bernyanyi lagu yang Vano nyanyikan tadi di loteng sekolahan.


Bahkan lagi itu terus teringat di otak Jeni. Masuk ke dalam memori kecil otaknya. Jeni memutar gagang pintu rumah berwarna coklat keemasan berdesain klasik. Dengan pintu besar menjulang tinggi bewarna coklat tua dan ukiran bunga yang begitu mengental di pintu rumah Jeni. Karena itubadalah desain khusus mamanya yang seorang arsitektur terkenal.


Ia terus tersenyum tipis seolah hatinya berbicara. Kali ini adalah hari paling bahagianya bisa melupakan sejenak masalah di otaknya.


Namun senyum manisnya tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara lantang ayahnya yang mneggelagar rauangan itu, membuat Jeni mengenghitikan langkahnya, senyum bahagia seketika pudar dari wajahnya.


Ia membalikkan badan menoleh ke arah ayahnya yang sudah berdiri di belakangnya. Dengan tatapan tajam, seolah ayahnya sudah mengeluarkan tanduk kemarahanya. Suasana rumah yang terasa sangat panas dan mencengkam, tatapan ayahnya begitu menakutkan seolah matanya mengobarkan api kemarahan yang menjalar seluruh tubuhnya.


"Ayah " sapa Jeni dengan tatapan ketakutan. Tubuhnya bergetar seketika. Ia berharap ayahnya tidak melihat Vano tadi, jika melihatnya entah apa yang ia lakukan nantinya. Pastin ayahnya sangat marah padanya.


" Kamu pulang dengan siapa tadi? " Tanya ayahnya dengan wajah masih memerah.


Keraguan Jeni ternyata benar. Gimana ayahnya tahu jika, dia pulang dengan Vano tadi. Bibirnya seakan mulai gemetar tak bisa mengucap sebuah kata.


" Kenapa kamu diam" bentak ayahnya dengan nada semakin keras. Sontak jeni mengerutkan pundaknya ketakutan berjalan agak mundur ke belakang.


" Te--teman yah" jawab Jeni dengan nada gugup, gemetar ketakutan. Baru kali ini dia benar-benar melihat ayahnya marah besar dengannya. Ayahnya bahkan membentaknya dengan suara lantang.


Merasa sangat asing dengan ayahnya Jeni mulai kecewa. Ia gak suka dengan perubahan ayahnya gara-gara perjodohan yang tak di inginkannya.


Air mata jeni tak terbendung lagi ia berlari menaiki anak tangga dengan tetesan air mata keluar dari mata indahnya, menetes jatuh ke lantai. Ia menyeka air mata dengan punggung tangannya, dan kaki terus berlari menuju ke kamarnya. Tangisan seolah mengungkap isi hatinya.


Ayahnya yang begitu kejam, hanya gara-gara pejodohan ia tega dengan anak kesayangannya sendiri.


Jeni membuka kamarnya dengan tenaga penuh. Ia nenutup pintunya kasar dan beranjak melemparkan tubuhnya berbaring di ranjang. " aku benci dengan ayah" kata-kata itu terus muncul dari mulutnya.

__ADS_1


" Ayah sudah gak sayang aku lagi" Gumamnya. Dengan tangan meraih guling di sampingnya, untuk menutupi wajahnya yang sudah di banjiri air mata.


Terlintas dalam benak Jeni ingin pergi untuk bersenang-senang sendiri. Kepalanya terasa sangat pusing. Masalah tak kunjung pudar dalam kehidupannya.


Jeni meloncat seketika, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk berendam menghilangkan rasa penat pikirannya.


Tak lama berendam ia segera beranjak keluar dari kamar Mandi menuju ke lemari memilih baju yang akan ia kenakan sekarang. Ia menggeser-geser baju yang tergantung di lemarinya.  Ia meraih hotpend dan kaos pendek untuk ia kenakan.


Dengan segera memakai baju yang ia pilih.


Jeni menuju ke kaca di sampingnya, memandang dirinya yang begitu cantik  namun kali ini ia ingin tampil seperti biasanya. Dengan rambut di kuncir ke atas. Selesai berdandan, dengan langkah terburu-buru ia menuju balkon kamarnya, mematap ke bawah terlihat begitu tinggi kamarnya jika langsung meloncat ke bawah.


" Bagaimana cara turun ke bawah" Gumam Jeni memutar otaknya untuk bekerja, berpikir apa yang harus ia lakukan.


Thingg ..


seolah keluar sebuah jawaban dari pikirannya. Ia menemukan ide untuk turun dengan menali semua bajunya untuk turun ke bawah.


Ia bergerak cepat Jeni membuka lemarinya mengambil baju yang sudah lama tidak pernah ia pakai, ia menalinya dengan kuat hingga deretan panjang berbentuk tali. Dengan segera ia turun dari atas balkon kamarnya dengan sangat hati-hati. Tanpa rasa takut dalam hatinya turun langsung dari lantai dua hanya dengan sebuah tali asal-asalan yang ia buat.


Penjaga rumahnya. Ia berlari mencari taxi untuk pergi ke Club malam.


Tak menunggu lama sebuah taksi berhenti di depannya. Tanpa basa-basi ia segera masuk ke dalam taxi itu sebelum ayahnya tahu.


****


Vino POV


Vino berjalan dengan wajah di tekuk ke bawah. Tanpa menatap sekelilingnya ia berjalan menuju ke kemarnya.


" Hai kak.." Sapa Dion yang tiba-tiba mengejutkannya. Ia menepuk pundak Vano sangat keras. Membuatnya terkujut sekaligus meringis kesakitan.


" apa sih?" Jawabnya dengan anda kesal.

__ADS_1


" Kenapa wajahmu di tekuk gitu" Ucap Dion merangkul pundak kakanya dengan nada bercanda padanya.


Vano melepaskan pelukan adiknya itu.


" Kepo aja" Ucapnya dengan mendekatkan wajah ke arah Dion, seketika dion menarik wajahnya ke belakang. Ia mengira kakanya akan menciumnya. Membuatnya bergidik geli sekaligus jijik.


Dion mendorong tubuh vano menjauh dari depannya. " Apaan sih kaka. Jijik tau" Ucap Dion dengan ekpresi jijik di wajahnya dengan menarik bahunya ke atas.


" oya gimana wabita cantik kemarin yang tidur di..." Dion memgehntikan ucapanya, Seketika Vano langsung menutup mulut comber adiknya itu keburu mamanya tahu jika Jeni pernah tinggal bersamanya di kamar meski hanya satu hari.


#Back Jeni


30 menit perjalanan Jeni berhenti di sebuah club malam langganan dia. Dia masuk saja harus memasulakan datanya. Karena anak di bawah umur di larang masuk.


Ia menoleh ke belakang seolah ada yang mengikutinya.


" EDO!!" Ucap Jeni terkejut Edo tiba-tiba berdiri di belakangnya.


Edo hanya tersenyum tipis menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal. Merasa acuh jeni membalikkan badannya beranjak measuk ke dlama club malam.


Edo terus mengikuti setiap langkah Jeni pergi. " kenapa kamu masih mengikutiku" Bentak jeni menoleh ke belakang mantap Edo di belakangnya.


" aku ingin kamu segera pergi dari sini. Jangan mengikutiku lagi" Bentak Jeni mendorong tubuh Edo menjauh darinya.


Edo tahu jika Jeni sedang ada masalah ia tak mau mengganggunya. Namun ia juga tidak bisa biarkan dia berada di dalam club malam sendirian. Apalagi dia gadis di bawah umur.


" Baiklah aku akan pergi" Ucap Edo beranjak pergi. Sebelum jeni semakin kesal melihatnya.


Tanpa perdulikan Edo lagi Jeni segera memesan minuman Coctail di bar.


"1 botil minuman Coctail" Ucap Jeni duduk di depan bar menatap orang yang sedang asyik menikmati musik DJ.


" Kamu sendiri" tanya penjaga bar itu dengan menyodorkan sebotol coctail dan gelas kosong ke depan Jeni. Penjaga itu sudah kenal lama dengan Jeni. Karena jeni sering ke tempat itu hingga mereka hafal dengannya.

__ADS_1


" sendiri" Jawab Jeni dengan menuang minuman ke dalam gelas kosong yang sduah ia pegang.


" Lagian pacar saja tidak punya, bahkan aku juga ingin di jodohkan. Benar-benar lehidupan yang membuatku muak" Ucap jeni meneguk segelas habis minuman dalam gelasnya.


__ADS_2