
Hingga jam istirahat berbunyi ke seluruh penjuru sekolahan Vano masih tetap bersama dengan Jeni di loteng. Bercanda tertawa bersama. Jeni belajar gitar dari Vano yang kini mulai mengerti namun belum bisa memainkannya dan bernyanyi seperti Vano .
" Kamu cepat banget hafal kuncinya" Ucap Vano tersenyum tipis dengan tangan tak sengaja memegang tangan Jeni yang masih memegang gitar.
Jeni sontak menatap ke Arah Vano jantungnya berdetak tak karuan. Benar-benar membuat ia tak bisa bernafas kali ini. Jantungnya terasa di lilit sebuah perasaan yang tak ia tahu perasaan apa itu. Vano menatap Jeni yang terlihat melamun menatapnya. Seolah pandangannya menyimpan sebuah rahasia yang tak mau di ungkapkan.
" Jeni!!" Panggil Vano mengibaskan tangannya ke depan wajahnya.
" Eh.. iya ada apa" Jeni tersadar seketika ia melepaskan tangannya dari pegangan Vano. Wanita itu terlihat sangat grogi jantungnya tak bisa berdetak teratur jika dia terus memegangnya erat.
" Kamu kenapa melamun?" Tanya Vano mencolek pipi Jeni. " Pasti kamu lagi mengagumi ketampanan aku ya" Ucapnya dengan penuh percaya diri. Dengan tangan memegang dagu dan mata berkedip menggoda ke arah Jeni.
" ih Gr banget sih" Pungkasnya mengerutkan bibir seksinya, beranjak berdiri dari duduknya.
" Kamu mau kemana?" Tanya Vano beranjak berdiri meletakkan gitarnya.
" gak kamana-mana. Aku mau ambil bekal ku tadi" Ucap Jeni dengan nada polosnya melempar senyum manis menatap Vano.
Merasa lega Jeni tidak meninggalkannya ia beranjak duduk kembali di sofa. Menunggu bekal Jeni. Sapa tau dia mau kasih bekalnya sedikit ke Vano yang sudah merasa lapar dari tadi. Perutnya juga sudah tak bisa di ajak kompromi lagi kali ini. Dengan bibir tersenyum lebar seakan air lirunya mulai menetes mencium harumnya bekal yang ada di tangan Jeni. Ia menggosok-gosok telapak tangannya menunggu Jeni duduk di sampingnya. Tak sabar lagi mulutnya mencicipi makanan Jeni yang terasa begitu menggiurkan.
Jeni menatap Vano mengerutkan keningnya aneh.
" kenapa kamu senyum gitu" Ucap Jeni.
Pandangan Vano berkedip tertuju pada Bekal Jeni seolah memberi isyarat padanya jika ia menginginkan bekal itu.
"Kamu mau ini?" Tanya jeni dengan senyum tipis mengangkat kitak bekalnya.
Vano hanya menganggukan kepalanya.
" Kalau mau beli aja sendiri di kantin" Pungkasnya beranjak duduk sendiri di pojok membuka bekal pemberian mamanya itu. Tanpa perdulikan Vano yangbdarintadi menunggunya untuk sekedar mencicipi sedikit.
__ADS_1
Vano nampak kesal Jeni tak memberinya. Namun ia punya cara untuk membuat jeni mau nerbagi dengannya. Meskipun ia bisa beli sendiri tapi lebih enak jika makan berdua dengannya. Akan membuat suasana berbeda nantinya.
Vano berjalan pelan. Ia memang sengaja melambatkan jalannya agar Jeni tak mendengar hentakan kakinya.
Tanpa bertanya atau menyapa Jeni. Ia meraih bekal jeni dari tangannya. Dan mengangkatnya ke atas. Tubuh jeni yang mungil tak bisa menggapai tangan Vano yang jauh lebih tinggi darinya.
" Vano balikin bekalku" Ucapnya dengan nada memohon. Ya gimana gak memehon perutnya sangat lapar kemarin tidak makan seharian dan sekarang waktunya ia makan malah di ganggu dengan Vano. Dasar gak peka amat tuh laki.
" Vano ambil satu gulungan terlur di balut dengan nasi beririskan wortel kecil dalam. Entah gimana Mamanya membuat itu tapi rasanya begitu membuat Lidah Vano ketagihan.
" Ambil aja kalau bisa" Ucapnya mengejek dengan tangan masih ke atas membawa bekal Jeni. Ia sangat bersemnagat menggoda Jeni. Apalagi melihat wajah Jeninyang begitu polis jika memohon padanya. Serasa ingin sekali ia mencubit pipinya yabg mulus itu.
" Vano balikin" Ucapnya lirih seakan ia sudah tak ada daya untuk mengucap kata lagi. Ia sangat lapar tubuhnya terasa sangat lunglai seolah tak ada tulang. Matanya perlahan mulai berkunang-kunang. Pandangnnya terlihat samar bahkan wajah Vano tak terlihat jelas di penangannya.
Tubuh Jeni seakan mau jatuh namun dengan sigap tangan Vano menyangga tubuhnya. " Jeni kamu gak papa?" ucapnya menuntun tubuh Jeni ke sofa. Ubtuk duduk sekdar istirahat.
" Jeni kamu kenapa?" Tanya Vano terlihat sangat khawatir. Ia memegang dahi Jeni, Memegang pipinya namun ia sepertinya tidak kenapa-napa.
Dengan pandangan masih samar ia hanya bisa mengucap kata lirih. " tanya pada perutku" pungkas Jeni pelan.
Vano dengan segera menempelkan telingannya di perut Jeni. " Apa yang kamu lakukan" Jeni membelalakkan matanya seketika dengan tingkah Vano.
" Katanya suruh tanya perut kamu" Jawabnya dengan nada santainya.
Jeni menghela nafasnya sejenak. " Aku lapar!! Sini bekal ku" pungkas Jeni dengan nada penuh semangat meraih bekalnya lagi di tangan Vano.
" Aku dari kemarin gak makan. Kamu gak peka-peka di kodein dari tadi" Ucapnya dengan mulut penuh dengan Makanan.
" kenapa kamu gak bilang. Baiklah aku akan pesan banyak makanan sekarang" ucapnya segera meraih ponsel di saku bajunya. Ia menelfon pelayannya untuk membawa beberapa makanan ke sekolah. Jeni tak perdulikan itu. Ia masih menikmati masakan mamanya yang sangat enak lagian juga jarang-jarang mamanya mau masak untuknya.
Tak butuh waktu lama bekal itu ludes masuk ke dalam perut Jeni. Sedangkan Vano hanya diam menatap Jeni makan seraya ia sudah ikut kenyang.
__ADS_1
5 menit kemudian begitu cepatnya. Pelayan Vano membawa beberapa makanan ke lonteng. Ya memang sebelumnya ia bilang dia di tempat biasa dulu nongkrong dengan temannya. Lagian juga semua pelayan sudah tahu kebiasaannya.
Mata Jeni berbinar seketika melihat begitu banyak makanan. Ia segera meraih satu kotak makan itu dan mulai memekanya sangat lahap lagi tanpa izin dulu dengan Vano. Yang daei tadi terus menatapnya.
Lelaki di sampingnya hanya terdiam menatap Jeni yang bergitu kelaparannya seakan tidak makan 5 hari. Semua makanan di lahapnya sampai habis tinggal 1 kotak makanan yang ada di tangan Vano masih juga di liriknya.
" hehe.. ini buwat ku ya" Ucap Jeni meraih kotak makanan Vano.
" Ini bagianku" Vano merebut kembali makanan bagiannya.
" Dikit aja" ucap Jeni dengan nada centil mengedipkan mata kirinya.
" Gak mau?" Ucap Vano santainya. Ia menyembunyikan kotak makanan itu di belakang punggungnya.
" Dikit aja. Pliss!!" Jeni memehon pada Vano.
" Dengan satu syarat" Ucapnya dengan kedipan mata menggoda.
" Apa syaratnya" Jeni duduk agak mepet ke tubuh Vano. Ia memegang ke dua tangannya erat.
" Cium pipiku" Ucap Vano memejamkan matanya dengan tangan menyentuh pipinya dan agak menyondongkan ke depan. Ia berharap jeni akan menciumnya. Tetapi bukan ciuaman yang di dapatkan hanya sebuah tamparan pelan dari tangan mulus Jeni.
" Makan tu tangan. Siapa juga yang mau menciumu" Ucapnya beranjak berdiri. Berdecak kesal dengan ulah Vano. Ia mengerutkan bibirnya memalingkan pandangannya berlawanan arah.
Tak membalas ucapan Jeni Vano menyendok makananya dan mulai suapin Jeni yang sedang ngambek di sampingnya.
" Udah jangan ngambek. Nih makan" dengan perasaan ragu dan marahnya Jeni menerima suapan Vano. Ia mengunyahnya dengan perasaan kesal yang masih menyelimuti hatinya. Lama berada di loteng sekolahan .
Hingga jam sekolah pun berakhir suara lonceng tanda semua pelajaran sudah selesai meggema seluruh sekolahan. Vano menatap Jeni yang asyik dengan gitar ia sibuk belajar sendiri tanpa di ajari Vano lagi.
" Udah selesai belum. Ayuk kita pulang" Ucap Vano beranjak berdiri dari duduknya.
__ADS_1
" Baiklah. Gitar ini boleh aku baea" ucap Jeni memeluk gitar itu bahkan kini gitar itu tiba-tiba jadi kesayangannya. Ia beranjak berdiri dan mulai turun dari lonteng berjalan di belakang Vano.